Hyun ji berjalan pulang melewati deretan supermarket dipinggir jalan raya. Headset putihnya menempel dikedua telinganya. Ia memperhatikan didepannya seorang lelaki sedang meringis kesakitan.
“gi kwang~” ucap hyun ji menghampiri lelaki yang meringis kesakitan ditanah.
“gikwang kau tidak apa-apa?” tanya hyun ji memapah gi kwang yang kesakitan memegangi dadanya. Gi kwang tidak menjawab ia terus meringis kesakitan. “ayo cepat, naik kepunggungku, aku akan mengantarmu kekakekku.” Hyun ji memapah gi kwang kepunggungnya dan membawanya kerumah sakit.
“kakek, tolong gi kwang kek, dia meringis tadi, aku tidak mengerti ada apa dengannya.” Ucap hyun ji meletakan gi kwang diatas tempat tidur. Dengan sigap dokter lim memeriksa gi kwang. Setelah diberi pil dari dokter lim, kondisi gi kwang kembali stabil.
“kesehatanmu kembali menurun, apa kau tidak meminum obatmu? Atau kau banyak pikiran?” ucap dokter lim meletakan stetoskop didalam saku jasnya. Gi kwang hanya diam.
“ahh, gi kwang-ie, seharusnya kau menuruti perintah kakek, perkataannya selalu mujur.” Sambung hyun ji memegangi pundaknya yang terasa pegal.
“apa aku berat?” tanya gi kwang yang merasa tidak enak.
“ahh?? Ohh, hahaha. Tidak tidak, aku hanya sedikit gatal saja.” Jawab hyun ji tersenyum lebar mencoba menggaruk pundaknya. Gi kwang hanya tersenyum melihat tingkah hyun ji yang aneh.
“kau harus disini sampai besok gi kwang.” Ucap dokter lim menulis resep obat.
*
Sore ini, dihari libur yang cerah, doojoon, junhyung, dan hyun ji sedang berada di cafe. Wajah junhyung dan hyun ji terlihat tidak secerah biasanya. Mereka terlihat hanya diam dan terpaku.
“ya~ kalian kenapa? Ada masalah? Aneh sekali.” Tanya junhyung yang mulai bosan akan tingkah kedua temannya itu.
“aniyo~” sahut hyun ji yang sepertinya kaget akan suara doojoon.
“ahh, kalian membosankan.” Sahut doojoon meninggalkan mereka.
“yaa~ mau kemana kau?” teriak hyun ji.
“dia akan kembali lagi nanti.” Sahut junhyung datar.
“hemm, aku harus pergi juga, sampai jumpa.” Ucap hyun ji meninggalkan junhyung sendirian.
*
“gi kwang-ie, bagaimana kabarmu?” tanya hyun ji ketika memasuki kamar gi kwang dirumah sakit.
“ehhm, aku sudah lebih baikan.” Jawab gi kwang yang masih duduk diatas ranjang tidurnya dirumah sakit. Hyun ji hanya tersenyum namun seketika tersentak ketika menatap keluar jendela.
“doojoon-ahh..” ucap hyun ji membuka matanya lebar lebar ketika melihat sebuah kecelakaan didekat rumah sakit tersebut. “aku harus pergi gikwang..” hyun ji mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan gi kwang dengan sedikit tergesa.
“doojoon.. sebegitunyakah ia memperhatikan lelaki itu??” gumam gi kwang sedikit khawatir.
*
“joon-ah, joon-ah, kau tidak apa-apa? Bangunlah. Kau.. kepalamu berdarah..” ucap hyun ji mencoba menolong doojoon yang sudah dikerumuni oleh banyak orang. Pelipisnya berdarah dan matanya terpejam. “apa yang kalian lakukan? Cepatlah bawa dia kerumah sakit.” Suruh hyun ji yang matanya sudah memerah. Beberapa orang membawa doojoon kerumah sakit yang tidak jauh dari tempat kecelakaan itu. Hyun ji melangkah cepat mengikuti mereka.
“joon-ah, bangun. Jangan mati dulu” ucap hyun ji memohon kepada doojoon yang masih terpejam diatas ranjang rumah sakit. Kepalanya sudah diperban oleh dokter yang menanganinya.
“sepertinya kau sangat sedih sekali.” Sahut doojoon pelan melihat hyun ji secara perlahan.
“siapa yang tidak sedih jika temannya tertabrak. Lagipula apa yang kau lakukan hingga bisa terjadi seperti itu. Dasar kau joon-ah bodoh!” ucap hyunji memukul-mukuli lengan doojoon.
“aww, sakit...” teriak doojoon masih tertahan sambil meraba kepalanya. “habis, kau dan junhyung sama saja, aneh akhir-akhir ini.” Lanjut doojoon tersenyum.
“kau yang aneh, karena itu saja pakai menabrakan diri.” Serang hyun ji cemberut. Doojoon hanya tersenyum mendengarnya.
*
“ehhm, bisa kita bicara sebentar.” Pinta junhyung kepada hye min setelah jam sekolah telah selesai. Hye min menatapnya sinis lalu meninggalkannya. “tunggu, aku hanya ingin meminta maaf padamu waktu itu.” Junhyung menggenggam lengan hye min.
“sudahlah, aku malas melihat wajahmu.” Ucap hye min meninggalkan junhyung sendirian. Junhyung hanya menghela napas panjang memperhatikan kepergian hye min.
*
“kau pulang sendiri hari ini? Mana kekasihmu?” tanya gi kwang menghampiri hyun ji yang berjalan sendiri keluar dari sekolahnya.
“ehm? Kekasihku? Siapa?” tanya hyun ji mengguratkan kebingungannya.
“doojoon.” Jawab gi kwang santai.
“ahh, dia itu sahabatku, aku berteman dengannya sejak SD, tidak mungkin juga dia menjadi kekasihku. Ada ada saja kau.” Sahut hyun ji santai. Gi kwang hanya tersenyum melihat hyun ji yang tersenyum. Hatinya sedikit lega mendengarnya.
*
“hye min, jebal. Berbicaralah padaku walau hanya sebentar.” Pinta junhyung mengejar hye min yang berjalan menuju kelasnya. Hye min menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap junhyung. “terimalah maafku, aku merasa bersalah padamu waktu itu, tidak seharusnya aku berkata itu padamu.” Ucap junhyung penuh penyesalan.
“aku baru sadar, selain sikapmu yang seperti itu, ternyata perkataanmu juga menusuk.” Sahut hye min pelan memberanikan diri menatap junhyung.
“maafkan aku.” Ucap junhyung pelan.
“aku harus pergi.” Sahut hye min meninggalkan junhyung.
“tolong terimalah permintaan maafku. Kau adalah satu-satunya perempuan yang membuatku seperti ini. Dan ini adalah pertama kalinya aku memohon pada wanita, mengertilah.” Teriak junhyung menghentikan langkah hye min.
“kalau begitu, berhentilah memukuli siswa lain.” Pinta hye min meninggalkan junhyung.
*
Sudah lebih dari tiga hari, junhyung tidak melakukan ritual hariannya. Ia sering tersenyum sendiri jika berkumpul dengan teman-temannya yang lain, termasuk hyun ji dan doojoon.
“ada apa?” tanya hye min yang sedikit kaget melihat junhyung yang menunggunya didepan pintu kelasnya. “aku senang kau tidak melakukan itu lagi.” Lanjut hye min tersenyum.
“aku ingin berbicara padamu sebentar.” Ucap junhyung tersenyum. “ehmm, seharusnya aku berterimakasih pada hyun ji. Karena ucapannya, aku jadi lebih sering memikirkanmu.”
“maksudmu?” tanya hye min bingung.
“aku menyukaimu, entah apa perasaan bodoh ini. Tapi semakin kau menjauhiku aku semakin penasaran padamu.” Ucap junhyung sedikit lebih gugup dari biasanya. Hye min kaget akan ucapan junhyung, ia tidak memberanikan menatap wajah junhyung.
“kau mau menjadi kekasihku?” tanya junhyung menggenggam kedua tangan hye min. Hye min semakin gugup dan semakin tidak berani memandang junhyung.
“tapi kau harus berjanji tidak melakukan itu lagi.” Sahut hye min pelan. Junhyung hanya mengangguk lalu memeluk hye min.
Junhyung tersenyum puas ketika menatap wajah hye min yang terlihat malu-malu. Dengan perlahan, junhyung mendekatkan wajahnya kewajah hye min. Mata hye min dengan perlahan tertutup hingga bibir keduanya bertemu.
“kau sadar tidak, junhyung sedikit aneh akhir-akhir ini.” Ucap doojoon ketika berjalan bersama hyun ji melewati lorong sekolahnya.
“tapi aku menyukainya, dia tidak memukuli orang 3 hari ini.” Sahut hyun ji lalu mengubah mimik mukanya seakan melihat sesuatu. “ssstttt, lihat itu.” Ia mengumpat lalu menunjuk junhyung dan hye min. Doojoon ikut menatapnya dengan tatapan kaget.
“ahh, so sweet..” ucap hyun ji pelan masih menatap mereka.
“ya~, kau tidak boleh mengintip.” Sahut doojoon menutup mata hyun ji.
“ahh, kenapa memang? Aku menyukai adegan seperti ini.” Ucap hyun ji melepaskan tangan doojoon dari matanya.
“sudah ayo pulang, jika ketauan, kita bisa dipukulinya.” Tangan doojoon menarik lengan hyun ji. Hyun ji yang sedikit kesal mengikuti langkah doojoon.
*
No comments:
Post a Comment