Laman

April 23, 2011

my love with my life (by shanica indratami)



Matahari sore memantulkan cahayanya disela-sela serpihan butir-butir air bak berlian oranye menyala. Disebuah gang perumahan, seorang remaja perempuan berjalan anggun membawa sebuah tas biola ditangan kirinya. Rambutnya yang hitam legam berponi dibiarkannya terurai sampai ke punggung. Mata dan hidungnya khas orang korea asli. Pakaian yang kasual memperlihatkan bahwa dia masih duduk dibangku sma. Bibirnya mengguratkan senyum manis semanis buah apel korea.

“jin yong-ah....” panggil seorang lelaki dibelakangnya. Lelaki itu sedikit berlari menghampiri jin yong ketika jin yong menghadapkan seluruh tubuhnya kearah lelaki itu. Lelaki putih bermata sipit dan senyumannya yang manis langsung mengusap lembut kepala jin yong.

“oppa, kau kembali?” tanya jin yong tersenyum menatap kakaknya itu.

“ne, tapi hanya sebentar, kebetulan tiga hari ini sedang kosong, orang-orang di dorm juga pulang, kecuali minho dan key, mereka menetap di dorm.” Jawab onew panjang lebar, telah lama ia tinggal di dorm bersama anggota shinee, boyband yang dia ketuai.

“jadi oppa hanya sebentar dirumah? Huh.” ucap jin yong sedikit kesal memanyunkan bibirnya.

“tenang saja, selama dirumah, aku akan menjagamu.” Jawab onew kembali tersenyum mengusap lembut rambut adiknya itu.

“bagaimana perkembangan permainan biolamu?” tanya onew sepanjang perjalanan mereka sore itu.

“tidak ada kemajuan. Bahkan hingga aku sudah kelas 3 seperti ini pun aku belum menunjukan bakatku.” Jawab jin yong menatap kedepan kosong.

“kau ingin menyerah? Aku pikir kau ada kemajuan.” Ucap onew menyenangkan hati adiknya.

“aku mulai lelah oppa, sepertinya aku tidak cocok bermain biola.” Sahut jin yong lagi.

“ingat, appa akan senang jika kau bisa menjadi pemain biola profesional.” Ucap onew menyenangkan hati dan menyemangati adiknya lagi.

“ne, aku akan berusaha.” Jawab jin yong sedikit tidak niat.

“hari ini appa pulang kan? Senangnya, bisa berkumpul kembali.” Tanya onew menaruh tangannya disaku celananya.

“ne, aku sedikit tidak senang.” Celetuk jin yong cepat.

“weiyo? Jonghyun-kah?” tanya onew menatap wajah jin yong yang tidak tersenyum dari tadi.

“mau sampai kapanpun dia tidak akan menyukai jonghyun, oppa.” Jawab jin yong pelan ketika mereka sudah sampai didepan gerbang rumah mereka.

“oppa akan selalu membelamu, tenang saja, entah kapan appa pasti akan luluh. Percayalah padaku.” Ucap onew tersenyum.

*

“aku pulang.” Ucap jin yong memasuki rumahnya diikuti onew.

“jinki, kau pulang.” Sahut eomma ketika sedang merapikan piring dimeja makan untuk makan malam tanpa melihat kearah jin yong.

“ne, kebetulan bertemu dengan jin yong tadi, jadi bersama.” Jawab onew tersenyum. Sementara jin yong terus berjalan kekamarnya saat melihat appa-nya sudah datang dan duduk dimeja makan.

“mandilah, jika sudah kita makan bersama.” Suruh eomma pelan disertai senyum wibawa appa mereka.

Dikamar yang bertema klasik dan serba putih, jin yong meletakan pelan biolanya diatas tempat tidur berseprei putih lalu ia duduk dikursi dekat meja belajarnya. Tersenyum lalu membuka kantong kecil ditas biolanya, dan mengambil ponsel putihnya dan membukanya. Dilayar ponselnya, tertera dua pesan. Ia langsung membukanya, ‘sudah pulang latihan? Jonghyun.’ Dengan cepat, jin yong membalasnya lalu tersenyum, ‘sudah’. Beberapa saat kemudian ponsel jin yong berdering kembali, ‘kutahu kau lelah, segeralah makan malam.’ Jin yong menjawab, ‘ne, kau juga oppa.’ Lalu jonghyun pun menjawab kembali, ‘pasti, saranghae’ jin yong hanya tersenyum lalu turun setelah mengganti bajunya.

Sudah hampir 4 bulan, jin yong menjalin hubungan dengan jonghyun, salah satu personil shinee yang memiliki suara indah. Tapi, entah mengapa ayah jin yong tidak menyukai jonghyun dan sangat melaknat hubungan mereka.

*

“bagaimana jinki? Sedang sibuk apa?” tanya appa disela-sela makan malam mereka.

“bulan depan shinee akan membuat video clip terbaru appa, doakan saja semoga akan sukses.” Jawab onew tersenyum.

“kau itu benar-benar anak appa yang paling hebat, tidak hanya dibidang akademis, tapi juga dibidang karirmu. Appa bangga padamu jinki.” Puji appanya.

“terimakasih appa.” Jawab onew pelan.

“bagaimana perkembangan permainan biolamu jin yong?” tanya eomma kepada jin yong yang terlihat tidak nafsu makan saat itu.

“hah? Oh, baik-baik saja.” Jawab jin yong sedikit kaget.

“kau benar-benar tidak ada perkembangan, appa kira kau akan menjadi pemain biola terkenal ketika appa kembail kerumah ini, tapi ternyata tidak ada perkembangan sama sekali, benar-benar tidak dapat dibanggakan.” Sahut appa dengan wajah masamnya.

“appa, jin yong sudah berusaha sekuat tenaga.” Sahut onew sedikit membela adiknya disertai anggukan eomma. Jin yong hanya bisa diam dan tidak ingin bertengkar dengan appa-nya.

Setelah makan selesai, masih dimeja makan, jin yong membuka ponselnya hendak membalas pesan dari jonghyun yang belum sempat ia balas.

“kau masih berhubungan dengannya?” appa-nya tiba-tiba merebut ponsel itu dari tangan jin yong. Jin yong yang sedikit kaget berusaha merebut kembali ponselnya, tetapi tidak berhasil. Appa pun membaca semua pesan yang dikirim jonghyun.

“kau tidak pernah mengerti perkataanku ya? Sampai kapan kau harus mengerti? Dasar anak tidak tahu diri.” Appa-nya pun mengeluarkan amarahnya dan membanting ponsel jin yong. Ponsel jin yong yang berbentuk flip terbelah menjadi dua.

“appa! Kau....” jin yong sedikit berteriak dan hendak memukul ayahnya.

“mwo? Puas kau? Masih mau melawan?” ayahnya memberikan pertanyaan dengan nada keras.

“appa, jangan seperti itu.” Sahut onew hendak menolong adiknya, tetapi eommanya sudah menolong jin yong.

“kau ingin membela adikmu yang berhubungan dengan jonghyun temanmu itu?” tanya ayahnya menatap onew dalam-dalam.

Jin yong mengelak ketika ditolong eomma-nya, ia mengambil seluruh patahan ponselnya lalu berlari kecil menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Matanya basah, air matanya mengucur deras. Jin yong duduk bersimpuh dibelakang pintu kamarnya yang gelap. Menggenggam dan memeluk serpihan ponselnya. Beberapa saat kemudian jin yong beranjak menuju meja belajarnya, melempari buku-buku yang ada dimeja belajarnya, membuang semua yang ada, air matanya tetap menetes, aura remaja dan kecantikannya lenyap seketika. Hidupnya seperti tidak ada yang membantu, tangannya sekarang memegangi rambutnya. Dirinya tidak lagi kuat untuk berdiri, jin yong bersimpuh kembali disudut meja belajarnya. Rambutnya berantakan, kamarnya pun begitu, “weiyo???? Aku memang selalu salah, aku.... arrrggghhhh.....” teriaknya.

Diluar, onew berdiri didepan kamar jin yong dan mengetuk-ngetuk pintu kamar jin yong, “jin yong, kau kenapa? Bukalah pintunya.” Teriak onew.

“diam kau, aku tidak butuh bantuanmu.” Sahut jin yong dari dalam kamarnya.

“sudahlah jinki, tidak usah dipikirkan, biarkan saja anak itu sadar.” Ucap appa-nya meninggalkan meja makan pergi menuju kamarnya. Sementara itu, eomma menghampiri onew dan ikut membantu memanggil jin yong, “jin yong, bukalah nak.”

“tidak mau, aku ingin sendiri...” jawab jin yong yang air matanya terus turun.

Onew yang sangat merasa bersalah, pergi menuju kamarnya, membuka ponselnya, lalu menghubungi jonghyun.

“ada apa hyung?”

“gwencanha”

“ponsel jin yong kenapa? Tidak bisa dihubungi?”

“rusak, dibanting appa, jika ingin menghubunginya, lewat ponselku saja.”

“ohh, mianhae. Aku mengerti.”

“oke, maaf selalu merepotkanmu jonghyun.”

“aku mengerti, sampaikan salamku untuknya ya, hyung.”

“baik sampai jumpa.”

*

Pagi mejelang, sinar-sinar emas memasuki kamar jin yong yang berkorden putih. Jin yong yang sudah rapi dengan rambut diikat satu disertai seragam sekolahnya, mengambil tas biolanya lalu turun untuk berangkat sekolah.

“jin yong, ayo sarapan dulu.” Ajak eomma-nya ketika jin yong melewati meja makan.

“tidak eomma, aku makan disekolah saja.” Jawab jin yong pelan tanpa menatap kearah meja makan.

“biar aku antar.” Sahut onew hendak beranjak dari tempat duduknya.

“tidak usah oppa, aku bisa sendiri.” Jawab jin yong berjalan meninggalkan mereka.

“appa, seharusnya kau melakukan sesuatu kepada seluruh anakmu sama.” Ucap eomma mengingatkan suaminya.

“untuk apa? Dia pun diberitahu sekali tidak pernah sadar.” Jawab appa pelan dan sangat santai.

*

Diruang musik sebuah sekolah ternama diseoul, jin yong berusaha memainkan biolanya. Tapi yang ada hanya musik sangat jelek keluar dari dawaian biolanya. Tanpa perasaan, ia tak akan bagus memainkannya. Ia pun diam, mengingat kejadian 7 bulan lalu, ketika ayahnya melihat shinee disuatu acara televisi. Ayahnya berkata, “appa tidak suka dengan lelaki itu.”

“appa? Memangnya kenapa? Dia tampan.” Jawab jin yong waktu itu.

“sekali tidak suka ya tidak.” Ucap ayahnya saat itu. Saat itu jin yong hanya berpikir bahwa ayahnya hanya sekedar bercanda atau tidak serius.

5 bulan kemudian, tepatnya saat ayahnya tahu bahwa jin yong menjalin hubungan spesial dengan jonghyun, ayahnya marah besar. Sampai-sampai ia tidak dibukakan pintu saat itu, dengan sangat terpaksa ia tertidur didepan pintu rumahnya sendiri.

“appa jahat.” Celetuk jin yong pelan. Ucapannya yang tidak didengar oleh siapa-siapa membuatnya menggambil biola lalu memainkannya dengan nada sangat indah dan menyentuh hati dan jiwa.

*

“hei adikku, ayo pulang, oppa belikan es krim deh...” tiba-tiba onew menghampiri jin yong yang baru keluar dari gerbang sekolahnya.

“aku tidak minat oppa.” Jawab jin yong terus berjalan membawa biolanya.

“mianhanda, oppa tidak sempat membelamu semalam.” Ucap onew mengikuti jin yong berjalan.

“lupakan saja oppa.” Sahut jin yong pelan.

“yasudah ayo kita pulang.” Ajak onew merangkul pundak jin yong.

*TBC*

No comments:

Post a Comment