nah ini part terakhirnya, hahaa. lanjutkan yaaa bacanya. ^^
“masuklah.” Suruh shan ni menyuruh lelaki itu. Hyun seung pun masuk kedalam apartemen shan ni yang terlihat rapi dan bernuansa coklat itu.
“kau orang pertama yang datang kesini.” Ucap shan ni memberikan segelas coklat hangat kepada hyun seung.
“hye ra belum pernah kesini?” tanya hyun seung bingung. Shan ni hanya menggeleng lalu duduk disebelah hyun seung.
“ada yang ingin kau bicarakan?” tanya shan ni tersenyum menatap hyun seung.
“hmmm?” shan ni menatap hyun seung penuh pertanyaan.
“kau masih mencintai yo seob?” tanya hyun seung serius. Shan ni menatap hyun seung kaget lalu tertawa agak senang.
“andwae.” Ucap shan ni membaca bukunya lagi.
“aku menyukaimu, shan ni.” Ucap hyun seung pelan.
“aku juga menyukaimu.” Balas shan ni tersenyum menatap hyun seung. Hyun seung tersentak. “semua orang pasti menyukaimu hyun seung.” Ucapan shan ni membuat hyun seung sedikit menyesal.
“aku mencintaimu, shan ni.” Ucap hyun seung menatap dalam shan ni. Shan ni diam lalu menatap hyun seung.
“aku benar-benar mencintaimu.” Ucap hyun seung dan dalam sekejap bibir hyun seung sudah mencium bibir shan ni. Shan ni terdiam terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“mianhae, hyun seung.” Shan ni melepaskan bibirnya dari bibir hyun seung. “aku tidak mau membuat masalah ini lebih rumit.”
“ta..tapi.” hyun seung mencoba mengelak.
“kau tidak ingin hubunganmu dengan yo seob kembali retak hanya karena diriku kan?” shan ni berusaha tersenyum menatap hyun seung dalam. “dengan berteman saja, kita sudah cukup dekat. Lagipula kita juga sering pergi bersama. Tidak apa-apa kan?”
“hmm, ara.” Hyun seung tersenyum mengusap rambut shan ni. Shan ni tersenyum puas.
Sementara ditempat lain malam itu, tepatnya disebuah markas geng motor. Hye ra sedang berjalan bersama seorang lelaki.
“ada apa?” tanya lelaki itu yang ternyata adalah jun hyung.
“bagaimana kau tahu semua akan hal tadi?” hye ra terus melangkah sambil menahan emosinya terhadap jun hyung.
“perusahaan ayahku lah yang meminjamkan hutang perusahaan ayahmu.” Jawab jun hyung dengan santai.
“jangan ungkit itu didepan orang lain, aku malu!” pinta hye ra menatap jun hyung.
“walaupun didepan sahabatmu itu?” junhyung bertanya pelan. Hye ra hanya mengangguk.
“baiklah, baiklah. Aku mengerti.” Ucap junhyung tersenyum lebar.
*
Hari-hari yang dingin berlalu seakan sangat cepat. shan ni dan hye ra sangat jarang bersama akhir-akhir ini. Shan ni sibuk dengan tugas kuliahnya, sementara hye ra sekarang sedang dekat dengan jun hyung. Beberapa kali, hye ra menelpon shan ni hanya untuk bercerita tentang junhyung. Sebagai teman yang baik, shan ni pun mendengarkannya dan memberikan saran yang baik.
Pagi ini, shan ni bersiap untuk pergi kuliah. Sebelum ia mengambil tasnya, ponselnya berdering. Ibunya menelpon, dengan cepat ia mengangkatnya.
‘yoboseyo, omma’
‘shan ni-ahh, apa kabar?’
‘aku baik, eomma sendiri?’
‘aku baik anakku, ada yang ingin eomma bicarakan.’
‘apa itu?’
‘begini shan ni, eomma tidak akan memberikan jatah uang bulananmu mulai bulan ini.’
‘hah? Waeyo?’
‘kau sudah dewasa sekarang, sudah seharusnya kau mencari uang sendiri. Tidak bergantung pada eomma. Eomma ingin melihat usahamu, kerja kerasmu agar kau bisa hidup lebih mandiri.’
‘tapi eomma!’
‘kau harus berusaha nak, eomma yakin kau bisa. Mengerti?’
‘ar...arra.’
‘baiklah, pekerjaan eomma disini banyak, jaga dirimu, sampai jumpa’
Shan ni menutup ponselnya dengan wajah lesu. Dengan langkah malas ia keluar apartemennya berjalan menuju kampusnya.
*
“anyeong shan ni.” Sapa hye ra kepada shan ni yang baru saja selesai mengikuti jam kuliahnya. Shan ni hanya diam dan terus melangkah.
“ada apa?” hyun seung datang menghampiri hye ra.
“entahlah, ada apa dengannya?” hye ra memperhatikan shan ni yang pergi meninggalkannya sambil bertanya kepada hyun seung.
“ada masalah mungkin, kejarlah.” Suruh hyun seung kepada hye ra.
“aku akan jalan dengan jon hyung hari ini, jadi aku harus cepat. kau saja yang mengejarnya.” Ucap hye ra buru-buru pergi meninggalkan hyun seung. Hyun seung menghela nafas panjang lalu menghampiri shan ni yang sedang berdiri memperhatikan lapangan yanng hampir tertutup salju dari kaca besar disudut gedung kampusnya.
“ada masalah?” tanya hyun seung berdiri disebelah shan ni.
“nan gwencanha.” Jawan shan ni tersenyum simpul sambil melihat jam tangannya. “aku harus pergi hyun seung, jika ingin bercerita, sms ke ponselku saja.” Ucap shan ni menepuk pundak hyun seung lalu pergi meninggalkan hyun seung sendirian.
*
Malam yang dingin shan ni duduk dilantai depan meja ruang tamunya. Diatas meja tersebut terdapat bertumpuk-tumpuk kora yang sudah dicorat-coret bagian iklannya. Sesekali ia meminum segelas coklat hangat disebelahnya. Matanya terlihat memerah. Ia pun menyandarkan tubuhnya kekaki kursi yang terlihat tidak terlalu tinggi. Ia menghela napas panjang lalu mengambil ponsel biru mudanya. Ia terlihat mengetik nomor hye ra dan berusaha menelponnya. Tapi sepertinya tidak ada jawaban dari hye ra.
“kemana dia?” gumam shan ni sendirian lalu menutup ponselnya lagi dan terus mencari sebuah pekerjaan dari bertumpuk-tumpuk koran diruang tamu apartemennya.
Sementara ditempat lain malam itu, tepatnya disebuah taman bermain dipinggir kota seoul. Sepasang anak manusia sedang bersama malam itu. Junhyung dan hye ra sedang menikmati indahnya malam dimusim dingin hari itu.
“kau lebih sering sendiri akhir-akhir ini.” Ucap junhyung bersandar dimotornya sambil menatap langit yang sepi.
“hhmmm, entahlah shan ni sering pulang lebih dahulu setelah kuliah, jadi kami jarang bersama akhir-akhir ini.” Jawab hye ra ikut memperhatikan langit.
“akhir-akhir ini kesepianku terobati karena dirimu.” Ucap hye ra tersenyum menatap junhyung.
“gomawo.” Ucap junhyun tersenyum mencium kening hye ra. Malam terasa sangat hangat ketika junhyung memeluk shan ni.
*
Pagi ini shan ni tidak ada jadwal kuliah. Ia pun pergi keluar apartemennya untuk mencari pekerjaan yang sesuai untuknya. Berbagai toko ia masuki tapi tidak ada yang membuka lowongan pekerjaan untuk hari ini. Termasuk sebuah restoran besar diujung jalan meninggalkan kota seoul. Tidak gentar ia mencari pekerjaan, ia pun memasuki sebuah supermarket yang tidak terlalu besar disebelah sebuah restoran china.
“anyeonghaseyo.” Ucapnya menundukan badan kepada seorang lelaki setengah baya disupermarket itu.
“ada yang bisa saya bantu, nona?” tanya lelaki itu dengan ramah.
“apakah supermarket ini butuh pekerja? Aku bisa bekerja apapun.” Ucap shan ni penuh harapan.
“apa yang kau bisa lakukan?” tanya lelaki itu tersenyum.
“jika kau butuh kasir, aku bisa menjadi kasir disini. Atau apapun yang penting bisa menghasilkan uang.” Jawab shan ni tenang.
“baiklah, karena sepertinya kemauanmu sangat kuat. Aku menerimamu bekerja dsini. Mulai besok kau bisa kerja dsini.” Ucap lelaki itu tersenyum lebar.
“ahh, kamsahamnida ajjushi.” Ucap shan ni menundukan badannya lalu tersenyum senang.
“mulailah bekerja besok mulai pukul 6 sore.” Suruh lelaki itu. Shan ni tersenyum tanda terimakasih lalu keluar dari supermariket tersebut.
“bruukkk~” seorang lelaki menabraknya ketika ia baru keluar dari supermarket tersebut. Lelaki itu terjatuh, tas yang ia bawa juga terjatuh.
“gwencanha?” tanya shan ni memperhatikan lelaki itu yang berusaha berdiri.
“nan gwencanha, mianhamnida.” Ucap lelaki itu tersenyum kepada shan ni lalu berjalan lagi. Shan ni sejenak memandang lelaki itu, lalu pergi kesuatu tempat menggunakan mobilnya.
*
“shan ni tidak kuliah?” tanya hyun seung kepada hye ra yang sedang membaca sebuah surat kabar didepannya.
“sepertinya ia tidak ada jadwal hari ini.” Jawab hye ra malas.
“aneh dia akhir-akhir ini.” Ucap hyun seung mengecek ponselnya.
“biarkan saja.” Sahut hye ra cepat.
*
“shan ni, kau datang?” ucap seorang lelaki paruh baya menghampiri shan ni yang sedang duduk disebuah ruang tamu rumah yang terlihat sangat besar.
“appa-shi.” Ucap shan ni menundukan kepalanya.
“maafkan ayahmu karena sudah menelantarkan kau dan ibumu selama ini, ayah merasa bersalah nak.” Ucap lelaki yang menyebutkan bahwa dirinya adalah ayah shan ni tersebut memluk shan ni.
“appa ini rumah siapa?” tanya shan ni memperhatikan sekitar.
“ini rumah istri appa yang baru. Sungguh sangat menyesal melihat ibumu telah menikah lagi, appa pun sempat sadar dan terpuruk, tapi appa berusaha bangkit untuk ini.” Appa menceritakan semuanya kepada shan ni.
“itu istri appa.” Appa menunjuk seorang perempuan yang cantik berjalan bersama seorang lelaki menghampiri mereka. Shan ni memberikan salam dengan menunduk kepada perempuan itu.
“ini anakmu, yeobo?” tanya perempuan itu.
“iya, dia bernama geum shan ni. Dan shan ni, dia adalah son dongwoon. Anak dari istri appa dari pernikahannya yang pertama.” Jawab appa sekaligus memperkenalkan lelaki tampan yang berdiri disebelah ibunya.
“anyeonghaseyo.” Sapa shan ni memperhatikan lelaki itu. Lelaki itu hanya menundukan badannya.
“jadi begini shan ni, waktu itu aku menelponmu karena aku ingin kau tinggal lagi bersama keluarga ayah yang baru.” Ucap ayah shan ni memulai pembicaraan serius. Shan ni terdiam terlihat memikirkan sesuatu.
“kau mau kan tinggal dengan appa lagi?” tanya ayah shan ni dengan senyum wibawanya.
“mian appa, aku tidak bisa.” Ucap shan ni pelan.
“weiyo?” tanya ayah shan ni sedikit kaget.
“aku ingin hidup lebih mandiri saat ini, aku sudah memulainya appa. Jadi tolong biarkan anakmu ini belajar untuk mandiri agar bisa belajar dari kehidupannya sendiri.” Jelas shan ni panjang lebar. Ayahnya hanya diam terpukau.
“aku salut padamu.” Ucap perempuan yang dari tadi antusias mendengarkannya.
“tapi kan kau bisa belajar mandiri dirumah ini..” ayahnya terlihat memaksa.
“sudahlah yeobo, itu kemauannya, lagipula tidak ada salahnya kan.” Saran istri ayah shan ni itu sambil tersenyum.
“ba..baiklah, tapi jika kau punya masalah datanglah kemari, ayah selalu ada untukmu.” Ucap ayah shan ni dengan mata berkaca-kaca. Shan ni hanya mengangguk tersenyum.
**
“shan ni-ahh..” hye ra menghampiri shan ni yang sedang membaca buku dikantin kampusnya. Shan ni hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.
“sudah berapa minggu kita tidak bertemu, kemana saja kau?” ucap hye ra memanyunkan bibirnya.
“sekarang kita bertemu kan?” tanya shan ni tersenyum. “bagaimana kabar junhyungmu? Ada kemajuan?” tanya shan ni lagi.
“terakhir bertemu dengannya sekitar 3 hari yang lalu. Dia mencium keningku. Tapi setelah itu tidak ada kabar sama sekali. Bahkan nomor ponselnya sudah tidak aktif.” Jawab hye ra dengan wajah sebal.
“benarkah?” tanya shan ni dengan wajah tidak percaya. Hye ra hanya mengangguk cepat.
“lalu bagaimana dengan persta ulangtahunmu lusa? Kau sudah mempersiapkannya?” tanya shan ni memakan burger dihadapannya.
“sengil?? Aku lupa.” Teriak hye ra sambil memukul kepalanya.
“babo.” Celetuk shan ni menahan tawanya.
“ahh, tidak ada yang mengingatiku bahkan aku pun lupa akan hal itu, ahhh, gomawo chingu. Kau memang temanku yang terbaik.” Hye ra berusaha memeluk shan ni. Shan ni berusaha mengelak.
“aku pasti akan membuat pesta yang meriah. Dan bagaimana jika kau yang jadi DJ-nya? Kau hebat dibidang itu.” Tawar hye ra kepada shan ni.
“kau akan membayarku?” tanya shan ni menatap hye ra tajam.
“pasti..” ucap hye ra cepat lalu mereka tertawa bersama-sama.
*
Malam ini shan ni sedang bekerja disupermarket tersebut. Ia terlihat senang melayani para pembeli yang datang kesupermarket tersebut.
“anyeonghaseyo.” Ucapnya ketika seorang lelaki dengan blazer hitam masuk kedalam supermarket tersebut.
“kau?” ucap shan ni pelan.
“geum shan ni? Kau bekerja dsini?” tanya lelaki itu menghampiri dirinya.
“ne, seharusnya sudah tutup, kau pelanggan terakhir.” Jawab shan ni melepaskan seragamnya dan meletakannya disebuah gantungan hitam.
“aku hanya ingin membeli ini.” Ucap lelaki itu memberikan sekaleng kopi lalu membayarnya.
“bagaimana bisa ibumu bertemu dengan ayahku?” tanya shan ni ketika ia dan dongwoon duduk berdua dikursi depan supermarket tersebut.
“mereka ikut kerjasama sebuah perusahaan lalu bertemu.” Jawab dongwoon menggoyang goyangkan kaleng minumannya. Shan ni hanya diam.
“kau bekerja disini? Untuk apa?” tanya dongwoon menatap shan ni.
“aku ingin hidup lebih mandiri.” Jawab shan ni pelan.
“banyak cara orang untuk menjadi mandiri.” Ucap dongwoon menghela napas panjang.
“kau benar.” Sahut shan ni mengangguk.
“lalu kau tinggal dimana?” tanya dongwoon penasaran.
“aku tinggal diapartemen dekat sini.” Jawab shan ni cepat.
“jika aku jadi kau, aku tidak akan menolak ayahmu untuk tinggal dirumah ibuku.” Ucap dongwoon menyandarkan tubuhnya.
“sayangnya aku bukan kau” sahut shan ni cepat.
*
“shan ni-ahh, kau sedikit terlambat. Tapi tidak apa-apa, pestanya baru saja dimulai.” Ucap hye ra ketika shan ni baru saja memasuki ruangan yang penuh dengan hiasan pesta disertai lampu disko dan musik yang menggema.
“saengil chukae, chingu.” Ucap shan ni memeluk hye ra.
“gomawo.” Hye ra memeluk shan ni. Shan ni berjalan memperhatikan sekitarnya.
“kau datang?” hyun seung menghampirinya. Shan ni hanya tersenyum mengangguk. Shan ni masih memperhatikan sekelilingnya. Matanya berhenti seketikan ketika ia melihat seorang lelaki sedang asik menDJ.
“Oohh itu doo joon, dia disewa ibuku. Kajja, kita kesana. Kau harus menDJ untukku.” Hye ra menarik tangan shan ni menuju meja DJ itu.
“doo joon-ah, bisakah kau berhenti sebentar. Sahabatku, shan ni ingin mempersembahkan sebuah musik untukku.” Ucap hye ra kepada doo joon. Doo joon sebentar memperhatikan shan ni lalu memberikan earphonenya kepada shan ni. Shan ni menerima earphone-nya lalu memainkan musik beat yang terdengar sangat pas untuk dimainkan.
Setelah memainkan itu, shan ni memberikan earphone-nya kembali kepada doo joon.
“gomawo.” Ucap shan ni kepada doo joon.
“kau jago juga.” Sahut doo joon tersenyum. Shan ni hanya diam lalu pergi meninggalkan meja DJ tersebut.
“sekali lagi selamat ulangtahun hye ra.” Ucap shan ni menghampiri hye ra lalu tersenyum.
*
‘mianhae, aku sudah pergi tanpa kabar darimu. Tapi aku mengalami masa-masa buruk akhir-akhir ini. Aku sedikit ingin pergi dari ini, tapi tidak mungkin. Ayahku marah besar padaku. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi ini sudah berakhir. Aku tahu ini semua perbuatanku, tapi aku pun ingin meminta maaf padamu. Mungkin kau berpikir aku mempermainkan hatimu, tapi sebenarnya tidak. Aku menghilang pun bukan karena aku sudah tidak menyukaimu, tapi karena masalah lain, aku sudah menikah dengan orang lain karena kesalahanku sendiri. Maafkan aku sekali lagi, aku pun mendekatimu bukan karena aku suka padamu. Tapi sahabatmulah yang membuat aku dekat denganmu. Jujur, aku menyimpan rasa terhadap sahabatmu. Jadi, jangan salahkan sahabatmu itu, aku lah yang seharusnya salah dan tolong jangan beritahu ini kepada siapapun, karena ini akan mempermalukan perusahaan ayahku. Aku percaya padamu hye ra. Junhyung.’ Sebuah pesan e-mail terpampang dilayar laptop hye ra. Hye ra yang membacanya terlihat berkaca-kaca matanya. Perasaanya campur aduk malam itu. Tapi ia berusaha tenang dan berpikir untuk tidak mengingat junhyung lagi.
*
Pintu apartemen shan ni terdengar diketuk oleh seseorang. Dengan langkah gontai, shan ni membukakan pintunya. Hye ra sedang berdiri dedepannya.
“ada apa? Kau tahu darimana tempat tinggalku?” tanya shan ni santai.
“hyun seung.” Jawab hye ra cepat memasuki apartemen shan ni. Shan ni hanya menyeringaikan bibirnya lalu duduk disebuah kursi dan memainkan ponselnya.
“kata temanku kau sedang dekat dengan seorang lelaki ya?” tanya hye ra cepat. shan ni melirikan matanya kearah hye ra.
“siapa?” tanya shan ni, namun “ohh, hahaha. Dia dongwoon” Shan ni mmengerti.
“dongwoon?” hye ra bertanya.
“hmm, kau mau dengannya? Dia lelaki yang baik menurutku. Dia juga sangat dewasa, dan satu lagi. Dia tampan, kau tidak mungkin menolaknya.” Ucap shan ni dengan antusias. Hye ra diam.
“baiklah, besok akan aku kenalkan kau dengan dia.” Ucap shan ni sibuk dengan ponselnya kembali.
*
Hye ra berjalan ditengah sore yang dingin. Ia berhenti disebuah mesin minuman didekat supermarket. Hye ra hendak mengambil minuman tersebut, seorang lelaki datang menghampirinya. Lalu mrmadukan koin dan mengambil minumannya. Hye ra memperhatikan lelaki itu dalam-dalam.
“kau kenapa?” tanya lelaki itu. Hye ra sedikit kaget.
“aniyo,” hye ra lalu pergi meninggalkan lelaki itu.
*
Shan ni sedang menutup supermarketnya malam itu. Beberapa orang lalu lalang melewatinya. Sementara itu seorang lelaki terlihat sedang duduk ditaman depan supermarket tersebut. Shan ni memperhatikannya, lalu diam dan pergi ketika lelaki itu menatapnya. Shan ni pun berjalan pelan lalu duduk dipinggir air mancur ditengah taman sambil mengambil earphone dari dalam tasnya.
“kau sendirian?” tanya seorang lelaki duduk disebelahnya. Shan ni terlihat kaget ketika mendengar suara lelaki itu.
“kau ingat aku?” tanya lelaki itu lagi. Shan ni hanya diam memandang lelaki itu.
“baiklah jika tidak ingat, aku doo joon. Pertama kali kita bertemu adalah saat aku menabrakmu, dan ketika aku menjadi DJ diulangtahun hye ra, kita juga bertemu. Dan sekarang kita bertemu lagi.” Ucap doo joon memainkan jarinya. Shan ni hanya tersenyum memperhatikan doo joon yang terlihat senang itu.
Mereka terdiam dalam diam beberapa menit. Sementara doo joon memperhatikan shan ni sesekali.
“kau marah padaku?” tanya doo joon bingung.
“Aniyo.” Jawab shan ni pelan.
“lalu kenapa kau diam?” tanya doo joon lagi.
“kau aneh doo joon.” Ucap shan ni menahan tawanya. Doo joon tersenyum mendengarnya.
*
Beberapa hari kemudian. Shan ni sedang duduk dirumah ayahnya bersama dengan dongwoon. Mereka saling berbincang-bincang sambil meminum teh hangat yang disediakan disana.
“kau sudah punya kekasih?” tanya shan ni meneguk teh hangatnya.
“kekasih? Kenapa?” dongwoon menatap shan ni berbalik bertanya.
“aniyo, jika belum punya aku akan mengenalkannmu dengan temanku.” Jawab shan ni tersenyum memperhatikan dongwoon.
“teman?” tanya dong woon lagi.
“kajja, akan aku perkenalkanmu dengan dia.” Shan ni menarik tangan dongwoon dan membawa dongwoon kesuatu tempat.
“dia sudah menunggu kami malam ini.” Ucap shan ni tersenyum senang.
Mereka berdua pun pergi ketempat yang sudah dijanjikan shan ni dengan hye ra. Setelah beberapa menit, mereka pun sampai disebuah restoran china yang terlihat sangat ramai saat itu.
“kajja, itu dia sudah menunggu.” Ucap shan ni menunjuk seorang perempuan memakai plato oranye yang sedang duduk sendiri dikursinya. Shan ni pun berjalan menghampiri hye ra dikuti oleh dongwoon dibelakangnya.
“anyeong.” Sapa shan ni tersenyum kepada hye ra sambil menunjuk dongwoon yang berdiri dibelakangnya.
“neon??” hye ra kaget ketika melihat wajah dongwoon. Begitupula dongwoon sedikit tersentak ketika melihat wajah hye ra. Mereka ingat kejadian malam itu, saat mereka bertemu didepan mesin minuman.
“kalian saling kenal?” tanya shan ni duduk dikursi depan hye ra.
“aniyo.” Jawab hye ra gagap menatap wajah dongwoon yang terlihat tampan dengan baju hangat hitamnya.
“ini dongwoon, lelaki yang waktu itu aku ceritakan padamu.” Ucap shan ni memperkenalkan dongwoon kepada hye ra. Hye ra hanya tersenyum lalu mengucapkan namanya.
Sepanjang malam mereka pun berbincang-bincang membicarakan suatu hal yang ringan. Sesekali dongwoon menatap hye ra penuh arti. Shan ni yang sadar akan hal itu, hanya tersenyum puas karena ia berpikir perkenalan dongwoon dengan hye ra akan berlanjut kejenjang selanjutnya.
*
“terimakasih telah mengantarku pulang.” Ucap hye ra kepada dongwoon dan shan ni ketika sampai didepan rumahnya. Dongwoon hanya tersenyum lalu mengemudikan kendaraannya pergi dari rumah yang cukup besar itu.
“kelihatannya kau senang.” Ucap shan ni memperhatikan keluar jendela dengan titik-titik salju.
“dia perempuan yang manis.” Ucap dongwoon tersenyum.
“lalu?” tanya shan ni menatap dongwoon. Dongwoon hanya tersipu mendengar pertanyaan shan ni. “gomawo.” Sahut dongwoon pelan. Lagi-lagi shan ni hanya tersenyum memperhatikan jalanan dimalam itu.
*
Siang ini, salju tidak turun. Hari terasa tidak terlalu dingin seperti biasanya. Walaupun dijalan-jalan salju tipis masih menutupi beberapa tempat. Hye ra sedang berjalan meninggalkan kampusnya hendak menuju sebuah toko permen dan manisan dipojok jalan dekat sebuah jembatan.
Hye ra memasuki toko yang terlihat sepi tersebut dan langsung menuju kederetan rak yang menampilkan lollipop. Ia memilah-milih permen tersebut. Dan mengambilnya beberapa permen yang menurutnya cocok.
“kau suka lollipop?” seseorang mengagetkan hye ra dengan menunjukan sebuah lollipop besar dihadapan hye ra. Hye ra pun membalikkan badannya dan menghadap kelelaki itu.
“dong woon-ahh, kau mengagetkaknku.” Ucap hye ra tersipu malu.
“hh, wajahmu memerah seperti lollipop ini, kenapa? Kau kedinginan?” sahut dongwoon tersenyum menunjuk sebuah lollipop kecil lalu mengusap pipi hye ra yang memerah. Hye ra pun kembali tersipu malu saat itu.
“kau sedang apa disini?” tanya hye ra tersenyum.
“hanya ingin mencari sesuatu yang manis disini.” Jawab dongwoon berjalan pelan mencari sesuatu.
“manis?” tanya hye ra bingung.
“ya, ini.” Jawab dong woon mengambil dan menunjukan sebuah manisan mangga ditangannya.
“kau suka itu?” tanya hye ra mengikuti dongwoon berjalan menuju kasir.
“semenjak usiaku 3tahun, aku sudah menyukainya.” Jawab dongwoon menunggu hye ra membayar belanjaannya. Mereka pun keluar bersama.
“aku ingin mengajakmu pergi lusa, kita bertemu ditaman pusat kota yaa.” Ucap dongwoon tersenyum lalu memasuki mobilnya. Percaya tidak percaya, hye ra menahan senyumnya dan berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian ia terlihat sangat senang dan memakan lollipopnya.
*
“malam ini salju akan turun dengan kapasitas yang lebih besar dibanding biasanya....” suara berita cuaca dari televisi didalam supermarket menemani shan ni yang terlihat sedang beres-beres.
“anyeong,” terlihat doo joon masuk kedalam supermarket tersebut.
“ada apa?” tanya shan ni memperhatikan doo joon.
“menemanimu.” Jawab doo joon tersenyum.
“aku sedang sibuk, pulanglah, lain kali kita bertemu.” Pinta shan ni tetap fokus membereskan barang yang terlihat berantakan.
“baiklah, sampai jumpa.” Ucap doo joon keluar supermarket itu. Shan ni terdiam memperhatikan doo joon. Ia merasakan ada hal aneh dalam dirinya ketika ia melihat kearah doo joon. Dengan cepat, ia pun kembali bekerja dan mempersiapkan dirinya untuk pulang, jam didinding supermarket itu sudah menunjukan pukul 10 malam.
Sebelum keluar supermarket itu, shan ni hendak menelpon hye ra untuk bercerita tentang suatu hal. Namun untuk yang kesekian kalinya, hye ra tidak mengangkat teleponnya.
“mungkin ia sudah tidur.” Gumamnya pelan lalu berjalan keluar supermarket itu.
“kau sudah pulang?” tanya seorang lelaki yang duduk dikursi sebelah supermarket tersebut. Shan ni menatap lelaki itu lalu menghampirinya.
“sepertinya kau lelah.” Ucap lelaki itu memberikan kopi hangat kepada shan ni yang langsung duduk disebelahnya. Shan ni hanya diam disebelah doo joon. Dengan tiba-tiba, shan ni mulai menangis dan sedikit terisak.
“kau kenapa?” tanya doo joon menatap dalam wajah shan ni.
“apa aku tidak pantas untuk punya sahabat?? Aku butuh itu sekarang.” Ucap shan ni masih terisak. “disaat aku membutuhkannya dia selalu tidak ada, hehhh, aku lelah.”
“kadang kehidupan itu memang kejam, tapi tergantung cara menjalaninya. Kuyakin, kau masih punya banyak orang yang bisa diajak bercerita. Termasuk aku.” Ucapan doo joon membuat shan ni menatap kearahnya.
“aku akan selalu ada untukmu.” Ucap doo joon mendekatkan wajahnya kewajah shan ni. Dimalam yang dingin itu, shan ni dan doo joon berciuman. Shan ni yang hanya diam pelan-pelan memejamkan matanya.
“entahlah, kenapa aku tidak bisa mengelak.” Ucapnya dalam hati.
*
“kau akan pergi dengannya?” tanya shan ni kepada dongwoon ketika mereka sedang menemani kedua orangtuanya disebuah toko buku.
“hmm, doakan aku berhasil besok.” Ucap dongwoon tersenyum kepada shan ni yang sedang memilih sebuah buku.
“dongwoon-ah..” panggil shan ni cepat. dongwoon menengok kearahnya.
“aku pikir kau dan hye ra adalah pasangan yang paling serasi.” Ucap shan ni pelan didekat kuping dongwoon. Dongwoon hanya tersenyum menatap shan ni yang berjalan menuju ayahnya yang sedang berbicara dengan ibunya.
*
Pagi itu, dongwoon sedang duduk disebuah taman dipusat kota. Janjinya mengajak hye ra bertemu hari ini sudah siap terlaksana. Beberapa saat kemudian, shan ni datang menghampirinya hendak menuju kekampusnya.
“ini, fighting.” Ucap shan ni memberikan segelas coklat hangat kepada dongwoon.
“gomawo.” Ucap dongwoon tersenyum menerima coklat hangat tersebut.
“tunggu sebentar.” Hye ra datang ketika shan ni hendak pergi menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Shan ni menghentikan langkahnya lalu tersenyum kearah hye ra. Sementara tidak jauh dari tempat itu, doo joon sedang melewati tempat itu dan melihat shan ni.
Seketika tanpa basa-basi, hye ra menampar shan ni cukup keras. Shan ni yang diam memegangi pipinya. Sementara dongwoon terlihat kaget akan ulah hye ra.
“jadi ini yang kau lakukan selama ini?? Hah? Berusaha mendekatkanku dengan dongwoon tapi ternyata kau yang terlihat lebih sering bersamanya. Apa kau mau menusukku dari belakang? Hah? Kau mau mengganggu hubunganku? Setelah junhyung, sekarang kau ingin mendekati dongwoon, itukah yang kau mau??” perkataan hye ra dan perbuatannya membuat langkah doo joon berhenti.
“junhyung?” ucap shan ni tidak mengerti.
“ya, asal kau tahu, junhyung itu sebenarnya menyukaimu, bukan menyukaiku. Dan asal kau tahu, aku menyesal telah menyukainya. Teman macam apa kau??” lanjut hye ra lagi.
Shan ni terdiam menahan emosinya. Lalu dengan tatapan kaget, dongwoon melihat shan ni menampar hye ra. Hye ra terlihat kesakitan memegangi pipinya. Air matanya pun menetes.
“sebenarnya siapa teman yang jahat?? Hah? Yang kau pikirkan adalah lelaki saja, kapan kau pernah memikirkan sahabatmu ini? Aku selalu mencarimu hye ra, aku selalu ada untukmu tapi kenapa kau selalu tidak pernah ada disaat aku membutuhkanmu? Bahkan aku bekerja disupermarket pun aku yakin kau tidak tahu kan?? Sekarang pikirkan siapa yang pantas disebut teman.” Ucap shan ni memandang sinis kearah hye ra. Hye ra terdiam menahan tangisannya.
“sekarang pikirkanlah, apakah perbuatanmu itu benar selama ini.” Lanjut shan ni terus memandang hye ra.
“argghh, aku muak padamu shan ni.” Hye ra sudah tidak sanggup berbuat apa-apa lalu pergi meninggalkan shan ni dan dongwoon.
“kau tidak apa-apa?” tanya dongwoon menghampiri shan ni.
“kejarlah hye ra, katakan yang sebenarnya agar dia tidak salah paham lagi.” Suruh shan ni mengambil tasnya.
“tapi kau??” dongwoon masih tidak tega meninggalkan shan ni yang terlihat terluka dipinggir bibirnya.
“cepatlah..” suruh shan ni sedikit marah pada dongwoon. Dongwoon pun mengalah kepada shan ni lalu pergi mengejar hye ra. Shan ni pun duduk dikursi taman tersebut.
“gwencanha? Ahh, kau terluka.” Ucap doo joon memeriksa pipi shan ni.
“nan gwencanha.” Ucap shan ni memegang tangan doo joon lalu tersenyum.
“kau, benar-benar wanita yang kuat.” Ucap doo joon pelan memandang shan ni. Shan ni hanya tersenyum menatap kearah doo joon.
“sedang apa kau disini?” tanya shan ni kepada doo joon.
“aku? Aku selalu ada jika kau membutuhkanku.” Jawab doo joon menggaruk kepalanya.
“ada-ada saja kau.” Celetuk shan ni tersipu.
Sementara itu, dongwoon masih mencari hye ra. Ia berlari hingga masuk kesebuah komplek perumahaan dengan gang yang hanya cukup dilewati satu mobil. Ia melihat perempuan yang sepertinya kelelahan sedang berjalan pelan didepannya.
“hye ra-ah, tolong berhenti dan dengarkan aku sebentar.” Teriak dongwoon terengah-engah. Hye ra menghentikan langkahnya. Dan menatap kearah dongwoon dengan mata berkaca-kaca.
“apa yang ingin kau katakan? Semua sudah jelas, semalam ketika ditoko buku, shan ni terlihat sangat dekat denganmu.” Isak hye ra pelan. Dong woon pun berjalan pelan menghampiri hye ra. Ia menatap tajam kearah hye ra yang berlumuran air mata.
“aku hanya mencintaimu seorang.” Ucap dongwoon lalu mencium mesra bibir hye ra. Hye ra terlihat canggung namun berusaha menikmatinya.
*
“mengapa kau tidak menceritakan itu dari awal?” tanya hye ra ketika mendengar seluruh cerita dari dongwoon tentang hubungannya dengan shan ni diatas sebuah jembatan siang itu.
“menurutku itu hal yang tidak penting untuk dibicarakan saat aku dan kau sedang bersama.” Jawab dongwoon tersenyum. Hye ra hanya diam merasa bersalah telah menampar shan ni tadi.
“kuharap kau segera berbaikan dengan shan ni.” Ucap dongwoon menggenggam tangan hye ra erat. Hye ra hanya tersenyum mendengar perkataan dongwoon tersebut.
*
Malam ini, shan ni dan doo joon terlihat sedang berjalan berdua menikmati indahnya seoul diakhir-akhir musim dingin. Shan ni terlihat menikmati hidupnya yang baru dengan doo joon tanpa hye ra yang masih terlihat belum meminta maaf padanyanya walau dongwoon telah menjelaskannya panjang lebar.
“mau kemana kita malam ini?” tanya shan ni kepada doo joon.
“aku ingin kau ikut aku ketempat kerjaku.” Jawab doo joon tersenyum.
“tempat kerja?” tanya shan ni bingung.
“memangnya hanya kau saja yang bisa kerja paruh waktu, aku juga bisa..” ucap doo joon tersenyum lebar. Shan ni mengikuti langkah doo joon walau pikirannya bingung tentang pekerjaan doo joon.
“tadda, masuklah. Ini tempat kerjaku.” Ucap doo joon ketika mereka berhenti disebuah bar. Shan ni bingung.
“kau bekerja apa disini?” tanya shan ni berjalan masuk mengikuti doo joon.
“aku menjadi DJ disini, itu kan kerja sambilanku selama ini.” Jawab doo joon pergi kemeja DJ-nya lalu memulai pekerjaannya. Shan ni memperhatikan sekelilingnya lalu terdiam memperhatikan doo joon yang penampilannya sangat memukau dengan berbagai musik yang ia mainkan.
“kemarilah.” Suruh doo joon kepada shan ni yang daritadi terdiam memperhatikannya. Shan ni pun berjalan menghampirinya.
“bagaimana kalau kita berduet?” ajak doo joon tersenyum.
“hah?” shan ni terlihat kaget ketika doo joon mengajaknya.
“ayolahh.” Doo joon memakaikan satu earphone lagi kekepala shan ni. Shan ni yang terlihat mengalah akhirnya berduet dengan doojoon malam itu di bar yang sangat ramai.
*
“kau senang?” tanya doo joon tepat pukul 12 malam. Shan ni hanya mengangguk.
“besok, setelah pulang kuliah, mampirlah keapartemenku.” Ajak doo joon kepada shan ni.
“dimana apartemenmu?” tanya shan ni kepada doo joon. Doo joon tersenyum lalu menunjuk kesebuah bangunan tinggi tepat 3 bangunan dari bar tersebut. Shan ni memperhatikan gedung apartemen tersebut.
“baiklah.” Ucap shan ni menghentikan sebuah taksi didepannya.
“sampai jumpa.” Ucap doo joon kepada shan ni yang memasuki taksi tersebut. Shan ni hanya tersenyum melepas kepergiannya.
Sementara dikamarnya, hye ra terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil membaringkan badannya.
“apa aku salah??” gumamnya sendirian. Hye ra pun menghela nafasnya dan berusaha memejamkan matanya.
*
“waww.. kau suka hal berbau seni juga?” tanya shan ni memperhatikan berbagai lukisan ketika memasuki apartemen doojoon.
“hmm, aku suka semua yang berbau seni.” Jawab doojoon tersenyum. “duduklah.” Suruh doojoon kepada shan ni yang memperhatikan sebuah piano putih ditengah ruang tengah tersebut.
“ada apa kau menyuruhku kesini?” tanya shan ni duduk ditempat yang diperintahkan doojoon.
“hanya ingin pergi dari sebuah keramaian kota bersama dirimu.” Jawab doojoon berjalan menghampiri shan ni. Shan ni hanya menatapnya sinis.
“aku menyukaimu.” Ucap doojoon pelan menatap hye ra tajam. Hye ra yang terdiam terus memandang kearah doojoon.
“cukupkah perasaanku ini menetap dihatimu?” tanya doojoon lagi. Shan ni hanya mengangguk pelan menatap doojoon. Doojoon yang masih berdiri dihadapan shan ni tersenyum lalu menyentuh leher shan ni dan mencium bibirnya. Shan ni hanya memejamkan matanya dan memegang pipi doojoon. Mereka pun terlihat menikmati kemesraan mereka.
*
Pagi ini hye ra sedang duduk diperpustakaan dikampusnya. Ia sedang sibuk membaca sebuah buku dan terlihat sedang tidak ingin diganggu.
“hye ra.” Panggil seorang lelaki dengan suara pelan. Lelaki itu lalu duduk didepan hye ra.
“neon?” ucap hye ra kaget ketika menatap kearah lelaki itu.
“aku ingin minta maaf kepadamu.” Ucap lelaki itu dengan wajah lesu.
“wei? Kau menyesal telah menghianatiku saat itu?” tnya hye ra menatap tajam kelelaki tersebut.
“aku sangat menyesal.” Ucap lelaki itu pelan. “aku ingin kita memulainya dari awal lagi.”
“mian ki kwang, aku sudah memiliki seseorang yang benar-benar mencintaiku.” Ucap hye ra menatap kearah lelaki itu.
“tapi..” sahut ki kwang pelan.
“maafkan aku, tapi kau pasti akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Percayalah.” Ucap hye ra mengusap pipi ki kwang lalu pergi meninggalkan ki kwang sendirian.
Sementara di pintu keluar kampus tersebut, hyun seung dan shan ni sedang berjalan bersama meninggalkan kampusnya.
“aku ingin memberikan ini untukmu.” Ucap hyun seung memberikan sebuah amplop coklat kepada shan ni.
“apa ini?” tanya shan ni bingung.
“semua yang sudah kau berikan kepadaku aku kembalikan.” Jawab hyun seung tersenyum ketika shan ni memegang amplop itu.
“sudah kubilang kan, anggap saja aku memberikannya untukmu.” Ucap shan ni memberikan amplop itu lagi lalu berjalan pelan.
“besok aku akan pergi.” Ucapan hyun seung menghentikan langkah shan ni. Shan ni pun berbalik menghadap kearah hyun seung.
“ayahku mengajakku pergi ke incheon, ia sudah dapat proyek kerja disana. Dan aku akan pindah membantu ayahku dan kuliah disana.” Hyun seung memberitahu kepada shan ni.
“secepat itu kah?” tanya shan ni menghampiri hyun seung. Hyun seung hanya mengangguk.
“maka dari itu, aku mengembalikan semua uangmu, ayahku menyuruhnya untuk mengembalikannya, aku juga tahu kau bekerja tiap malam disupermarket agar kau dapat uang, aku merasa berdosa jika aku tidak mengembalikannya. Terimalah.” Pinta hyun seung kepada shan ni.
“aku akan merindukanmu.” Ucap shan ni memeluk erat tubuh hyun seung.
“pasti, aku juga akan merindukanmu. Salam untuk doo joon.” Ucap hyun seung menatap shan ni. Shan ni menatapnya bingung.
“aku temannya semenjak pesta ulangtahun hye ra, dia sangat baik dan dia sering bercerita tentangmu.” Ucap hyun seung tersenyum. Shan ni hanya tersenyum manis. Mereka pun berjalan meninggalkan kampus mereka bersama.
*
Seminggu setelah kepergian hyun seung ke incheon, shan ni terlihat lebih sering berjalan sendiri. Sampai saat ini, hye ra dengan dirinya pun belum sama sekali berbaikan. Sementara hye ra lebih sering menghabiskan waktu dengan dongwoon, walaupun terkadang dongwoon sibuk dengan pekerjaannya diperusahaan milik ibunya.
Suatu hari diawal musim semi, shan ni sedang duduk disebuah taman sambil membaca sebuah buku dan mengenakan earphone-nya. Ia terlihat menikmati bacaannya itu.
Dari kejauhan terlihat hye ra datang menghampirinya dengan menggunakan kacamata hitam.
“bisakah kita bicara sebentar?” tanya hye ra berdiri dihadapan shan ni. Shan ni membuka earphone-nya lalu menatap kearah hye ra.
“kita pergi kerestoran disana.” Ucap hye ra menunjuk sebuah bangunan hijau dipinggir jalan.
“aku tidak punya banyak waktu, kita bicarakan disini saja.” Ucap shan ni memasukan earphonenya kedalam tas coklatnya.
“baiklah, aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu aku salah, tapi aku ingin kau lebih bisa diajak bicara lagi.” Ucap hye ra menundukan kepalanya. “aku tahu selama ini aku pergi menuju dirimu hanya untuk menceritakan masalahku, sementara jika dirimu membutuhkanku, aku tidak pernah ada disampingmu. Aku minta maaf.”
Shan ni menatap hye ra tajam, “jadi kau sudah sadar?”
“hmm, sekali lagi aku minta maaf, kau masih jadi sahabatku kan?” tanya hye ra tersenyum kepada shan ni. Shan ni membalas senyuman hye ra.
“sampai kapanpun kau tetap sahabatku.” Ucap shan ni memeluk hye ra. Mata hye ra berkaca-kaca dipelukan shan ni.
“baiklah, kita kerestoran saja. Aku yang teraktir.” Ucap hye ra menarik tangan shan ni. Shan ni tersenyum lalu berjalan mengikuti shan ni.
*
“ada apa kau mengajakku kesini?” tanya hye ra kepada dongwoon disebuah restoran mewah diseoul.
“aku hanya ingin mengajakmu kesuatu tempat yang tidak mungkin kau lupakan selamanya.” Ucap dongwoon tersenyum menggenggam tangan hye ra. Hye ra hanya tersipu menatap dongwoon dalam.
“kau mau menikah denganku??” tanya dongwoon mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang berisi cincin. Hye ra terlihat kaget saat melihat kekasihnya memakaikan cincin dijari manisnya. Hye ra pun menangis terharu.
“aku mencintaimu selamanya.” Ucap dongwoon tersenyum.
*
Diapartemennya, shan ni baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia melihat doojoon sedang memilah-milih foto diruang tamunya.
“sudah malam, kau tidak pulang?” tanya shan ni menghampiri doo joon yang terlihat sibuk. Doo joon hanya mengusap pipi shan ni dan tersenyum.
“aku mengantuk, aku mau tidur.” Ucap shan ni tersenyum lalu masuk kedalam kamarnya. Doo joon hanya tersenyum lalu membereskan foto-foto yang berantakan dimeja ruang tamu tersebut.
Setelah membereskan foto-fotonya, doo joon lalu masuk kedalam kamar shan ni. Shan ni yang belum tidur melihat kearah doo joon.
“ada apa?” tanya shan ni tersenyum. Doo joon hanya tersenyum lalu berbaring disebelah shan ni.
“aku akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa terhadapmu.” Ucap doojoon tersenyum memandang kearah kekasihnya itu. Shan ni hanya tersenyum menatap doojoon lalu memejamkan matanya.
*
Hari berganti hari, tahun pun sudah berganti. Hangat dan nyaman cuacanya saat itu. Shan ni tidak lagi menjadi kasir disupermarket. Sekarang, ia bekerja diperusahaan ayahnya sebagai direktur keuangan. Sementara hye ra sebentar lagi akan menjadi nyonya son, karena sebentar lagi, ia akan menikah deongan dongwoon.
Sore itu, shan ni dan hye ra sedang berdiri dipinggir jembatan memperhatikan pantulan sinar matahari dari air sungai yang terlihat jernih.
“bagaimana kabarmu?” tanya hye ra memandang terus kedepan.
“aku baik-baik saja, turut senang atas hubunganmu dengan dongwoon.” Jawab shan ni tersenyum.
“terimakasih untuk semuanya, shan ni.” Ucap hye ra. Shan ni menengok kearahnya.
“semuanya?” tanya shan ni bingung.
“hmm, aku sekarang mengerti akan arti kedewasaan.” Jawab hye ra tersenyum. “dewasa tidak memandang usia, dewasa bergantung kepada sikap kita. Dan aku belajar darimu shan ni.selama ini, aku masih seperti anak kecil, dan berkat kau aku bisa merubahnya.” Shan ni hanya tersenyum.
“yang jelas, selama kedewasaan itu masih ada, aku akan selalu hidup dan membantu seluruh orang disekitarku. Dan yang paling penting, aku akan menyayangi orang yang menyayangiku dan aku tidak akan melupakan sahabatku sampai kapanpun.” Ucap hye ra merangkul shan ni.
“aku juga tidak akan melupakanmu.” Ucap shan ni tersenyum. Sore itu terlihat sangat indah dan hangat. *tamat*
abisss..
selesai deh ffnya, makasih buat nurul setya anggraini yang udah ngedoain jadinya ff. heheheh. ini saya persembahkan 90% buat dia. heheeh. 10%nya buat gw laahh. heheh
No comments:
Post a Comment