Laman

December 29, 2010

ff just for love and my best friend (part.2)

Dibar tempat biasa, ki kwang bersama kedua sahabatnya sedang duduk menikmati minuman mereka.

Ini dia terusan ff yang tadi, selaamt membaca yaaa...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dibar tempat biasa, ki kwang bersama kedua sahabatnya sedang duduk menikmati minuman mereka.

“kau menunggu siapa? Sumringah sekali kau malam ini?” tanya yo seob meminum segelas minumannya.

“mangsa baru?” hyun seung menyauti.

“bisa dibilang seperti itu, ia akan datang sebentar lagi.” Ucap ki kwang tersenyum senang.

“siapa perempuan itu?” tanya yo seob penasaran.

“kau akan melihatnya sebentar lagi.” Jawab ki kwang senang. Tepat ketika ki kwang berbicara seperti itu, seorang perempuan memakai dress hijau masuk kedalam bar menghampiri mereka.

“dia datang.” Ucap ki kwang memberikan sinyal kepada kedua temannya. Yo seob dan hyun seung memperhatikan perempuan yang berjalan anggun menghampiri mereka.

“Anyeong ki kwang, apakah aku terlambat?” hye ra menyapa ki kwang.

“tidak, hye ra. Duduklah.” Sahut ki kwang menyuruh hye ra duudk disebelahnya.

“kau teman shan ni kan?” tanya hyun seung menatap hye ra dengan tatapan tajam.

“ne, kenapa?” tanya hye ra menatap hyun seung.

“kenapa kau menanyakannya?” yo seob menyambar.

“aniyo.” Ucap hyun seung cepat.

“baiklah teman-teman, tinggalkan aku berdua dengan hye ra sekarang.” Ucap ki kwang mengusir kedua temannya itu. Tanpa basa-basi, yo seob dan hyun seung meninggalkan mereka berdua. Selang kedua temannya itu pergi, ki kwang berbasa-basi dengan hye ra. Mereka terlihat antusias mengenal satu sama lain. Begitu juga hye ra yang terlihat senang saat itu. Hampir separuh malam mereka lewati berdua.

*

Shan ni berjalan pelan keluar gedung kampusnya. Ia melihat hyun seung sedang duduk dikursi sebelah lapangan basket. Hyun seung terlihat serius memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket.

“bagaimana?” shan ni menghampirinya lalu duduk disebelahnya. Hyun seung hanya menghela napas panjang.

“sahabatmu sedang dekat dengan ki kwang?” hyun seung mengalihkan pembicaraan.

“ia pandai mendekati laki-laki.” Jawab shan ni ikut memperhatikan seisi lapangan. Sejenak mereka terdiam.

“aku harus pulang.” Ucap shan ni bangkit dari tempat duduknya.

“aku juga harus pergi.” Hyun seung mengikutinya dari belakang.

“mau menjenguk ayahmu?” tanya shan ni menatap hyun seung.

“aniyo, aku ingin ketaman tengah kota. Disana ada lomba street dance, jika menang hadiahnya lumayan, bisa membayar pinjamanku kepadamu yang kemarin.” Cerita hyun seung tersenyum. Shan ni terdiam sejenak.

“aku boleh ikut?” tanya shan ni kepada hyun seung.

“untuk apa?” hyun seung berbalik bertanya.

“bagaimana jika bertaruh, aku atau kau yang lebih hebat?” ajak shan ni yang sekarang senyumnya merekah lebar. Hyun seung terdiam menatap wajah shan ni yang terlihat manis saat itu.

“ehhhmmm..” hyun seung berpikir sejenak.

“sudahlah, kajja, naik mobilku saja.” Shan ni menarik tangan hyun seung menuju tempat parkir. Sementara tak jauh dari tempat itu. Yeo seob sedang memperhatikan mereka.

“ohh, jadi karena hyun seung, shan ni tidak menerima diriku lagi, awas kau hyun seung!” gumam yo seob sendirian.

*

Shan ni dan hyun seung berjalan pelan disekitar taman tersebut. Mereka sampai ditempat perlombaan tersebut. Setelah mereka mendaftar, shan ni dan hyun seung pun tampil. Shan ni tampil lebih dulu lemudian hyun seung tampil setelah dipanggil juri.

Setelah semua peserta lomba tampil, pengumuman pemenang pun ditetapan. Tepat, shan ni menempati juara pertam sementara hyun seung hanya menempati juara ketiga.

“terbikti.” Ucap shan ni menerima hadiahnya yang berupa uang itu.

“ini, sisanya akan kubayar nanti.” Ucap hyun seung duduk disebelah shan ni.

“ini.” Shan ni memberikan hadiahnya untuk hyun seung.

“untuk apa?” tanya hyun seung bingung.

“lunasi pembayaran ayahmu, dan sisanya untukmu. Kau juga butuh uang kan?” ucap shan ni tersenyum kepada hyun seung.

“lalu hutangku?” tanya hyun seung bingung.

“anggap saja aku memberimu, bukan meminjamkannya untukmu.” Jawab shan ni.

“tapi ini terlalu banyak.” Hyun seung terus mengelak.

“kalau begitu simpan saja.” Suruh shan ni menyandarkan dirinya di punggung kursi tersebut. Hyun seung terdiam kembali.

“pantas yo seob menyukaimu.” Gumam hyun seung tersenyum.

“mwo?” shan ni yang tidak terlalu mendengarnya bertanya.

“hah? Aniyo.” Sahut hyun seung cepat menggaruk-garuk kepalanya. “kita makan saja, bagaimana? Aku yang traktir.” Hyun seung berjalan meninggalkan shan ni.

“baiklah, hari ini saja.” Ucap shan ni mengikutinya dari belakang. Hyun seung hanya tersenyum.

*

Sementara ditempat lain, hye ra sedang berjalan menikmati matahari senja bersama ki kwang.

“hye ra-ah.” Panggil ki kwang menggenggam tangan hye ra. Hye ra yang terlihat kaget tetap menjaga dirinya agar tidak terlihat kaget didepan ki kwang.

“aku mencintaimu.” Ki kwang memeluk hye ra dengan erat.

“aku juga mencintaimu, ki kwang.” Ucap hye ra tersenyum dipelukan ki kwang. Ki kwang menang hari ini. Ia tersenyum puas masih memelik hye ra.

*

“shan ni-ahh,” panggil hye ra ketika memasuki rumahnya malam itu. “aku sangat senang hari ini.”

“ada apa?” tanya shan ni membaca bukunya dari ruang makan lalu meneguk secangkir teh hangat malam itu.

“kau tahu, ki kwang menyatakan perasaannya padaku, aku sangat senang shan ni-ah.” Jawab hye ra duduk disebelah shan ni.

“chukae.” Ucap shan ni menatap sahabatnya itu dengan senyum dibibirnya.

“gomawo chingu.” Hye ra memeluk shan ni erat. Malam itu terlihat hangat walaupun rintik hujan turun.

**

Pagi ini shan ni dan hye ra baru sampai dikampusnya. Mereka berangkat bersama hari ini karena keduanya ada jadwal kuliah yang sama. Mereka berjalan memasuki gedung kuliahnya sambil sesekali tertawa.

“dilapangan yo seob dan hyun seung sedang bertengkar hebat.” Teriak seorang lelaki mmemakai earphone lalu berlari menuju lapangan.

“hyun seung dan yo seob? Bukankah mereka sahabat?” hye ra bertanya kepada shan ni. Shan ni diam sebentar lalu berlari keluar gedung menuju lapangan, hye ra yang bingung mengikutinya.

“kau pantas seperti ini.” Ucap yo seob terus memukuli hyun seung yang wajahnya penuh luka. Shan ni yang baru datang melihat semua kejadian itu. Shan ni pun berlari hendak menolong hyun seung.

“stooppp.” Shan ni berdiri diantara yo seob dan hyun seung. “buuukkk~” sebuah pukulan jatuh dipipi shan ni. Shan ni diam memegangi pipinya.

“shan ni? Ka...uu” yo seob terlihat kaget ketika tahu yang ia pukul adalah shan ni. Shan ni diam lalu memapah hyun seung berdiri.

“kita ke uks saja.” Suruh hye ra membawakan tas shan ni. Shan ni hanya diam berjalan memapah hyun seung. Yo seob yang melihat hal itu, melampiaskan kekesalannya dengan menendang kaleng soda.

*

“kau gila, untung saja hanya satu pukulan.” Ucap hye ra membersihkan luka shan ni.

“sudahlah, aku bisa membersihkan sendiri, bersihkan saja luka hyun seung.” Ucap shan ni mengambil saputangan yang dipegang hye ra. Hye ra menurut lalu membersihkan wajah hyun seung yang penuh darah. Sesekali hyun seung meringis kesakitan ketika lukanya dibersihkan.

“sebenarnya ada apa, hyun seung. Kenapa kau bisa bertengkar dengan yo seob?” tanya hye ra sambil membersihkan wajah hyun seung.

“ahhh, hanya masalah kecil.” Jawab hyun seung pelan.

“karenaku?” tanya shan ni menatap kearah hyun seung. Hyun seung hanya diam menunduk. Hye ra pun bingung menatap shan ni.

“yo seob mengira karena kau, aku tidak menerimanya? Hh, dasar anak kecil.” Ucap shan ni menatap keluar jendela uks tersebut. Hye ra dan hyun seung diam mendengar perkataan shan ni.

“sudahlah, tidak usah dipikirkan. Yo seob akan mereda setelah 2 jam nanti. Percaya padaku.” Shan ni tersenyum menepuk pundak hyun seung. “aku harus pergi, ada jam kuliah 15 menit lagi.” Shan ni mengambil tasnya diatas tempat tidur uks tersebut.

“shan ni-ahh.” Panggil hyun seung. “gomawo.” Ucap hyun seung memegangi wajahnya. Shan ni yang terdiam lalu berjalan keluar uks tersebut.

“itulah temanku, selalu mengecilkan sebuah masalah yang menurut orang lain itu adalah masalah besar.” Ucap hye ra tersenyum lalu pergi keluar uks. Hyun seung membalas senyuman hye ra, ia terdiam menatap keluar jendela lau tersenyum lebar.

*

Dimalam yang dihiasi rintik-rintik hujan, shan ni baru saja pulang. Ia terlihat lelah sambil membawa sebuah plastik putih berisi makanan. Shan ni pun masuk kedalam rumah.

“a.....” ucapan shan ni terputus ketika melihat hye ra dan ki kwang berciuman diruang tamu. Shan ni sempat terdiam lalu berjalan mengendap menuju kamarnya.

Dikamarnya, shan ni sedikit aneh melihat pemandangan itu. Ia pun memakan makanan yang tadinya ia belu untuk makan berdua dengan hye ra namun ia urungkan itu.

*

“kau mau kemana?” tanya hye ra keluar kamar mandi sambil membersihkan rambutnya yang basah.

“orang tuamu kapan pulang?” shan ni malah berbalik bertanya.

“lusa mereka pulang, wei?” hye ra duduk dimeja makan mencari sesuatu dipiring buah.

“aku harus cepat pergi dari sini, aku tidak mau mengganggumu lagi.” Ucap shan ni memakai jaketnya hendak keluar.

“maksudmu?” hye ra tidak mengerti.

“aku mau mencari tempat tinggal untukku sendiri, aku tidak mau merepotkanmu hye ra. Terkadang aku juga butuh sendiri.” Jawab shan ni memandang sahabatnya itu. “jujur, aku risih melihat sesuatu semalam.” Lanjut shan ni.

“semalam? Ohh, hahah. Kau sudah dewasa shan ni, lagipula kau juga pernah melakukannya dengan yo seob kan? Jangan bilang hanya gara-gara itu kau ingin pindah.” Ucap hye ra menahan tawanya.

“jangan bawa-bawa yo seob! Niatku sudah bulat untuk pindah hye ra. Mian.” Ucap shan ni berjalan pelan.

“baiklah, jika itu maumu.” Ucap hye ra masih menahan tawanya. Shan ni menatapnya sinis.

“jika kau memergoki semalam, kau juga pasti akan risih.” Gumam shan ni terus berjalan keluar rumah itu. Wajah hye ra yang mendengar gumaman shan ni langsung berubah merah.

*

“aku pikir ki kwang sama seperti yo seob.” Gumam shan ni saat menyetir mobilnya mencari sebuah apartemen disekitar taman pusat kota.

“ahh, aniyo aniyo, pilihan hye ra selalu tepat.” Shan ni menggelengkan kepalanya.

**

“kau akan pindah hari ini? Tidak terlalu cepat?” tanya hye ra membantu shan ni membereskan barang barangnya.

“besok orang tuamu sudah sampai.” Jawab shan ni tetap membereskan bajunya. Hye ra hanya memanyunkan bibirnya sambil terus membantu shan ni.

“sudah selesai, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik.” Shan ni tersenyum menepuk pundak sahabatnya itu.

“sering-seringlah main kesini.” Ucap hye ra tersenyum juga. Shan ni hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah hye ra dengan mobil merahnya menembus malam yang yang dingin.

*

Di kyung hee university, shan ni sedang berjalan sendirian hendak keluar dari gedung kampusnya. Pelajaran sudah tidak ada untuk hari ini. Shan ni berjalan melewati ruang teknik informasi yang terlihat sepi tapi pintunya terbuka sedikit. Shan ni terus berjalan sedikit mengintip keruangan itu. Ia terlihat kaget melihat ada dua orang sedang berciuman diatas meja ruangan tersebut. Shan ni memperhatikan kedua orang itu.

“ki kwang.” Gumamnya pelan. Ia terus memperhatikan kedua orang tersebut. Shan ni berpikir sebentar saat itu lalu ia pun sedikit berlari meninggalkan tempat itu menuju ruang seni. Sesampainya diruang seni dengan sedikit tersenggal ia bertanya kepada seorang lelaki. “kau lihat hyun seung?”

“dia ada didalam.” Ucap lelaki itu. Tanpa banyak bicara, shan ni masuk kedalam ruang seni itu.

“bisa kita bicara sebentar?” tanya shan ni kepada hyun seung yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“ada apa?” tanya hyun seung mengikuti shan ni berjalan. Shan ni pun menghentikan langkahnya llau duduk disebuah kursi didepan ruang seni. Hyun seung mengikutinya.

“siapa ki kwang?” tanya shan ni mengatur nafasnya.

“mwo?” tanya hyun seung bingung.

“siapa ki kwang? Apakah ia pria baik-baik?” shan ni sedikit mengencangkan volume suaranya. “aku melihatnya berciuman dengan orang lain selain hye ra diruang teknik komunikasi tadi.” Lanjut hye ra.

“ki kwang? Dia memang suka mempermainkan perempuan.” Ucap hyun seung pelan. Shan ni memperhatikannya. “dia tidak akan pernah puas dengan satu wanita.”

“hh, tidak berbeda dengan yo seob?” shan ni bertanya pada hyun seung yang membuat hyun seung menatapnya.

“ya, mereka berdua sama.” Sahut hyun seung pelan. “mereka malah berlomba siapa yang lebih banyak mendekati perempuan dialah yang menang.”

“heehh, bagaimana dengan hye ra.” Gumam shan ni pelan sambil menutup wajahnya.

“beritahulah sahabatmu itu sebelum ia mencintai ki kwang lebih dalam.” Usul hyun seung kepada shan ni.

*

Dimalam setelah kejadian itu, shan ni hendak memberitahukan kejadian itu kepada hye ra. Namun sayang, ketika shan ni kerumah hye ra, hye ra sedang tidak ada dirumahnya. Shan ni pun berpikir lalu melajukan kendaraanya cepat menuju bar tempat ki kwang selalu tampil dengan harapan hye ra ada disana.

Dibar, shan ni mencari-cari hye ra. Tepat, dikursi merah hye ra sedang tersenyum duduk berhadapan dengan ki kwang. Shan ni melangkah dengan cepat. ia terus melihat kearah hye ra dan ki kwang yang hendak berciuman.

“kau gila!!!” shan ni menjatuhkan tamparan kearah pipi ki kwang ketika hendak mencium hye ra.

“shan ni, apa yang kau lakukan?” hye ra sedikit panik akan kelakukan sahabatnya itu.

“kau tahu hye ra, kekasihmu itu adalah penjahat. Ia telah mempermainkan banyak perempuan. Dan kau harus tahu, tadi siang ia telah mencium wanita lain diruang teknik komunikasi. Kau harus tahu itu hye ra.” Ucap shan ni menjelaskan semuanya.

“be..benarkah itu ki kwang?” tanya hye ra gagap setelah mendengar ucapan shan ni tadi.

“hh, itu semua benar. Aku berciuman dengan ketua cheers tadi pagi, Lagipula kau mau apa sayang?” ucap ki kwang tersenyum senang memegang dagu hye ra. Hye ra menagis lalu pergi keluar bar itu.

“awas kau jika mendekati hye ra lagi!” shan ni lalu pergi mengejar hye ra.

“gwencanha?” tanya shan ni melihat sahabatnya sedang menangis didepan bar tersebut. “pulanglah denganku.” Ucap shan ni menarik hye ra kedalam mobilnya.

“kau jahat shan ni.” Hye ra terisak ketika shan ni hendak menyetir mobilnya.

“jika aku tidak memberitahumu sekarang, nantinya kau akan lebih sakit lagi.” Sahut shan ni pelan. Hye ra semakin terisak.

“shan ni-ahh, aku bodoh!!” ucap hye ra lagi air matanya terus menetes. Shan ni yang melihat itu, menghentikan mobilnya lalu memeluk sahabatnya itu.

“kau tidak bodoh, tapi mungkin ini adalah sebuah pelajaran.” Ucap shan ni tersenyum.

“aku sungguh berterimakasih padamu shan ni.” Isak hye ra. Shan ni hanya tersenyum mengusap punggung hye ra.

*

“wajahmu sudah tidak lebam?” seorang perempuan menghampiri hyun seung yang sedang mendengarkan musik dtaman kampusnya.

“ohh, kau hye ra, sudah baikan. Bagaimana kabarmu?” ucap hyun seung melepaskan earphonenya lalu mengisyaratkan hye ra untuk duduk disebelahnya.

“aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, berkat kau, aku tahu semuanya.” Ucap hye ra tersenyum.

“berterimakasih kepada sahabatmu itu, dia sangat berani. Yang kutahu baru dia saja yang berani menampar ki kwang.” Sahut hyun seung tersenyum.

“dia memang perempuan hebat.” Puji hye ra ketika melihat shan ni berjalan menuju mereka.

“hai, kalian sedang disini.” Sapa shan ni dengan senyum sumringah.

“kenapa kau? Senang sekali?” tanya hye ra tersenyum.

“entahlah, aku juga bingung.” Jawab shan ni membuka ponselnya. Dan menjawab telepon dan berjalan menjauhi mereka.

“dia terlihat sedikit aneh.” Ucap hyun seung memperhatikan shan ni sambil tersenyum.

“hhh, aku akan pulang. Kau mau ikut? Aku ada keperluan dengan kedua orang tuaku.” Ucap hye ra bangun dari duduknya lalu menatap shan ni sejenak dan tersenyum kepada hyun seung.

“kau duluan saja, hati-hati.” Ucap hyun seung tersenyum kepada hye ra.

*

Musim gugur sudah habis. Hari semakin dingin. Titik-titik salju turun menghiasi jalan-jalan disekitar seoul. Hye ra dan shan ni sedang pergi bersama menggunakan mobil silver milik hye ra. Shan ni sedang asik membaca bukunya.

“bagaimana hubunganmu dengan hyun seung?” tanya hye ra memperhatikan sekitar jalan-jalan malam seoul. Shan ni menatap tajam kearah hye ra.

“baik-baik saja.” Jawab shan ni meneruskan membacanya.

“tidak ada harapan untuk berpacaran?” tanya hye ra dengan nada mengejek. Shan ni hanya tersenyum kecil.

Mobil mereka berjalan lambat karena jalan yang mereka lewati basah akibat salju yang mencair. Tapi ditengah perjalanan mereka, motor yang menyalip mobil mereka, membuat hye ra mengerem mendadak mobilnya.

“ada apa?” tanya shan ni kaget memperhatikan kearah depan. Sebuah motor merah berhenti didepannya. Tanpa basa-basi hye ra langsung turun dari mobilnya dan menghampiri si pengguna motor tersebut.

“yaa~” teriak hye ra menarik jaket hitam lelaki itu. Shan ni turun dari mobil tersebut dan menghampiri mereka.

“kau itu buta? Kau tidak melihat ada mobil yang melintas hah??” hye ra memarahi lelaki itu. Sementara shan ni berusaha melerai mereka.

“shan ni, dia hampir mencelakakan kita.” Ucap hye ra lagi. Lelaki itu lalu membuka helm yang menutupi kepalanya dari tadi. Sorang laki-laki yang cukup tampan tersenyum pada mereka.

“jadi aku yang salah?” tanya lelaki itu menatap sinis kearah hye ra.

“iya kau yang salah!” jawab hye ra cepat.

“baiklah, aku minta maaf, selesai kan?” ucap lelaki itu memperhatikan mobil miik hye ra.

“kali ini aku memaafkanmu, tapi awas saja jika kau melakukan lagi.” Ucap hye ra menarik tangan shan ni menuju mobilnya.

“kau gila memarahi dia didepan umum.” Ucap shan ni ketika memasuki mobil hye ra.

“dia salah, jadi sudah sebaiknya kita memberi pelajaran kepada lelaki itu.” Sahut hye ra cepat.

“kau tidak tahu dia siapa?” shan ni menatap hye ra dengan tatapan serius.

“siapa dia?” hye ra menatap shan ni bingung.

“dia adalah yong jun hyung, ketua geng motor didaerah tersebut.” Jawab shan ni membaca bukunya lagi.

“lalu? Apa aku bisa dibunuh olehnya?” tanya hye ra lagi.

“dia akan membunuh perempuan yang berani memarahinya didepan umum.” Jawab shan ni serius.

“benarkah? Kau tidak bercanda kan?” tanya hye ra sedikit ketakutan.

“hh, begitu saja takut.” Ucap shan ni tersenyum.

“jadi kau hanya bercanda?” tanya hye ra sedikit berteriak.

“tergantung kau mengartikannya bagaimana.” Jawab shan ni memperhatikan toko-toko yang berjejer tutup dipinggir jalan raya tersebut.

**

“bagaimana keadaan ayahmu?” tanya shan ni berjalan keluar kampusnya bersama hyun seung.

“dia sudah keluar dari rumah sakit sekitar dua hari yang lalu.” Jawab hyun seung tersenyum. Shan ni hanya tersenyum mendengar perkataan hyun seung itu.

“bagaimana kabar dua orang temanmu itu?” tanya shan ni menatap kearah hyun seung.

“mereka baik-baik saja, aku masih ikut mereka pergi ke klub. Dan benar katamu, sehari setelah kejadian itu yo seob meminta maaf padaku.” Jawab hyun seung tersenyum lebar.

“shan ni~aahh” suara seorang perempuan memanggil shan ni. Hye ra terlihat berlari mengejar shan ni.

“weiyo?” tanya shan ni bingung, begitu juga hyun seung.

“kau bawa mobil?” hye ra mengatur nafasnya.

“tidak, kenapa?” shan ni semakin bingung.

“didepan ada kumpulan geng motor, dan salah satunya adalah jun.., jun siapa?” hye ra terlihat bingung menggaruk kepalanya.

“jun hyung.” Hyun seung memberitahu hye ra.

“jadi kau percaya ucapanku waktu itu? Aku hanya bercanda hye ra.” Shan ni menahan tawanya.

“sekarang aku tidak peduli kau bercanda atau tidak, tapi aku harus pulang denganmu sekarang.” Ucap hye ra menarik tangan shan ni.

“tapi hyun seung?” tanya shan ni menatap hyun seung.

“aku akan ke apartemenmu nanti malam.” Ucap hyun seung tersenyum kepada shan ni. Shan ni pun terpaksa mengikuti hye ra.

Benar kata hye ra, banyak anak motor tepat didekat kampusnya itu. Mereka sedang berkumpul begitu juga jun hyung yang sedang asik duduk diatas motor merahnya.

“apa kita harus memutar?” tanya hye ra dengan wajah paniknya.

“untuk apa, kajja.” Shan ni mengajak hye ra berjalan melewati kumpulan itu.

Shan ni berjalan seperti biasa melewati kumpulan tersebut. Sementara hye terlihat sedikit ketakutan walau ia berusaha menyembunyikan wajah ketakutannya.

“yaa~” junhung menghentikan motornya didepan mereka.

“ada apa?” tanya shan ni menatap junhyung sinis.

“kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya junhyung menatap kearah hye ra.

“kita buru-buru, kajja hye ra.” Shan ni menarik tangan hye ra lalu berjalan cepat meninggalkan jun hyung.

“yaa~, kau anak kim hyun min kan? Pemilik perusahaan coklat terkenal itu?” jun hyung kembali memanggil mereka. Shan ni menghentikan langkahnya.

“darimana kau tahu?” hye ra bertanya dengan nada gugup.

“seluruh dunia tahu perusahaan ayahmu hampir jatuh karena tidak kuat membayar hutang tahun lalu.” Ucap junhyung dengan nada bicara tinggi.

“jaga mulutmu!” bentak shan ni yang tidak ingin temannya diejek.

“siapa kau??” junhyung malah membentak shan ni. Hye ra yang muak akan hal itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“awas kau!!” ucap shan ni lalu mengejar hye ra yang sudah jauh darinya.

“gwencanha?” tanya shan ni melihat kewajah hye ra.

“gwencanha, apa yang dia katakan benar.” Jawab hye ra berusaha tersenyum walau terlihat kesedihannya.

“tidak usah dipikirkan, pikirkan saja hal lain.” Ucap shan ni tersenyum menghibur temannya tersebut. Hye ra tersenyum juga menatap wajah shan ni.

*

Shan ni terlihat sedang asik menulis sesuatu didalam apartemennya yang terlihat hangat. Sementara sekelabut salju menutupi pekarangan apartemen tersebut. Hawa diluar juga sangat dingin. Pintu apartemen shan ni terdengar diketuk oleh seseorang. Shan ni pun membukakan pintu apartemennya. Seorang lelaki yang cukup tampan berdiri tersenyum didepannya...

hayoo, penasaran kan siapa cowo yang dateng?? hehehe. ditunggu sebentar lagi yaaa. hehehehe

No comments:

Post a Comment