Sekolah sangat sepi. Ya, jam pelajaran
memang sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Kelas kelas yang memenuhi
lorong sekolah terlihat bisu, hanya suara langkah manusia yang terdengar
melewati lorong lantai 3 sekolah itu.
Lee byunghun berjalan pelan menggendong
tasnya dengan satu tangannya sementara tangan kanannya ia letakan disaku
celananya. Sesekali ia memperhatikan keluar jendela kelas yang ia lewati. Namun
langkah kaki byunghun langsung berhenti ketika ia memperhatikan sebuah ruang
seni yang pintunya terbuka lebar. Byunghun bukan memperhatikan kelas yang
kosong, melainkan seorang perempuan yang sedang berusaha meraih sebuah lukisan
besar bergambar semak belukar yang tergantung tinggi didinding.
Byunghun memperhatikan perempuan itu
dengan seksama, seketika dengan langkah cepat ia menghampiri perempuan itu.
“hampir saja.” Ucap byunghun memegangi
lukisan yang hampir saja mengenai kepala perempuan itu ketika perempuan itu
berusaha meraih lukisan.
“huuhh, gomawo.” Balas perempuan itu tersenyum
meraih lukisan yang ada ditangan byunghun.
Tanpa kata, perempuan itu mengambil kain
basah lalu membersihkan lukisan itu. byunghun hanya diam memperhatikan gerak
gerik perempuan itu.
“bantu aku.” Ucap perempuan itu memberikan
lukisan kepada byunghun mengisyaratkan agar byunghun membantunya meletakan
kembali lukisan itu. tanpa kata, byunghun langsung menuruti perintah perempuan
itu.
*
“kenapa kau membersihkan seluruh lukisan
diruang seni? Itu kan tugas pembersih sekolah.” Tanya byunghun ketika ia berjalan
pulang dengan perempuan yang bernama jang mirin itu.
“aku sudah melakukannya sejak kelas 1.”
Jawab mirin tersenyum menatap byunghun yang ekspresinya terlihat tidak berubah.
“micheoso.” Sahut byunghun menahan
tawanya.
“wae? Ahh, hampir satu tahun kita sekelas,
tapi baru kali ini kita begitu dekat. Kau tahu, aku kira kau adalah anak yang
dingin dan menyebalkan, tapi, gomawo ya kau sudah membantuku tadi.” Cerita
mirin panjang lebar dengan nada bicara menandakan perempuan yang sangat ceria.
“hanya sedikit.” Jawab byunghun santai.
*
“annyeong.” Ucap mirin duduk dikursinya
setelah menyapa temannya yang duduk persis didepannya. Temannya sibuk membaca
buku tanpa menggubris mirin. Tapi mirin tidak memikirkannya, ia langsung
meletakan tasnya diatas meja dan menyapa byunghun yang duduk dibaris sebelahnya
dengan melambaikan tangan dan mengguratkan senyum manisnya. Lagi-lagi byunghun
hanya menyeringai lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kelasnya.
*
Hari sudah mulai gelap, cuaca sudah benar
benar dingin. Byunghun baru saja selesai dari latihan basketnya, ia keluar
sekolah dengan syal abu-abu melingkar dilehernya.
Byunghun berjalan pelan sambil
menggosok-gosokan kedua telapak tangannya berharap hawa dingin malam ini tidak
menembus tulang tulangnya.
“sedang apa perempuan itu disana?” gumam
byunghun sendirian memperhatikan mirin yang sedang membagi susu hangat kepada
beberapa anak kecil yang berada ditaman bermain didekat sekolahnya.
Lagi-lagi byunghun terdiam memperhatikan
mirin hingga semua anak ditaman itu kembali kerumah masing-masing.
Byunghun berjalan menghampiri mirin yang
membereskan tasnya yang sudah kosong.
“kau sedang apa?” tanya byunghun datar.
Mirin menatap kaget dari duduknya lalu tersenyum seceria biasanya.
“membagikan susu hangat.” Jawab mirin kembali
menggendong tasnya.
“masih dengan pakaian seragam seperti
ini?” tanya byunghun lagi. Mirin yang kaget akan pertanyaan byunghun,
memperhatikan dirinya yang masing lengkap menggunakan seragam sekolahnya. “ayo
pulang.” Ajak byunghun melangkahkan kakinya lebih dulu.
Tanpa kata, mirin mengikuti byunghun
dibelakang sambil menahan hawa dingin yang menyapa tubuhnya.
“kenapa lama sekali?” byunghun berbalik
menatap mirin yang berjalan sangat lambat sambil menahan dingin. Byunghun diam
sejenak lalu melepas syalnya dan melingkarinya dileher mirin. “ini lebih baik.”
Ucap byunghun sedikit kikuk. “kajja.” Byunghun menggenggam tangan mirin dan
memasukannya kedalam saku baju hangatnya. Mirin hendak melepaskannya tapi
byunghun menatapnya sinis.
*
“Saat itu musim semi, tahun ajaran baru
dimulai, aku berharap aku bisa sekelas dengannya. Perempuan yang membuat
jantungku berdegup kencang ketika menatapnya. Bukan karena kecantikannya, tapi
karena tingkah lakunya yang polos, dan senyumnya yang selalu ceria. Aku jatuh
cinta padanya.”
“hampir satu tahun, kenaikan kelas semakin
dekat, tapi kenapa aku baru bisa mendekatinya akhir akhir ini? Jantungku
semakin kencang jika aku memikirkannya. Aku harap aku bisa memilikinya.” Suara
gumaman hati byunghun terucap ketika ia memikirkan mirin pagi ini.
“annyeong.” Suara mirin menghamburkan
semua pikiran dan ucapan hatinya. Ia melihat perempuan yang ia pikirkan berdiri
dihadapannya sambil meletakan sebotol susu diatas mejanya. Tanpa banyak bicara,
mirin langsung duduk dikursinya dan meletakan tasnya diatas meja, seperti
biasa.
Byunghun memperhatikan susu itu bingung,
lalu melanjutkannya dengan menatap mirin yang sedang sibuk memasukan isi pensil
kedalam pensil birunya dan mulai menulis.
*
“yaa~ byunghun-ah.” Suara itu terdengar
jelas ditelinga byunghun ketika byunghun sedang berdiri diatas sebuah jembatan
sambil memegangi susu yang diberikan mirin pagi tadi.
Byunghun memperhatikan mirin yang berjalan
menghampirinya, dengan cepat ia memasukan susu itu kedalam saku jaketnya.
Byunghyun mengangkat sedikit satu sudut bibirnya lalu berjalan menjauhi mirin.
“ya? Odiga?” mirin sedikit berlari hingga
berjalan mundur sambil menatap byunghun yang berjalan pelan dihadapannya.
“odi?” pertanyaan itu tidak dihiraukan oleh byunghun sama sekali. Ia tetap
berjalan. “kau meminum susu yang aku berikan? Anggap saja ucapan terimakasihku
malam itu.” mirin menghentikan langkahnya namun lagi-lagi byunghun tetap
berjalan.
“yaa~ kau itu benar benar menyebalkan ya,
kau itu dingin.” Mirin lagi lagi berjalan mundur didepan byunghun. “kau juga
tidak pernah tersenyum, apa kau seperti ini keorang lain? Uh, menyebalkan.”
Ucap mirin kesal menatap wajah byunghun yang tidak memperhatikannya sama
sekali.
“berhenti!” mirin merentangkan tangannya
membuat byunghun yang hampir menabraknya terpaksa berhenti. Byunghun menatap
mata mirin sekarang. “aku akan membuatmu tertawa sekarang, ah tidak, tersenyum
minimal.”
Mirin mulai menampilkan keaegyo-annya
hingga ekspresi ekspresi lucu yang ia buat dari wajahnya. Namun tidak ada
senyum sedikitpun yang tergurat dari bibir byunghun.
“tidak lucu ya?” mirin menggarukan
kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
“kau lucu, sangat lucu.” Byunghun mengusap
pelan rambut mirin dan tersenyum senang menatap wajah mirin yang saat itu
merasa kesal pada dirinya sendiri. Mirin terperangah menatap senyum byunghun
yang baru pertama kali ia lihat.
“kau lebih tampan kalau tersenyum.” Ucap
mirin senang.
*
“kau sedang apa?” tanya byunghun masuk
kedalam kelas yang hanya ada mirin didalamnya yang sedang merasakan udara sore itu
dari jendela yang ia buka lebar.
“ani.” Jawab mirin tidak seceria biasanya.
Ia memperhatikan sepasang burung yang sedang terbang didekatnya. Byunghun ikut
memperhatikan keluar jendela sambil berdiri dibelakang mirin dengan kedua
tangannya ada disebelah mirin.
“kau tidak seperti biasanya, kau sakit?”
tanya byunghun masih memperhatikan keluar jendela. Mirin membalikan tubuhnya,
dengan cepat byunghun berdiri disebelah mirin.
“aku hanya ingin lebih lama disekolah ini
hari ini.” Jawab mirin pelan memaksakan senyum dari bibirnya. Byunghun hanya
diam mendengar ucapan mirin. “kau kenapa disini? Kau mencariku?” tanya mirin
kembali dengan nada cerianya dan senyum lebarnya.
“a.. ani, aku, aku hanya ingin mengajakmu
pulang bersama.” Jawab byunghun sedikit gugup.
“kenapa kau gugup?” tanya mirin menepuk
dada byunghun.
“ya. Kau, ishh.” Byunghun hendak memukul
mirin namun menahannya. Mirin hanya tersenyum duduk dijendela yang terbuka itu.
“byunghun-ah, apa yang akan kau berikan
kepada orang yang kau cintai jika orang yang kau cintai akan pergi untuk
selamanya?” tanya mirin dengan nada serius. Byunghun menatapnya dalam.
“molla.”
“ya, kau ini. Menyebalkan. Tetap saja
datar.” Ucap mirin kesal. Byunghun hanya tersenyum meraih tangan mirin dan
menggenggamnya. Mirin hanya diam. “kau menyukaiku?” tanya mirin membuat
byunghun menatapnya. Byunghun mengangguk pelan. “wae?”
“haruskah menggunakan alasan jika seorang
mencintai orang lain?” byunghun berbalik bertanya. Mirin berbalik diam
mendengar alasan byunghun.
Byunghun yang tadi berdiri disebelah mirin
sekarang merubah posisinya menjadi berdiri dihadapan mirin. Ia meraih dagu
mirin membuat mirin menatap matanya yang perlahan terpejam. Mirin yang melihat
itu semua ikut memejamkan matanya. Bibir mereka bertemu satu sama lain. Ciuman pertama
yang sama-sama mereka rasakan terasa hangat dengan ditemani sinar matahari yang
masuk melalui jendela dibelakang mereka.
*
“kau tahu, aku tidak menyukaimu.” Suara
mirin ketika dirinya dan byunghun pulang bersama dari sekolah mereka sore itu.
tangan byunghun yang menggenggam erat tangannya iya gerak-gerakan sedikit.
“aku tidak percaya.” Sahut byunghun santai
menatap kearah lain.
“jika aku menyukaimu aku akan menyakitimu
nanti, kau juga seharusnya tidak boleh menyukaiku.”
“mirin-ah, aku menyukaimu dan aku juga
tahu kalau kau menyukaiku, apakah sulit untuk menggabungkan cinta kita?” ucap
byunghun kesal selesai mendengar mirin berbicara.
“aku hanya tidak ingin menyakitimu kelak.”
Sahut mirin pelan.
*
Tepat pukul 8 pagi. Byunghun terlihat
sangat buru-buru menaiki tangga sekolahnya. ya, hari ini ia hampir terlambat
karena semalam ia harus mendata seluruh siswa basket yang akan mengikuti lomba.
Dengan sangat terengah-engah byunghun
membuka pintu kelasnya. Beruntung, guru yang mengajar belum datang. Siswa
dikelas itu juga masih sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
Byunghun melangkah santai kemejanya. Ia
memperhatikan meja mirin yang kosong. “tidakbiasanya ia terlambat.” Gumam
byunghun dalam hati sambil melihat kearah pintu gerbang sekolah yang perlahan
ditutup.
Byunghun duduk dikursinya memperhatikan
mejanya yang aneh. Ia mengambil sebotol susu yang kemarin mirin berikan
untuknya. “dia datang?” gumamnya lagi dari dalam hatinya. Tiba tiba suara pintu
kelas terbuka terdengar ditelinga byunghun. Refleks, byunghun berbalik melihat
kearah pintu berharap mirin datang. Jauh dari yang dipikirkan byunghun,
ternyata kim songsaenimlah yang masuk kedalam kelas.
Pikiran byunghun mulai kacau, lalu ia
mengambil secarik kertas kecil yang dari tadi diam diatas mejanya.
“mian ^_^aku harus pergi. Byunghun-ah,
saranghae J chinguya! -jang mirin-“ tulisan pendek itu dibaca pelan oleh
byunghun. Ia sadar sekarang, mirin telah pergi. Lalu, tanpa memperdulikan kim
songsaenim yang sedang mengajar, byunghun berlari keluar kelas berharap mirin
masih ada disekolah ini.
*
“dia akan pindah ke spanyol mengikuti
ayahnya yang dinas disana. Itu mobilnya.” Suara seorang guru yang berdiri
didepan gedung sekolah sambil menunjuk mobil hitam yang keluar gerbang sekolah
tersebut. Byunghun yg masih terengah-engah berlari berusaha mengejar mobil
tersebut. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, mobil mirin berlalu begitu
cepat meninggalkan byunghun yang terdiam diluar sekolahnya.
*
“apa aku terlalu cepat mencintaimu,
sehingga kau terlalu cepat meninggalkanku? Kenapa kau tidak berkata dari
sebelumnya bahwa kau harus pergi?”
“karena aku mencintaimu dan tidak ingin
menyakitimu”

No comments:
Post a Comment