Laman

Showing posts with label boyfriend. Show all posts
Showing posts with label boyfriend. Show all posts

December 4, 2011

[FF] family holiday (oneshoot)


CAST:

· KIM DONGHYUN ‘BOYFRIEND’

· JANG MIN RAE (AUTHOR)

· KIM MIN JOO (AUTHOR)

· MINJI 2NE1 (CAMEO)

“eomma, kapan kita tamasya lagi? Aku ingin pergi bersama eomma dan appa.” Ucap min joo saat min rae memakaikan seragam sekolahnya. min rae tersenyum.

“nanti, eomma akan tanyakan appa dulu yaa, sekarang kau berangkat. Bus sekolahmu sudah menunggu.” Jawab min rae mengusap lembut rambut anak perempuannya tersebut. Min joo tersenyum senang dengan sedikit berlari ia menghampiri bus sekolahnya. min rae memperhatikan kepergian anaknya itu ketika seorang lelaki datang lalu duduk didepan meja makan.

“min joo sudah berangkat?” tanya donghyun yang tidak lain adalah suami min rae.

“hem, baru saja. Dia ingin pergi bertamasya dengan kita, akhir minggu ini kau bisa meluangkan waktumu?” tanya min rae membenarkan dasi donghyun yang terlihat miring.

“mian, jagi. Pekerjaan bertumpuk untuk minggu ini, tapi akan aku usahakan minggu depan.” Jawab donghyun tersenyum mengusap pelan pipi istrinya tersebut. Min rae hanya tersenyum mengerti akan ucapan suaminya itu.

*

“ada apa? Sangat sibuk mengurus anakmu sehingga baru hari ini berkunjung?” tanya seorang perempuan menyuguhkan secangkir teh hangat kepada min rae.

“ne, anakku baru saja masuk sekolah, dan kau tahu dia ingin sekali pergi denganku dan donghyun.” Jawab min rae mengambil secangkir teh tersebut lalu meneguknya perlahan. Siang ini ia berkunjung kerumah sahabat lamanya, minji. Mereka sudah sangat lama mengenal sehingga min rae sering bercerita banyak tentang kehidupannya dan juga sebaliknya.

“apa itu sulit bagimu? Kau bisa pergi kesuatu tempat yang kau mau bersama dnegan anakmu dan suamimu yang pengusaha muda itu.” Sahut minji cepat menatap wajah min rae yang terlihat sedikit gusar.

“yaa tapi itu sulit bagiku, donghyun sangat sibuk, diakhir minggu sekalipun.” Min rae meletakan cangkirnya kembali.

“Itu konsekuensimu untuk menikah muda, seharusnya kau sudah memikirkan ini dari awal.”

Min rae dan donghyun memang menikah disaat umur mereka 21 dan 23 tahun. Mereka memilih menikah muda karena mereka berpikir akan lebih banyak waktu yang mereka lalui berdua jika mereka sudah mempersatukan hubungan mereka di jenjang pernikahan. Semua berjalan lancar dalam kehidupan pernikahan mereka, tapi setelah 2 tahun menikah, ayah donghyun memberikan jabatannya kepada anak lelaki satu-satunya ini. Donghyun pun semakin sibuk hingga anak pertama mereka, min joo lahir. Min rae yang mencintai suaminya itu sangat mengerti akan pekerjaan donghyun. Seiring waktu berjalan, min joo beranjak menjadi seorang anak perempuan yang cantik dan berusaha ingin dekat dengan ayahnya. Sejak jalan-jalan dengan keluarganya ketika min joo masih berumur 3 tahun, min joo tidak pernah pergi dengan ayahnya sampai saat ini. Sementara disekolahnya yang baru, banyak teman-temannya yang sering bercerita tentang akhir minggu mereka.

*

Malam kembali tiba. Setelah membersihkan wajahnya, min rae berbaring disebelah donghyun yang dari tadi menatapnya. Min rae tersenyum menatap suaminya itu.

“bisakah kita pergi minggu depan?” tanya min rae pelan masih membalutkan senyum dibibirnya.

“akan aku usahakan.” Jawab donghyun sambil membelai mesra rambut istrinya itu.

“atau aku minta izin saja pada appa.”

“tidak usah, itu merepotkanmu. Appa juga pasti tidak akan mengijinkannya.”

“yeobo-ah, ayolahhh....” ucap min rae sedikit merenget. Donghyun hanya tersenyum lalu mencium kening istrinya tersebut.

*

Pagi ini terlalu sibuk untuk min rae. Donghyun pergi kerja sangat pagi,hingga ia lupa membangunkan min joo yang masih tertidur pulas dikamarnya. Setelah donghyun berangkat, min rae berusaha membangunkan min joo. Min joo terlihat tidak bergairah hari ini. Ia masuk kekamar mandi lalu memakai pakaian yang sudah diseiapkan min rae diatas tempat tidurnya. Setelah memakai seragamnya, anak manis ini turun menuju ruang makan.

“akhirnya kau turun min joo-ah, cepat sarapan bus sekolahmu akan datang 5 menit lagi.” Sapa min rae tersenyum mengusap rambut min joo.

“aku tidak mau naik bus hari ini.” Sahut min joo dengan wajah sedikit kesal. Min rae menatapnya bingung. “aku mau eomma mengantarku kesekolah seperti teman-teman yang selalu diantar orang tuanya.” Ucapan min joo dengan tatapan nanarnya membuat hati min rae meleleh. Mata min rae sedikit basah mendengarnya.

“baiklah, hari ini, eomma akan mengantar min joo. Anak eomma jangan memasangan wajah begitu ya, min joo harus selalu tersenyum. Sekarang habiskan sarapanmu, eomma mengganti pakaian dulu.” Ucap min rae tersenyum mengusap pipi min joo.

“gomapseumnida eomma.” Sahut min joo tersenyum.

*

“eomma sudah meminta appa untuk pergi jalan-jalan dengan kita?” tanya min joo ditengah perjalan mereka menuju sekolah min joo.

“sudah, eomma sudah menyuruh appa untuk libur diakhir minggu depan.” Jawab min rae memarkirkan mobilnya didepan sekolah min joo.

“kenapa tidak minggu ini eomma?” tanya min joo dengan tatapan antusiasnya.

“appa-mu tidak bisa, tapi eomma berani bertaruh minggu depan pasti kita akan pergi. Kau percaya eomma kan?” ucap min jae meyakinkan putrinya itu.

“hemm, sampai jumpa eomma.” Min joo sumringah turun dari mobil.

“belajar yang rajin... eomma akan menjemputmu nanti.” Teriak min jae melambaikan tangannya yang dibalas lambaian tangan min joo.

*

“min joo-ahh, anak appa yang paling manis, lihat appa bawa apa?” donghyun langsung memeluk min joo dan memberikan sebuah boneka anak anjing berwarna putih pada min joo.

“gomapseumnida appa.” Jawab min joo memeluk appanya sekali lagi. Min rae yang melihatnya dari dapur hanya tersenyum melihat keakraban mereka berdua.

*

Akhir minggu sudah datang, donghyun masih sibuk dengan pekerjaannya sementara min rae mengajak minjoo berbelanja diakhir minggu yang berangin ini.

“eomma...” panggil min joo sambil memakan lolipop yang ia pegang.

“hem, ada apa?” tanya min rae tersenyum sambil menggandeng tangan min joo.

“eomma kenapa bisa menikah dengan appa? Teman temanku selalu bilang kalau appanya sangat hebat, aku bingung jika ada teman yang bertanya tentang appa.” Tanya min joo membuat min rae sedikit kagum dengannya.

“donghyun appa, dia adalah lelaki yang baik, dan yang paling penting dia sayang padamu dan eomma.” Jawab min rae sambil sejenak berpikir.

“tapi dia tidak ingin pergi denganku.” Sahut min joo cepat.

“min joo-ahh, appa ingin pergi denganmu, tapi tidak sekarang. Appa juga sering memberikanmu hadiah kan? Appa juga menyayangimu sangat menyayangimu. Ingat ya, tidak pergi sekarang bukan berati appa tidak baik, hanya butuh waktu.” Jelas min rae panjang lebar kepada anaknya itu. “bagaimana jika kita pergi kekantor appa sekarang? Bertemu kakek juga.” Ajak min rae menggendong min joo menuju mobilnya. Min joo hanya mengangguk pelan.

*

“ada apa datang kesini?” tanya seorang lelaki paruh baya dengansetelan jas rapi sambil melirik min joo yang duduk disebuah sofa coklat sambil menghabiskan lolipopnya yang daritadi masih ia pegang ditangannya.

“appa, aku ingin minta ijin pergi akhir minggu depan dengan donghyun.” Jawab min rae dengan nada sedikit gugup.

“bukankah kau dan donghyun seharusnya pergi tiap akhir minggu?” ayah donghyun bertanya dengan tatapan bingung.

“akhir akhir ini donghyun selalu bekerja hingga hari minggu, appa.” Jawab min rae yang ikut bingung.

“aku tidak pernah mempekerjakan dia hingga akhir minggu, aku tahu anaknya butuh rekreasi diumurnya yang sekarang, jadi aku tidak ingin mengambil kebahagiaan cucuku.” Sahut kakek min joo menghampiri min joo dan menggendongnya. Min rae menatap mereka lalu berpikir.

*

“tadi siang aku datang kekantormu dan bertemu ayahmu.” Ucap min rae dengan wajah kesal ketika donghyun baru pulang tepat pukul 11 malam.

“sudah kubilang jangan bertemu appa.” Sahut donghyun cepat.

“dia bilang dia tidak pernah menyuruhmu bekerja hingga akhir minggu, bahkan dia tidak tahu jika kau bekerja hingga akhir minggu. Apa yang kau lakukan sebenarnya?” tanya min rae yang tidak bisa menahan emosinya sekarang.

“aku lelah!” ucap donghyun sangat keras membuat min rae menatapnya sinis.

“aku tahu kau lelah, tapi sampai kapan kau membohongin min joo?” tanya min rae berdiri dihadapan donghyun. Donghyun menatap mata min rae.

“sudah kau bilang kan aku lelah, aku sedang malas berbicara.” Donghyun mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi. Min rae yang sangat kesal langsung berbaring diatas tempat tidurnya.

*

Pagi datang cukup cepat, min rae sudah rapi pagi ini. Donghyun yang berusaha bangun dari tidurnya memperhatikan istrinya yang terlihat hendak pergi.

“kau mau kemana?” tanya donghyun membersihkan matanya.

“aku ingin kepantai dengan min joo.” Jawab min rae mengambil kunci mobilnya yang terletak diatas meja.

“tanpa aku?” tanya donghyun bingung.

“aku dan min joo bisa pergi tanpa kau.” Min rae keluar lalu menutup pintunya cukup keras.

*

“kita mau kemana eomma?” tanya min joo memperhatikan min rae yang sedang kacau menyetir mobilnya.

“kita akan ketaman bermain hari ini.” Jawab min rae memaksakan senyumnya.

“appa tidak ikut?” tanya min joo bingung.

“jangan membicarakan appa-mu hari ini.” Ucap min rae yang tanpa sadar ia membentak min joo.

“eomma, aku tidak mau pergi jika tanpa appa.” Sahut min joo pelan sambil menunduk. Min rae menghentikan mobilnya lalu menatap min joo dengan tatapan bersalah.

“maaf eomma membentakmu, tapi kita kan bisa pergi berdua.” Ucap min rae mengusap pipi min joo.

“aku tidak mau pergi tanpa appa.” Sahut min joo hendak menangis. Min rae menghela napas panjang.

“baiklah, kita pergi kerumah bibi minji saja, kau bisa bermain dengan adik sepupunya yang seumuran denganmu disana.” Min joo hanya mengangguk mendengar ajakan min rae itu.

*

“berpikirlah lebih positif, dan bicarakan hal ini saat pikiran kalian tenang, aku yakin semalam pikiran kalian berdua kacau karena kalian lelah. Donghyun karena pekerjaannya dan kau karena mengurus min joo. Jadi carilah waktu yang tepat untuk membicarakan ini, aku yakin kalian pasti akan menemukan jalan keluarnya.” Ucap minji memberikan masukan kepada sahabatnya itu sambil melirik min joo yang sedang bermain dengan adik sepupunya. Min rae hanya diam memikirkan kejadian semalam dan ucapan min ji.

*

“appa, aku pulang.” Teriak min joo antusias ketika melihat donghyun yang sudah pulang dan duduk diruang tamu rumah mereka. Min rae hanya diam dan langsung menuju kekamarnya.

“bagaimana rekreasimu hari ini? Menyenangkan?” tanya donghyun memangku min joo.

“aku hanya pergi kerumah minji ajumma dan bermain dengan sepupunya.” Jawab min joo mengambil sebuah buku dari atas meja didepannya.

“kau tidak pergi ketaman bermain?” tanya donghyun bingung.

“aku tidak mau jika appa tidak ikut pergi dengan eomma.” Jawab min joo cepat. donghyun terdiam sejenak. Ia tersadar bahwa ia sangat dibutuhkan oleh keluarganya terutama anak perempuannya. “akhir minggu ini kita jadi pergi kan appa?” tanya min joo membangunkan lamunan donghyun. Donghyun hanya tersenyum.

*

Akhir minggu akhirnya datang, min rae masih jarang berbicara dengan donghyun. Ia masih kesal sejak malam itu. Namun akhir minggu ini donghyun menepati janjinya untuk pergi bertamasya dan min joo sangat antusias karena hari ini mereka akan pergi kepantai.

Setelah membereskan semua barang bawaan, keluarga kecil ini pun bergegas pergi dengan donghyun yang menyetir sendiri mobilnya. Ditengah perjalanan, pasangan suami ini tidak banyak bicara hingga membuat min joo bingung.

“appa, apa kita akan menginap didekat pantai?” tanya min joo membuka pembicaraan dengan ayahnya.

“hem, pasti itu.” Jawab donghyun tersenyum.

“wahh, pasti seru eomma kau suka kan?” tanya min joo lagi.

“hem, joha.” Jawab min rae memaksakan senyumnya lalu kembali memperhatikan jalan dari kaca mobilnya. Hingga mereka sampai di pantai.

Dengan sangat sumringah, min joo berlari melewati pasir pantai yang bersih ditemani angin sepoi dan suara debur ombak yang damai sore ini.

“jangan terlalu jauh....” teriak min rae menurunkan barang barangnya dari dalam mobil.

“biar aku saja.” Ucap donghyun membantu min rae lalu tersenyum. Tanpa menatap donghyun, min rae menghampiri min joo dan langsung bermain dengan min joo.

*

Malam sudah larut, min joo sudah kembali bermain dialam mimpinya tidak termasuk min rae yang masih duduk disebuah kursi panjang yang langsung menghadap kelaut. Disebelahnya berdiri tegak secangkir teh yang masih mengeluarkan asap putihnya.

“diluar sangat dingin.” Suara seorang lelaki mengagetkan lamunannya sambil menyelimuti pundaknya dengan kain tebal berwarna putih. Lelaki itu langsung duduk disebelah min rae. “kau masih marah padaku?” tanya donghyun tersenyum menatap min rae. Min rae hanya diam tanpa menatap donghyun. “mianhae, aku tidak seharusnya seperti itu, saat itu aku benar benar lelah.” Ucap donghyun mengusap belakang kepala min rae.

“tidak seharusnya kau membentakku malam itu.” Sahut min rae pelan.

“maafkan aku.... kau memaafkanku kan?” tanya donghyun tersenyum. Min rae mengangguk tersenyum.

“dan sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu, tentang mengapa aku selalu bekerja diakhir minggu. Sebenarnya aku dalam proses menanam saham disebuah perusahaan sepatu terkenal, dan sampai sekarang ayahku tidak tahu itu. Aku sibuk bernegosiasi dengan pihak perusahaan tersebut aku kira akan selesai akhir minggu kemarin, tapi ternyata banyak yang harus kita negosiasikan dan baru selesai minggu ini. Dan niatku aku ingin memberitahu ayah jika ini berhasil.” Cerita donghyun panjang lebar.

“kenapa tidak memberitahuku dari awal?”

“mian, aku tidak ingin menambah bebanmu, aku hanya ingin yang kau pikirkan hanya dirimu dan min joo.” Jawab donghyun tersenyum. “dan kau tahu, seharusnya kita bersyukur punya min joo, dia anak yang baik, dan snagat mengerti keadaan kita. Dan aku juga bersyukur memilikimu, karena tanpamu aku tidak bisa memiliki min joo.” Donghyun merangkul pundak minrae.

“jadi mana yang lebih kau sayang, aku atau min joo?” tanya min rae menatap donghyun dengan nada bercanda. Donghyun membalas tatapan min rae lalu mencium bibir min rae.

“appa eomma, kenapa kalian diluar?” min joo yang masih membersihkan matanya mengagetkan donghyun dan min rae.

“min joo-ah, kenapa kau terbangun?” tanya min rae yang terlihat kikuk lalu memangku min joo.

“aku ingin tidur dengan eomma & appa.” Sahut min joo memeluk min rae. Min rae yang tersenyum menyelimuti min joo yang terlelap dipangkuannya. Donghyun hanya tersenyum memperhatikan itu.

“appa juga ingin tidur dengan eomma dan min joo.” Ucap donghyun meletakan kepalanya di pundak min rae.

*END*

June 26, 2011

non naui dongsaeng e e e (part. 7)

Bagaimana dengan hye jin??

Semenjak bertemu dengan kwang min ditempat berjualan ikan, ia semakin memikirkan lelaki itu. Kwang min pun begitu awalnya ia hanya ingin memastikan perkataan young min tentang pekerjaannya, namun semakin sering ia ketempat itu ia semakin sering bertemu dengan hye jin. Pernah suatu hari mereka berpapasan disebuah supermarket ketika hye jin membeli sebuah bumbu untuk menggoreng ikan.

“noona, kita bertemu kembali.” Ucap kwang min tersenyum. Namun saat itu hye jin tidak ingin dipanggil noona. Ia ingin kwang min memanggilnya hye jin.

Sejak saat itu hye jin memikirkan segala cara agar ia bisa dekat dengan kwang min. Dan seluruh caranya pun berhasil, termasuk meminjam uang min jae untuk menraktir mereka semua. Hye jin juga sangat senang ketika kwang min mau mengantarnya pulang dan memayunginya jika hujan turun.

“kau menyukai perempuan penjual ikan itu?” tanya jong min kepada kwang min sekitar 2 minggu yang lalu. Kwang min hanya tersenyum dan mengangguk mennanggapi pertanyaan young min. “hahhh, dunia memang sudah aneh sekarang. Atau mungkin minggu depan young min akan berpacaran dengan gadis penjual daging.”

“maksudmu si kyun ja?? Tidak tidak, gadis gendut seperti itu,” sahut jong min cepat. disertai sahutan tawa mereka.

Dua hari setelah itu, kwang min menyatakan perasaannya kepada hye jin. Tepat, hye jin menerima cinta kwang min dengan sangat senang hati. Mereka menjalin hubungan sekarang. Namun, hubungan hye jin dengan kwang min tidak semulus hubungan min jae denganya. Semenjak ia berbohong untuk meminjam uang, hye jin tidak berani menegur min jae. Disekolah ataupun jika ia ingin kerumah minjae, ia cukup merasa bersalah dan bingung. Ia sangat tahu kalau temannya itu paling tidak suka dibohongi.

*

“mau apa kau kesini?” tanya min jae malam ini kepada hye jin yang berdiri didepan rumahnya.

“maafkan aku, aku mengaku salah telah berbohong padamu. Aku akan mengembalikannya. Ini, seluruh uang yang telah aku pinjam.” Hye jin mengeluarkan uangnya dari dalam tas.

“kau mencurinya?”

“tidak, aku tidak seberani itu. Ibuku baru saja mendapat pesanan ikan banyak, jadi aku diberikan beberapa ribu darinya.”

“simpanlah, aku sudah melupakannya. Aku dengar dari min woo kau sudah berpacaran dengan kwang min. Benarkah itu?” min jae menyuruh hye jin masuk kedalam rumahnya. Hye jin sumringah melihat temannya tersenyum kembali dan ia menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan kwangmin.

“aku ikut senang.” Jawab min jae tersenyum.

*

Satu setengah tahun sudah berjalan, min jae kembali kekehidupannya. Ia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan lalu masuk kesebuah fakultas seni di universitas terkemuka dikorea. Hyunseong yang juga lulus meneruskan kesebuah universitas tak jauh dari tempat tinggalnya dengan min jae dan min woo. Ia sudah mempunyai kekasih sekarang, dan min jae sangat senang ketika mengetahui itu. Hye jin juga masih menjalin hubungannya dengan kwangmin. Ia berniat melanjutkan kuliahnya tahun depan karena sekarang ibunya punya restoran seafood didekat pantai. Kemajuan perdagangan ikannya melaju pesat sejak tahun lalu.

Sementara itu, min woo, jo twins dan jeong min juga masih menikmati masa sma mereka. Min woo kembali fokus dengan ekskul dancenya. Jeong min masih saja bertindak sebagai playboy sekolah, apalagi setelah ia naik kelas. Sementara jo twins masih terus mempromosikan ekskul vokal karena sempat turun pamor akibat sang leader si young min digosipkan berpacaran dengan si tukang daging. Siapa lagi yang menyebar gosip itu selain yeong min. Dan jika mendengar gosip itu yeong min pasti akan terus tertawa.

*

Sore ini min jae sedang sibuk mengerjakan tugasnya diruang tamu sendirian. Min woo sedang asik dikamarnya dan hyun seong belum kembali dari kampusnya. Pintu terdengar diketuk. Min jae pun langsung membukakan pintu itu.

“hai, apa kabar?” tanya seorang lelaki tersenyum padanya ditemani seorang perempuan dan seorang anak lelaki yang terlihat lucu.

“masuklah, senang bertemu kalian lagi. Ini anak kalian??” ucap min jae tersneyum memperhatikan keluarga kecil donghyun.

“hmm, umurnya baru satu tahun.” Jawab donghyun tersenyum.

“senang melihat kalian kembali dan terlihat bahagia.”

“mana min woo??” tanya donghyun. “aku disini hyung...” min woo berlari memeluk donghyun.

“min woo, kau tidak boleh seperti itu. Melihat kalian aku jadi iri.” Ucap min jae memperhatikan anak lelaki yang berada dipangkuan istri donghyun.

“apa kau sudah punya kekasih??” tanya perempuan itu tersenyum.

“hahah, untuk saat ini aku ingin fokus dengan kuliahku dan min woo, kau tahu min woo sangat manja.” Jawab min jae dnegan nada bercanda sambil melirik min woo.

“kau tahu hyung, sudah banyak yang menatakan perasaannya pada noona, tapi ia malah menolaknya. Sangat bodoh dia.” Ucap min woo menambahkan. Min jae langsung menutup mulut adiknya itu.

“aku yakin, noonamu adalah pemilih yang benar. Sebentar lagi juga ada lelaki yang beruntung mendapatkan hatinya.” Ucap donghyun melirik min jae disertai tawa yang lain.

*

Min jae benar-benar fokus dengan kuliahnya dan min woo. Min woo sudah mulai bisa berpikir dewasa walau terkadang tingkah kekanak kanakannya sering muncul. Min jae juga sudah menceritakan asal usul min woo padanya. Namun dengan pemikiran positif min woo hanya menjawab, “sampai kapanpun kau itu noonaku, noonaku yang bawel dan jika aku sedang tidak ingin tider sendiri aku akan selalu tidur denganmu. Sampai kau punya suami.” Itu yang membuat min jae mengalah dan selalu tersenyum menatap min woo.

“Min woo, mau kemana kau??” teriak min jae kepada min woo sore itu.

“seperti biasa noona, aku ingin kerumah jo twins hari ini, mungkin larut malam lagi aku pulang. Sampai jumpa.” Sahut min woo itu kepada kakaknya, tersenyum lalu pergi.

*END*

non naui dongsaeng e e e (part. 6)

“yaa, sebenarnya appa juga mau menjelaskan sesuatu padamu.” Sahut ayah min jae ketika selesai mendengar cerita min jae tentang golongan darah. “min woo sebenarnya bukan adik kandungmu, semenjak melahirkanmu, ibumu divonis tidak bisa hamil kembali. Padahal saat itu, ia ingin sekali anak laki-laki. Ia berpikir keras hingga akhirnya ia berniat mengambil min woo dari panti asuhan ketika min woo baru saja berumur 3 bulan.” Mata min jae mulai berkaca-kaca. “maafkan appa, menurut appa itu hal yang tidak penting untuk kalian ketahui. Dan, karena itulah appa tidak ingin kalian selalu tidur bersama.”

“gomapda appa, kau telah memberitahuku saat ini. Tapi kenapa kau tidak pernah bilang jika dia sakit...”

“dari umur 3 bulan itu memang dia sudah memiliki penyakit ini, tapi ternyata min woo tidak pernah merasakan sakitnya. Jadi appa tidak mau membuatnya memikirkan penyakit itu.”

*

Operasi berhasil, min woo sudah melewati masa kritisnya. Ia juga sudah sadar walau masih terlihat sedikit lemah. Wajahnya juga masih terlihat pucat.

“kau sedang apa?” tanya min jae yang baru datang ketika min woo sedang terdiam diatas tempat tidurnya.

“noona, bagaimana kabarmu? Kau tahu aku merindukanmu. Aku sudah bosan tidur sendiri disini. Kapan aku bisa pulang??” pertanyaan minwoo menyerbu min jae. Min jae menjawabnya dengan senyum sambil menghampiri minwoo. Dia langsung memeluknya dengan sangat erat sampai hampir menangis.

“kau kenapa noona?? Apa aku membuatmu sedih?” tanya min woo bingung ketika seluruh temannya termasuk donghyun dan hyunseong memasuki kamarnya. Min jae melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya. Ia tersenyum lalu pergi membiarkan mereka bercengkrama.

*

Sudah satu bulan dari kesembuhan min woo. Pastinya dia sudah kembali kerumah yang biasa ia tempati. Aktifitasnya juga sudah berlangsung seperti biasa kembali. Sampai saat ini, ia juga belum memberitahukan kenyataan tentang siapa min woo sebenarnya.

Pagi ini adalah hari libur bagi mereka bertiga. Hyunseong yang pagi ini mempunyai jadwal memasak sedang berkutat dengan wajan didapur. Sementara min jae terlihat bersiap pergi.

“kau mau kemana sepagi ini?” tanya hyunseong yang memperhatikannya dari tadi.

“noona~ mau kemana kau??” sambung minwoo yang baru saja keluar dari kamarnya.

“aku harus kesuatu tempat hari ini, kalian tetap dirumah yaa, sepulang nanti aku akan memberikan kalian oleh-oleh. Sampai jumpa.” Ucap min jae tersenyum kepada keduanya. Min woo yang bingung hanya melambaikan tangannya sementara hyunseong melanjutkan memasak.

*

Min jae sampai disebuah rumah yang cukup megah tapi tidak semegah rumah yang ia tempati. Ia masuk kedalam gerbang tembok dan mengetuk pintu rumah itu. Seorang perempuan berambut panjang. Wajahnya nampak asing bagi min jae, namun ia pernah melihatnya sebelumnya.

“kau?? Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana?” ucap perempuan itu seolah berpikir.

“donghyun ada?”

“ohh, masuklah. Akan aku panggilkan.”

Perempuan itu meninggalkan min jae sendirian. Min jae memperhatikan sekelilingnya, terlihat sepi. Pikirannya kembali melayang, ‘mereka belum menikah tapi sudah tinggal berdua.’ Tapi semuanya terpecahkan ketika ia melihat ibu donghyun keluar dari dapur menuju kamarnya tanpa melihatnya.

“tunggu sebentar yaa, donghyunnya sedang mengganti pakaian.” Perempuan itu menampakan dirinya lagi. Sedikit kaget min jae karena perempuan itu terlihat datang mendadak. “kalau aku boleh tahu, siapa namamu?”

“min jae, no min jae.” Jawab min jae singkat masih memperhatikan perempuan ini.

“ohhh, aku sering mendengar namamu sering disebut donghyun.”

“min jae, ikut aku.” Sahut donghyun yang turun dari kamarnya menghampiri min jae.

“kenapa harus dikamar, kenapa tidak bicara disini saja? Agar kita bisa lebih dekat.” Tanya perempuan itu terlihat tidak menerima jika min jae diajak donghyun.

“jangan banyak bicara.” Donghyun menarik tangan min jae menuju kamarnya.

*

“aku kesini hanya untuk memberikan ini padamu. Sepertinya aku tidak pantas memakainya lagi.” Min jae mengeluarkan sebuah kalung berbandul kura-kura yang sering ia kenakan kemanapun ia pergi. Donghyun memperhatikan kalung itu sebentar lalu menatap min jae tidak percaya. “kau pernah bilang padaku, aku harus menjaga ini namun jika ada situasi yang membuat diantara kita pergi, aku harus mengembalikannya padamu. Sekarang, situasinya sudah terlanjur berubah. Kau bisa memberikan ini kepada wanita itu. Sepertinya wanita itu lebih pantas mengenakannya.” Mata min jae terlihat berkaca-kaca. Donghyun diam sebentar.

“kau sudah mengetahui semuanya dari hyun seong?? Maafkan aku tidak memberitahumu dari awal. Aku memang pecundang.”

“hyunseong adalah orang yang memberitahuku tentang dirimu seluruhnya, aku sangat senang karena dia aku mengetahui semua tentang dirimu.” Min jae berusaha tersenyum.

“pergilah dengan hyunseong.” Ucapan donghyun membuat min jae menatapnya aneh.

“kau memberikan aku padanya?”

“itu karena aku mencintaimu, dan... hyunseong lebih baik dariku 1000kali.”

“aku tidak mencintainya, aku hanya menganggapnya seorang sahabat yang bisa aku ajak bercerita tentang apapun. Yaa, walaupun sulit untuk aku katakan tapi aku masih sulit untuk melupakanmu. Butuh waktu lama, tapi aku akan berusaha.” Min jae menunduk tanpa menatap donghyun. Lagi lagi donghyun diam.

“maafkan aku..” min jae mengusap lembut punggung donghyun. Seketika perempuan itu masuk kedalam kamar sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa makanan. Perempuan itu melihat semua apa yang terjadi. Namun min jae yang terlihat kaget langsung melepaskan tangannya dari pundak donghyun.

“baiklah, aku harus pergi. Hiduplah lebih baik dari sebelumnya, dan jaga dia baik-baik.” Min jae bergegas pergi walau rasa ingin menangis tidak ingin pergi dari dirinya.

Donghyun masih duduk dikamarnya. Ia menatap perempuan itu sinis lalu bangkit dan berlari mengejar min jae. Perempuan itu mengikutinya.

“min jae-ahh...” panggil donghyun kepada min jae yang berjalan tidak terlalu jauh darinya. Min jae hanya menghentikan langkahnya. Donghyun menghampirinya lalu memeluk min jae dengan hangat. Perempuan itu memperhatikannya tak jauh dari mereka. “berjanjilah untuk hidup lebih baik demi diriku, kau masih punya min woo adik kesayanganmu dan kau masih punya masa depan yang sangat cerah. Aku mencintaimu, tapi aku yakin suatu saat pasti ada yang lebih mencintaimu dibanding diriku. Sekali lagi maafkan aku.” Air mata min jae mulai menetes ketika mendengar perkataan donghyun. Ia menangis dipundak donghyun.

“aku berjanji, jaga dirimu dan calon istrimu. Aku yakin kau akan mempunyai anak-anak yang lucu nantinya. Jangan khawatirkan aku, kau tahu aku kuat kan.” Min jae melepaskan pelukan donghyun dan tersenyum. “dan kau, aku titipkan donghyun padamu. Sayangi dia.” Min jae yang dari tadi melihat kehadiran perempuan itu memandang perempuan itu. Perempuan itu hanya mengangguk sementara min jae mengusap pipi donghyun lalu pergi.

*TBC*

non naui dongsaeng e e e (part. 5)

“min jae!!!” hyun seong mengetuk keras pintu kamar min jae. Dengan langkah malas, min jae membuka pintu kamarnya.

“ada apa? Wajahmu aneh.”

“min woo, hidung min woo kembali mengeluarkan darah dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Sepertinya kita harus membawanya kerumah sakit sekarang.”

“cepat..” min jae mengambil blazernya sementara hyun seong menggendong min woo masuk kedalam mobilnya.

*

“kenapa tidak melakukan pencegahan dini?? Pembengkakan selaput otaknya sudah semakin parah. Kita hanya butuh operasi untuk menyembuhkannya. Namun kesempatan itu juga hanya 1:10.” Ucap dokter membuat air mata min jae mulai menetes. Hyun seong yang duduk disebelahnya terlihat sedih bercampur kaget, karena baru pertama kali ia melihat min jae menangis dihadapannya.

“berusahalah dok, min woo adalah anak yang kuat. Aku yakin dia bisa melewatinya.” Pinta min jae terisak.

“malam ini kami akan menyiapkan meja operasi dan besok pagi dia segera masuk meja operasi.”

*

“min woo, dia adalah anak yang ceria. Selalu kabur jika aku menyuruhnya pulang ketika masih kelas 1 sd. Dia sering sekali pergi ke lapangan basket sebelah rumah hanya untuk memperhatikan beberapa orang bermain basket, katanya ia ingin sekali menjadi pemain basket. Namun mimpinya berubah ketika ia masuk smp, dia ingin menjadi dancer terkenal katanya. Saat itu ketika aku hampir tertabrak sebuah bus, dia menangis, sambil terisak ia berkata ia berjanji akan selalu menjagaku. Bahkan disaat sma nanti dia ingin aku satu sekolah dengannya. Setelah sma, dia sangat senang ketika ia bisa satu sekolah denganku apalagi ketika ia tahu aku berpacaran dengan donghyun, teman berkumpulnya. Dia sebenarnya tidak pantas menjadi adikku. Dia lebih pantas menjadi kakakku. Dia selalu berusaha melindunngiku walaupun akhirnya kami berdua sama sama terluka.” Min jae menceritakan itu kepada hyun seong dengan mata berkaca-kaca. Hyun seong meraih kepala minjae dan meletakannya dipundaknya. “tapi kenapa dia jadi seperti ini? Dia bukan lelaki yang lemah tapi kenapa penyakit ini merenggut kebahagiannya??”

“aku yakin min woo bisa melewatinya.” Ucap hyun seong menabahkan min jae.

*

Matahari mulai menjelang kembali, semalaman min jae tertidur di pundak hyun seong. Donghyun yang mendengar kabar jika min woo sakit datang pagi ini. Ia melihat min jae yang terlelap dipindak hyun seong hanya diam menatap mereka.

“masuklah..” ucap hyun seong pelan membiarkan donghyun masuk kekamar min woo.

“ehmm, ada siapa? Ahh aku tertidur disini.” Min jae mulai terbangun dari tidurnya dan langsung masuk kedalam kamar min woo. Min jae melihat donghyun yang berdiri disebelah tempat tidur min woo. Namun ia menyadari kehadiran min jae yang beridir dibelakangnya.

“terimakasih kau sudah datang.” Ucap min jae pelan berdiri disebelah donghyun sambil memperhatikan min woo yang masih terlelap. Donghyun tersenyum menatap min jae. Sementara min jae memalingkan matanya kearah min woo.

Min woo baru saja bangun ketika ia melihat noonanya dan donghyun berdiri bersamaan memperhatikannya. Min woo menahan senyumnya ketika dokter bersama dua orang perawat memasuki ruangan itu.

“kau harus operasi sekarang.” Ucap dokter tersebut penuh dengan wibawa. Kedua perawatnya mendorong tempat tidur min woo keluar.

“kau harus kuat, kau pasti bisa.” Min jae menyemangati min woo dengan mata berkaca-kaca sementara donghyun mengusap pelan punggung min jae.

*

Selang satu jam, min jae serta donghyun dan hyun seong menunggu didepan ruang operasi. Wajah min jae sangat cemas menunggu hal itu. Sementara donghyun hanya memperhatikannya dengan bersandar disebelah pintu ruang operasi. Hyun seong duduk dihadapan donghyun sambil meletakan kedua tangannya didepan keningnya.

“kau mau kemana?” tanya donghyun kepada min jae yang hendak pergi. Hyun seong langsung menatap min jae.

“aku harus membeli makanan kesukaan min woo, aku akan segera kembali.” Min jae pergi meninggalkan kedua lelaki itu.

*

“yang ini biar aku yang teraktir..” ucap hye jin di cafe tempat anak-anak berkumpul. Disana ia ditemani jo twins dan jong min. Mereka terlihat sangat senang walau sesekali wajah hye jin terlihat memerah ketika menatap wajah kwang min.

Min jae yang baru saja masuk kedalam cafe itu mendengar ucapan hye jin. Ia menatapnya sinis lalu menghampiri mereka. “jadi kau benar-benar membohongiku saat ini?? Kembalikan uangku!! Kau memakai uang ku untuk menraktir mereka semua. Dasar kau pembohong!!”

“noona, kenapa kau datang datang seperti ini?” tanya jong min kesal menatap min jae.

“jadi kalian bersenang senang seperti ini tanpa tahu teman kalian sedang berada dimeja operasi sekarang?” tatapan mata ketiganya berubah termasuk hye jin.

“apa maksudmu??” tanya young min bingung.

“min woo, dia sedang berada dimeja operasi sekarang dia sakit dan seharusnya kalian tahu itu karena min woo menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian.” Jawab min jae kesal. Tanpa banyak bicara, min jae langsung meninggalkan tempat itu untuk kembali kerumah sakit.

“min woo tidak pernah bercerita tentang penyakit.” Gumam jong min bingung.

“Sebaiknya kita kesana sekarang.” Kwang min bangkit dari tempat duduknya. “kau mau ikut?” tanya kwang min kepada hye jin.

“tidak, aku yakin min jae marah sekali padaku.” Sahut hye jin cepat.

*

“maaf, disini siapa yang saudara dengan min woo? Dia butuh banyak darah sekarang golongan darahnya AB.” Seorang suster keluar dari ruang operasi.

“AB?? Aku O.” Ucap min jae sedikit bingung.

“biar aku saja, aku AB.” Hyun seong mengikuti arah suster berjalan.

“tunggu sebentar, mungkin saat itu aku salah mengecek. Aku ikut.” Min jae mengikuti suster dan hyunseong pergi.

Donghyun menunggu sendirian didepan ruang operasi hingga tiga orang tman min woo datang. Mereka terlihat kaget ketika melihat wajah donghyun disana. Selang beberapa menit kemudian, ayah min woo juga datang tepat hyun seong dan min jae mendonorkan darahnya.

“tidak mungkin golongan darah kita berbeda. Appa juga O dan eomma itu B tapi kenapa min woo AB??” gumam min jae pelan kepada hyun seong namun berhenti ketika melihat banyak orang diruang tunggu.

“appa, kau datang.” Ucap min jae terlihat senang menatap ayahnya.

“hmm, bagaimana keadaan adikmu?” tanya appa tenang.

“dia terlihat sehat walau aku yakin sangat sakit baginya.” Jawab min jae pelan. “bisakah kita bicara berdua appa?”

*TBC*

non naui dongsaeng e e e (part. 5)

“min jae!!!” hyun seong mengetuk keras pintu kamar min jae. Dengan langkah malas, min jae membuka pintu kamarnya.

“ada apa? Wajahmu aneh.”

“min woo, hidung min woo kembali mengeluarkan darah dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Sepertinya kita harus membawanya kerumah sakit sekarang.”

“cepat..” min jae mengambil blazernya sementara hyun seong menggendong min woo masuk kedalam mobilnya.

*

“kenapa tidak melakukan pencegahan dini?? Pembengkakan selaput otaknya sudah semakin parah. Kita hanya butuh operasi untuk menyembuhkannya. Namun kesempatan itu juga hanya 1:10.” Ucap dokter membuat air mata min jae mulai menetes. Hyun seong yang duduk disebelahnya terlihat sedih bercampur kaget, karena baru pertama kali ia melihat min jae menangis dihadapannya.

“berusahalah dok, min woo adalah anak yang kuat. Aku yakin dia bisa melewatinya.” Pinta min jae terisak.

“malam ini kami akan menyiapkan meja operasi dan besok pagi dia segera masuk meja operasi.”

*

“min woo, dia adalah anak yang ceria. Selalu kabur jika aku menyuruhnya pulang ketika masih kelas 1 sd. Dia sering sekali pergi ke lapangan basket sebelah rumah hanya untuk memperhatikan beberapa orang bermain basket, katanya ia ingin sekali menjadi pemain basket. Namun mimpinya berubah ketika ia masuk smp, dia ingin menjadi dancer terkenal katanya. Saat itu ketika aku hampir tertabrak sebuah bus, dia menangis, sambil terisak ia berkata ia berjanji akan selalu menjagaku. Bahkan disaat sma nanti dia ingin aku satu sekolah dengannya. Setelah sma, dia sangat senang ketika ia bisa satu sekolah denganku apalagi ketika ia tahu aku berpacaran dengan donghyun, teman berkumpulnya. Dia sebenarnya tidak pantas menjadi adikku. Dia lebih pantas menjadi kakakku. Dia selalu berusaha melindunngiku walaupun akhirnya kami berdua sama sama terluka.” Min jae menceritakan itu kepada hyun seong dengan mata berkaca-kaca. Hyun seong meraih kepala minjae dan meletakannya dipundaknya. “tapi kenapa dia jadi seperti ini? Dia bukan lelaki yang lemah tapi kenapa penyakit ini merenggut kebahagiannya??”

“aku yakin min woo bisa melewatinya.” Ucap hyun seong menabahkan min jae.

*

Matahari mulai menjelang kembali, semalaman min jae tertidur di pundak hyun seong. Donghyun yang mendengar kabar jika min woo sakit datang pagi ini. Ia melihat min jae yang terlelap dipindak hyun seong hanya diam menatap mereka.

“masuklah..” ucap hyun seong pelan membiarkan donghyun masuk kekamar min woo.

“ehmm, ada siapa? Ahh aku tertidur disini.” Min jae mulai terbangun dari tidurnya dan langsung masuk kedalam kamar min woo. Min jae melihat donghyun yang berdiri disebelah tempat tidur min woo. Namun ia menyadari kehadiran min jae yang beridir dibelakangnya.

“terimakasih kau sudah datang.” Ucap min jae pelan berdiri disebelah donghyun sambil memperhatikan min woo yang masih terlelap. Donghyun tersenyum menatap min jae. Sementara min jae memalingkan matanya kearah min woo.

Min woo baru saja bangun ketika ia melihat noonanya dan donghyun berdiri bersamaan memperhatikannya. Min woo menahan senyumnya ketika dokter bersama dua orang perawat memasuki ruangan itu.

“kau harus operasi sekarang.” Ucap dokter tersebut penuh dengan wibawa. Kedua perawatnya mendorong tempat tidur min woo keluar.

“kau harus kuat, kau pasti bisa.” Min jae menyemangati min woo dengan mata berkaca-kaca sementara donghyun mengusap pelan punggung min jae.

*

Selang satu jam, min jae serta donghyun dan hyun seong menunggu didepan ruang operasi. Wajah min jae sangat cemas menunggu hal itu. Sementara donghyun hanya memperhatikannya dengan bersandar disebelah pintu ruang operasi. Hyun seong duduk dihadapan donghyun sambil meletakan kedua tangannya didepan keningnya.

“kau mau kemana?” tanya donghyun kepada min jae yang hendak pergi. Hyun seong langsung menatap min jae.

“aku harus membeli makanan kesukaan min woo, aku akan segera kembali.” Min jae pergi meninggalkan kedua lelaki itu.

*

“yang ini biar aku yang teraktir..” ucap hye jin di cafe tempat anak-anak berkumpul. Disana ia ditemani jo twins dan jong min. Mereka terlihat sangat senang walau sesekali wajah hye jin terlihat memerah ketika menatap wajah kwang min.

Min jae yang baru saja masuk kedalam cafe itu mendengar ucapan hye jin. Ia menatapnya sinis lalu menghampiri mereka. “jadi kau benar-benar membohongiku saat ini?? Kembalikan uangku!! Kau memakai uang ku untuk menraktir mereka semua. Dasar kau pembohong!!”

“noona, kenapa kau datang datang seperti ini?” tanya jong min kesal menatap min jae.

“jadi kalian bersenang senang seperti ini tanpa tahu teman kalian sedang berada dimeja operasi sekarang?” tatapan mata ketiganya berubah termasuk hye jin.

“apa maksudmu??” tanya young min bingung.

“min woo, dia sedang berada dimeja operasi sekarang dia sakit dan seharusnya kalian tahu itu karena min woo menghabiskan waktu lebih banyak dengan kalian.” Jawab min jae kesal. Tanpa banyak bicara, min jae langsung meninggalkan tempat itu untuk kembali kerumah sakit.

“min woo tidak pernah bercerita tentang penyakit.” Gumam jong min bingung.

“Sebaiknya kita kesana sekarang.” Kwang min bangkit dari tempat duduknya. “kau mau ikut?” tanya kwang min kepada hye jin.

“tidak, aku yakin min jae marah sekali padaku.” Sahut hye jin cepat.

*

“maaf, disini siapa yang saudara dengan min woo? Dia butuh banyak darah sekarang golongan darahnya AB.” Seorang suster keluar dari ruang operasi.

“AB?? Aku O.” Ucap min jae sedikit bingung.

“biar aku saja, aku AB.” Hyun seong mengikuti arah suster berjalan.

“tunggu sebentar, mungkin saat itu aku salah mengecek. Aku ikut.” Min jae mengikuti suster dan hyunseong pergi.

Donghyun menunggu sendirian didepan ruang operasi hingga tiga orang tman min woo datang. Mereka terlihat kaget ketika melihat wajah donghyun disana. Selang beberapa menit kemudian, ayah min woo juga datang tepat hyun seong dan min jae mendonorkan darahnya.

“tidak mungkin golongan darah kita berbeda. Appa juga O dan eomma itu B tapi kenapa min woo AB??” gumam min jae pelan kepada hyun seong namun berhenti ketika melihat banyak orang diruang tunggu.

“appa, kau datang.” Ucap min jae terlihat senang menatap ayahnya.

“hmm, bagaimana keadaan adikmu?” tanya appa tenang.

“dia terlihat sehat walau aku yakin sangat sakit baginya.” Jawab min jae pelan. “bisakah kita bicara berdua appa?”

*TBC*