Laman

July 13, 2013

[FF] Your Expressions are Amazing (part. 1)

Hello everyone J maaf bgt udah lama gak ngepost fanfic. Sibuk menerpa lapar melanda haha. Akhirnya selesai juga fanfic pertama ditahun 2013. Semoga suka yaa~ maaf kalo kepanjangan dan castnya lagi-lagi dujun. But, let’s read hand happy reading~~~~


Cast::
Yoon Dujun : 23 tahun, romantis, penyayang tidak mudah ditebak
Lee Junri : 22 tahun, gadis polos yang sangat mencintai kekasihnya, yoon dujun.
Nam woohyun : 21 tahun, lelaki yang terlihat tidak punya masalah tapi mempunyai perasaan halus kepada setiap wanita yang ia temui.

*
Lee jun ri POV
Dari sekian banyak manusia yang berlalu lalang didepan dan dibelakangku, hanya suara detak jarum jam yang terdengar ditelingaku. Dua jam sudah berlalu dan aku masih bersabar duduk disebuah bangku putih tepat ditengah sebuah lingkaran taman yang dikelilingi pertokoan yang ramai dihinggapi para manusia. Matahari sudah mulai malas memancarkan sinarnya, siang berlari dan malam pun datang melambaikan dekapannya. Aku mulai bosan, tapi aku tetap menunggu sambil berharap suara dering ponselku segera terdengar.
Aku bangkit, bukan untuk pergi, tapi memperhatikan sekelilingku. Menatap jauh kearah berlainan memperhatikan manusia-manusia yang semakin banyak. Aku memperhatikan mereka, lalu pikiranku sedikit berkata, “kenapa hanya aku yang sendirian?” bahkan anak kecil pun datang bersama kedua orang tuanya.
Aku sadar, lagi-lagi aku melakukan ini. Menunggu lelaki itu dan bersabar hingga akhirnya ia tidak akan datang. Aku duduk kembali dengan desahan napas yang menghasilkan kelabut asap putih yang kemudian hilang dihembus angin. Ponselku berdering kecil, aku melihat kelayar ponsel putihku yang menunjukan ada satu pesan yang masuk.

19.55 wed, 12th sept Yoon DooJoon
Mian, aku tidak bisa datang, ada urusan mendadak.

Aku kembali menghela napas panjang, memasukan ponselku kedalam tas merah mudaku lalu berjalan meninggalkan bangku putih itu. sudah kesebelas kalinya lelaki itu mengajakku bertemu, sudah sebelas kalinya aku menunggunya ditempat itu, dan... sudah kesebelaskalinya aku terlalu bodoh untuk menunggunya lebih dari 2 jam.
*
Sore ini, langit terlihat sangat merah, mungkin akan turun hujan. Aku keluar dari kampusku sendirian, tanpa dujun. Aku melangkahkan kakiku cepat karena aku harus segera sampai kerumah. Seperti biasa, aku harus berlari mengejar waktu yang tipis saat aku kembali kerumah. Aku berlari tanpa menghiraukan siapapun hingga aku tidak sadar aku menabrak seseorang ditengah keramaian hongdae.
“mian..” ucapku membalikan badan tanpa memperhatikan siapa yang aku tabrak dan meninggalkannya.
*
NAM WOOHYUN POV
Ahh, tidak berguna, aku sudah berteriak-teriak memanggil perempuan itu, tapi perempuan itu terus saja berlari. Dompet ini, aku bawa pulang saja, aku akan membukanya ketika aku sampai dirumah nanti.
*
Aku meletakan jaketku dibalik pintu, tanpa basa basi lagi aku membanting tubuhku diatas tempat tidur. Suara hujan benar benar memecah keheningan kamarku. Aku membuka tasku yang masih melekat ditubuhku mencoba mengambil beberapa komik yang aku beli di hongdae tadi. Tanpa sengaja, aku mengambil sebuah dompet berwarna biru muda yang tadi terjatuh ketika perempuan aneh tadi menabrakku.
Tanpa pikir panjang, aku membuka dompet itu, mataku langsung tertuju pada foto seorang perempuan. Cantik, tapi sepertinya dia bukan tipeku. Aku membuka kembali dompet itu melihat jumlah uang yang dimiliki perempuan ini. Hanya 20.000 won, kenapa sedikit sekali. Aku kembali mengacak ngacak dompet itu dengan membabi buta, ada 2 kartu kredit dan kartu mahasiswa serta kartu nama perempuan itu. lee jun ri, aku mengulang nama itu dua kali namun berhenti setelah aku membaca kartu mahasiswanya.
“yoboseyo, lee jun ri-ssi?” ucapku diujung telepon setelah aku berniat untuk mengembalikan dompet miliknya itu.
“ne, nuguseyo?” ucap suara yang terdengar lembut dan sangat pelan dari arah yang berlawanan.
“kau menabrakku tadi sore dan dompetmu ada padaku. Aku harap kau tidak menuduhku pencuri setelah ini.” Aku diam sebentar, dan suara pelan itu juga tidak terdengar. “aku nam woohyun.” Ucapku lagi.
“ahh ne, maaf merepotkanmu.” Ucap perempuan itu lagi. Kenapa ia yang meminta maaf, aneh.
“besok aku akan mengembalikannya, kau ada waktu?” tanyaku ingin segera menyelesaikan pembicaraan membosankan ini.
“ne, besok aku tidak ada kuliah, jadi kita bisa bertemu ditaman dekat hongdae jam 5 sore. Bagaimana?”
“baiklah, jam 5 sore.” Ucapku segera menekan tombol merah pada ponselku tapi suara di telingaku masih terdengar. “ada apa?”
“si...siapa tadi namamu?”
“NAM WOOHYUN!” ucapku kesal menekan tombol merah.
*
Aku mulai gusar, jam diponselku sudah menunjukan pukul 5.30 tapi kenapa dosen sialan ini belum mengakhiri jam pelajarannya. Aku memperhatikan sekelilingku, mereka semua masih memperhatikan dosen busuk itu dengan sangat seksama. Hanya aku yang ingin sekali keluar dari neraka kelas hari ini.
Aku meraih ponselku, mencoba mengetikan pesan singkat tanpa diketahui oleh dosen yang sedang mengajar.

“to: lee jun ri
Sepertinya aku akan terlambat? Kau mau menungguku?”

Pesan terkirim, namun dengan sangat cepat, ponselku kembali bergetar. Perempuan itu membalasnya.

5.40 pm, thu, 13th sept Lee Junri
Gwencanha ^_^ aku akan menunggumu.

Ahhh, dosen ini benar benar membuatku merasa bersalah pada perempuan bodoh yang satu ini.
*
Tepat satu setengah jam terlewati, aku mengendarai sepedaku dengan sangat cepat. dan itu membuatku hampir menabrak seorang ibu yang hendak menyebrang.
Sesampainya ditempat yang dijanjikan perempuan itu, aku melambatkan laju sepedaku. Perempuan itu masih duduk dikursi putih itu. Aku sedikit terdiam memperhatikannya. Dia sudah menungguku satu setengah jam, dia bodoh atau terlalu sabar?
“lee jun ri-ssi?” tanyaku ketika aku mendekat kearahnya.
Perempuan itu bangkit dan langsung tersenyum tanpa mengguratkan kekesalan diwajahnya. Aku semakin bingung, ada rasa bersalah dalam diriku telah membuatnya menunggu selama ini.
“mian, membuatmu menunggu terlalu lama.” Ucapku sambil membungkukkan badan.
“gwencanha, aku sudah terbiasa.” Ucapnya masih tersenyum lebar membuatku semakin bertanya tanya tentang perempuan ini. “mana dompetku?” tanyanya membuatku berhenti melamun. Tanpa kata aku membuka tasku dan memberikan dompet miliknya.
“kau boleh mengeceknya lebih dulu.” Ucapku sedikit basa-basi agar dia percaya padaku.
“aku percaya padamu.” Perempuan ini kembali membuatku takjub. Aku memperhatikannya ketika ia memasukan dompet kedalam tasnya. Tidak ada yang berbeda dari perempuan lainnya. Rambutnya yang ia kuncir dua sore ini, sepatu boots coklat semata kaki, blazer abu-abu dan tas merah muda yang ia bawa menandakan ia hanya perempuan biasa.
“ehmm, jun ri-ssi, sepertinya hari akan turun hujan. Aku benar benar minta maaf karena aku terlambat datang. Jadi, aku pikir aku bisa mengantarkanmu pulang hari ini.” Tawarku setelah aku berpikir 2 kali untuk mengajaknya pulang.
“tidak usah, rumahku cukup dekat dari sini. Terimakasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk mengembalikan dompetku.” Perempuan itu mengguratkan senyumnya lalu pergi dan melambaikan tangannya kearahku. Entah karena sesuatu atau apapun, aku membalas lambaian tangannya.
*
LEE JUN RI POV
Pagi yang cerah dengan bulir bulir angin membelai rambutku yang aku biarkan terurai. Dengan langkah yang sangat santai, aku berjalan menuju kampusku yang sudah terlihat dari kejauhan.
Aku berjalan dengan perasaan seperti biasa, datar dan apa adanya. Mataku juga terus memperhatikan mahasiswa lain dengan tujuan sama menuju kampus dengan berjalan, bersepeda, atau pun menggunakan mobil pribadi mereka.
“lee jun ri-ssi!” suara tinggi dari seorang lelaki membuatku mengalihkan pandangan dan membalikan tubuhku kebelakang. Lelaki itu ternyata kuliah disini. Senyum dan lambaian tangan nam woohyun mendekat kearahku. Aku membalasnya dengan senyum yang biasa aku guratkan kesiapapun yang menyapaku.
“kau kuliah disini?” tanyaku santai kembali berjalan dengan lelaki ini disebelahku.
“tingkat dua, kau tingkat 4 kan?” tanyanya langsung dengan nada suara santai dan kacamata besar yang dua hari lalu tidak ia pakai.
“hem, mana sepedamu?” tanyaku lagi dengan nada suara seperti aku sudah mengenalnya sejak lama.
“dia sedikit kesal denganku kemarin, dia memutuskan rantainya sendiri, dan sekarang aku menghukumnya. Menguncinya digudang.” Ucapannya membuatku menahan tawaku. Ekspresinya sangat aneh ketika ia menceritakannya.
Disela aku dan woohyun berjalan sambil menikmati semilir angin diawal musim gugur, aku melihat seseorang bersandar ditembok menatap kearahku. Aku terdiam dan menghentikan langkahku menatap jauh kearah matanya yang bersinar terkena pantulan sinar matahari. Lelaki itu melangkah kearahku dan dengan cepat ia menarik tanganku pergi dengan langkah tidak terlalu cepat.
“dujun-ssi.” Ucapku dengan nada sangat riang. Nada yang sudah sering aku ucapkan jika aku bertemu dengannya.
“siapa lelaki itu?” tanya dujun melepaskan genggamannya dari lenganku. Aku menoleh kearah woohyun yang masih diam menatap bingung aku dan dujun yang pergi meninggalkannya.
“nam woohyun.” Jawabku sedikit gugup. Nada bicaranya tidak seperti biasa. Nada yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
“berapa umurnya?” tanya dujun lagu masih dengan nada yang sama namun tatapan yang tidak biasa terlihat dari mataku.
“dia lebih muda dariku satu tahun.” Jawabku tersenyum seriang mungkin.
“aku tidak suka kau dekat dengannya.” Ucap dujun datar sambil meraih tanganku dan menggenggamnya.
“wae? Dia temanku. Dia menemukan dompetku ketika aku berlari didaerah hongdae, dan dia mengembalikannya...” ucapku mengingat kejadian beberapa waktu lalu sambil berusaha menceritakan kembali pada dujun.
“pokoknya aku tidak suka kau pergi dengan lelaki lain selain aku. Kau itu kekasihku!” ucap dujun dengan nada sedikit tinggi menghentikan seluruh ceritaku.
Aku tersentak, mataku terbuka lebar mendengar dujun yang (menurutku) dia membentakku saat itu.
“aku harus kekelas sekarang, ada pelajaran pagi ini.” Dujun mengembalikan nada suaranya seperti biasanya. Tidak tinggi dan tidak sinis seperti tadi. Itu ucapan terakhirnya jika setiap pagi kita bertemu. Detik ini, dujun juga tidak melupakan ciumannya yang selalu mendarat dikeningku. Hal ini yang membuatku melupakan sisi dirinya yang membuatku kesal. Ketika bibirnya mendarat dikeningku, yang aku rasakan hanya kehangatan dekapan tangannya ditanganku yang meleburkan kekesalan padaku dan menghilangkannya bersama angin.
“sore ini, kita bisa pulang bersama?” tanyaku tersenyum sebelum ia pergi meninggalkanku.
“aku ada urusan sore ini.” Jawaban dujun yang sudah bisa aku tebak.
“boleh aku tahu urusanmu?”
“aku benar-benar buru-buru, aku harus pergi.”
*TBC*


So, what’s goin’ on with dujun? Apakah dujun marah sama woohyun karena junri pergi dengan woohyun? Apakah urusan dujun sebenarnya? Penasaran? Ditunggu part 2 nya yaaa~~ ppyong!!

No comments:

Post a Comment