Laman

April 23, 2011

we can together (by shanica indratami)


Hai.. haiii... kembali lagi menggunakan blog yang aneh ini. ke ke ke. karena permintaan seorang teman, saya langsung mempost ff terbaru walau menurut saya ini sedikit paksaan karena saat saya membuat ini saya sedang terkantuk kantuk. ke ke ke. okey, langsung aja yaah. keep reading ^^

***

Dari lorong kampusku, aku berlari keluar sambil menutup wajahku. Lorong yang ramai tidak aku pedulikan. Aku terus berlari lalu berbelok masuk kedalam kamar mandi. Aku memuntahkan semuanya ke wastafel. Bulir cairan merah membanjir diatas wastafel putih itu. Perutku terasa aneh dan kepalaku terasa pusing. Aku menyalakan keran lalu mengambil tisu untuk membersihkan bibirku yang penuh dengan darah. Aku menatap bayanganku dicermin. Wajahku terlihat sedikit pucat, keringat dingin terus mengucur dikeningku. Aku menghela napas panjang lalu menunduk.

*

Setelah jam pulang sekolah berakhir, aku menghampiri seorang lelaki yang duduk tepat didepan loker ruangannya. Bibirnya mengguratkan senyum ketika melihatku datang menghampirinya. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku.

“maaf telah menunggumu lama.” Ucapku tersenyum.

“tidak apa-apa.” Sahutnya mengusap lembut rambutku. Aku membalasnya dengan senyum.

Aku lantas pulang dengannya. Lelaki yang sudah lebih dari satu tahun menempati lubuk hatiku. Dia kekasihku. Lelaki yang selalu bisa membuatku tersenyum dan melupakan seluruh kesedihan hatiku. Dia yang selalu membuatku semangat untuk menjalani kehidupan walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang membuatku tidak semangat menjalaninya.

*

“untuk saat ini, kesehatannya belum stabil. Jika semakin terus menerus seperti ini, umurnya tidak akan lama lagi. Kesehatannya belum bisa dipastikan. Jangan biarkan dia banyak pikiran.” Ucapan dokter kepada ibuku satu minggu yang lalu terus terngiang di kepalaku. Penyakit ini terus menggerogoti tubuhku yang mulai lemah ini. Aku seperti sebuah bunga yang sebentar lagi memasuki masa kering. Aku hendak mati dan meninggalkan tanah dan angin yang indah.

“kau sedang apa malam malam disini? Ini terlalu dingin. Sebentar lagi akan masuk musim gugur. Kau akan sakit nanti.” Lelaki itu datang lagi. Ia tersenyum menatapku lalu duduk disebelahku. Aku merasakan sedih yang sangat dalam ketika menatap senyumnya.

“gi kwang-ie..” panggilku pelan. Ia menatapku. “jika aku meninggalkanmu nantinya, kau harus berjanji padaku kau harus mencari seseorang yang lebih baik dariku.”

“aku tidak akan kehilanganmu.” Sahut gi kwang menggenggam erat tanganku. Aku hampir menangis saat itu tapi aku menahanya. Aku tidak mau membuat gi kwang sedih karenanya.

*

Hari ini cukup cerah, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Walaupun sebelumnya ibuku selalu menyuruhku untuk mengurangi seluruh aktivitasku, tapi aku terus melanggarnya. Hari ini aku pergi ketempat latihan klarinetku. Sudah hampir satu tahun aku berlatih disana dan aku juga sangat senang melakukan hal itu. Bagiku klarinet adalah teman yang selalu ada disaat aku merasakan sakit yang tidak tertahan didadaku.

“aku akan jujur pada orang yang aku sayangi jika aku harus meninggalkannya....” suara seorang perempuan terdengar jelas ditelingaku ketika aku berjalan memasuki tempat latihanku. Pikiranku langsung tertuju pada gi kwang. Sorot matanya langsung terngiang diotakku. Apa aku harus mengatakannya?? Aku tidak ingin membuatnya sedih dan memikirkanku. Tapi jika aku tidak memberitahukannya, aku akan merasa bersalah jika aku meninggalkannya nanti. Ahhhh, kepalaku semakin sakit memikirkan itu semua. Darah kental pun ikut keluar dari hidungku. Kapan semua ini selesai.

*

“bagaimana jika kita pergi ketempat favorit kita hari ini?” ajak gi kwang ketika aku baru saja keluar dari kelas. Aku sedikit kaget menatapnya. Tanganku langsung mengusap pelan pipinya yang hangat mataku tak kuat menahan air mata yang sudah menumpuk. Air mataku pun menetes.

“kau kenapa? Apa kau tidak bisa pergi sekarang?” tanya gi kwang sedikit bingung. Aku hanya menggeleng lalu membersihkan air mataku. Aku memikirkan suatu hal yang tiba-tiba muncul dibenakku. Apa ini adalah ajakan terakhir gi kwang kepadaku? Tidak! Aku tidak mau memikirkan ini.

“jika kau tidak mau, biar aku antar pulang sekarang.” Ucap gi kwang membuyarkan semua pikiranku.

“ahh, aniyo. Ayo kita pergi sekarang.” Sahutku cepat menggandeng gi kwang pergi dari tempat itu.

Setelah setengah jam, kami sampai disebuah bukit yang sangat indah. Bukit yang sangat dekat dengan laut yang juga tempat favorit kita. Sejak satu tahun lalu kami sering kesini dan menyaksikan matahari tenggelam dari sini. Suasananya yang nyaman dan jauh dari keramaian membuatku betah disini.

“aku ingin kita tinggal didekat sini setelah kita menikah nanti.” Ucap gi kwang berdiri disebelahku. Aku hanya diam mendengar ucapaknnya.

“kita sudah seperti ini pun aku sudah mensyukurinya.” Sahutku pelan. Wajahnya berubah bingung ketika menatapku. Aku hanya tersenyum menatap wajahnya.

“kau terlihat berbeda, apa kau sakit?” tanya gi kwang menatapku tajam. Aku hanya diam lalu menggeleng. “aku ingin kau tetap sehat.”

“gomawo.” Sahutku pelan. Air mataku hendak menetes lagi. Namun aku menahannya lagi.

“saranghae.” Ucap gi kwang pelan lalu mencium keningku.

*

Malamnya, setelah aku pulang dari bukit itu, aku masuk kedalam kamarku dan membersihkan diri. Aku duduk didepan cermin dikamarku. Aku membenarkan rambutku yang beberapa helai sudah mulai rontok ditanganku. Beberapa helainya pun sudah jatuh kelantai. Penyakit ini benar benar merepotkanku. Malam ini dadaku juga terasa sakit. Aku mengambil sebuah toples obat kecil dhiadapanku. Sekitar 20 butir kapsul berbaris didalam toples tersebut. Haruskah aku meminumnya lagi? Buatku itu tidak ada hasilnya sama sekali.

“prank....” aku melempar botol itu ke dinding. Semua kapsulnya keluar dari botol itu. Semua terlihat berantakan dilantai.

“untuk saat ini kalian tidak berguna! Aku tidak butuh kalian lagi.” Teriak ku sambil menutup telingaku.

*

Siang ini aku pergi ke dokter dengan ibuku. Sebenanrya aku benci tempat ini. Tempat ini adalah tempat dimana dokter memvonisku terkena kangker otak. Dan aku berpikir tempat ini adalah tempat dimana gerbang kematian terbuka lebar.

Setelah pemeriksaan selesai aku mendengar perkataan dokter kepada ibuku. Umurku tidak kurang dari 3 bulan lagi, katanya. Aku terpukul saat itu juga apa benar ucapan dokter itu. Siapa dia? Apakah dia tuhan? Pemikiran ku terpecah kembali ketika beberapa helai rambutku berkumpul dipundakku.

“apakah anda ingin terapi?” tanya dokter kepada ibuku. Sebelum ibuku menjawab aku turun dari tempat tidur lalu hendak keluar.

“aku tidak ingin terapi, aku akan menunggu waktuku datang. Terimakasih.” Ucapku lalu pergi keluar dari ruangan itu.

“kenapa kau tidak mau diterapi?? Ini demi kesembuhanmu.” Tanya ibuku ketika kami berada di lift.

“untuk apa membuang-buang uang untuk kesembuhanku, lagipula umurku sudah 3 bulan lagi. Sekarang persiapkanlah pemakamanku dan jangan hiraukan kehidupanku lagi.” Pintaku kepada ibuku yang matanya sudah memerah mendengar perkataanku.

“kau tidak boleh meninggalkanku lagi. Aku sudah ditinggal ayahmu kau harus hidup denganku.” Isak ibuku memelukku. Aku ingin menangis saat itu aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian seperti ini. Tapi kenapa penyakit ini membiarkanku untuk seperti ini?? Arrrggghhh.....

*

Sudah lebih dari dua minggu aku tidak menyelesaikan kuliahku. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku didalam kamarku menulis sebuah cerita atau menggambar sesuatu. Rambutku yang semakin tipis aku sembunyikan dengan memakai wig yang aku beli ketika aku eprtama kali divonis mengidap penyakit ini.

“gi kwang mencarimu.” Ibu membuka pintu kamarku sambil tersenyum. Aku langsung meletakan seluruh kertas gambarku dibawah kamar tepat ketika gi kwang masuk kedalam.

“kau kemana saja? Kenapa tidak datang kekampus? Kau sakit?” tanya gi kwang duduk dipinggir tempat tidurku. Aku hanya diam tidak menjawabnya.

“aku punya sesuatu untukmu.” Ucap gi kwang memberikan sebuah kotak kecil. Aku menerimanya dan membukanya. Sebuah kepala badut yang menjulurkan lidahnya keluar dari dalam kotak itu. Aku sangat kaget lalu tertawa melihatnya. Gi kwang yang berhasil mengerjaiku tertawa lepas.

“kau jahat...” ucapku langsung memeluknya.

“aku merindukanmu...” sahut gi kwang tersenyum masih memelukku. Aku hanya diam tidak beranjak dari pelukannya.

“besok kau harus kuliah,” pinta gi kwang menatapku tajam. Aku hanya mengangguk pelan. Mataku terpejam ketika wajahnya secara perlahan mendekati wajahku. Bibirnya mengecup pelan bibirku. Akankah ini ciuman terakhir darinya untukku??

*

“gi kwang-ie..” panggilku ketika ia sedang berkumpul dengan teman-temannya disela jadwal kuliah yang padat.

“ada apa?” tanya gi kwang menghampiriku.

“aku ingin bicara padamu, bisa kau ikut aku sebentar.” Jawabku pergi sementara gi kwang mengikutiku dari belakang.

“ada apa?” tanya gi kwang duduk disebelahku ditaman belakkang kampusku. Aku diam sebentar. Aku berusaha menguatkan diriku yang saat ini dipenuhi tentang pikiran kematian.

“kita sudahi hubungan kita disini saja yaa.” Ucapku pelan. Gi kwang menatapku tajam matanya membesar menatapku. Wajahnya menatapku aneh.

“ke.. kenapa memang? Apa aku salah padamu?” tanya gi kwang bingung. Aku hanya menggelengkan kepala.

“ada satu hal yang tidak ingin aku bicarakan padamu, aku hanya ingin menyudahi hubungan kita saja. Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu nantinya. Aku harus meninggalkanmu.” Jawabku sedikit terisak.

“apa kau sudah bosan denganku? Atau kau punya lelaki lain selain diriku? Aku tidak mengerti shan ni.” Tanya gi kwang wajahnya mulai menatapku tajam.

“ne, aku punya lelaki lain selain dirimu! Kau puas sekarang?” aku bangkit dari kursi itu lalu pergi meninggalkan gi kwang dengan hati yang remuk.

*

AUTHOR POV

Sudah lebih dari satu bulan gi kwang tidak melihat shan ni di kampusnya. Ia terus menghubungi ponselnya nmun ponselnya sudah tidak aktif. Otaknya semakin menjurus kepada bayangan shan ni yang menurutnya bertingkah aneh saat itu.

Sepulang kuliah ia sempatkan dirinya menuju sebuah ruangan musik dan bertanya kepada salah satu mahasiswa perempuan disana.

“shan ni datang latihan hari ini?” tanya gi kwang ramah namun mimiknya menunjukan kekhawatirannya yang sangat dalam.

“kau tidak tahu? Ia mengundurkan diri dari kuliahnya sejak satu minggu yang lalu.” Jawab perempuan itu ramah. Gi kwang yang mendengar itu langsung kaget dan pergi keluar tanpa mengucapkan terimakasih sama sekali kepada perempuan itu.

*

Gi kwang terus mengendarai mobilnya. Entah kemana tujuannya namun mobilnya terus melintasi jalanan kota seoul yang mulai gelap. Pikirannya terus tertuju pada shan ni yang hampir satu bulan tidak ia temui dan terputus total semua komunikasinya.

“sebenarnya ada apa ini?” gumamnya pelan. “ia tidak mungkin mempunyai lelaki lain, ia pasti berbohong. Aku tahu itu.”

Setelah melewati putaran terakhir, ia memberhentikan mobilnya didepan rumah shan ni yang terlihat sepi dari luar. Sepertinya memang selalu sepi. Ia langsung membuka pintunya tanpa basa-basi. Lalu naik keatas dan mengetuk pintu kamar shan ni yang tertutup rapat.

“shan ni, bukalah pintumu, aku ingin bicara padamu. Aku ingin kau mengatakan kalau yang kau bicarakan padaku waktu itu tidak benar. Keluarlah shan ni aku ingin melihat wajahmu. Shan ni aku tidak bisa berbuat apapun lagi. Jebal!!!” teriak gi kwang masih mengetuk pintu kamar shan ni.

Sementara shan ni yang tertidur diatas meja dikamarnya mulai membuka matanya perlahan. “aku masih hidup.” Gumamnya pelan tanpa mengangkat kepalanya. Ia mendengar jelas teriakan gi kwang didepan kamarnya. Ia masih meletakan kepalanya diatas meja itu sambil menatap nanar kedepan.

“gi kwang! Apa yang kau lakukan? Kau berisik sekali, tidak sopan!” ibu shan ni keluar dari kamarnya yang terletak disebelah kamar shan ni.

“eommonim, tolong pertemukan aku dengan shan ni, aku membutuhkannya.” Pinta gi kwang memegangi pundak ibu shan ni tersebut. Ibu shan ni hanya menghela napas panjang, lalu menyuruh gi kwang turun dengannya. Ia menyuruh gi kwang duduk disofa yang berada diruang tamu rumah itu.

“memang ada apa kau dengan shan ni?” tanya ibu shan ni ramah.

“dia memutuskankan hubungan kami tanpa sebab yang jelas, eommonim.” Jawab gi kwang menunduk.

“terimalah,” ucapnya tenang.

“eommonim, aku tahu dia berbohong soal lelaki lain, aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Tidak lebih.” Ucap gi kwang lagi.

“dia tidak ingin membuatmu terlalu berharap, aku yakin keputusannya benar.” Ibu shan ni mulai menunduk.

“sebenarnya ada apa?? Aku tidak mengerti.” Tanya gi kwang bingung.

“shan ni mengidap penyakit yang sulit untuk disembuhkan, dokter sudah memvonis kematiannya, gi kwang. Kurang dari 2 bulang lagi. Karena itulah ia memutuskan hubungannya denganmu. Ia tidak ingin merepotkanmu.” Jawab ibu shan ni menceritakan semuanya dengan mata berkaca-kaca.

“kenapa dia tidak menceritakannya??” tanya gi kwang dengan nada penyesalan.

“pergilah, pulang dan lupakan shan ni.” Ucap ibu shan ni pelan. Gi kwang yang sempat diam langsung naik keatas menuju kamar shan ni. Ia terus mengetuk pintu kamar shan ni lalu mendobraknya dan terbuka. Ia menatap nanar shan ni yang terlihat lemah didepan cermin dengan kepala diatas meja. Ia terus menatap kearah gi kwang yang berdiri menatapnya. Dengan langkah pelan, gi kwang menghampiri shan ni yang masih terus menatapnya lemas.

“bagaimana kabarmu?” tanya gi kwang pelan. Matanya mulai memerah melihat tubuh shan ni yang sangat kurus dengan beberapa helai rambut dipundaknya. Dengan cepat, gi kwang memeluk shan ni. Shan ni masih terus diam.

“kenapa kau tidak menjawabku? Hah? Aku merindukanmu, kenapa kau membiarkan dirimu seperti ini sendirian??” tanya gi kwang dengan nada marah.

“maafkan aku. Pulanglah..” ucap shan ni datar.

“aku tidak akan pulang sebelum kau menjelaskan sendiri semuanya padaku.” Sahut gi kwang cepat.

“pulanglah!!! Dan jangan pernah datang lagi kesini!” bentak shan ni melepaskan pelukan gi kwang. Darah sudah banyak menetes dari hidungnya.

“hidungmu..” ucap gi kwang menatap wajah shan ni. Shan ni hanya diam mengusap pelan hidungnya.

“pergilah!!!” teriak shan ni melemparkan sebuah buku kearah gi kwang. Untungnya buku itu meleset dari wajah gi kwang. Dengan langkah gontai, ia pun keluar meninggalkan shan ni yang darahnya terus menetes.

*

“aku pergi kesuatu tempat yang lebih aman dan nyaman dari rumah yang penuh kenangan ini. Jangan mencariku lagi. Pergilah, carilah perempuan yang lebih baik dan lebih menyayangmu dibanding diriku. Sampai jumpa. –lee shan ni-“ sebuah pesan singkat didepan pintu rumah kelurga shan ni baru saja dibaca gi kwang. Hatinya sangat terpukul membaca surat itu. Ia langsung pergi meninggalkan tempat itu membawa mobilnya pergi kesuatu tempat.

*

SHAN NI POV

Aku terus menunggunya namun saat-saat itu tidak datang, helai-helai rambutku sudah habis tertelan penyakit ini sendiri. Namun, sekarang saatnya aku menyambutmu gi kwang-ie. Maafkan atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Semuanya saat aku berbohong padamu. Aku masih terus mencintaimu sampai sekarang dan selanjutnya. Aku tahu kau masih terus menungguku, aku akan datang menghampirimu dan hidup bersamamu ditempat yang sangat indah. Dan akhirnya kita bertemu lagi didunia yang berbeda.

“tiii.....tttttttt” suara alat pengatur denyut jantung berbunyi. Tidak ada suara tangisan disana. Sangat sepi. Aku memperhatikan sekelilingku. Hanya beberapa dokter yang menuutup jasadku yang rapuh.

“kita pergi sekarang?” tangan seorang lelaki yang dingin menggenggam tanganku yang masih hangat. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk mengikuti langkahnya.

*

AUTHOR POV

“telah terjadi kecelakaan beruntun yang terjadi didaerah daegu dan menewaskan salah satu pengendara, pengendara ini mengendarai mobil vios dan ditemukan identitasnya. Menurut kartu identitas, lelaki itu bernama lee gi kwang, dan menurut keterangan sumber terkait lelaki itu ingin pergi ke daegu untuk bertemu dengan kekasihnya.” Suara penyiar berita terdengar jelas dari tempat shan ni berada. Matanya berkaca-kaca setelah mendengar berita tersebut.

“ahhhh, kenapa????” teriaknya sambil memberantaki seluruh barang-barang yang ada dikamarnya. Ia terus menangis sejadi-jadinya setelah mendengar berita itu.

“kau kenapa shan ni?” ibunya masuk kedalam kamar lalu membantunya berdiri.

“gi kwang, gi kwang eomma. Gi kwang mati!! Dia, dia meninggalkanku, dia jahat!!!” teriak shan ni masih terisak. “ini semua salahku eomma, aku, aku yang membuatnya jadi seperti ini.” Isak shan ni lagi.

“sudahlah shan ni, semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali.” Ucap ibunya memeluk shan ni.

*

“jika aku harus mati disini, aku ingin mati disini. Jika kau mau datang ke pemakamanku, datanglah kesini. Ini tempat yang indah saat aku bisa mengingat semua tentang kita. Maafkan aku membuatmu membunuh dirimu sendiri, seharusnya aku yang pergi lebih dulu, bukan kau.” Ucap shan ni pelan di bukit yang sering ia datangi bersama gi kwang. Ia membaringkan tubuhnya diatas tanah berumput itu lalu memejamkan matanya dan tertidur pulas.

*

SHAN NI POV

Aku terus menunggunya namun saat-saat itu tidak datang, helai-helai rambutku sudah habis tertelan penyakit ini sendiri. Namun, sekarang saatnya aku menyambutmu gi kwang-ie. Maafkan atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Semuanya saat aku berbohong padamu. Aku masih terus mencintaimu sampai sekarang dan selanjutnya. Aku tahu kau masih terus menungguku, aku akan datang menghampirimu dan hidup bersamamu ditempat yang sangat indah. Dan akhirnya kita bertemu lagi didunia yang berbeda.

“tiii.....tttttttt” suara alat pengatur denyut jantung berbunyi. Tidak ada suara tangisan disana. Sangat sepi. Aku memperhatikan sekelilingku. Hanya beberapa dokter yang menuutup jasadku yang rapuh.

“kita pergi sekarang?” tangan seorang lelaki yang dingin menggenggam tanganku yang masih hangat. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk mengikuti langkahnya.

*end*

No comments:

Post a Comment