Laman

Showing posts with label INFINITE. Show all posts
Showing posts with label INFINITE. Show all posts

July 15, 2013

[FF] Your Expressions are Amazing (part. 2)

Hello, comeback lagi nih ^^ yang penasaran sama sequel your expressions are amazing, ini dia part 2-nya. Happy reading yaaa…




*
“sore ini, kita bisa pulang bersama?” tanyaku tersenyum sebelum ia pergi meninggalkanku.

“aku ada urusan sore ini.” Jawaban dujun yang sudah bisa aku tebak.
“boleh aku tahu urusanmu?”

“aku benar-benar buru-buru, aku harus pergi.”

AUTHOR POV

Jam besar didinding perpustakaan menunjukan tepat pukul 12 siang. Ruang besar yang dipenuhi buku itu terlihat sepi. Hanya diisi oleh beberapa mahasiswa yang masih sibuk dengan tugas tugasnya. Dimeja disudut ruangan itu, jun ri duduk sendirian sambil membaca sebuah buku. Bersamaan dengan itu, woohyun masuk dengan membawa setumpuk buku dan langsung ia berikan pada pustakawati untuk ia kembalikan.

Setelah mengembalikan, woohyun tak langsung pergi, ia melihat jun ri sedang konsentrasi membaca bukunya. Dengan senyum yang sedikit terkembang, woohyun menghampiri jun ri dan langsung duduk didepan jun ri.

“kenapa ekspresimu begitu melihatku?” tanya woohyun bingung melihat ekspresi kaget jun ri ketika ia duduk dihadapannya.

“a..ani.” jawab jun ri mengatur napasnya kembali.

“lelaki yang tadi pagi kekasihmu?” tanya woohyun mengambil buku diatas meja besar dihadapannya.

“eo.”

“siapa namanya?” tanya woohyun dengan nada santai namun terkesan ingin tahu.

“dujun-ssi.” Jawab jun ri singkat.

“kau kenapa? Apa diwajahku ada yang aneh? Kau jadi berubah aneh seperti ini.” Tanya woohyun bingung menatap jun ri yang bersikap aneh.

“a..dujun-ssi menyuruhku agar tidak dekat denganmu.” jawab jun ri terdengar polos.

“mwo? Memangnya aku sangat menyeramkan? Junri-ssi, aku bukan macan yang kelaparan. Lagipula aku juga tidak akan merebutmu darinya. Ada-ada saja kekasihmu itu.” ucap woohyun dengan nada yang sedikit keras membuat beberapa orang diruangan itu menatap mereka.

“woohyun-ssi, pelankan suaramu.” Jun ri menepuk pelan lengan woohyun dengan buku yang ada ditangannya.

“ahh, aku sudah biasa. Ohiya, aku sudah tidak ada pelajaran hari ini, bagaimana denganmu? jika kau sudah tidak ada pelajaran lagi, kita bisa pulang bersama, tapi... jika kau tidak pulang dengan si dujun dujun itu.” ajak woohyun panjang lebar sambil merubah ekspresinya sedikit canggung. Woohyun terlihat kikuk mengucapan kata kata terakhirnya.

“aku pulang sendiri hari ini.” Jawab jun ri tersenyum menerima ucapan woohyun walau sebelumnya ia berpikir kalau woohyun sedikit banyak bicara.

*

LEE JUN RI POV

Malam telah larut, gemericik hujan terhenti ketika jendela kamar yang baru aku tutup dipenuhi oleh butiran air hujan yang menyisakan jejaknya disana. Lampu meja mencoba menerangi seluruh sudut kamarku walau itu tidak sedikit berhasil. Aku masih duduk ditempat paling terang didepan meja belajarku walau mataku sudah tak sanggup terbuka. Ponsel didepanku sunyi seperti daging basi yang tidak disentuh sama sekali oleh srigala hutan.

Aku terus menatap kearah ponselku sambil menggosokan telunjukku kepinggirnya walau tidak berdebu. Malam ini, aku menghawatirkannya. Sejak sore tadi ia benar-benar tidak mengabari apapun tentang keadaannya. Apakah aku harus menanyakannya lebih dulu. Kekasihku itu...........

Dengan perasaan campur aduk, aku membuka ponselku. Menuliskan pesan untuk lelaki yang membuatku terperanjat ketika aku menatap matanya.

“doojoon-ssi ^_^
waktu sudah sangat malam, diluar juga sangat dingin. Jika kau masih sibuk dengan urusanmu, jangan lupa memakai pakaian tebal dan minumlah coklat hangat sebelum tidur. Aku akan tidur sekarang, jaljayo~”

Aku mengirimnya, laporan pengiriman tertera dilayar ponselku. Aku menatap tempat tidur yang tepat berada disebelah jendela kamarku. Aku berjalan lalu duduk diatas tempat yang paling nyaman dikamarku. Mencoba membuka korden coklat pastel dan memperhatikan embun yang berhasil masuk kejendela. Tanpa kusadar aku menulis namanya diatas embun itu menggunakan telunjukku dengan harapan dia membaca pesan singkatku walau aku tahu dia tidak akan membalasnya.

DUJUN POV

Jam berdentang dua kali. Pukul dua pagi dan aku masih berkutat didepan komputerku. Aku masih mengerjakan urusanku, mengedit foto-foto yang terlalu banyak dan sulit aku pilih yang mana yang paling indah karena semua foto yang harus aku edit adalah foto yang indah.

Sudah seharusnya aku tidur, aku menyimpan seluruh foto foto itu lalu mematikan komputerku. Aku memperhatikan hujan yang kembali turun dari balik kain tipis didepan jendelaku. Aku berdiri memperhatikan hujan dengan coklat hangat ditangan kananku yang sudah beranjak dingin. Aku ingat, dua jam yang lalu ponselku berdering. Aku mengambil ponsel dari atas meja dekat komputerku dan membuka beberapa pesan yang masuk. Tidak ada yang penting, tapi, ada satu pesan yang membuat jantungku berdetak ketika aku membacanya.

*

AUTHOR POV

Hari sangat cerah ditemani kilauan matahari pagi yang menyegarkan. Masih didaerah hongdae, beberapa orang menikmati hari minggu mereka. Termasuk woohyun, hari ini ia ada janji dengan jun ri direstoran untuk memintanya membantu mengerjakan tugas kuliahnya. Woohyun melangkah cepat agar ia tidak terlambat dan membuat jun ri yang menurutnya bodoh itu menunggunya untuk yang keduakalinya.

Woohyun memperhatikan seluruh wanita yang melewatinya walau earphonenya menempel ditelinganya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang lelaki yang wajahnya ia kenal sedang memperhatikan sesuatu didepan sebuah toko hadiah.

“itu kan dujun. Sedang apa dia?” tanya woohyun pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan dujun yang terlihat sedang melihat lihat berbagai hadiah yang dipajang didalam toko tersebut. “kenapa dia sedang memperhatikan hadiah hadiah itu, dia kan bukan perempuan.” Gumam woohyun lagi bersamaan dengan deringan ponselnya. Nama lee jun ri muncul dilayar ponselnya. Woohyun menggeser tembol hijau lalu melanjutkan perjalanannya.
*
“aku terlambat?” tanya woohyun duduk didepan jun ri yang sedang membaca buku yang sama ketika mereka bertemu di perpustakaan beberapa hari yang lalu.

“5 menit.” Jawab jun ri menutup bukunya dan tersenyum seperti biasa. Woohyun sedikit menghela napas lega lalu mengeluarkan bukunya dan memberikannya pada junri. Mereka terlibat perdebatan kecil dengan topik tugas woohyun yang belum selesai.

“oh iya, aku hampir lupa. Tadi aku melihat kekasihmu, dujun sedang berdiri didepan toko hadiah. Sepertinya ia sedang memilih-milih hadiah. Apa kau akan merayakan ulangtahun?” tanya woohyun ketika makanan yang mereka pesan datang.

“a..ani. kau melihatnya? Dengan siapa?” jun ri melebarkan matanya antusias lalu berbalik bertanya.

“kenapa kau jadi bersemangat?” gumam woohyun sedikit kesal. “honja. Dia terlihat sendirian.” Jawab woohyun menyuapi makanannya sendiri walau matanya melirik jun ri yang menghela napas tanda ia lega. “boleh aku bertanya sesuatu, jun ri-ssi?”

“hem.” Jun ri mengangguk senang.

“waktu kita pertama bertemu, kau bilang kau sudah terbiasa menunggu. Apa maksudnya? Apa kau setiap hari menunggu seseorang hingga lebih dari 1,5 jam?” wajah woohyun terlihat serius walau ucapannya tidak terdengar jelas karena ia terus menyunyah makanannya.

“oh, tidak. Aku hanya... aku hanya tidak suka saja jika orang lain yang menungguku.” Jawab jun ri sedikit berpikir.

Woohyun menatap jun ri bingung. Ada pikiran menggantung diotaknya tentang keanehan jawaban perempuan yang dianggapnya bodoh ini.

“mari kita teruskan.” Ajak junri kembali membuka buku mencoba mengalihkan woohyun yang terus memandanginya bingung.

*

LEE JUN RI POV

“tidak pergi dengan lelaki yang waktu itu lagi?” pertanyaannya membuat hatiku sedikit bergetar. Nada bicaranya terkesan datar dan ada gurat kesal ketika aku menatap wajahnya.

“nam.. woohyun?” tanyaku mencoba memastikan.

“iya, dua hari yang lalu kau pergi dengannya kan, kau makan dengannya direstoran?” dujun menghentikan langkahnya menatap wajahku ketika kami sampai didepan rumahku. Aku semakin tidak berani menatap wajahnya yang menyeramkan menurutku. Kenapa dia tahu jika aku pergi dengan woohyun hari itu. apa dia melihatku, ah, tidak mungkin.

“aku mulai tidak percaya padamu.” Ucap dujun lagi membuatku ingin menangis.

“aku hanya....” ucapku hampir tidak terdengar.

“jika kau ingin menjelaskannya, besok temui aku ditempat biasa jam 7. Aku ingin kau menjelaskannya. Hari ini aku ingin kembali kerumah, beristirahat.” Dujun melangkahkan kakinya meninggalkanku tanpa meninggalkan jejak bibirnya dikeningku.

*

Sudah setengah 8, aku melangkahkan kakiku menuju kursi putih yang masih kosong. Aku menyengajakan datang terlambat dengan harapan dujun sudah menungguku disana. tapi, harapanku pupus ketika aku melihatnya tidak ada disana.

Aku duduk memperhatikan hongdae yang tidak terlalu ramai malam ini. Aku mencoba menghubungi lelaki itu tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku mencoba tersenyum menghibur hatiku walau aku masih mengingat kata katanya yang membuat hatiku remuk saat itu.

Satu jam sudah berlalu, jam diponselku sudah menunjukan pukul sembilan. Aku mulai bosan walau aku masih duduk dikursi putih ini dengan tatapan ketanah. Aku melihat sepasang kaki berdiri dihadapanku.

“kau da...tang.” ucapan antusiasku berubah pelan ketika orang yang tidak aku tunggu berdiri dihadapanku.

“ini yang kau sebut menunggu? Kau sudah satu jam disini. Ini sudah malam, hari sudah semakin dingin, kau harus pulang!” woohyun memarahiku tanpa sebab lalu menarik lenganku.

“woohyun-ssi, aku baru menunggunya satu jam.” Ucapku mencoba tersenyum.

“satu jam kau sebut baru? Kau menunggu orang yang salah jun ri-ssi!” ucapan woohyun semakin keras.

“aku menunggu kekasihku.”

“dia bukan kekasihmu! Dia tidak akan membiarkanmu menunggu selama ini jika dia menganggapmu kekasihnya.”

“Woohyun-ssi, ucapanmu.” Ucapku hampir menangis.

“jangan terlalu bodoh, jun ri-ssi! Apa kau tidak pernah berkata padanya kau selalu menunggunya berjam-jam, apa kau pernah bertanya padanya apa yang dia lakukan selama kau menunggunya? Apa kau tidak pernah berpikir hal yang buruk terjadi ketika kau menunggunya? Dia pergi dengan perempuan lain mungkin. Kau tidak pernah tahu kan. Kau itu polos atau bodoh? Hah?”

Kata kata woohyun membuatku menjatuhkan tetesan air mataku. Ucapannya membuat aku mengingat ketika aku menunggu dujun saat pertama kali, kedua kali, hingga yang terakhir saat itu. bahkan di inbox ponselku hanya dua pesan dari dujun. Apa aku benar benar bodoh seperti yang diucapkan woohyun.


“sudahlah, biar kuantar kau pulang.” Woohyun menarik tanganku tanpa aku tolak. Aku hanya ingin cepat kembali kerumah dan mengis sepuasku.

*TBC*

Penasaran sama sequel terakhirnya? hayoo apa yang sebenernya dujun lakukan ke junri selama junri menunggu? semuanya bakal terungkap di part 3 so, keep reading ya dan ditunggu kelanjutannya... ppyong!

July 13, 2013

[FF] Your Expressions are Amazing (part. 1)

Hello everyone J maaf bgt udah lama gak ngepost fanfic. Sibuk menerpa lapar melanda haha. Akhirnya selesai juga fanfic pertama ditahun 2013. Semoga suka yaa~ maaf kalo kepanjangan dan castnya lagi-lagi dujun. But, let’s read hand happy reading~~~~


Cast::
Yoon Dujun : 23 tahun, romantis, penyayang tidak mudah ditebak
Lee Junri : 22 tahun, gadis polos yang sangat mencintai kekasihnya, yoon dujun.
Nam woohyun : 21 tahun, lelaki yang terlihat tidak punya masalah tapi mempunyai perasaan halus kepada setiap wanita yang ia temui.

*
Lee jun ri POV
Dari sekian banyak manusia yang berlalu lalang didepan dan dibelakangku, hanya suara detak jarum jam yang terdengar ditelingaku. Dua jam sudah berlalu dan aku masih bersabar duduk disebuah bangku putih tepat ditengah sebuah lingkaran taman yang dikelilingi pertokoan yang ramai dihinggapi para manusia. Matahari sudah mulai malas memancarkan sinarnya, siang berlari dan malam pun datang melambaikan dekapannya. Aku mulai bosan, tapi aku tetap menunggu sambil berharap suara dering ponselku segera terdengar.
Aku bangkit, bukan untuk pergi, tapi memperhatikan sekelilingku. Menatap jauh kearah berlainan memperhatikan manusia-manusia yang semakin banyak. Aku memperhatikan mereka, lalu pikiranku sedikit berkata, “kenapa hanya aku yang sendirian?” bahkan anak kecil pun datang bersama kedua orang tuanya.
Aku sadar, lagi-lagi aku melakukan ini. Menunggu lelaki itu dan bersabar hingga akhirnya ia tidak akan datang. Aku duduk kembali dengan desahan napas yang menghasilkan kelabut asap putih yang kemudian hilang dihembus angin. Ponselku berdering kecil, aku melihat kelayar ponsel putihku yang menunjukan ada satu pesan yang masuk.

“19.55 wed, 12th sept Yoon DooJoon
Mian, aku tidak bisa datang, ada urusan mendadak.”

Aku kembali menghela napas panjang, memasukan ponselku kedalam tas merah mudaku lalu berjalan meninggalkan bangku putih itu. sudah kesebelas kalinya lelaki itu mengajakku bertemu, sudah sebelas kalinya aku menunggunya ditempat itu, dan... sudah kesebelaskalinya aku terlalu bodoh untuk menunggunya lebih dari 2 jam.
*
Sore ini, langit terlihat sangat merah, mungkin akan turun hujan. Aku keluar dari kampusku sendirian, tanpa dujun. Aku melangkahkan kakiku cepat karena aku harus segera sampai kerumah. Seperti biasa, aku harus berlari mengejar waktu yang tipis saat aku kembali kerumah. Aku berlari tanpa menghiraukan siapapun hingga aku tidak sadar aku menabrak seseorang ditengah keramaian hongdae.
“mian..” ucapku membalikan badan tanpa memperhatikan siapa yang aku tabrak dan meninggalkannya.
*
NAM WOOHYUN POV
Ahh, tidak berguna, aku sudah berteriak-teriak memanggil perempuan itu, tapi perempuan itu terus saja berlari. Dompet ini, aku bawa pulang saja, aku akan membukanya ketika aku sampai dirumah nanti.
*
Aku meletakan jaketku dibalik pintu, tanpa basa basi lagi aku membanting tubuhku diatas tempat tidur. Suara hujan benar benar memecah keheningan kamarku. Aku membuka tasku yang masih melekat ditubuhku mencoba mengambil beberapa komik yang aku beli di hongdae tadi. Tanpa sengaja, aku mengambil sebuah dompet berwarna biru muda yang tadi terjatuh ketika perempuan aneh tadi menabrakku.
Tanpa pikir panjang, aku membuka dompet itu, mataku langsung tertuju pada foto seorang perempuan. Cantik, tapi sepertinya dia bukan tipeku. Aku membuka kembali dompet itu melihat jumlah uang yang dimiliki perempuan ini. Hanya 20.000 won, kenapa sedikit sekali. Aku kembali mengacak ngacak dompet itu dengan membabi buta, ada 2 kartu kredit dan kartu mahasiswa serta kartu nama perempuan itu. lee jun ri, aku mengulang nama itu dua kali namun berhenti setelah aku membaca kartu mahasiswanya.
“yoboseyo, lee jun ri-ssi?” ucapku diujung telepon setelah aku berniat untuk mengembalikan dompet miliknya itu.
“ne, nuguseyo?” ucap suara yang terdengar lembut dan sangat pelan dari arah yang berlawanan.
“kau menabrakku tadi sore dan dompetmu ada padaku. Aku harap kau tidak menuduhku pencuri setelah ini.” Aku diam sebentar, dan suara pelan itu juga tidak terdengar. “aku nam woohyun.” Ucapku lagi.
“ahh ne, maaf merepotkanmu.” Ucap perempuan itu lagi. Kenapa ia yang meminta maaf, aneh.
“besok aku akan mengembalikannya, kau ada waktu?” tanyaku ingin segera menyelesaikan pembicaraan membosankan ini.
“ne, besok aku tidak ada kuliah, jadi kita bisa bertemu ditaman dekat hongdae jam 5 sore. Bagaimana?”
“baiklah, jam 5 sore.” Ucapku segera menekan tombol merah pada ponselku tapi suara di telingaku masih terdengar. “ada apa?”
“si...siapa tadi namamu?”
“NAM WOOHYUN!” ucapku kesal menekan tombol merah.
*
Aku mulai gusar, jam diponselku sudah menunjukan pukul 5.30 tapi kenapa dosen sialan ini belum mengakhiri jam pelajarannya. Aku memperhatikan sekelilingku, mereka semua masih memperhatikan dosen busuk itu dengan sangat seksama. Hanya aku yang ingin sekali keluar dari neraka kelas hari ini.
Aku meraih ponselku, mencoba mengetikan pesan singkat tanpa diketahui oleh dosen yang sedang mengajar.

“to: lee jun ri
Sepertinya aku akan terlambat? Kau mau menungguku?”

Pesan terkirim, namun dengan sangat cepat, ponselku kembali bergetar. Perempuan itu membalasnya.

“5.40 pm, thu, 13th sept Lee Junri
Gwencanha ^_^ aku akan menunggumu.”

Ahhh, dosen ini benar benar membuatku merasa bersalah pada perempuan bodoh yang satu ini.
*
Tepat satu setengah jam terlewati, aku mengendarai sepedaku dengan sangat cepat. dan itu membuatku hampir menabrak seorang ibu yang hendak menyebrang.
Sesampainya ditempat yang dijanjikan perempuan itu, aku melambatkan laju sepedaku. Perempuan itu masih duduk dikursi putih itu. Aku sedikit terdiam memperhatikannya. Dia sudah menungguku satu setengah jam, dia bodoh atau terlalu sabar?
“lee jun ri-ssi?” tanyaku ketika aku mendekat kearahnya.
Perempuan itu bangkit dan langsung tersenyum tanpa mengguratkan kekesalan diwajahnya. Aku semakin bingung, ada rasa bersalah dalam diriku telah membuatnya menunggu selama ini.
“mian, membuatmu menunggu terlalu lama.” Ucapku sambil membungkukkan badan.
“gwencanha, aku sudah terbiasa.” Ucapnya masih tersenyum lebar membuatku semakin bertanya tanya tentang perempuan ini. “mana dompetku?” tanyanya membuatku berhenti melamun. Tanpa kata aku membuka tasku dan memberikan dompet miliknya.
“kau boleh mengeceknya lebih dulu.” Ucapku sedikit basa-basi agar dia percaya padaku.
“aku percaya padamu.” Perempuan ini kembali membuatku takjub. Aku memperhatikannya ketika ia memasukan dompet kedalam tasnya. Tidak ada yang berbeda dari perempuan lainnya. Rambutnya yang ia kuncir dua sore ini, sepatu boots coklat semata kaki, blazer abu-abu dan tas merah muda yang ia bawa menandakan ia hanya perempuan biasa.
“ehmm, jun ri-ssi, sepertinya hari akan turun hujan. Aku benar benar minta maaf karena aku terlambat datang. Jadi, aku pikir aku bisa mengantarkanmu pulang hari ini.” Tawarku setelah aku berpikir 2 kali untuk mengajaknya pulang.
“tidak usah, rumahku cukup dekat dari sini. Terimakasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk mengembalikan dompetku.” Perempuan itu mengguratkan senyumnya lalu pergi dan melambaikan tangannya kearahku. Entah karena sesuatu atau apapun, aku membalas lambaian tangannya.
*
LEE JUN RI POV
Pagi yang cerah dengan bulir bulir angin membelai rambutku yang aku biarkan terurai. Dengan langkah yang sangat santai, aku berjalan menuju kampusku yang sudah terlihat dari kejauhan.
Aku berjalan dengan perasaan seperti biasa, datar dan apa adanya. Mataku juga terus memperhatikan mahasiswa lain dengan tujuan sama menuju kampus dengan berjalan, bersepeda, atau pun menggunakan mobil pribadi mereka.
“lee jun ri-ssi!” suara tinggi dari seorang lelaki membuatku mengalihkan pandangan dan membalikan tubuhku kebelakang. Lelaki itu ternyata kuliah disini. Senyum dan lambaian tangan nam woohyun mendekat kearahku. Aku membalasnya dengan senyum yang biasa aku guratkan kesiapapun yang menyapaku.
“kau kuliah disini?” tanyaku santai kembali berjalan dengan lelaki ini disebelahku.
“tingkat dua, kau tingkat 4 kan?” tanyanya langsung dengan nada suara santai dan kacamata besar yang dua hari lalu tidak ia pakai.
“hem, mana sepedamu?” tanyaku lagi dengan nada suara seperti aku sudah mengenalnya sejak lama.
“dia sedikit kesal denganku kemarin, dia memutuskan rantainya sendiri, dan sekarang aku menghukumnya. Menguncinya digudang.” Ucapannya membuatku menahan tawaku. Ekspresinya sangat aneh ketika ia menceritakannya.
Disela aku dan woohyun berjalan sambil menikmati semilir angin diawal musim gugur, aku melihat seseorang bersandar ditembok menatap kearahku. Aku terdiam dan menghentikan langkahku menatap jauh kearah matanya yang bersinar terkena pantulan sinar matahari. Lelaki itu melangkah kearahku dan dengan cepat ia menarik tanganku pergi dengan langkah tidak terlalu cepat.
“dujun-ssi.” Ucapku dengan nada sangat riang. Nada yang sudah sering aku ucapkan jika aku bertemu dengannya.
“siapa lelaki itu?” tanya dujun melepaskan genggamannya dari lenganku. Aku menoleh kearah woohyun yang masih diam menatap bingung aku dan dujun yang pergi meninggalkannya.
“nam woohyun.” Jawabku sedikit gugup. Nada bicaranya tidak seperti biasa. Nada yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
“berapa umurnya?” tanya dujun lagu masih dengan nada yang sama namun tatapan yang tidak biasa terlihat dari mataku.
“dia lebih muda dariku satu tahun.” Jawabku tersenyum seriang mungkin.
“aku tidak suka kau dekat dengannya.” Ucap dujun datar sambil meraih tanganku dan menggenggamnya.
“wae? Dia temanku. Dia menemukan dompetku ketika aku berlari didaerah hongdae, dan dia mengembalikannya...” ucapku mengingat kejadian beberapa waktu lalu sambil berusaha menceritakan kembali pada dujun.
“pokoknya aku tidak suka kau pergi dengan lelaki lain selain aku. Kau itu kekasihku!” ucap dujun dengan nada sedikit tinggi menghentikan seluruh ceritaku.
Aku tersentak, mataku terbuka lebar mendengar dujun yang (menurutku) dia membentakku saat itu.
“aku harus kekelas sekarang, ada pelajaran pagi ini.” Dujun mengembalikan nada suaranya seperti biasanya. Tidak tinggi dan tidak sinis seperti tadi. Itu ucapan terakhirnya jika setiap pagi kita bertemu. Detik ini, dujun juga tidak melupakan ciumannya yang selalu mendarat dikeningku. Hal ini yang membuatku melupakan sisi dirinya yang membuatku kesal. Ketika bibirnya mendarat dikeningku, yang aku rasakan hanya kehangatan dekapan tangannya ditanganku yang meleburkan kekesalan padaku dan menghilangkannya bersama angin.
“sore ini, kita bisa pulang bersama?” tanyaku tersenyum sebelum ia pergi meninggalkanku.
“aku ada urusan sore ini.” Jawaban dujun yang sudah bisa aku tebak.
“boleh aku tahu urusanmu?”
“aku benar-benar buru-buru, aku harus pergi.”
*TBC*


So, what’s goin’ on with dujun? Apakah dujun marah sama woohyun karena junri pergi dengan woohyun? Apakah urusan dujun sebenarnya? Penasaran? Ditunggu part 2 nya yaaa~~ ppyong!!

August 4, 2012

[FF] THANK'S NAM WOOHYUN (oneshoot)


“tanpa basa basi lagi, aayoo check this out new fanfiction with main cast nam woohyun from infinite.. happy reading all, i hope you’ll like it” –shan-
CAST:
INFINITE NAM WOOHYUN
Author as that girl

Kehidupan adalah sebuah pergantian antara kesedihan dan kebahagiaan. Tapi, akankah kesedihan yang aku miliki selama hampir 20 tahun ini berubah menjadi kebahagiaan? Aku tidak pernah mengetahui siapa appa dan eommaku. Segelintir orang mengatakan kedua orang ini meninggal terbunuh oleh rentenir saat aku berumur 2,5 bulan. Tapi kenapa mereka membiarkanku untuk tetap hidup? Kehidupanku tidak kalah menyedihkan atau bahkan lebih menyedihkan dibanding kehidupan mereka saati itu.
“ya~~~ kau ada didalam kan? Cepat bayar uang sewamu!!” suara itu aku dengar sangat jelas disertai suara gedoran pintu yang cukup keras. Hentikan, hentikan ini, suara hatiku berusaha terdengar keras. Aku hanya mampu menutup telingaku disudut ruangan samping lemari.
“eomma!” ucapku pelan hingga suara pemilik sewa rumahku pudar. “kenapa kau meninggalkanku seperti ini.....”
Suara gedoran pintu terdengar kembali. Terdengar lebih halus dibanding yang tadi. Aku menatap kearah pintu lalu bangkit perlahan berjalan pelan mendekati pintu.
“nu...nuguseyo?” ucapku walau dengan suara berat.
“ya~ kau bisa membuka pintumu dulu?” suara seorang lelaki yang belum pernah aku dengar sebelumnya menyuruhku membuka pintu.
Dengan perlahan, aku membuka sedikit pintu dengan perasaan was-was. Aku melihat seorang lelaki yang menurutku cukup tampan berdiri dihadapanku. Ia mengenakan syal abu abu dan winter coat berwarna gelap. Ia terlihat sedang menggendong gitar lalu dengan senyumannya ia menyapaku. Aku sama sekali tidak mengenal lelaki ini.
“ah, kau tahu dimana tempat tinggal pemilik rumah sewa ini? Aku tadi kedekat hongdae katanya dia pindah kesini.” Tanyanya dengan nada yang sangat bersahabat. Aku mengusap air mataku yang belum sempat aku usap tadi. “kau menangis? Kau ada masalah?” tanyanya sambil memperhatikan wajahku.
“bibi pemilik rumah tinggal dibawah, pintu ketiga dari kiri.” Ucapku lalu masuk kembali dan menutup pintu rumahku. Aku tidak suka berbasa basi dengan orang yang aku tidak kenal.
“ahh, baiklah terimakasih banyak.” Suara itu terdengar dari balik pintu rumahku. Lalu seketika hening kembali.
*
Pagi menjelang. Aku selalu pergi sejak pagi buta mengikuti langkah kakiku berjalan. Aku tidak pernah punya tujuan. Selama kakiku masih sanggup melangkahkan kakinya, aku akan terus berjalan.
Sejak pagi hingga senja kembali datang, aku tidak pernah menghentikan langkah kakiku. Langkah kakiku mengerti kapan aku harus pulang dan kapan aku harus meninggalkan rumah. Malam ini pun, langkah kakiku mengantarkan aku kembali kerumah sewaku.
“woohyun-ah! Kenapa kau kembali secepat itu hah? Sudah bagus kau dibusan, kau pasti dikeluarkan dari perkuliahanmu kan? Dasar anak nakal”
“eomma! Aku tidak dikeluarkan, aku sudah lulus sejak 3 bulan lalu, ini buktinya.”
“kau jangan bohong! Kebiasaanmu berbohong itu yang paling eomma benci.”
Pembicaraan antara pemilik rumah sewa dengan anaknya terdengar ditelingaku. Aku menghentikan langkahku dan memperhatikan keduanya yang saling bekejaran dengan si ibu membawa sapu dan memukul mukuli anaknya. Tanpa sadar aku mengguratkan sedikit senyumku.
“ya kau! Kapan kau mau membayar uang sewa? Sudah 3 bulan kau menunggak.” Bibi itu melihatku yang memperhatikan mereka. Lelaki yang semalam menemuiku yang ternyata adalah anak bibi itu juga ikut memperhatikanku.
“aku.” Ucapku hampir tidak terdengar oleh mereka berdua.
“bereskan barang-barangmu dan aku akan menggratiskan tunggakan itu.” Perintah bibi itu tanpa basa-basi. Aku menatap bibi dengan tatapan sinis lalu beranjak pergi.
“eomma, kau tega sekali, ini sudah malam kau malah membiarkan perempuan pergi dimalam seperti ini.” Teriak lelaki yang bernama woohyun itu membelaku. Aku tidak menggubrisnya sama sekali. “ya~ kau, setidaknya kau memohon agar tidak diusir malam ini.”
10 menit kemudian aku keluar dengan membawa barang barangku yang tidak terlalu banyak. Aku melihat woohyun masih duduk dianak tangga. Aku berjalan melewatinya seakan tidak melihatnya sama sekali. Aku merasakan woohyun menggenggam lenganku. Aku membalikan badanku lalu menatapnya dengan tatapan sinis. Seketika woohyun melepaskan genggamannya. Tanpa bicara aku meninggalkannya dengan langkah cepat.
*
Dini hari telah datang. Sangat gelap. Aku duduk disebuah halte bus dengan hanya ditemani sebuah koper hitam disebelahku. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Kemana atau dimana aku akan membaringkan tubuh ini aku tidak memikirkannya. Aku hanya memperhatikan sekitarku yang sepi. Kendaraan yang melintas pun menipis jumlahnya. Lampu lampu kota terang seakan mengajaku menari namun aku menolaknya. Inikah kehidupanku yang hanya seorang diri? Menyedihkan.
*
Siang ini, masih ditemani dengan koper hitamku, aku menikmati segelas americano sambil memperhatikan keramaian taman kota yang dipenuhi banyak manusia yang mengguratkan senyum keceriaannya.
“ah kau disini rupanya? Semalam kau tidur dimana?” suara yang sudah aku kenal kembali mengetuk gendang telingaku. Aku menatapnya, woohyun tersenyum lalu tanpa aku pinta ia duduk disebelahku. “ah, aku lupa. Ini.” Woohyun mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya. Aku mengenal tumpukan kertas itu.
“kau dapat darimana?” tanyaku dengan nada datar.
“kau tahu kan semalam aku bertengkar dengan eomma, lalu aku tidur saja dikamar yang kau tinggalkan, aku menemukan itu dibawah meja kecil disudut ruangan.” Jawab woohyun dengan wajah santainya dan senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Aku meraih kertas itu dan memperhatikannya. “kata-kata yang bagus, menurutku kau cocok untuk menjadi seorang pencipta lagu. Apa kau bisa bermain gitar, piano, atau semacamnya? Tapi jika kau tidak bisa, aku bisa membantumu untuk membuatkanmu melodi.”
Aku kembali menatapnya. Lelaki ini sungguh banyak bicara tapi entah kenapa aku merasa sangat nyaman berada didekatnya.
“aku tidak berminat.” Ucapku menghabiskan americano-ku.
“lalu? Sayang jika kertas itu kau buang.” Woohyun menatapku bingung. Aku membuang wajahku menatap kearah lain.
“untukmu.” Aku memberikan kertas itu kepadanya. Wajah bingungnya belum terhapus.
“ah, bagaimana jika aku yang membuat melodinya, dan aku yang bernyanyi. Suaraku tidak terlalu bagus menurut teman temanku, tapi menurutku suaraku sudah cukup baik jika didengarkan. Nanti kau yang membantuku untuk tampil di cafe-cafe atau acara yang lain. Lagipula aku sangat sulit untuk membuat lagu dengan lirik sebagus ini.” Usul woohyun membuatku berpikir sejenak.
Aku bangkit dari tempat dudukku. Membawa serta koperku hendak pergi. “ya~ kau mau kemana?” teriaknya memanggilku. Aku tidak menjawabnya, namun woohyun mengejarku lalu berdiri dihadapanku.
“kau tidak mau membantuku? Nanti jika kita mendapat uang, uangnya kita bagi dua. Ah tidak tiidak, kau akan aku beri 60% sementara aku memberimu 40%-nya. Ayolah! Coba pikirkan, kau bisa menyewa kamar yang lebih baik dibanding kamar yang disewakan oleh bibi tua itu.” Woohyun memohon dengan wajah yang cukup lucu dan perkataan yang membuatku ingin tertawa. Tapi aku tetap berjalan tanpa mendengarkannya. “ya~ sebenarnya apa tujuan hidupmu sebenarnya? Ingin terus mengelilingi kota ini tanpa uang? Dan tidur dihalte bus tiap malam?” suara itu menghentikan langkahku. Entah kenapa perkataan itu menyentuh perasaanku. Apa tujuan hidupku pun hingga kini aku tidak mengetahuinya dan tidak pernah memikirkannya bahkan tidak ada yang pernah bertanya tentang itu kepadaku. Tapi, kenapa orang seperti dia mempertanyakannya?

*
“nah, kau bisa tidur disini untuk sementara.” Ucap woohyun ketika kita masuk kedalam sebuah ruang musik yang tidak cukup besar dan dipenuhi oleh sebuah gitar listri, piano besar, dan sebuah sofa putih ditengahnya. “ini tempat persembunyianku sejak sekolah menengah.” Ucapnya lagi.
Aku memperhatikan ruangan yang bernuansa coklat itu. Ia mulai memainkan gitarnya mencari cari melodi yang cocok untuk sebuah lirik yang aku buat selama hampir 20 tahun ini.
*
Setelah dua minggu aku sedikit membantu woohyun, lagu yang ia ciptakan selesai. Melodi yang tidak rumit dan sangat hangat jika kita mendengarnya membuatku berpikir lebih positif akhir akhir ini.
“ahh, dua minggu kita sudah tampil di tiga cafe, its amazing.” Ucap woohyun ketika aku berjalan dengannya disore yang dingin. Aku hanya mendengar perkataannya, sementara tanganku membolak balik kertas dan mataku memperhatikan kertas itu. “bagaimana? Pendapatan kita?” tanya woohyun. Aku hanya tersenyum memberikan kertas yang berisi jadwal manggung woohyun dan hasil jerih payahnya hari ini.
“oh iya ini.” Aku memberikan sebuah amplop coklat yang cukup tebal berisi uang padanya.
“sudah kau ambil bagianmu?” tanya woohyun menghitung jumlah uang tersebut. Aku hanya menggeleng pelan. “ah kau ini, kan sudah aku bilang ambil dulu bagianmu lalu baru kau berikan sisanya padaku.” Woohyun mengembalikan amplop itu padaku lagi. Aku hanya diam tidak menerima amplop tersebut. “ah kau ini, ayo ikut aku.” Woohyun menarik tanganku menyebrang jalan lalu berhenti disebuah toko pakaian yang tidak terlalu besar. Aku memperhatikan toko itu sejenak namun woohyun menarik tanganku masuk kedalam toko yang dipenuhi oleh pakaian yang terlihat sangat cantik. “ini sangat cocok untukmu.” Woohyun mengambil setelan rok dan blues berwarna soft dan mencocokannya ditubuhku. “ini juga baik.” Ia mengambil sebuah blazer ungu lalu mencocokannya lagi. Aku memperhatikannya yang sibuk sendiri memilihkan baju untukku. Aku merasakan hal yang aneh, ini pertama kalinya ada yang memperhatikanku semasa hidupku.
“gomawo.” Ucapku sangat lirih. Woohyun juga tidak mendengar sama sekali ucapanku itu.
*
“pergilah, kami tidak membutuhkan penyanyi untuk cafe ini.” Suara itu sering aku dapatkan ketika aku mempromosikan woohyun kehampir seluruh cafe di seoul. Aku sudah sering mendengarnya, tapi untuk kali ini aku merasa ucapan itu menusuk hatiku. Aku berjalan pelan meninggalkan cafe itu dengan sedikit rasa lapar.
“ya~” suara bibi pemilik sewa waktu itu terdengar kembali. Aku membalikan badanku dan menatapnya. Wajahnya memerah seakan ada api yang ingin keluar dari tubuhnya. “kau bawa anakku kemana? Sudah hampir satu bulan dia tidak kembali kerumah.” Aku hanya diam sambil berpikir.
“dia selalu pulang setiap malam.” Jawabku dengan nada sangat lambat.
“jangan berbohong padaku, dia tidak pernah kembali sejak malam itu.” Sahut bibi dengan nada tingginya.
Aku berpikir kembali, apakah woohyun membohongiku? Dia bahkan tidak pernah tidur distudio yang sering kami tempati untuk latihan atau membuat melody.
“katakan padanya, dia harus pulang dan kau tidak boleh lagi mendekatinya.” Bibi itu meninggalkanku setelah mengeluarkan kata kata itu.
Apakah aku sangat menyebalkan sehingga bibi itu sangat membenciku. Menyedihkan.
*
Malam ini aku masuk kedalam studio musik setelah melihat woohyun sedang membuat melody untuk lagu barunya. Dia tersenyum kearahku namun aku tidak meresponnya sama sekali. Aku melemparkan tumpukan kertasnya keatas meja didepannya. Woohyun menatapku bingung.
“aku ingin pergi.” Ucapku pelan sambil membereskan koperku.
“kau yakin? Kenapa kau tiba tiba ingin pergi?” tanya woohyun dengan nada yang sangat bingung. Aku tidak menjawabnya dan melanjutkan langkahku. “tunggu dulu.” Lagi lagi woohyun menggenggam lenganku. “jelaskan dulu semuanya.”
“ibumu... menyuruhmu pulang.” Ucapku pelan. “dan, aku sudah muak dengan ini semua. Ini bukan tujuan hidupku.” Lanjutku tanpa membalikan tubuhku.
“lalu, apa tujuan hidupmu sebenarnya?” tanya woohyun pelan.
“eobseo.” Ucapku lirih.
“kau yakin tidak ada? Semua orang mempunyai tujuan hidup. Uang, kebahagiaan, kebersamaan, dan cinta adalah sebagian kecil tujuan hidup seseorang.” Ucap woohyun yang emosinya sudah tidak tertahan. Aku mendengarnya cukup keras ditelingaku. Aku membalikan badanku lalu menatap wajahnya.
“kau bukan diriku.” Ucapku dengan tatapan sinis.
“lalu?”
“kau tidak pernah merasakan jadi diriku! Dan jika kau ditawari untuk jadi diriku kau pasti menolaknya.” Woohyun menatapku serius. “kau tahu? Ayah dan ibuku meninggal saat aku masih bayi saat aku masih membutuhkan asi dari ibuku. Mereka meninggalkanku tanpa menitipkanku dengan siapapun. Selama masa anak-anaku aku digilir dari satu tempat ke tempat lain untuk tinggal. Hanya makan sehari satu kali itu pun jika orang yang mau menerimaku memiliki nasi, jika tidak aku hanya mengharapkan balas kasih dari orang disekitarku.” Ceritaku dengan emosi yang benar benar tidak bisa aku tahan lagi.
“tapi, ada tujuan lain orang tuamu membiarkanmu hidup.” Sahut woohyun pelan.
“apa tujuan mereka? Aku ditakdirkan hidup lebih lama dibanding mereka tapi tidak bisa sebahagia mereka. Itu menyedihkan. Aku tidak ditakdirkan untuk bahagia sama sekali, banyak orang yang membenciku dan mencemoohku.”
“tapi, kau pasti ditakdirkan untuk merasakan cinta.”
“tidak! Aku bahkan tidak pernah dicintai oleh siapapun.”
“tidak, bersyukurlah karena hari ini kau sedang dicintai oleh seseorang.” Ucapan woohyun membuat mataku terbelalak. Apa yang ia katakan sulit untuk aku cerna diotakku. Dia mencintaiku? Ah bukan, tidak mungkin. “tetaplah disini, aku akan membantumu mencari kebahagiaan.”
*
Hari berganti hari, musim juga ikut berganti. Musim semi datang kembali, kehangatan juga turut datang. Bagaimana kabar lelaki itu, nam woohyun. Semenjak hari aku meninggalkannya tidak ada kabar terselip ditelingaku. Ah, aku harap dia baik baik saja.
Sudah lebih dari 1 minggu aku bekerja disebuah salon kecantikan. Bukan sebagai penjaga salon atau apapun itu namanya, tapi sebagai penyebar brosur dari salon ini. Salon ini memang baru saja buka karena itulah aku bekerja disana.
Setiap hari aku harus pergi mengelilingi kota seoul yang hangat, termasuk hari ini. Aku pergi dengan membawa setumpuk brosur ditanganku. Kota seoul yang cukup ramai dan hawa yang hangat membuatku merasa aku akan hidup seribu tahun lagi.
Lampu pejalan kaki menunjukan bahwa aku boleh menyebrang sekarang. Aku melangkahkan kakiku dengan sangat santai, namun seorang lelaki yang melangkahkan kakinya sangat cepat menabrakku membuat seluruh brosurku berantakan. Aku menghela napas panjang, lalu dengan terburu-buru membereskan semua brosurku.
“ya~~~~” suara yang sangat aku kenal terdengar memanggilku. Aku mencari sumber suara. Aku melihat woohyun tak jauh dariku tersenyum sambil melambaikan tangannya. Tanpa aku sadari, aku mengguratkan senyumku sambil ikut melambaikan tanganku. Seluruh brosur kembali berantakan dijalanan. Aku harus buru-buru membereskannya. Tapi aku tersadar aku sudah terlalu lama berada ditengah jalan raya ini. Suara klakson terdengar sangat jelas ditelingaku. Aku melihat truk kuning melaju cepat dihadapanku. Aku menatap truk itu, “ya~~ awas...” suara woohyun yang terdengar lebih jelas dari panggilannya yang pertama membuatku menatap kearahnya. Ia berlari kearahku berusaha menolongku.
“woohyun-ssi!! Awas!” teriaku bangkit ketika melihat sepeda motor hendak menabraknya. Aku terlambat, badan truk itu sudah lebih dulu menyentuh tubuhku, melempar tubuhku jauh dari tempat woohyun tergeletak.
*
“dokter, bagaimana keadaan anakku dok.” Suara bibi pemilik sewa terdengar sangat berat. Aku melihat wajahnya yang pucat dan penuh dengan air mata memperhatikan kami yang terbaring dikamar yang sama.
“lelaki tidak terlalu parah, hanya kakinya yang patah dan luka dikepalanya, tapi sepertinya untuk si wanita kita hanya menunggu keajaiban. Dia terlempar sekitar 15 meter dari tempat kejadian, kepalanya retak dan tangannya patah.” Ucapan dokter itu benar benar aku dengar. Entah kenapa aku cukup senang mendengar perkataan dokter tersebut. Aku melihat ibu woohyun memasuki kamar yang ditempati kami.
“ya..” suara woohyun memanggilku pelan. Aku menghentikan langkahku menatap kearahnya yang berdiri dibelakangku. “siapa namamu? Selama kau mengenalmu, aku tidak pernah kau menyebutkan namamu.”
“namaku? Tidak ada lagi pentingnya untukmu jika kau bertanya itu sekarang.” Jawabku santai sambil tersenyum senang. Woohyun menatapku bingung. “kembalilah, aku kasihan melihat ibumu menangis memanggil namamu terus.” Ucapku sambil memperhatikan ibu woohyun dari balik pintu yang sedang mengusap air matanya. Woohyun ikut menatap ibunya yang menangis.
“lalu kau?” tanya woohyun lagi.
“aku juga akan kembali ke ibuku, lihat, mereka sudah berdiri disana.” Jawabku santai. Aku menunjuk sepasang manusia yang berdiri diujung lorong rumah sakit. Mereka berdua tersenyum menatapku dan woohyun. “terimakasih atas semua bantuanmu selama ini, woohyun-ssi. Jangan pernah membuat ibumu sedih lagi, kau harus berjanji untuk ini.” Aku memukul pelan dada woohyun. Aku menatap matanya yang mulai merah. Bibirnya terlihat beku seakan ingin bicara tetapi sulit untuknya. “kembalilah, sebelum aku pergi dengan mereka. Aku ingin memastikan kau benar benar membuat ibumu bahagia saat kau sadar.” Ucapku yang membuatku seakan ingin menangis. Woohyun hanya diam namun perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan tempat tubuhnya berbaring. Namun ia membalikan badanya seakan tidak ingin aku pergi, aku hanya tersenyum namun mataku tak kuat menahan tetesan air mataku.
Woohyun sudah masuk kedalam tubuhnya. Perlahan aku melihatnya berusaha membuka mata. Ibu woohyun terlihat antusias melihat anaknya yang kembali sadar. Dengan cepat ia memanggil dokter memastikan anaknya benar benar sadar. Bersamaan dengan dokter yang memeriksa woohyun, suara mesin penanda detak jantung berbunyi. Aku mendengar suara yang cukup menggembirakan untukku. Aku melihat dokter berusaha menolongku, tapi semuanya sudah berakhir.
“ya~, sadarlah, ya~ jangan pergi~!!” teriakan woohyun masih terdengar olehku. Aku benar benar menangis saat ini. Kenapa aku baru merasakan rasa ini setelah 20 tahun aku hidup. Rasa yang benar benar membuatku berpikir kembali untuk pergi. Tapi aku tidak mungkin untuk kembali lagi. Maafkan aku woohyun-ssi.
“uljima.” Ucapku pelan ketika ia melihat keluar ruang rawatnya. “aku pergi.” Aku melangkahkan kakiku menghampiri kedua orang tuaku. Semuanya terasa ringan walau diawalnya cukup berat. Terimakasih, nam woohyun.
*end*