Laman

Showing posts with label SHINee. Show all posts
Showing posts with label SHINee. Show all posts

April 24, 2011

my love with my life (part 7 -end-)

Malam telah larut, jin yong pulang dengan perasaan tidak karuan. Tentang hubungannya dengan jonghyun dan tentang lin wang yang terlihat sangat sakit hati tadi sore.

“kau dari mana?” tanya perempuan berkacamata yang duduk diatas sofa.

“mana omma?” jin yong berbalik bertanya.

“orang tuamu pergi dan besok baru pulang.” Jawab perempuan berkacamata itu.

“jadi aku harus semalam denganmu? Membosankan.” Sahut jin yong cepat.

“hei, siapa yang mengajarimu berkata seperti itu? Ohh, aku tahu, pasti orang atheis itu yaa? Tidak salah lagi.” Ucap tante jin yong menatap wajah jin yong dalam-dalam.

“jaga mulutmu itu ya.” Sahut jin yong yang merasa tersinggung.

“sejak kapan kau bisa melawan orang yang lebih tua darimu?” tante jin yong yang terlihat marah bangun dari tempat duduknya.

“sejak kau ada dirumah ini.” Sahut jin yong cepat menatap sinis kearah tantenya itu.

“sekarang ikut aku, kau anak tidak beragama.” Ucap tante jin yong sambil menarik rambut jin yong. Tante jin yong membawa jin yong kekamar mandi, jin yong yang kesakitan terus memaksakan diri agar bisa terlepas dari tantenya itu.

“biar kau rasakan ini.” Ucap tantenya itu menenggelamkan kepala jin yong di bak mandi berkali-kali. Jin yong tidak bisa berbuat apa-apa. Napasnya mulai tersenggal-senggal. Tak lama kemudian, jin yong ditarik kembali menuju kamarnya. Dikamarnya, jin yong dilempar hingga terjatuh dan kamarnya dikunci dari luar. Jin yong menangis pelan dikamarnya. Matanya sembab, tubuhnya basah kuyup akibat ulah tantenya sendiri.

*

Jam didinding menunjukan pukul 2 pagi, jin yong mengambil ponselnya dan dompetnya. Tubuhnya masih lemas. Matanya pun masih sembab. Pintu kamarnya masih terkunci rapat. Dengan cepat ia mengambil selimutnya lalu menjatuhkannya lewat jendela kamarnya. Jin yong turun dengan sekuat tenaga, lalu melarikan diri dari kamarnya dengan membawa ponsel dan dompetnya.

*

“key-ah, tidurlah sudah malam.” Teriak minho dari arah kamar.

“aku sibuk! Kau duluan saja.” Sahut key yang sedang sibuk didepan layar komputernya. Tiba-tiba pintu dorm mereka berbunyi.

“hyung, siapa yang datang. Ada tamu malam-malam seperti ini.” Ucap key kepada jonghyun yang keluar kamar membawa susu hangat.

“biar aku yang membuka pintunya.” Ucap jonghyun meletakan gelasnya dimeja sebelah komputer.

Jonghyun berjalan menuju ruang tamu lalu membuka pintu dorm mereka. Seorang perempuan langsung memeluknya erat.

“aku benci ini, mereka jahat. Aku ingin bersama oppa saja. Aku benci dia.” Ucap perempuan itu sambil terisak dipelukan jonghyun.

“kau kenapa?” tanya jonghyun mengusap pelan rambut jin yong.

“aku benci itu oppa, aku ingin bersama oppa.” Jawab jin yong tidak jelas. Onew yang berada didalam langsung keluar melihat mereka.

“jin yong kau kenapa?” tanya onew bingung.

“oppa, aku mau tinggal disini. Aku tidak mau pulang, aku takut.” Ucap jin yong yang sekarang memeluk onew.

“ne, ne. Sekarang masuklah.” Ucap onew membawa jin yong masuk kedalam. Key yang memperhatikan mereka sedikit bingung.

“sekarang sudah malam, kau tidurlah disini dulu yaa, jika kau sudah baik, kau boleh cerita.” Ucap onew menidurkan jin yong disofa panjang diruang tv mereka. Jonghyun yang datang membawa selimut langsung menyelimuti jin yong. Jin yong langsung memejamkan matanya dan tertidur pulas.

“kenapa adikmu hyung?” tanya key bingung.

“sepertinya dia ketakutan, keringat dinginnya keluar semua.” Jawab onew pelan.

“sepertinya dia punya banyak masalah, biarkan saja dia istirahat hyung, kasihan dia.” Ucap key pelan lalu pergi kekamarnya.

“ne, kau benar. Kau tidak tidur jonghyun?” tanya onew kepada jonghyun yang dari tadi diam menatap jin yong.

“tidak, aku ingin menjaganya disini.” Jawab jonghyun menatap dalam wajah jin yong.

*

Malam semakin larut, jonghyun tertidur didepan jin yong tepatnya didepan sofa. Ia tertidur sambil duduk. Jin yong terbangun, lalu melihat wajah jonghyun yang terlihat letih sedang tertidur.

“oppa.” Ucapnya lirih lalu bangun duduk disebelahnya.

“mengapa kau terbangun?” tanya jonghyun sedikit terkaget.

“aku takut oppa.” Jawab jin yong pelan. Tanpa banyak bicara, jonghyun langsung memeluk jin yong.

“kau akan baik-baik saja jika berada disebelahku.” Ucap jonghyun tersenyum lalu menggenggam tangan jin yong erat.

“sekarang tidurlah lagi ya.” Suruh jonghyun menatap dalam wajah jin yong lalu meletakan kepala jin yong dipangkuannya. Jin yong pin tertidur lagi dipangkuan jonghyun.

*

Pagi pun menjelang, disela sarapan jin yong menceritakan semuanya pada onew dan jonghyun akan kelakuan tantenya sambil menangis. Onew yang memang dari dulu juga tidak suka akan sikap tantenya itu sangat marah.

“apa aku harus lapor kepada appa?” tanya onew dengan wajah marahnya.

“appa pasti membelanya.” Jawab jin yong menghapus air matanya.

“kau kenapa tidak lapor polisi?” sahut taemin yang dari tadi menguping. Jin yong hanya diam.

“hari ini kita ada diluar, kau berani disini sendiri?” tanya onew meneguk susunya.

“aku akan keluar hari ini.” Jawab jin yong menatap wajah jonghyun dalam-dalam.

“mau kemana?” tanya onew bingung.

“aku ingin keperpustakaan, tapi aku berjanji nanti sore aku akan kembali lagi.” Jawab jin yong membereskan makanannya lalu pergi membawa ponsel dan tasnya.

“hati-hati.” Ucap jonghyun pelan.

“jangan terlalu memikirkanku oppa.” Sahut jin yong tersenyum menatap jonghyun. Jonghyun hanya tersenyum simpul.

*

Diperpustakaan, jin yong berhenti tepat didepan rak buku tentang agama. Ia mengambil buku putih yang membahas tentang atheisme. Lalu duduk disudut perpustakaan itu sendirian.

Selang beberapa saat, seorang wanita paruh baya menghampirinya lalu duduk dihadapannya.

“jin yong, kau sedang membaca apa?” tanya wanita itu yang tidak lain adalah ibu dari lin wang.

“ajuma, tak disangka bisa bertemu disini. Aku sedang membaca buku.” Jawab jin yong sedikit kaget lalu tersenyum sipu.

“aku senang bertemu denganmu disini.” Ucap ibu lin wang tersenyum.

“aku juga, bagaimana kabar lin wang?” tanya jin yong yang sedikit penasaran dengan kabar lin wang.

“dia baik-baik saja, dia sering kegereja sekarang, padahal bukan hari minggu. Apa yang sedang kau baca?” tanya ibu lin wang sedikit penasaran.

“ohh, ini hanya bacaan kecil.” Jawab jin yong menunjukan buku yang ia pegang.

“atheis? Kau atheis?” tanya ibu lin wang bingung.

“ohh, bukan. Aku katholik. Aku hanya tertarik membaca buku ini.” Jawab jin yong cepat.

“terlalu banyak perbedaan agama dikorea ini.” Ucap ibu lin wang pelan.

“ne, ajuma aku ingin bertanya.” Sahut jin yong cepat.

“silahkan.” Ucap ibu lin wang tersenyum.

“aku tahu kau katholik taat, apa menurutmu bergaul dengan orang atheis itu salah?” tanya jin yong gugup.

“menurutku tidak, kita bebas bergaul dengan siapapun, asalkan kita masih menjaga batas-batas agama kita dan kita tidak terjerumus dilembah kejelekan mereka.” Jawab ibu lin wang lalu tersenyum.

“walaupun orang yang atheis itu kekasih kita sendiri?” tanya jin yong lagi.

“kekasihmu atheis? Menurutku itu tidak salah, asalkan kau masih menjaga agamamu, itu tidak apa-apa.” Ucap ibu lin wang dengan kewibawaanya.

“ya, kekasihku atheis.” Jawab jin yong pelan.

“jika kau bisa membawanya keagamu, itu lebih baik.” Ucap ibu lin wang langsung beranjak pergi ketika seorang lelaki tua penjaga perpustakaan memanggilnya.

Jin yong terdiam menatap keluar jendela. Selama ini persepsi ayahnya salah dan telah membuatnya terbelenggu dalam dua pikiran berbeda. Jin yong mengguratkan senyum dibibirnya, terlintas dihatinya rasa senang yang cukup dalam dan sedikit rasa haru. Ternyata hubungannya tidak selamanya salah. Hari yang hangat saat itu sedikit bertambah hangat dikeliling jin yong.

*

Malam telah larut, di dorm shinee, jin yong sedang debat masalah dance yang baik dengan taemin, sementara minho dan key memperhatikan mereka sambil sesekali tertawa.

“kau lebih cocok dengan taemin.” Celetuk minho tertawa sambil melirik jonghyun.

“jika taemin masih terus menari seperti itu, aku tidak akan menyukainya.” Sahut jin yong sambil menunjuk taemin.

“aku merasa ini bagus.” Ucap taemin tetap pada pendiriannya.

“tidak itu jelek.” Sahut jin yong cepat. pintu dorm terketuk, onew yang sedang mendengarkan musik membukakan pintunya.

“appa.” Ucap onew sedikit kaget.

“mana jin yong? Anak kurang ajar itu sedang apa disini.” Tanya appa langsung masuk lalu menarik tangan jin yong, seisi dorm pun kaget saat itu.

“ayo pulang sekarang.” Tarik ayahnya.

“appa, jangan sekasar itu pada jin yong.” Ucap onew menghampiri mereka.

“jadi kau membela adikmu yang kurang ajar ini?” tanya ayahnya menatap tajam wajah onew.

“iya, karena ia adikku.” Jawab onew cepat menarik tangan jin yong. Jonghyun langsung bangkit dari tempat duduknya.

“sudahlah, ayo kita pulang sekarang, tidak ada gunanya melawan appa, oppa.” Ucap jin yong mengambil tasnya.

“jadi kau tidak merasa anak appa lagi?” tanya ayahnya hendak menampar onew.

“appa, sudahlah.” Teriak jin yong yang hampir menangis. “kau sebenarnya menyayangi anakmu tidak? Hah? Oppa tidak salah, aku yang salah, dan aku sekarang tahu semua kenapa kau tidak menyetujui hubunganku dengan jonghyun oppa, aku tahu semuanya appa.” Semua penghuni dorm tersentak, tak terkecuali jonghyun dan onew.

“jin yong.” Sahut onew cepat.

“diamlah oppa, aku sudah tahu semuanya appa, karena jonghyun oppa atheis kan? Hanya karena itu aku tidak boleh menjalin hubungan dengannya. Jawab appa!!” Ucap jin yong yang air matanya tak sanggup bertahan lagi.

“cukup jin yong.” Sahut onew cepat.

“jika sudah sadar, pulanglah sekarang.” Ucap ayahnya pelan. Tanpa banyak bicara, jin yong berlari keluar dorm. Jonghyun yang sudah mengetahui semuanya dari awal, berlari mengejar jin yong keluar dorm. Appa yang hendak mengejar juga, dihalangi oleh onew, “biarkan mereka berdua appa, jangan mengganggu mereka.”

*

Jin yong terus berlari kesebuah taman tak jauh dari dorm shinee.

“jin yong-ah.” Teriak jonghyun lalu menghampiri jin yong.

“kenapa kau mengejarku? Seharusnya kau marah padaku dan keluargaku.” Tanya jin yong mengusap air matanya.

“Sejujurnya aku sudah tahu sejak dulu.” Ucap jonghyun pelan lalu menghampiri jin yong.

“kenapa kau masih mau menjalin hubungan denganku?” tanya jin yong yang hampir menangis.

“karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Jawab jonghyun tersenyum.

“cinta tidak penting sekarang, aku pikir hubungan kita harus benar-benar disudahi.” Ucap jin yong pelan. Jonghyun langsung meletakan jari telunjuknya dibibir jin yong.

“jangan berkata seperti itu. Aku masih mencintaimu, kau tega kau membiarkanku kurus kering karena memikirkanmu tiap hari?” ucap jonghyun dengan sedikit nada bercanda.

“aku bingung oppa.” Ucap jin yong cepat. dengan cepat jonghyun memeluk erat tubuh jin yong.

“semua kita bisa laksanakan dengan baik ditengah perbedaan ini. Percayalah padaku.” Sahut jonghyun mengusap rambut jin yong. Jin yong hanya mengangguk pelan dipelukan jonghyun.

*

Beberapa hari setelah kejadian malam itu, jin yong dan jonghyun tidak bertemu. Setelah bangun tidur, jin yong langsung menuju ruang televisi, lalu menyalakan tv-nya.

‘iya, dia kekasihku, namanya lee jin yong. Aku sudah hampir 1 tahun menjalin hubungan dengannya. Dia adik dari onew hyung......’

Jin yong tersenyum mendengar perkataan jonghyun disalah satu infotainment yang menampilkan fotonya sedang berpelukan dengan jonghyun setelah kejadian itu.

“kau sudah bangun jin yong?” tanya omma keluar kamarnya. Dengan cepat ia mematikan kembali televisinya karena ia melihat ayahnya keluar kamar juga dengan pakaian sangat rapi.

“appa mau kemana?” tanya jin yong pelan.

“appa akan segera bertugas kembali, appa akan pergi ke rusia untuk 3 bulan ini.” Jawab omma cepat. dengan senyum tipis, appa lalu menghampiri jin yong.

“jin yong, appa belum mengucapkan selamat padamu ketika kau menang lomba itu, sekarang, appa sedikit bangga padamu, ini untukmu, lanjutkan cita-cita mu.” Ucap appa memberikan sebuah kotak berwarna biru tua kepada jin yong

“terimakasih appa.” Sahut jin yon gpelan.

“mengenai hubunganmu dengan jonghyun, kemarin aku berbicara empat mata dengannya, kau boleh berhubungan dengannya, tapi ingat, appa tidak sepenuhnya merestui hubunganmu dengannya. Kau harus ingat itu.” Ucap ayahnya panjang lebar.

“dan satu lagi, jaga omma selama appa pergi.” Ucap ayahnya berjalan keluar rumah.

“terimakasih appa, aku akan berjanji padamu bahwa aku akan lebih hebat dari onew oppa.” Sahut jin yong tersenyum. Ayahnya hanya tersenyum tipis lalu masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.

*

“oppa, kau berkata apa pada appa?” tanya jin yong ditaman bersama jonghyun malam itu.

“ayahmu telah membicarakannya padamu?” jonghyun berbalik bertanya.

“ne,” jawab jin yong cepat.

“aku hanya bilang kalau kau itu adalah perempuan yang butuh kasih sayang dari seseorang sepertiku.” Ucap jonghyun cepat dengan nada bercanda.

“aku serius oppa. Lalu kenapa kau membocorkan kepublik kalau aku adalah kekasihmu?” ucap jin yong memandang wajah jonghyun.

“kau tidak menyukainya?” jonghyun bertanya lalu menatap wajah jin yong.

“bukan itu, tapi aku kan....” jin yong terhenti ketika jonghyun meletakan kepalanya dipundak jin yong.

“kita akan melanjutkan hubungan kita kan?” tanya jonghyun memejamkan matanya.

“tidak.” Jawab jin yong cepat.

“kau? Kenapa tidak?” tanya jonghyun yang langsung mengangkat kepalanya lagi.

“karena kau sudah berbohong padaku.” Jawab jin yong cepat.

“mianhanda jagiya, aku akan menceritakannya besok, aku janji.” Ucap jonghyun dengan nada bercanda. Jin yong hanya diam tersenyum lalu mengisyaratkan agar kepala jonghyun diletakan lagi dipundaknya.

“dasar kau jagiya jelek.” Ucap jonghyun meletakan kepalanya lagi dipundak jin yong.

hari ini benar benar cerah secerah perasaan jonghyun dan jin yong ditaman saat itu.

*TAMAT*

my love with my life (part 6)

“waahh, jin yong hampir sebulan kau tidak kegereja, kau kemana saja?” tanya yun hwa teman satu gereja jin yong saat mereka sudah selesai berdoa.

“aku sibuk, tapi akhirnya aku datang juga kaan?” jawab jin yong tersenyum senang.

“hei.” Ucap seorang perempuan mengagetkan jin yong dari belakang.

“ohh, hai lin wang, kau berdoa disini juga?” tanya jin yong tersenyum.

“iya, hanya kebetulan. Kudengar kau menang lomba biola ya?” ucap lin wang yang membuat yun hwa sedikit kaget.

“benarkah itu jin yong? Kau tidak menceritakan itu padaku.” Sahut yun hwa dengan nada tidak percaya.

“aku tidak pernah bertemu denganmu akhir-akhir ini kan.” Ucap jin yong tersenyum simpul.

“jika kau benar menang, selamat yaa.” Ucap lin wang yang terlihat tersenyum simpul.

“buku apa yang ada ditanganmu lin wang?” tanya yun hwa menunjuk sebuah buku biru ditangan kiri lin wang.

“ohh, ini buku tentang orang-orang bodoh.” Jawab lin wang menunjukan bukunya kepada yun hwa yang berjudul ‘atheis is the bad or good?’.

“maksudnya orang bodoh?” tanya jin yong bingung.

“bodohlah, mereka tidak mempercayai tuhan, padahal seharusnya mereka sadar bahwa mereka meminta dan mendapatkan sesuatu dari tuhan.” Jawab lin wang panjang lebar dengan wajah angkuhnya.

“iya, aku tidak suka orang atheis.” Sahut yun hwa sambil memikirkan sesuatu. Jin yong hanya diam, baginya beragama atau bukan selama mereka tidak merugikan disekeliling mereka, mereka bukan hal yang buruk.

“kau tahu jin yong, kim jonghyun shinee juga atheis. Itu satu-satunya hal yang aku benci darinya. Untungnya aku adalah fans yang menyayanginya, jadi aku berusaha melupakan atheis-nya itu.” Ucap lin wang memandang wajah jin yong. Jin yong terlihat kaget saat itu.

“benarkah dia atheis? Hah, aku baru tahu.” Ucap jin yong yang sebenarnya tidak percaya dengan ucapan lin wang.

“yaa, itu benar.” Jawab lin wang cepat. “maaf, rumahku kosong, aku harus cepat-cepat pulang sekarang. Sampai jumpa.” Lin wang berbalik arah. Yun hwa melabaikan tangannya sementara jin yong hanya diam seribu bahasa.

“jin yong, aku duluan ya, ada tugas dari pendeta kim. Sampai jumpa minggu depan.” Yun hwa juga pergi kembali kedalam gereja.

Jin yong memikirkan pernyataan lin wang. Kakinya yang kecil membawanya berjalan pelan kearah rumahnya. Ia teringat sesuatu, apakah karena itu appa tidak menyukai jonghyun. Jin yong baru ingat sekarang, ayahnya adalah penganut katolik yang sangat taat. Terutama keluarga appa-nya yang tidak menyukai akan agama-agama lain, apalagi appa-nya pernah bilang saat jin yong masih sekolah dasar, “jin yong anakku, appa tidak suka atheis, atheis adalah orang bodoh. Terbodoh sedunia.”

*

Sesampainya dirumah, jin yong tidak berkata apa-apa, diruang tamu sedang duduk perempuan muda memakai kacamata sambil membaca majalah. Jin yong tahu, perempuan itu adalah tantenya, lebih tepatnya adalah adik dari ayahnya. Ia tidak langsung menyapa tantenya itu, ia langsung beranjak kekamarnya tanpa melihat kearah tantenya itu.

*

Pag-pagi sekali, jin yong langsung berangkat kesekolahnya tanpa sarapan. Ia sangat malas satu meja dengan tantenya. Ia menganggap tantenya adalah tante yang sifatnya lebih jahat dibandingkan ayahnya sendiri.

Ketika jin yong baru sekitar beberapa meter dari depan rumahnya, lin wang menghampiri jin yong.

“hei, kau sendirian?” tanya lin wang pelan.

“seperti yang kau lihat, kau tidak sekolah?” tanya jin yong tersenyum.

“sekolahku libur hari ini.” Jawab lin wang pelan.

“ada apa memang? Kau mencariku?” tanya jin yong bingung melihat tingkah laku lin wang akhir-akhir ini.

“aniyo, aku ingin bertanya sedikit padamu. Kau tahu foto ciuman jonghyun dengan seorang gadis?” tanya lin wang menatap tajam mata jin yong.

“ohh, foto yang tersebar diinternet itu? Ne, aku tahu. Weiyo?” ucap jin yong yang hampir tersentak kaget dengan pertanyaan lin wang.

“seragam sekolahmu kan yang perempuan itu pakai? Kau mengenalnya?” tanya lin wang dengan santai.

“aku tahu itu seragam sekolahku, tapi wajah perempuan itu tidak terlihat. Jadi aku tidak tahu perempuan itu.” Jawab jin yong tersenyum yang tanpa terasa sudah berada didepan gerbang sekolahnya.

“ohh, jika kau tahu kau harus beritahu aku yaa.” Ucap lin wang memaksakan senyumnya.

“baiklah.” Sahut jin yong pelan memasuki gerbang sekolahnya.

*

Hari telah berganti. Burung-burung berterbangan dimusim yang sejuk ini. Dua pasang anak manusia sedang duduk berhadapan disebuah cafe dipusat seoul. Mereka sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius saat itu.

“ada apa jin yong kau mengajaku kesini?” tanya onew yang terlihat tampan dengan kaos kuning dan sweter biru tuanya.

“aku ingin bertanya pada oppa, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur yaa.” Jawab jin yong yang terlihta manis dengan rambut ia ikat satu.

“oppa akan menjawab sejujur-jujurnya.” Jawab onew tersenyum.

“oppa, apa benar appa tidak merestui hubunganku dengan jonghyun oppa hanya karena jonghyun oppa atheis?” tanya jin yong pelan.

“jin yong!” ucap onew tersentak kaget dan tidak percaya.

“jawab saja oppa.” Pinta jin yong pelan.

“tapi, kau tahu darimana hal itu?” tanya onew masih tidak percaya.

“sudahlah oppa, tidak ada yang harus ditutup-tutupi sekarang. Aku sudah tahu semuanya. Aku benci ini semua.” Ucap jin yon gpelan menundukan kepalanya.

“jin yong-ah, mianhanda, seharusnya oppa memberitahukanmu sejak dulu. Oppa menyesal.” Ucap onew menggenggam tangan jin yong.

“lupakan saja oppa.” Sahut jin yong pelan. Tiba-tiba ponselnya berdering.

“ada apa?” tanya jin yong mengangkat teleponnya.

“bisakah kita bertemu sekarang ditaman?” tanya suara perempuan yang tidak lain adalah lin wang.

“baiklah, aku akan segera kesana.” Ucap jin yong pelan menutup teleponnya.

“kau mau kemana?” tanya onew bingung melihat jin yong membereskan tasnya.

“aku ingin bertemu dengan seseorang oppa, pembicaraan kita hari ini tolong jangan kau beritahu siapapun, termasuk jonghyun oppa dan appa.” Jawab jin yong meninggalkan onew sendirian.

*

“maaf lin wang membuatmu menunggu lama.” Ucap jin yong memaksakan senyumnya kepada lin wang yang terlihat dingin.

“kau sudah tahu perempuan yang dicium jonghyun?” tanya lin wang menghampiri jin yong. Jin yong hanya menggelengkan kepalanya.

“aku sudah tahu.” Sahut lin wang cepat.

“siapa?” tanya jin yong dengan nada sangat gugup.

“ini.” Lin wang memberikan setumpuk foto. Foto itu adalah foto dirinya saat mengikuti lomba biola beberapa waktu lalu yang ditemani onew dan jonghyun.

“kau kan perempuan yang dicium jonghyun? Kau kan kekasihnya jonghyun? Dan kau kan adik dari onew? Jawab jin yong!” tanya lin wang mendorong tubuh jin yong.

“mianhae, aku tidak mau menyakiti hatimu.” Ucap jin yong pelan.

“kau jahat padaku, kau sama saja dengan orang lain. Aku benci kau.” Sahut lin wang hampir menagis.

“mianhae lin wang.” Ucap jin yong pelan.

“pergi kau dari hadapanku, aku muak melihat wajahmu.” Suruh lin wang yang terlihat air matanya mulai jatuh.

Jin yong yang merasa bersalah, lalu pergi meninggalkan lin wang dengan penuh harapan agar lin wang memaafkannya.

my love with my life (part 5)

Hari terakhir jin yong latihan biolanya. Ia pulang terlalu larut malam itu.

“aku pulang omma.” Ucapnya ketika memasuki rumahnya. Tiba-tiba ayahnya langsung menariknya kearah ruang televisi.

“lihat ini, ini kau kan?” tanya appa yang menunjuk kelayar laptop. Dilayar itu terdapat sebuah foto dua orang pasangan sedang berciuman. Diatasnya tertulis judul, “jonghyun sedang berciuman?”

“ini kau kan?” tanya appa sekali lagi. Jin yong masih terus mengamati foto itu. Dia tahu bahwa itu adalah foto dirinya dan jonghyun beberapa hari yang lalu. Lantas, jin yong membaca sedikit berita itu, “siapa kah perempuan yang sedang berciuman dengan jonghyun ini? Apakah kekasihnya?”

“jawab jin yong!” suruh ayahnya yang nadanya sudah meninggi.

“iya, itu aku. Kau senang kan appa?” sahut jin yong cepat lalu menatap kearah appanya. Dengan seketika, appa langsung menampar wajah jin yong.

“appa, sekarang aku bertanya padamu. Kenapa kau tidak merestui hubunganku dengan jonghyun oppa?” jin yong bertanya sambil memegangi pipinya yang memerah.

“karena jonghyun...”

“appa sudahlah.” Teriak omma menghentikan ucapan appa.

“biarkan omma, aku butuh alasan yang jelas untuk ini.” Ucap jin yong yang air matanya mulai turun.

“karena jonghyun bukan lelaki yang baik untukmu.” Ucap appa cepat.

“mengapa dia tidak baik appa?” tanya jin yong lagi.

“sudahlah, masuklah kau kekamar sekarang.” Suruh appa tanpa banyak basa-basi. Jin yong tanpa banyak basa-basi langsung pergi kekamarnya sambil mengusap air matanya.

*

Siang itu, jin yong ditemani omma pergi menuju tempat perlombaan. Perasaan tegang menyertai dadanya. Ini perlombaan pertamanya diluar sekolah. Ia harus menang mau bagaimanapun agar appanya bisa menganggapnya sebagai anaknya.

Sesampainya ditempat perlombaan, jin yong langsung duduk dibangku peserta. Setelah menunggu beberapa menit, nama jin yong pun dipanggil, ia pun langsung berdiri dihadapan para juri dan memainkan biolanya dengan nada yang sangat indah.

Setelah sore datang, jin yong bersiap pulang dengan omma-nya. Pengumuman 15 besar akan diumumkan besok lewat internet.

Sesampainya dirumah, jin yong langsung kekamarnya, membuka laptopnya lalu mengaktifkan cyworldnya. Disana ada pesan dari jessica snsd, ‘jin yong-ah, kudengar dari onew, kau mengikuti lomba biola, fighting untuk itu ya, aku akan mendoakanmu. J’

Jin yong langsung tersenyum dan langsung membalasnya, ‘gomabseubmnida onnie, aku akan berusaha semaksimal mungkin J’

Disela sela mengaktifkan cyworldnya, jin yong membuka website milik shinee, besok adalah hari dimana shinee launching MV terbaru di acara music bank. “aku akan menyaksikannya.” Gumam jin yong sendirian lalu tersenyum.

*

Keesokan harinya, jin yong masih pulang larut malam, ia masih berusaha berlatih biolanya disekolah. Sesampainya dirumah, ia membuka laptopnya, dan membuka website perlombaan biola yang ia ikuti. Senyumnya terkembang, jin yong masuk 15 besar. Dengan senang hati, ia menyambut lusa sebagai hari final menyambut kemenangan. Dengan sedikit berlari, jin yong menghampiri omma.

“omma, aku masuk 15 besar.” Teriak jin yong menghampiri omma didapur.

“benarkah? Chukae anakku.” Ucap omma tersenyum sangat senang.

“aku akan lebih berusaha omma.” Sahut jin yong yang hampir menangis.

“harus, omma akan selalu mendoakanmu.” Ucap omma memeluk jin yong.

Jin yong langsung menuju keruang keluarga, lalu menyalakan televisi. Tepat saat shinee memulai acaranya. Ia menatap jonghyun dalam-dalam. Ingin rasanya menghubunginya dan langsung memberitahu bahwa ia masuk final, tapi itu tidak mungkin karena acara yang diisi oleh shinee adalah live.

“jonghyun, kami melihat fotomu sedang berciuman, apakah itu kekasihmu?” tanya pembawa acara ketika acara sudah dipertengahan.

“ne, dia kekasihku.” Jawab jonghyun sangat mantap. Jin yong yang mendengarnya tersentak kaget. Onew yang duduk disebelah jonghyun hanya tersenyum.

“kalau boleh tahu, siapakah namanya? Sepertinya masih sekolah.”

“untuk nama aku tidak ingin memberitahu sekarang.” Jawab jonghyun tegas.

“perempuan itu seumuran dengan kau taemin?” sekarang pembawa acara tersebut bertanya pada taemin.

“tidak, dia lebih tua beberapa bulan dariku.” Jawab taemin tersenyum.

“jadi kalian tahu, jika jonghyun berhubungan dengan perempuan itu?”

“kami tahu.” Jawab key cepat. cesss, tiba-tiba televisi mati.

“appa, apa yang kau lakukan?” tanya jin yong yang sangat marah.

“masuk kekamarmu sekarang!” suruh appa dengan wajah marahnya.

“appa jahat.” Celetuk jin yong pergi masuk kedalam kamarnya. Dikamarnya, jin yong membuka laptopnya lagi dan membuka cyworldnya lalu membuka cyworldnya jonghyun dan menuliskan sesuatu untuknya, ‘oppa, aku masuk final datang yaaa J’ setelah menuliskan kata-kata itu, jin yong langsung tertidur pulas ditempat tidurnya.

*

Final pun sudah datang, jin yong ditemani omma, onew, dan jonghyun datang ketempat acara itu. Jin yong yang sedikit gugup dirangkul oleh onew yang memakai kacamata hitamnya.

“tenang, jin yong. Aku akan mendoakanmu.” Bisik onew kepada jin yong. Jin yong hanya mengguratkan senyum tipisnya.

Setelah acara dimulai, nama jin yong dipanggil. Ia sedikit gugup, tapi ia memulainya dengan sangat baik. Ia memainkannya dengan sangat indah dibanding tiga hari yang lalu. Setelah ia selesai memainkan biolanya, banyak tepuk tangan menyudahi permainannya.

“jagiya, kau hebat.” Bisik jonghyun yang memakai topi hijaunya.

“gomapda oppa.” Sahut jin yong pelan.

Setelah menunggu dua jam, hasil pemenang pun diumumkan. Jantung jin yong berdegup kencang, tangan onew terus memegangi tangan adiknya yang dingin. Sementara jonghyun terus merangkul jin yong. Omma hanya bisa berdoa dalam hatinya.

*

“appa, aku menang appa.” Teriak jin yong ketika baru sampai didalam rumahnya. Appa hanya diam keluar dari arah kamarnya.

“itu hal yang biasa, mungkin kau hanya beruntung.” Sahut appa ketus.

“appa, sebaiknya kau ucapkan selamat untuk anakmu.” Sahut omma sedikit tidak menyukainya.

“sudah biarkanlah omma, dia memang tidak menyayangiku.” Ucap jin yong pelan membawa tas biolanya menuju kamarnya.

Ketika jin yong hendak merebahkan badanya di tempat tidur, ponselnya berdering. Dengan senyum mengembang, jin yong mengangkatnya.

“oppa, terimakasih doanya. Aku sangat senang malam ini.” Ucap jin yong membanting tubuhnya ditempat tidurnya.

“selamat ya adikku, kau memang hebat. Jangan lupa kau menraktir kakakmu ini.” Sahut onew dengan nada bercanda.

“tenang saja oppa, kau mau kapan?” tanya jin yong dengan nada bercanda juga.

“uhmm, terserah kau saja.” Jawab onew tersenyum.

“okeoke oppa, besok aku akan ke gereja, sudah lama aku tidak berdoa disana.” Ucap jin yong masih terlihat senang.

“ya, kesanalah. Berterimakasih pada tuhan.” Ucap onew pelan.

“pasti oppa.” Sahut jin yong cepat.

Malam semakin larut. Bulan dan bintang menguasai hari mereka malam itu. Angin yang terlihat lembut menyapa dedaunan malam yang membalasnya dengan lambaian tenang.

my love with my life (part.4)

Malam telah larut, jin yong masih belum bisa tidur. Ia tertekan. Perasaannya campur aduk dan rasa bingung masih menyertai pikirannya tentang kenapa ayahnya membenci jonghyun.

Jin yong beranjak dari kamarnya dengan memakai switer merahnya. Membawa ponsel dan uang secukupnya lalu keluar kamarnya dan pergi keluar rumahnya. Ia kabur.

*

Malam semakin larut dan dingin. Jin yong melihat tukang roti dipinggir jalan. Ia tahu ia belum makan malam hari itu. Ia teringat pesan onew bahwa ia harus menjaga makanannya. Dengan langkah pelan, jin yong membeli sebuah roti hangat lalu duduk dibawah pohon rindang dan memakannya.

Disela-sela jin yong memakan rotinya, jin yong mendengar sayup sayup suara gesekan biola. Ia mencari sumber suaranya, tepatnya diujung jalan ada seorang wanita paruh baya sedang mengamen menggunakan biolanya. Dengan langkah cepat, jin yong menghampiri wanita tersebut.

Ia memperhatikan wanita tersebut, tidak terlihat seperti pengamen. Wanita tersebut sudah tidak memainkan biolanya, bersiap untuk pulang.

“mian, kau sudah ingin pulang?” tanya jin yong duduk disebelah wanita itu.

“iya, hari sudah terlalu malam dan sudah terlalu dingin, kasihan anakku sendirian dirumah.” Jawab wanita itu masih membereskan biolanya.

“boleh aku memainkan biolamu untuk waktu sebentar saja?” tanya jin yong lagi.

“silahkan jika kau mau.” Jawab wanita itu mengguratkan senyum kelelahannya. Dengan hati senang jin yong memainkan biola itu. Nada sedih yang ia ciptakan cukup menggambarkan kegundahan hatinya malam itu. Tanpa sadar banyak orang yang memberikan uang receh kepada jin yong dan banyak juga orang-orang yang memperhatikan permainan biola jin yong.

Setelah jin yong sudah selesai memainkan biolanya, tepuk tangan orang disekitarnya meriah. Jin yong tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang disekitarnya.

“waah, siapa namamu nak?” tanya wanita itu masih terkagum-kagum.

“lee jin yong, ajumma.” Jawab jin yong tersenyum.

“terimakasih kau sudah membantuku.” Ucap wanita itu sambil menundukan badannya.

“sama-sama ajumma, hanya sekedar ingin membantu.” Balas jin yong lalu memberikan uang hasil mengamennya kepada wanita itu.

“kau ingin pergi kemana malam-malam seperti ini, jin yong?” tanya wanita itu masih mengguratkan senyumnya.

“entahlah, aku sedang kabur dari rumah, ajumma.” Jawab jin yong memandangi lampu-lampu toko yang sudah meredup.

“kenapa? Perempuan secantik dirimu punya masalah?” tanya wanita itu berjalan pelan meninggalkan tempat itu.

“banyak masalah menimpaku akhir-akhir ini, tapi lupakanlah ajumma, tidak sebaiknya aku memberitahu kesedihanku kepada orang lain.” Ucap jin yong tersenyum.

“jika kau tidak ada tempat tinggal, menginaplah dirumahku malam ini. Kau bisa tidur dengan anakku, dia sepertinya seumuran denganmu. Tolong kau jangan menolaknya, anggap saja sebagai tanda terimakasihku padamu.” Wanita itu sedikit memaksa.

“jika itu tidak merepotkan, aku tidak menolaknya ajumma.” Ucap jin yong tersenyum.

“waahh, aku akan sangat senang.” Sahut wanita itu cepat. mereka pun berjalan ditengan dinginnya melam menuju rumah wanita itu.

*

“onew, dimana adikmu? Sudah pulangkah?” tanya jessica setelah selesai mengisi acara malam itu.

“ne, dia hanya menitipkan salam kepada kalian.” Jawab onew pelan.

“ahh, jin yong, padahal aku masih ingin mendengarkan alunan biolanya.” Celetuk sunny sedikit menyesal.

“dia janji akan bertemu kalian jika ada waktu lagi nanti.” Sahut onew pelan.

“kami akan menunggunya.” Ucap sunny pelan lalu tersenyum.

*

“lin wang, ibu pulang.” Teriak wanita itu ketika sampai dirumahnya yang terlihat sederhana. “masuklah, anggap saja rumah sendiri.”

“ibu, kenapa pulang selarut ini?” tanya seorang perempuan yang terlihat seumuran dengan jin yong. Perempuan berambut pendek sebahu yang bernama lin wang dengan dandanan standar itu langsung menatap jin yong dalam-dalam.

“maafkan ibu nak, oiya, kenalkan dia jin yong. Dia akan menginap disini, malam ini kau tidur dengannya ya.” Ucap wanita itu sambil tersenyum menatap jin yong.

“hah? Sekamar denganku?” tanya lin wang yang terlihat sangat kaget saat itu.

“tenang, aku hanya menginap semalam dirumahmu, besok aku akan pulang. Maaf jika merepotkan.” Ucap jin yong sambil tersenyum.

“baiklah jika begitu. Omma, aku sudah membuatkan air hangat untukmu dan makanan dimeja makan, segeralah bersihkan dirimu lalu makan.” Ucap lin wang kepada ibunya.

“baiklah nak, terimakasih.” Ucap wanita itu lalu pergi menuju kamar mandi.

“dan kau, ayo ikut aku kekamarku. Kelihatannya kau lelah.” Ucap lin wang lalu pergi menuju kamarnya diikuti jin yong.

Dikamar yang tidak sebesar kamar jin yong, terdapat berbagai pernak-pernik shinee, mulai dari poster, foto-foto dan berbagai pernak-pernik. Jin yong terkagum kagum tentang hal itu.

“kau sepertinya fans berat shinee ya?” tanya jin yong masih memperhatikan kamar lin wang.

“ya bisa dibilang seperti itu, kau juga?” lin wang berbalik bertanya.

“aku? Ohh, hanya suka biasa saja.” Jawab jin yong menyembunyikan statusnya.

“kukira kau juga fans mereka, jangan sentuh barangku!” ucap lin wang cepat ketika jin yong hampir menyentuh cangkir bergambar shinee.

“mianhae, kau suka siapa di shinee?” jin yon gmengalihkan perhatiannya pada poster besar didepan tempat tidur lin wang.

“aku suka onew dan jonghyun. Kenapa?” ucap lin wang yang sekarang memperhatikan wajah jin yong.

“mereka berdua tampan.” Sahut jin yong tersenyum.

“jika aku perhatikan, wajahmu mirip onew. Kau siapanya?” ucap lin wang penasaran.

“ne? Aku? Aku tidak kenal dengannya, mungkin hanya mirip sekilas saja.” Sahut jin yong cepat menyembunyikan statusnya.

“ohh, kukira kau punya hubungan darah dengannya. Kau tahu, aku paling tidak suka jika ada perempuan yang mendekati onew dan jonghyun. Aku pernah hampir membunuh seorang fans shinee karena ia dapat ciuman dipipi oleh onew.” Cerita lin wang yang sekarang merebahkan badannya ditempat tidurnya. Jin yong sedikit tersentak kaget, tapi masih bisa menahan tingkah lakunya.

“sebegitunya kah kau?” tanya jin yong tidak percaya.

“yaa, begitulah.” Jawab lin wang yang langsung keluar kamar saat ibunya memanggil.

“huuuh, untungnya dia tidak mengenal diriku.” Gumam jin yong sendirian ketika ponselnya berdering.

“weiyo oppa?” tanya jin yong yang ternyata onew yang menelpon.

“kau dimana sekarang?” tanya onew pelan.

“Aku dirumah, baru saja ingin tidur.” Jawab jin yong berbohong pada kakaknya.

“tidurlah, sudah malam. Maaf ya adikku aku mengganggu.” Ucap onew tersenyum lalu langsung menutup ponselnya. Seketika lin wang masuk dengan membawa sepiring kue dan segelas susu.

“ini untukmu, siapa yang menelponmu malam-malam seperti ini?” tanya lin wang penasaran memberikan susu itu kepada jin yong.

“ohh, terimakasih. Tadi kakakku menelpon.” Jawab jin yong meletakkan ponselnya dimeja.

“kau punya kakak?” tanya lin wang duduk ditempat tidurnya.

“ne.” Jawab jin yong tersenyum.

“ehmm, eh boleh kulihat gantungan ponselmu. Blingbling? Kau menyukai jonghyun?” tanya lin wang sedikit kaget saat menatap gantungan di ponsel jin yong.

“aniyo, aniyo. Gantungan ini dari kekasihku. Waktu itu kami membelinya disebuah toko. Sebenarnya gantungan itu sepasang, blingbling dan starstar. Aku pegang yang ini, sedangkan kekasihku pegang yang satunya lagi.” Ucap jin yong menjelaskannya panjang lebar.

“ohh, kukira kau menyukainya juga.” Celetuk lin wang merebahkan dirinya. Jin yong hanya tersenyum simpul.

*

Jam didinding menunjukan pukul 3 pagi. Jin yong terbangun dari tidurnya. Ia melihat lin wang disebelahnya terlihat sedang berdoa.

“kau sedang berdoa?” tanya jin yong ketika lin wang sudah selesai.

“ne, ibuku selalu menyuruhku berdoa sebelum aku tidur. Memangnya orang tuamu tidak pernah menyuruhmu berdoa?” ucap lin wang mengambil selimutnya.

“pernah, tapi tidak selalu. Kau katolik taat?” tanya jin yong sedikit penasaran dengan sikap lin wang yang dingin.

“ya, aku katolik taat. Kau katolik juga?” lin wang berbalik bertanya.

“yaa.” Jawab jin yong pelan lalu tertidur pulas kembali.

*

Pagi sudah menjelang, jin yong kembali kerumahnya setelah sarapan dirumah lin wang. Ia sangat berterimakasih saat itu, ibu lin wang sangat baik padanya. Lin wang yang masih tetap dingin hanya tersenyum simpul melepas kepergian jin yong.

Sekitar pukul 9 pagi, jin yong sampai dirumahnya. Rumahnya begitu sepi. Hanya ada omma dirumah.

“hoh, jin yong kau pulang, omma merindukanmu.” Ucap omma langsung memeluk anak perempuannya itu.

“aku baik-baik saja omma.” Jawab jin yong pelan. “oiya omma, aku harus langsung pergi ketempat latihan biolaku, aku hampir saja terlambat.” Sambung jin yong berlari menuju kamarnya lalu mengambil tas biolanya.

“langsung pulang nak,” pesan omma disambut senyum manis jin yong ketika hendak keluar rumah.

*

Hari sudah mulai gelap, jin yong memasuki rumahnya dengan senyum mengembang diwajahnya.

“jin yong anakku, makanlah disini.” Suruh omma dari arah meja makan. Jin yong dengan senyum manisnya langsung duduk disebelah omma tepat didepan ayahnya.

“omma, aku ikut lomba bermain biola se-seoul minggu depan. Dan jika menang, hadiahnya 2juta won.” Cerita jin yong sambil tersenyum.

“benarkah anakku? Kau hebat nak.” Ucap omma sambil mengusap rambut jin yong.

“aku akan berusaha hingga menang omma.” Sahut jin yong memakan nasinya tanpa memandang ayahnya.

“kau harus berusaha anakku.” Ucap omma masih sangat bahagia.

*

“kau pulang sore sekali, ada apa?” tanya jonghyun hari itu. Hari itu jonghyun menjemput jin yong yang pulang lebih larut dari biasanya.

“oppa, kau pasti sangat terkejut jika kau tahu kenapa aku pulang lebih larut.” Sahut jin yong tersenyum menatap jonghyun sambil membawa tas biolanya.

“memangnya ada apa? Jagiya, jangan buat aku penasaran seperti ini.” Tanya jonghyun duduk dibangku taman yang sedang mereka lewati.

“oppa, aku akan mengikuti lomba memainkan biola lusa, dan aku berharap kau akan datang mendukungku.” Jawab jin yong dengan senyum merekah diwajahnya.

“waahh, jagiya. Kau hebat, aku akan mendukungmu. Tapi, sepertinya lusa aku tidak bisa, ada jadwal yang harus shinee hadirkan. Mianhanda.” Ucap jonghyun mengusap rambut jin yong.

“gwencanha oppa, lusa adalah babak penyisihan, jika aku masuk 15 besar, aku akan kefinal. Dan kuharap kau akan menyaksikannya oppa. Jebal.” Ucap jin yong dengan nada meminta.

“pasti jagiya, aku akan selalu mendukungmu.” Sahut jonghyun tersenyum manis.

“gomabseumnida oppa.” Sahut jin yong tersenyum.

“bagaimana kabar appamu? Appamu senang kau ikut perlombaan ini?” tanya jonghyun memperhatikan seorang anak lelaki yang sedang bermain sepeda melewati taman itu.

“sepertinya tidak, dia tidak merespon sama sekali.” Jawab jin yong memainkan kakinya.

“tidak apa-apa, kau harus berusaha sampai menang ya.” Ucap jonghyun memberikan semangatnya.

“pasti oppa.” Sahut jin yong meletakan kepalanya dipundak jonghyun.

“oppa, kau terlihat lebih kurus sekarang, kau tidak pernah makan yaa?” tanya jin yong memperhatikan seluruh tubuh jonghyun.

“jagiya, aku kurus tapi tidak sekurus kau kan?” sahut jonghyun menarik sedikit wajah jin yong agar menatap wajahnya.

“kau banyak pikiran yaa?” tanya jin yong lagi.

“ne, aku memikirkanmu setiap hari.” Jawab jonghyun tersenyum.

“oppa, dasar kau lucu.” Sahut jin yong tersipu.

“jagiya.” Panggil jonghyun pelan.

“mwo?” tanya jin yong lalu menatap wajah jonghyun dalam-dalam.

Jonghyun lalu mendekatkan wajahnya kewajah jin yong. Dengan sangat romantis, jonghyun mencium bibir jin yong. Jin yong yang sedikit kaget, lalu memejamkan matanya menikmati ciuman mereka. Hari yang semakin sore membuat adegan romantis itu bersinar.