Laman

April 24, 2011

my love with my life (part.4)

Malam telah larut, jin yong masih belum bisa tidur. Ia tertekan. Perasaannya campur aduk dan rasa bingung masih menyertai pikirannya tentang kenapa ayahnya membenci jonghyun.

Jin yong beranjak dari kamarnya dengan memakai switer merahnya. Membawa ponsel dan uang secukupnya lalu keluar kamarnya dan pergi keluar rumahnya. Ia kabur.

*

Malam semakin larut dan dingin. Jin yong melihat tukang roti dipinggir jalan. Ia tahu ia belum makan malam hari itu. Ia teringat pesan onew bahwa ia harus menjaga makanannya. Dengan langkah pelan, jin yong membeli sebuah roti hangat lalu duduk dibawah pohon rindang dan memakannya.

Disela-sela jin yong memakan rotinya, jin yong mendengar sayup sayup suara gesekan biola. Ia mencari sumber suaranya, tepatnya diujung jalan ada seorang wanita paruh baya sedang mengamen menggunakan biolanya. Dengan langkah cepat, jin yong menghampiri wanita tersebut.

Ia memperhatikan wanita tersebut, tidak terlihat seperti pengamen. Wanita tersebut sudah tidak memainkan biolanya, bersiap untuk pulang.

“mian, kau sudah ingin pulang?” tanya jin yong duduk disebelah wanita itu.

“iya, hari sudah terlalu malam dan sudah terlalu dingin, kasihan anakku sendirian dirumah.” Jawab wanita itu masih membereskan biolanya.

“boleh aku memainkan biolamu untuk waktu sebentar saja?” tanya jin yong lagi.

“silahkan jika kau mau.” Jawab wanita itu mengguratkan senyum kelelahannya. Dengan hati senang jin yong memainkan biola itu. Nada sedih yang ia ciptakan cukup menggambarkan kegundahan hatinya malam itu. Tanpa sadar banyak orang yang memberikan uang receh kepada jin yong dan banyak juga orang-orang yang memperhatikan permainan biola jin yong.

Setelah jin yong sudah selesai memainkan biolanya, tepuk tangan orang disekitarnya meriah. Jin yong tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada orang-orang disekitarnya.

“waah, siapa namamu nak?” tanya wanita itu masih terkagum-kagum.

“lee jin yong, ajumma.” Jawab jin yong tersenyum.

“terimakasih kau sudah membantuku.” Ucap wanita itu sambil menundukan badannya.

“sama-sama ajumma, hanya sekedar ingin membantu.” Balas jin yong lalu memberikan uang hasil mengamennya kepada wanita itu.

“kau ingin pergi kemana malam-malam seperti ini, jin yong?” tanya wanita itu masih mengguratkan senyumnya.

“entahlah, aku sedang kabur dari rumah, ajumma.” Jawab jin yong memandangi lampu-lampu toko yang sudah meredup.

“kenapa? Perempuan secantik dirimu punya masalah?” tanya wanita itu berjalan pelan meninggalkan tempat itu.

“banyak masalah menimpaku akhir-akhir ini, tapi lupakanlah ajumma, tidak sebaiknya aku memberitahu kesedihanku kepada orang lain.” Ucap jin yong tersenyum.

“jika kau tidak ada tempat tinggal, menginaplah dirumahku malam ini. Kau bisa tidur dengan anakku, dia sepertinya seumuran denganmu. Tolong kau jangan menolaknya, anggap saja sebagai tanda terimakasihku padamu.” Wanita itu sedikit memaksa.

“jika itu tidak merepotkan, aku tidak menolaknya ajumma.” Ucap jin yong tersenyum.

“waahh, aku akan sangat senang.” Sahut wanita itu cepat. mereka pun berjalan ditengan dinginnya melam menuju rumah wanita itu.

*

“onew, dimana adikmu? Sudah pulangkah?” tanya jessica setelah selesai mengisi acara malam itu.

“ne, dia hanya menitipkan salam kepada kalian.” Jawab onew pelan.

“ahh, jin yong, padahal aku masih ingin mendengarkan alunan biolanya.” Celetuk sunny sedikit menyesal.

“dia janji akan bertemu kalian jika ada waktu lagi nanti.” Sahut onew pelan.

“kami akan menunggunya.” Ucap sunny pelan lalu tersenyum.

*

“lin wang, ibu pulang.” Teriak wanita itu ketika sampai dirumahnya yang terlihat sederhana. “masuklah, anggap saja rumah sendiri.”

“ibu, kenapa pulang selarut ini?” tanya seorang perempuan yang terlihat seumuran dengan jin yong. Perempuan berambut pendek sebahu yang bernama lin wang dengan dandanan standar itu langsung menatap jin yong dalam-dalam.

“maafkan ibu nak, oiya, kenalkan dia jin yong. Dia akan menginap disini, malam ini kau tidur dengannya ya.” Ucap wanita itu sambil tersenyum menatap jin yong.

“hah? Sekamar denganku?” tanya lin wang yang terlihat sangat kaget saat itu.

“tenang, aku hanya menginap semalam dirumahmu, besok aku akan pulang. Maaf jika merepotkan.” Ucap jin yong sambil tersenyum.

“baiklah jika begitu. Omma, aku sudah membuatkan air hangat untukmu dan makanan dimeja makan, segeralah bersihkan dirimu lalu makan.” Ucap lin wang kepada ibunya.

“baiklah nak, terimakasih.” Ucap wanita itu lalu pergi menuju kamar mandi.

“dan kau, ayo ikut aku kekamarku. Kelihatannya kau lelah.” Ucap lin wang lalu pergi menuju kamarnya diikuti jin yong.

Dikamar yang tidak sebesar kamar jin yong, terdapat berbagai pernak-pernik shinee, mulai dari poster, foto-foto dan berbagai pernak-pernik. Jin yong terkagum kagum tentang hal itu.

“kau sepertinya fans berat shinee ya?” tanya jin yong masih memperhatikan kamar lin wang.

“ya bisa dibilang seperti itu, kau juga?” lin wang berbalik bertanya.

“aku? Ohh, hanya suka biasa saja.” Jawab jin yong menyembunyikan statusnya.

“kukira kau juga fans mereka, jangan sentuh barangku!” ucap lin wang cepat ketika jin yong hampir menyentuh cangkir bergambar shinee.

“mianhae, kau suka siapa di shinee?” jin yon gmengalihkan perhatiannya pada poster besar didepan tempat tidur lin wang.

“aku suka onew dan jonghyun. Kenapa?” ucap lin wang yang sekarang memperhatikan wajah jin yong.

“mereka berdua tampan.” Sahut jin yong tersenyum.

“jika aku perhatikan, wajahmu mirip onew. Kau siapanya?” ucap lin wang penasaran.

“ne? Aku? Aku tidak kenal dengannya, mungkin hanya mirip sekilas saja.” Sahut jin yong cepat menyembunyikan statusnya.

“ohh, kukira kau punya hubungan darah dengannya. Kau tahu, aku paling tidak suka jika ada perempuan yang mendekati onew dan jonghyun. Aku pernah hampir membunuh seorang fans shinee karena ia dapat ciuman dipipi oleh onew.” Cerita lin wang yang sekarang merebahkan badannya ditempat tidurnya. Jin yong sedikit tersentak kaget, tapi masih bisa menahan tingkah lakunya.

“sebegitunya kah kau?” tanya jin yong tidak percaya.

“yaa, begitulah.” Jawab lin wang yang langsung keluar kamar saat ibunya memanggil.

“huuuh, untungnya dia tidak mengenal diriku.” Gumam jin yong sendirian ketika ponselnya berdering.

“weiyo oppa?” tanya jin yong yang ternyata onew yang menelpon.

“kau dimana sekarang?” tanya onew pelan.

“Aku dirumah, baru saja ingin tidur.” Jawab jin yong berbohong pada kakaknya.

“tidurlah, sudah malam. Maaf ya adikku aku mengganggu.” Ucap onew tersenyum lalu langsung menutup ponselnya. Seketika lin wang masuk dengan membawa sepiring kue dan segelas susu.

“ini untukmu, siapa yang menelponmu malam-malam seperti ini?” tanya lin wang penasaran memberikan susu itu kepada jin yong.

“ohh, terimakasih. Tadi kakakku menelpon.” Jawab jin yong meletakkan ponselnya dimeja.

“kau punya kakak?” tanya lin wang duduk ditempat tidurnya.

“ne.” Jawab jin yong tersenyum.

“ehmm, eh boleh kulihat gantungan ponselmu. Blingbling? Kau menyukai jonghyun?” tanya lin wang sedikit kaget saat menatap gantungan di ponsel jin yong.

“aniyo, aniyo. Gantungan ini dari kekasihku. Waktu itu kami membelinya disebuah toko. Sebenarnya gantungan itu sepasang, blingbling dan starstar. Aku pegang yang ini, sedangkan kekasihku pegang yang satunya lagi.” Ucap jin yong menjelaskannya panjang lebar.

“ohh, kukira kau menyukainya juga.” Celetuk lin wang merebahkan dirinya. Jin yong hanya tersenyum simpul.

*

Jam didinding menunjukan pukul 3 pagi. Jin yong terbangun dari tidurnya. Ia melihat lin wang disebelahnya terlihat sedang berdoa.

“kau sedang berdoa?” tanya jin yong ketika lin wang sudah selesai.

“ne, ibuku selalu menyuruhku berdoa sebelum aku tidur. Memangnya orang tuamu tidak pernah menyuruhmu berdoa?” ucap lin wang mengambil selimutnya.

“pernah, tapi tidak selalu. Kau katolik taat?” tanya jin yong sedikit penasaran dengan sikap lin wang yang dingin.

“ya, aku katolik taat. Kau katolik juga?” lin wang berbalik bertanya.

“yaa.” Jawab jin yong pelan lalu tertidur pulas kembali.

*

Pagi sudah menjelang, jin yong kembali kerumahnya setelah sarapan dirumah lin wang. Ia sangat berterimakasih saat itu, ibu lin wang sangat baik padanya. Lin wang yang masih tetap dingin hanya tersenyum simpul melepas kepergian jin yong.

Sekitar pukul 9 pagi, jin yong sampai dirumahnya. Rumahnya begitu sepi. Hanya ada omma dirumah.

“hoh, jin yong kau pulang, omma merindukanmu.” Ucap omma langsung memeluk anak perempuannya itu.

“aku baik-baik saja omma.” Jawab jin yong pelan. “oiya omma, aku harus langsung pergi ketempat latihan biolaku, aku hampir saja terlambat.” Sambung jin yong berlari menuju kamarnya lalu mengambil tas biolanya.

“langsung pulang nak,” pesan omma disambut senyum manis jin yong ketika hendak keluar rumah.

*

Hari sudah mulai gelap, jin yong memasuki rumahnya dengan senyum mengembang diwajahnya.

“jin yong anakku, makanlah disini.” Suruh omma dari arah meja makan. Jin yong dengan senyum manisnya langsung duduk disebelah omma tepat didepan ayahnya.

“omma, aku ikut lomba bermain biola se-seoul minggu depan. Dan jika menang, hadiahnya 2juta won.” Cerita jin yong sambil tersenyum.

“benarkah anakku? Kau hebat nak.” Ucap omma sambil mengusap rambut jin yong.

“aku akan berusaha hingga menang omma.” Sahut jin yong memakan nasinya tanpa memandang ayahnya.

“kau harus berusaha anakku.” Ucap omma masih sangat bahagia.

*

“kau pulang sore sekali, ada apa?” tanya jonghyun hari itu. Hari itu jonghyun menjemput jin yong yang pulang lebih larut dari biasanya.

“oppa, kau pasti sangat terkejut jika kau tahu kenapa aku pulang lebih larut.” Sahut jin yong tersenyum menatap jonghyun sambil membawa tas biolanya.

“memangnya ada apa? Jagiya, jangan buat aku penasaran seperti ini.” Tanya jonghyun duduk dibangku taman yang sedang mereka lewati.

“oppa, aku akan mengikuti lomba memainkan biola lusa, dan aku berharap kau akan datang mendukungku.” Jawab jin yong dengan senyum merekah diwajahnya.

“waahh, jagiya. Kau hebat, aku akan mendukungmu. Tapi, sepertinya lusa aku tidak bisa, ada jadwal yang harus shinee hadirkan. Mianhanda.” Ucap jonghyun mengusap rambut jin yong.

“gwencanha oppa, lusa adalah babak penyisihan, jika aku masuk 15 besar, aku akan kefinal. Dan kuharap kau akan menyaksikannya oppa. Jebal.” Ucap jin yong dengan nada meminta.

“pasti jagiya, aku akan selalu mendukungmu.” Sahut jonghyun tersenyum manis.

“gomabseumnida oppa.” Sahut jin yong tersenyum.

“bagaimana kabar appamu? Appamu senang kau ikut perlombaan ini?” tanya jonghyun memperhatikan seorang anak lelaki yang sedang bermain sepeda melewati taman itu.

“sepertinya tidak, dia tidak merespon sama sekali.” Jawab jin yong memainkan kakinya.

“tidak apa-apa, kau harus berusaha sampai menang ya.” Ucap jonghyun memberikan semangatnya.

“pasti oppa.” Sahut jin yong meletakan kepalanya dipundak jonghyun.

“oppa, kau terlihat lebih kurus sekarang, kau tidak pernah makan yaa?” tanya jin yong memperhatikan seluruh tubuh jonghyun.

“jagiya, aku kurus tapi tidak sekurus kau kan?” sahut jonghyun menarik sedikit wajah jin yong agar menatap wajahnya.

“kau banyak pikiran yaa?” tanya jin yong lagi.

“ne, aku memikirkanmu setiap hari.” Jawab jonghyun tersenyum.

“oppa, dasar kau lucu.” Sahut jin yong tersipu.

“jagiya.” Panggil jonghyun pelan.

“mwo?” tanya jin yong lalu menatap wajah jonghyun dalam-dalam.

Jonghyun lalu mendekatkan wajahnya kewajah jin yong. Dengan sangat romantis, jonghyun mencium bibir jin yong. Jin yong yang sedikit kaget, lalu memejamkan matanya menikmati ciuman mereka. Hari yang semakin sore membuat adegan romantis itu bersinar.

No comments:

Post a Comment