Hello
everyone J
maaf bgt udah lama gak ngepost fanfic. Sibuk menerpa lapar melanda haha. Akhirnya
selesai juga fanfic pertama ditahun 2013. Semoga suka yaa~ maaf kalo
kepanjangan dan castnya lagi-lagi dujun. But, let’s read hand happy reading~~~~
Cast::
Yoon Dujun : 23 tahun, romantis,
penyayang tidak mudah ditebak
Lee Junri : 22 tahun, gadis polos yang
sangat mencintai kekasihnya, yoon dujun.
Nam woohyun : 21 tahun, lelaki yang
terlihat tidak punya masalah tapi mempunyai perasaan halus kepada setiap wanita
yang ia temui.
*
Lee jun ri POV
Dari sekian banyak manusia yang
berlalu lalang didepan dan dibelakangku, hanya suara detak jarum jam yang
terdengar ditelingaku. Dua jam sudah berlalu dan aku masih bersabar duduk
disebuah bangku putih tepat ditengah sebuah lingkaran taman yang dikelilingi
pertokoan yang ramai dihinggapi para manusia. Matahari sudah mulai malas
memancarkan sinarnya, siang berlari dan malam pun datang melambaikan
dekapannya. Aku mulai bosan, tapi aku tetap menunggu sambil berharap suara
dering ponselku segera terdengar.
Aku bangkit, bukan untuk pergi,
tapi memperhatikan sekelilingku. Menatap jauh kearah berlainan memperhatikan
manusia-manusia yang semakin banyak. Aku memperhatikan mereka, lalu pikiranku
sedikit berkata, “kenapa hanya aku yang sendirian?” bahkan anak kecil pun
datang bersama kedua orang tuanya.
Aku sadar, lagi-lagi aku
melakukan ini. Menunggu lelaki itu dan bersabar hingga akhirnya ia tidak akan
datang. Aku duduk kembali dengan desahan napas yang menghasilkan kelabut asap putih
yang kemudian hilang dihembus angin. Ponselku berdering kecil, aku melihat
kelayar ponsel putihku yang menunjukan ada satu pesan yang masuk.
“19.55 wed, 12th sept Yoon DooJoon
Mian, aku tidak bisa datang, ada urusan mendadak.”
Aku kembali menghela napas
panjang, memasukan ponselku kedalam tas merah mudaku lalu berjalan meninggalkan
bangku putih itu. sudah kesebelas kalinya lelaki itu mengajakku bertemu, sudah
sebelas kalinya aku menunggunya ditempat itu, dan... sudah kesebelaskalinya aku
terlalu bodoh untuk menunggunya lebih dari 2 jam.
*
Sore ini, langit terlihat sangat
merah, mungkin akan turun hujan. Aku keluar dari kampusku sendirian, tanpa
dujun. Aku melangkahkan kakiku cepat karena aku harus segera sampai kerumah.
Seperti biasa, aku harus berlari mengejar waktu yang tipis saat aku kembali
kerumah. Aku berlari tanpa menghiraukan siapapun hingga aku tidak sadar aku
menabrak seseorang ditengah keramaian hongdae.
“mian..” ucapku membalikan badan
tanpa memperhatikan siapa yang aku tabrak dan meninggalkannya.
*
NAM WOOHYUN POV
Ahh, tidak berguna, aku sudah
berteriak-teriak memanggil perempuan itu, tapi perempuan itu terus saja
berlari. Dompet ini, aku bawa pulang saja, aku akan membukanya ketika aku
sampai dirumah nanti.
*
Aku meletakan jaketku dibalik
pintu, tanpa basa basi lagi aku membanting tubuhku diatas tempat
tidur. Suara hujan benar benar memecah keheningan kamarku. Aku membuka tasku
yang masih melekat ditubuhku mencoba mengambil beberapa komik yang aku beli di
hongdae tadi. Tanpa sengaja, aku mengambil sebuah dompet berwarna biru muda yang
tadi terjatuh ketika perempuan aneh tadi menabrakku.
Tanpa pikir panjang, aku membuka
dompet itu, mataku langsung tertuju pada foto seorang perempuan. Cantik, tapi
sepertinya dia bukan tipeku. Aku membuka kembali dompet itu melihat jumlah uang
yang dimiliki perempuan ini. Hanya 20.000 won, kenapa sedikit sekali. Aku
kembali mengacak ngacak dompet itu dengan membabi buta, ada 2 kartu kredit dan
kartu mahasiswa serta kartu nama perempuan itu. lee jun ri, aku mengulang nama
itu dua kali namun berhenti setelah aku membaca kartu mahasiswanya.
“yoboseyo, lee jun ri-ssi?”
ucapku diujung telepon setelah aku berniat untuk mengembalikan dompet miliknya
itu.
“ne, nuguseyo?” ucap suara yang
terdengar lembut dan sangat pelan dari arah yang berlawanan.
“kau menabrakku tadi sore dan
dompetmu ada padaku. Aku harap kau tidak menuduhku pencuri setelah ini.” Aku
diam sebentar, dan suara pelan itu juga tidak terdengar. “aku nam woohyun.”
Ucapku lagi.
“ahh ne, maaf merepotkanmu.” Ucap
perempuan itu lagi. Kenapa ia yang meminta maaf, aneh.
“besok aku akan
mengembalikannya, kau ada waktu?” tanyaku ingin segera menyelesaikan
pembicaraan membosankan ini.
“ne, besok aku tidak ada kuliah,
jadi kita bisa bertemu ditaman dekat hongdae jam 5 sore. Bagaimana?”
“baiklah, jam 5 sore.” Ucapku
segera menekan tombol merah pada ponselku tapi suara di telingaku masih
terdengar. “ada apa?”
“si...siapa tadi namamu?”
“NAM WOOHYUN!” ucapku kesal menekan
tombol merah.
*
Aku mulai gusar, jam diponselku
sudah menunjukan pukul 5.30 tapi kenapa dosen sialan ini belum mengakhiri jam
pelajarannya. Aku memperhatikan sekelilingku, mereka semua masih memperhatikan
dosen busuk itu dengan sangat seksama. Hanya aku yang ingin sekali keluar dari neraka
kelas hari ini.
Aku meraih ponselku, mencoba
mengetikan pesan singkat tanpa diketahui oleh dosen yang sedang mengajar.
“to: lee jun ri
Sepertinya aku akan terlambat? Kau mau menungguku?”
Pesan terkirim, namun dengan
sangat cepat, ponselku kembali bergetar. Perempuan itu membalasnya.
“5.40 pm, thu, 13th sept Lee Junri
Gwencanha ^_^ aku akan menunggumu.”
Ahhh, dosen ini benar benar
membuatku merasa bersalah pada perempuan bodoh yang satu ini.
*
Tepat satu setengah jam
terlewati, aku mengendarai sepedaku dengan sangat cepat. dan itu membuatku
hampir menabrak seorang ibu yang hendak menyebrang.
Sesampainya ditempat yang
dijanjikan perempuan itu, aku melambatkan laju sepedaku. Perempuan itu masih
duduk dikursi putih itu. Aku sedikit terdiam memperhatikannya. Dia sudah
menungguku satu setengah jam, dia bodoh atau terlalu sabar?
“lee jun ri-ssi?” tanyaku ketika
aku mendekat kearahnya.
Perempuan itu bangkit dan
langsung tersenyum tanpa mengguratkan kekesalan diwajahnya. Aku semakin
bingung, ada rasa bersalah dalam diriku telah membuatnya menunggu selama ini.
“mian, membuatmu menunggu
terlalu lama.” Ucapku sambil membungkukkan badan.
“gwencanha, aku sudah terbiasa.”
Ucapnya masih tersenyum lebar membuatku semakin bertanya tanya tentang
perempuan ini. “mana dompetku?” tanyanya membuatku berhenti melamun. Tanpa kata
aku membuka tasku dan memberikan dompet miliknya.
“kau boleh mengeceknya lebih
dulu.” Ucapku sedikit basa-basi agar dia percaya padaku.
“aku percaya padamu.” Perempuan
ini kembali membuatku takjub. Aku memperhatikannya ketika ia memasukan dompet
kedalam tasnya. Tidak ada yang berbeda dari perempuan lainnya. Rambutnya yang
ia kuncir dua sore ini, sepatu boots coklat semata kaki, blazer abu-abu dan tas
merah muda yang ia bawa menandakan ia hanya perempuan biasa.
“ehmm, jun ri-ssi, sepertinya
hari akan turun hujan. Aku benar benar minta maaf karena aku terlambat datang.
Jadi, aku pikir aku bisa mengantarkanmu pulang hari ini.” Tawarku setelah aku
berpikir 2 kali untuk mengajaknya pulang.
“tidak usah, rumahku cukup dekat
dari sini. Terimakasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk mengembalikan
dompetku.” Perempuan itu mengguratkan senyumnya lalu pergi dan melambaikan
tangannya kearahku. Entah karena sesuatu atau apapun, aku membalas lambaian
tangannya.
*
LEE JUN RI POV
Pagi yang cerah dengan bulir
bulir angin membelai rambutku yang aku biarkan terurai. Dengan langkah yang
sangat santai, aku berjalan menuju kampusku yang sudah terlihat dari kejauhan.
Aku berjalan dengan perasaan
seperti biasa, datar dan apa adanya. Mataku juga terus memperhatikan mahasiswa
lain dengan tujuan sama menuju kampus dengan berjalan, bersepeda, atau pun
menggunakan mobil pribadi mereka.
“lee jun ri-ssi!” suara tinggi
dari seorang lelaki membuatku mengalihkan pandangan dan membalikan tubuhku
kebelakang. Lelaki itu ternyata kuliah disini. Senyum dan lambaian tangan nam
woohyun mendekat kearahku. Aku membalasnya dengan senyum yang biasa aku
guratkan kesiapapun yang menyapaku.
“kau kuliah disini?” tanyaku
santai kembali berjalan dengan lelaki ini disebelahku.
“tingkat dua, kau tingkat 4
kan?” tanyanya langsung dengan nada suara santai dan kacamata besar yang dua
hari lalu tidak ia pakai.
“hem, mana sepedamu?” tanyaku
lagi dengan nada suara seperti aku sudah mengenalnya sejak lama.
“dia sedikit kesal denganku
kemarin, dia memutuskan rantainya sendiri, dan sekarang aku menghukumnya. Menguncinya
digudang.” Ucapannya membuatku menahan tawaku. Ekspresinya sangat aneh ketika
ia menceritakannya.
Disela aku dan woohyun berjalan
sambil menikmati semilir angin diawal musim gugur, aku melihat seseorang
bersandar ditembok menatap kearahku. Aku terdiam dan menghentikan langkahku
menatap jauh kearah matanya yang bersinar terkena pantulan sinar matahari.
Lelaki itu melangkah kearahku dan dengan cepat ia menarik tanganku pergi dengan
langkah tidak terlalu cepat.
“dujun-ssi.” Ucapku dengan nada
sangat riang. Nada yang sudah sering aku ucapkan jika aku bertemu dengannya.
“siapa lelaki itu?” tanya dujun
melepaskan genggamannya dari lenganku. Aku menoleh kearah woohyun yang masih
diam menatap bingung aku dan dujun yang pergi meninggalkannya.
“nam woohyun.” Jawabku sedikit
gugup. Nada bicaranya tidak seperti biasa. Nada yang tidak pernah aku dengar
sebelumnya.
“berapa umurnya?” tanya dujun
lagu masih dengan nada yang sama namun tatapan yang tidak biasa terlihat dari
mataku.
“dia lebih muda dariku satu
tahun.” Jawabku tersenyum seriang mungkin.
“aku tidak suka kau dekat
dengannya.” Ucap dujun datar sambil meraih tanganku dan menggenggamnya.
“wae? Dia temanku. Dia menemukan
dompetku ketika aku berlari didaerah hongdae, dan dia mengembalikannya...”
ucapku mengingat kejadian beberapa waktu lalu sambil berusaha menceritakan
kembali pada dujun.
“pokoknya aku tidak suka kau
pergi dengan lelaki lain selain aku. Kau itu kekasihku!” ucap dujun dengan nada
sedikit tinggi menghentikan seluruh ceritaku.
Aku tersentak, mataku terbuka
lebar mendengar dujun yang (menurutku) dia membentakku saat itu.
“aku harus kekelas sekarang, ada
pelajaran pagi ini.” Dujun mengembalikan nada suaranya seperti biasanya. Tidak
tinggi dan tidak sinis seperti tadi. Itu ucapan terakhirnya jika setiap pagi
kita bertemu. Detik ini, dujun juga tidak melupakan ciumannya yang selalu
mendarat dikeningku. Hal ini yang membuatku melupakan sisi dirinya yang
membuatku kesal. Ketika bibirnya mendarat dikeningku, yang aku rasakan hanya
kehangatan dekapan tangannya ditanganku yang meleburkan kekesalan padaku dan
menghilangkannya bersama angin.
“sore ini, kita bisa pulang
bersama?” tanyaku tersenyum sebelum ia pergi meninggalkanku.
“aku ada urusan sore ini.”
Jawaban dujun yang sudah bisa aku tebak.
“boleh aku tahu urusanmu?”
“aku benar-benar buru-buru, aku
harus pergi.”
*TBC*
So, what’s goin’ on with dujun? Apakah dujun marah
sama woohyun karena junri pergi dengan woohyun? Apakah urusan dujun sebenarnya?
Penasaran? Ditunggu part 2 nya yaaa~~ ppyong!!

No comments:
Post a Comment