Laman

December 3, 2010

Golden Love (oneshoot) by:shanica indratami


Haii haiii... ><>ya yang saya post di blog lhoo. castnya kim jonghyun (shinee), park hyunna (author) sama leeteuk (siapa yang gatau coba, leader suju). have a nice reading yaaa :)


Malam itu malam yang indah. Hyunna masih berdiri didepan sebuah restoran kimchi pinggir jalan. Perutnya yang lapar membuatnya ingin pulang kerumah. Tapi naruninya berkata lain, ia tidak akan pulang kerumah. Sudah hampir 2 hari hyunna kabur dari rumah akibat bertengkar hebat dengan orangtuanya. Hyunna bahkan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pulang jika tidak ada yang mencarinya.

Malam semakin dingin, angin malam yang begitu dingin menerpa lubuk tulang rusuknya. Restoran kimchi itu sekarang sudah mulai sepi. Pelanggan yang sudah mengisi perutnya, sekarang hendak pulang lalu terlelap tidur dihinggapi mimpi yang indah. Hyunna masih berdiri berharap mendapat belas kasih dari pemilik restoran.

“hei, tidak baik disini. Pulang sana sudah malam.” Usir pemilik restoran tersebut sambil mengunci pintu restoran. Dengan langkah gontai, hyunna berjalan meninggalkan restoran tersebut. Kakinya membawa dirinya tanpa arah dan tujuan. Dengan langkah yang lambat, kakinya yang kecil membawanya kesebuah taman kecil yang berada dibelakang sebuah gang sempit. Ditaman kecil tersebut hanya diterangi sebuah lampu taman yang cahayanya tidak seterang biasanya. Ada sebuah air mancur tepat ditengah taman, dua ayunan kecil dan satu seluncuran berwarna merah. Hyunna mendudukan tubuhnya disebuah kursi taman yang terbuat dari kayu yang sepertinya sudah tidak terawat.

“mengapa orang tuaku tidak mencariku? Apa mereka tidak menganggapku ada? Mereka tidak menganggapku anak?” ucap hyunna sendirian dengan nada penyesalan. Tanpa sadar setetes air matanya tumpah.

“aku benci kalian, aku benci eomma aku benci appa!!!” teriak hyunna disunyinya malam ditaman itu. Hyunna menangis sejadi-jadinya malam itu. Disela-sela tangisan hyunna, seorang lelaki meletakkan tangannya dipundak hyunna. Hyunna sedikit kaget lalu menengok kearah lelaki itu. Lelaki yang memakai jaket coklat dan ikatan headphone itu berdiri dibelakang hyunna. Hidungnya yang indah, dan matanya yang memancarkan cahaya terang serta bibirnya yang tersenyum lembut membuat hyunna sangat kaget.

“jonghyun?” sahut hyunna kaget lalu menghapus air matanya.

“jangan menangis lagi, biar bagaimanapun mereka tetap orang tuamu.” Ucap jonghyun pelan kemudian duduk disebelah hyunna.

“mungkin mereka bukan orang tuaku, aku mungkin hanya anak pungut.” Sahut hyunna memandang datar kearah tanah.

“jangan berbicara seperti itu, sekarang pulanglah kerumahmu.” Pinta jonghyun yang sekarang menatap kearah hyunna. Hyunna hanya menggeleng pelan.

“pulanglah sekarang!” pinta jonghyun masih menatap wajah hyunna.

“aku tidak mau.” Sahut hyunna sedikit keras.

“jika kau pulang kau pasti tahu apa yang membuat orang tuamu tidak mencarimu.” Ucap jonghyun yang sekarang menarik tangan hyunna untuk memintanya pulang.

“memangnya apa yang terjadi dengan mereka? Mereka hanya tidak memikirkanku, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri.” Tanya hyunna yang air matanya kembali turun menetes deras.

“sekarang ayo ikut aku.” Ucap jonghyun langsung menarik lengan hyunna lalu pergi meninggalkan taman yang gelap. Sejenak lampu taman itu mati dan ditaman itu sekarang benar-benar gelap.

Sesampainya didepan pagar rumah, hyunna berhenti. Kakinya berat untuk melangkah. Ia takut dimarahi orang tuanya, tapi didalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa bersalah dengan kabur dari dalam rumah.

“masuklah.” Suruh jonghyun pelan.

“tapi....” sahut hyunna sedikit terbata.

“cepat.” suruh jonghyun lagi. Sesaat sebelum hyunna masuk kedalam rumah. Seorang lelaki berambut sedikit merah keluar. Wajahnya muram. Matanya langsung menatap kearah hyunna yang masih berdiri didepan gerbang.

“kemana saja kau?” tanya lelaki itu marah lalu menampar hyunna.

“leeteuk oppa. Apa yang terjadi memangnya?” hyunna yang bingung berbalik bertanya.

“kau itu tidak punya perasaan ya? Kemana saja selama ini? Kau tidak tahu keadaan ddirumah kan?” leeteuk yang ternyata adalah kakak kandung hyunna terus menghujam hyunna dengan berbagai pertanyaan. Wajahnya yang muram berubah menjadi marah.

“oppa!!! Memangnya kenapa?” hyunna yang terus bingung menerobos masuk kedalam rumah.

“aku sudah melakukan tugasku. Tapi biarkan dia mengetahuinya sendiri.” Ucap jonghyun pelan yang masih berdiri didepan gerbang.

“aku merasa bersalah.” Sahut leeteuk pelan. Jonghyun hanya diam lalu masuk kedalam diikuti leeteuk.

Didalam, hyunna terdiam menatap kearah dua foto. Foto ayah dan ibunya yang dikelilingi lilin. Dengan cepat ia berlari kearah kamar orang tuanya. Tetapi ia tidak menemukan kedua orangtuanya itu. Ia kembali turun dan menghampiri leeteuk dan jonghyun.

“mana eomma dan appa?” tanya hyunna kepada leeteuk.

“mereka pergi.” Jawab leeteuk pelan.

“pergi kemana mereka? Kapan mereka pulang?” berjuta pertanyaan dilontarkan hyunna.

“mereka tidak akan kembali lagi.” Jawab leeteuk singkat.

“mwo? Kau jangan berkata yang tidak-tidak oppa.” Sahut hyunna. Jonghyun yang dari tadi diam angkat bicara. “orangtuamu sudah pergi untuk selamanya hyunna, kemarin sore mereka kecelakaan dijalan raya. Mobil yang mereka tumpangi jatuh tergelincir kejurang. Saat itu mereka ingin mencarimu dan mengajakmu dan leeteuk hyung untuk pergi bersama ke pulau jeju. Tetapi bukan kau yang mereka dapat tetapi malah ajal yang menjemput mereka.”

Air mata hyunna meleleh mendengar cerita jonghyun saat itu. Kakinya yang kecil tidak kuat menahan dirinya untuk berdiri. Ia jatuh berlutut dan terus menangis histeris.

“kenapa kau tidak memberitahuku oppa? Weiyo?” tanya hyunna yang suaranya sudah mulai tidak terdengar jelas.

“ponselmu mati! Dan appa eomma sudah meninggal ketika hendak dibawa kerumah sakit.” Jawab leeteuk yang bisa menahan emosinya sekarang.

“bawa aku kemakam ayah dan ibu sekarang, bawa aku sekarang!” pinta hyunna menarik tangan leeteuk.

“hyunna, sudah malam. Lebih baik besok agar kau lebih tenang.” Sahut jonghyun pelang menarik tangan kanan hyunna.

“tapi aku ingin malam ini, aku ingin minta maaf dengan mereka.” Ucap hyunna yang air matanya terus meleleh.

“istirahatlah.” Ucap jonghyun menarik tangan hyunna menuju kekamar hyunna. Hyunna yang sudah tidak punya tenaga terpaksa mengikuti jonghyun.

Dikamar yang sedikit gelap, dan terkesan klasik. Jonghyun menidurkan tubuh hyunna diatas tempat tidur bersprai putih. Air mata hyunna masih menetes deras.

“tidurlah.” Suruh jonghyun menyelimuti hyunna.

“aku bodoh jonghyun, aku bodoh. Seharusnya aku tidak kabur dari rumah, seharusnya aku....” ucap hyunna dengan suara seraknya. Tapi jonghyun memotongnya dengan meletekkan telunjuk tangannya dibibir hyunna yang membuat hyunna langsung terdiam.

“tidurlah.” Suruh jonghyun lagi. Hyunna berusaha memejamkan matanya dan terlelap ditengah kesedihan dan emosi yang mendalam.

Pagi yang cerah datang lagi. Matahari bersinar terang. Burung-burung berkicauan seakan bernyanyi senang. Disebuah tempat pemakaman, tiga orang anak manusia berdiri didekat dua makam yang terlihat masih baru. Si perempuan, hyunna, terlihat cantik dengan gaun putihnya. Dirinya terlihat lebih bisa menahan emosinya pagi itu. Dua orang lelaki disampingnya berdiri dan memasang muka sedih mereka.

“appa eomma, aku minta maaf atas semua yang pernah aku perbuat. Aku memang anak yang tidak tahu diuntung, tidak tahu terimakasih. Seharusnya aku menaati perintah kalian, bukan malah bertarung dengan kemauan sendiri. Aku berjanji akan selalu mendoakan kalian selama aku masih hidup dan aku akan berjanji menuruti perintah leeteuk oppa. Aku berjanji appa eomma. Semoga kalian bahagia disana.” Ucap hyunna yang air matanya menetes tapi langsung ia usap persembahan terakhir darinya, ia meletakan sebuket bunga diatas makam itu. Satelah itu mereka pergi meninggalkan pemakaman tersebut.

*4 tahun kemudian*

“eomma, appa. Kalian tahu, leeteuk oppa sudah menikah. Dan sudah punya satu anak bernama nami. Sangat lucu wajahnya dan bulan depan nami akan berusia 1 tahun. Dan aku berjanji akan mengajak nami bertemu kakek dan neneknya. Aku berjanji eomma appa.” Ucap seorang perempuan memakai gaun merahnya sambil mencabuti rumput liar dimakam itu.

Dari pintu masuk makam, seorang lelaki menghampiri perempuan itu, “hyunna jagiya, ayo kita pulang.” Ajak lelaki itu lalu tersenyum.

“jonghyun, untuk apa menjemputku disini?” tanya hyunna tersenyum menghampiri jonghyun.

“tidak, aku hanya ingin berbicara dengan ayah dan ibumu.” Jawab jonghyun menatap kearah makam. Hyunna diam kebingungan.

“ajumma dan ajushi, aku ingin melamar anak kalian. Aku mencintai anak kalian. Aku berjanji akan membahagiakan anak kalian hingga akhir hayat nanti dan aku harap kalian merestui hubungan kami.” Ucap jonghyun yang membuat hyunna kaget dan tanpa sadar air matanya meleleh.

“jonghyun...” suara hyunna bergetar.

“tahun depan kita akan menyusul kakakmu untuk menikah.” Ucap jonghyun tersenyum lalu mencium kening hyunna.

Hari itu hari yang indah. Matahari tersenyum ceria seceria hati hyunna dan jonghyun. Memang, dibalik musibah selalu ada kebahagiaan yang tidak terhitung harganya.

*tamat*

No comments:

Post a Comment