Laman

June 21, 2012

Worst Life (oneshoot)



cast:
INFINITE sunggyu as himself
my friend (vhanni) as kim yoo ra


Happy reading all!!!! J

Aku tidak berniat beranjak dari tempat ini. Mataku masih memperhatikan orang yang berlalu lalang melewati lampu-lampu indah yang menghiasi pusat kota ini. Segelas moccacino yang berdiri disebelahku berubah suhunya mengikuti suhu udara malam ini. Asapnya menghilang digantikan asap napasku yang beradu dengan hawa dingin ini.
Tempat ini membuatku nyaman setidaknya untuk menyegarkan kembali perasaan hatiku. Mataku masih memperhatikan setiap orang yang lewat didepanku. Setiap malam, aku memang selalu duduk dikursi ini menanti seseorang keluar dari sebuah  hotel dihadapanku. Seseorang yang membuatku sedikit bertahan untuk menerima semua jalan kehidupan.
Aku melihatnya, lelaki yang menggunakan setelan jas keluar dari sebuah pintu hotel yang cukup jauh dari tempatku duduk. Lelaki itu masih sama seperti 3 tahun lalu. Wajahnya, bentuk bibirnya, dan cara berjalannya tidak ada yang berubah. Aku tersenyum memperhatikannya dari kejauhan, berharap ia melihat dan membalas senyumanku. Tapi tidak mungkin, sejak 3 tahun lalu hal itu tidak pernah terjadi dan mungkin tidak akan pernah terjadi.
“sunggyu-yaa..” suara perempuan terdengar ditelingaku. Aku mengalihkan pandanganku ke seorang yang berdiri tepat disamping kursi tempatku duduk. Perempuan itu menatapku. “kim yoo ra.” Panggilnya antusias. Aku mengguratkan senyumku kepada sahabatku ketika aku masih duduk dibangku SMA. Seketika sunggyu, lelaki yang dari tadi aku perhatikan menghampiri perempuan ini. Mengecup keningnya lalu memeluknya. Perasaan ini muncul lagi. Perasaan hancur dan sakit menjadi satu didada ini.
Aku bangkit, mencoba berjalan meninggalkan mereka tanpa satu katapun.
“yoora, kau tidak ingin pulang dengan kami?” perempuan itu memanggilku yang sudah berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Aku membalikan badanku tersenyum dan sedikit menggeleng. Aku menatap kearah sunggyu yang menatapku namun tidak ada guratan senyum diwajahnya.
*
Sepanjang malam, aku hanya duduk didepan layar komputerku. Mencoba mengetikan kata-kata sampah dan berusaha melupakan kejadian didalam seluruh hidupku.
“mana uang yang kemarin? Kau belum memberikannya padaku.” Ayahku membuka pintu kamarku dan menatapku sinis. Bau alkohol langsung menyeruak dikamarku.
“besok baru aku ambil.” Ucapku memunguti kertas yang baru saja diprint.
“kau itu bodoh? Aku butuh uangnya sekarang! Dasar anak tidak bisa diandalkan! Aku menyesal mempunyai anak sepertimu!” suara ayahku meninggi diikuti siara bantingan pintu kamarku. Yaa, bahkan ayahku pun tidak mau menganggap aku sebagai anaknya. Hidupku hanya dipenuhi dengan ejekan, gunjingan, dan tatapan sinis orang orang yang melihatku. Aku sudah terbiasa hidup seperti ini tanpa bantuan dari siapapun dan tanpa orang orang yang mencintaiku.
*
Pagi ini, seperti biasa, aku harus pergi mengirimkan smeua cerita-cerita aneh yang aku buat beberapa hari yang lalu. Berjalan melewati pertokoan, memasuki kantor pos, penerbit, dan majalah aku lalui tanpa bantuan orang lain. Hingga sore tiba pun aku masih harus mengirimkan seluruh ceritaku.
Tapi berbeda dengan hari ini, seluruh kertas kertas ceritaku masih ada digenggaman tanganku. Semua yang aku sambangi menolaknya dengan alasan ceritaku sudah tidak laku atau apalah alasan orang-orang menolaknya. Aku masih berjalan membawa setumpuk kertas dan membiarkan perutku kelaparan.
“biar kubantu.” Suara itu terdengar ketika aku hampir saja terjatuh ketika berjalan ditrotoar yang sangat ramai. Sunggyu berdiri dihadapanku sambil memegangi beberapa kertas yang hampir terjatuh.
“aku bisa sendiri.” Ucapku meraih kertasku lalu berjalan menjauhinya.
“kau yakin? Kau sudah makan?” sunggyu mengejarku yang terpincangpincang. Aku terus melangkah menninggalkan sunggyu walau hampir semua kertas yang kubawa berjatuhan dan langkahku benar benar tidak tertata rapi.
“sunggyu-ya.” Suara perempuan yang sama seperti suara perempuan semalam memanggil sunggyu. Aku melambatkan langkah kakiku ketika aku sadar sunggyu pasti sudah tidak mengejarku lagi.
Aku melangkah dengan tergesa-gesa. Perlahan, aku membalikan tubuhku mencoba mecari sunggyu. Tepat, dia sudah tidak mengejarku. Langkahnya berubah 180 derejat. Dirinya juga sudah tidak sendiri, dia sudah pergi dengan perempuan lain sekarang.
Perasaan ini muncul lagi, rasa sakit yang seharusnya tidak muncul lagi sejak 3 tahun yang lalu.  Aku tidak bisa menahan perasaan ini untuk yang kesekian kalinya. Entah kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan pahit dikehidupanku yang aku jalani saat ini. Kenyataan pahit yang bertubi tubi datang kearahku dan aku tidak bisa melewatinya sama sekali.
*
Malam ini, terasa kelam seperti biasa. Aku hanya terdiam diatas sebuah kursi coklat tepat menghadap kearah jendela yang hanya ditutupi oleh selembar kain tipis yang menari diterpa angin malam yang masuk lewat celah kecil jendela.
Aku memperhatikan sebuah foto yang sudah lapuk dan terbakar disisi kanan dan kirinya. Sebuah foto yang mengingatkanku kepada sebuah peristiwa yang tidak mungkin aku ulang. Namun, peristiwa itu pun yang membawaku menjadi sulit menjalani hidup saat ini.
Saat itu, pesta kelulusan telah berakhir. Tapi untukku kebahagiaan dihari itu belum berakhir sebelum aku melaksanakan rencana terakhir dihari ini. Dengan senyum yang sangat bahagia, aku berjalan melewati trotoar yang ramai. Saat itu orang-orang disana tidak menatapku dengan sinis, bahkan mereka tidak memperdulikanku saat itu.
Aku memasuki sebuah restoran kecil dan bertemu seorang lelaki yang sudah lama aku simpan perasaanku untuknya. Ya, sunggyu. Aku memperhatikannya yang menungguku dari balik kaca restoran itu. aku mengguratkan senyumku lalu masuk kedalam restoran dan menghampirinya dengan senyum yang merekah.
“maaf telah menunggumu lama.” Ucapku santai. Sunggyu tersenyum, senyuman yang selalu ia tunjukan padaku ketika ia bertemu denganku. Senyuman yang sama bahkan ketika ia menyuruhku untuk tegar dalam menjalani hidup.
“aku juga baru datang, mengapa kau mengajakku bertemu? 3 jam yang lalu kan kita baru saja bertemu dipesta kelulusan.” Tanyanya dengan wajah bingunnya. Aku terdiam sejenak saat itu mempersiapkan diriku sendiri dan memperlambat detak jantungku yang dari tadi berdetak sangat cepat.
“aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ucapku sedikit gugup. Sunggyu menatapku menanti ucapanku selanjutnya. “sunggyu-ya, aku menyukaimu dan aku tidak tahu bagaimana cara memberitahumu, aku hanya bisa memberikan ini padamu.” Ucapku menunduk sambil memberikan sebuah kotak berwarna merah darah yang berisi coklat yang aku buat semalaman.
Beberapa menit kami terdiam, aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan menatap wajah sunggyu.”wae? kau tidak menyukaiku?” tanyaku pelan dengan tatapan bingung.
“mian, yoora-ya. Aku...”sunggyu mulai berbicara. “beberapa saat yang lalu, aku baru saja menyatakan perasaanku pada chae rin.” ucapan sunggyu membuatku ternganga.
“chae..rin...”
“iya, lee chae rin. mian yoora, tapi, kenapa kau tidak menyatakan itu sejak dulu? Aku...”
“gwencanha, chae rin, chae rin orang yang baik. Dia juga cantik, aku pikir dia juga pantas untukmu.” Ucapku mencoba menahan semua perasaanku yang hancur lebur mendengar ucapan sunggyu tadi. Kata-kata yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Sesuatu yang ada diluar batas pemikiranku jika sunggyu menyukai chaerin, sahabatku sendiri.
Aku menghela napas panjang bertahan agar aku tidak menangis. Aku mengambil ponselku menahan tanganku agar tidak bergetar.
“sepertinya aku harus pergi, gyu-ya.” ucapku bangkit dari tempatku.
“kau mau aku antar?” tanyanya yang tahu jika wajahku tidak seceria tadi.
“aku bisa pulang sendiri.” Jawabku tersenyum, berusaha sesumringah sebelumnya. “ahh,” aku membalikan tubuhku. “selamat atas kelulusanmu, dan selamat karena telah menemukan perempuan sebaik chae rin.”
Aku melangkah keluar restoran itu. aku tidak memikirkan apa yang sedang dipikirkan sunggyu sekarang. Aku hanya berjalan berharap semua rasa yang hancur lebur ini terbang mengikuti angin yang menghembuskan rambutku.
*
Hari itu belum berakhir, semua kesedihan itu masih berlanjut dihari yang kelam itu. setelah keluar dari restoran itu, aku tidak berniat untuk pulang sama sekali. Aku terus berjalan dan tidak memperdulikan sunggyu yang masih berdiri memperhatikanku.
Aku terus berjalan dan membiarkan air mataku yang terus menetes. Aku tidak memperdulikan orang-orang yang menatapku bingung. Dipikiranku saat itu hanyalah kehancuran yang mendalam dan satu pertanyaan: “kenapa?”
Aku menoleh kebelakang mendengar seseorang memanggil namaku, aku memperhatikan beberapa orang dibelakangku yang hampir semuanya menatapku. Mataku masih buram karena air mata yang masih memenuhi mataku. Hingga akhirnya aku menoleh kekiri, sebuah motor besar melaju sangat kencang. Aku membatu menatap motor itu. dan “crashhhhhh....” ya, hanya kejadian itu yang kuingat.
Setelah kejadian tabrakan itu, aku hanya berharap aku sudah berpindah kehidupan. Tapi ternyata harapanku masih ditunda. Ketika aku terbangung, aku sudah berada diruang perawatan dirumah sakit. Ketika mataku terbuka, entah kenapa aku tersenyum menatap seorang lelaki dengan wajah muramnya berdiri didepanku.
“kau tidak semuram biasanya, aku masih hidup.” Ucapku menenangkan hatinya dengan nada sedikit bercanda.
“apa ini semua karenaku?” tanyanya pelan. Aku terdiam menatapnya lalu menggeleng pelan. “maafkan aku.” Ucapnya membuatku sedikit bingung.
*
Kejadian itu, kecelakaan itu, seharusnya sudah terkubur rapat dalam ingatanku. Tapi, kecelakaan itu, hari itu, adalah hari terburuk yang pernah ada dalam hidupku. Karena kejadian hari itu, aku kehilangan semuanya. Kehilangan lelaki yang aku cintai dan.... kehilangan kaki kiriku. Kaki kiriku harus diamputasi karena luka yang cukup parah akibat kecelakaan itu. dan itu membuatku kehilangan semuanya. Kehilangan pekerjaan, kehilangan harapan, kehilangan impian dan kehilangan kepercayaan ayahku.
Aku kini, hanyalah sampah yang hanya bisa dipandang sebelah mata oleh orang yang melihatku. Seorang perempuan buntung yang jika berjalan harus dibantu dua tongkat. Seorang perempuan buntung yang hanya bisa bermimpi tanpa tahu akan hasilnya. Dan seorang perempuan buntung yang kehilangan semua harapannya.
Apakah ini jalan untukku? Semuanya kulakukan sendiri sekarang. Bahkan ayahku pun hanya menganggapku sampah. Aku, hanya berharap, jika esok hari masih datang, aku hanya ingin satu. Cabutlah nyawaku, aku sudah bosan melihat semua kesenangan tanpa aku merasakannya.
*end*

No comments:

Post a Comment