Laman

April 19, 2014

[FF] This is not I Want....(oneshoot)


Langit oranye bertabur awan-awan yang membiaskan sinar matahari yang mulai lelah menemani bumi seakan terasa indah. Pantulan sinar matahari juga terlihat keemasan diarus sungai han yang tidak cukup deras sore ini membuat mata-mata orang yang melewatinya tak sanggup menahan untuk melirik keindahannya.

Park JinYi dan Yong Junhyung adalah satu dari banyak pasangan yang menikmati hangatnya matahari diakhir musim semi seperti ini. Mereka berjalan beriringan tanpa saling melepaskan genggaman tangan mereka berdua. Siluet wajah mereka yang terkena pantulan matahari sore menggambarkan ekspresi bahagia dalam diri mereka masing-masing.

hari terakhir mengenakan seragam.” Ucap junhyung menoleh menatap wajah kekasihnya itu.

“hem, reuni hari ini sangat menyenangkan.” Jinyi mengangguk mengiyakan ucapan junhyung. “kau masih cocok mengenakan seragam sekolah diumurmu yang sekarang.” Lanjut jinyi menghentikan langkahnya lalu membersihkan kerah seragam junhyung yang sedikit tertimpa debu.

Junhyung menatap jinyi yang berdiri dihadapannya. Wajahnya terlihat sangat cantik seakan memantulkan sinar matahari sore yang mengenai wajahnya. Mata junhyung tidak berkedip seakan ada yang ia takutkan ketika ia mencoba menutup matanya.

“kau kenapa?” tanya jinyi menggerakan telapak tangannya didepan wajah junhyung.

“tidak, hanya mengkhawatirkan sesuatu.” Jawab junhyung terkesan kikuk.

“gwencanha, aku tidak akan pergi terlalu jauh darimu. Kau pasti mengkhawatirkanku ‘kan?”

“siapa bilang.” Junhyung menahan senyumnya lalu melangkah pelan meninggalkan jinyi dibelakangnya.

“ya yong junhyung, kau tidak bisa berbohong padaku, kau takut kehilanganku ‘kan?” park jin yi mengejar kekasihnya itu dan meraih lengannya melanjutkan langkah mereka disertai matahari yang ikut lelah menerangi mereka.

*

Park jinyi masuk kedalam kamarnya yang hampir seluruh ornamennya berwarna coklat. Beberapa gambar sepatu memenuhi satu sudut dinding tepat didepan meja belajarnya. Sudah lebih dari 2 tahun jinyi menempati profesi sebagai salah satu desainer sepatu diperusahaan sepatu yang berlokasi tepat ditengah kota seoul. Sebenarnya, cita-cita jinyi sesungguhnya adalah penulis, namun dengan kemampuan menggambarnya yang diatas rata-rata, junhyung menyuruhnya untuk melamar diperusahaan sepatu saat itu. awalnya, jinyi menolak namun karena junhyung memaksanya, ia pun akhirnya mau dan ia menikmati profesinya hingga sekarang.

Diatas meja belajarnya, beberapa foto jinyi dan junhyung berjajar rapi didekat tumpukan kertas dan buku-buku penunjang pekerjaannya. Beberapa alat tulis lain juga bersandar rapi didekat tumpukan amplop warna-warni yang salah satunya jinyi ambil.

“untuk park jinyi” begitu tulisan didepan salah satu amplop yang ia pegang. Dari tumpukan amplop tersebut, semua isi dan pengirimnya sama, orang tua junhyung.

*

Suara musik-musik romantis terdengar dari speaker disalah satu butik ternama di sekitaran gangnam. Junhyung dan jinyi yang terlihat sangat serasi dengan warna pakaian yang hampir mirip memasuki butik tersebut. Seorang pelayan toko menyapa mereka dengan sangat ramah lalu mengantar mereka masuk kedalam untuk memilih pakaian yang akan mereka beli.

“jas dan gaun pengantin yang aku pesan sudah disiapkan?” tanya junhyung pada pelayang tersebut lalu melirik jinyi yang sibuk melihat-lihat gaun pengantin yang berjajar rapi dihadapannya.

Junhyung lagi-lagi terdiam, tidak ada kata yang bisa ia ucapkan ketika menatap kekasihnya tersebut.

“ya, bagaimana jika kita berfoto, aku suka gaun itu.” ucap jinyi yang daritadi sadar ia sedang diperhatikan junhyung.

Tanpa jawaban junhyung, jinyi menghampiri pelayan lain lalu mencoba gaun pengantin tersebut.

“bagaimana? Aku cantik ‘kan?” tanya jinyi setelah memakai gaun yang ia pilih. “tolong fotokan kami.” Ia memberikan ponselnya kepada pelayan lalu menggandeng tangan junhyung disebelahnya.

“kalian berdua benar-benar serasi.” Ucap pelayan sambil tersipu memberikan kembali ponsel jinyi setelah memotret mereka berdua.

Jinyi tersenyum memperhatikan foto dirinya dan junhyung saat mengenakan pakaian pengantin tadi. Tanpa sadar, junhyung sudah menyelesaikan urusannya. Ia membawa gaun dan jas pengantinya pergi bersama dirinya dan jinyi keluar dari butik tersebut.

*

akhir-akhir ini kenapa kau jadi sering diam? Kau sakit?” jinyi meletakan punggung tangannya dikening junhyung seakan mengecek suhu badan kekasihnya. “kau tidak sakit.” Ucap jinyi bingung kembali menyandarkan tubuhnya dipunggung jok mobil junhyung yang daritadi sudah berhenti tepat didepan rumah jinyi.

“jinyi-ya.” Junhyung akhirnya mengeluarkan suaranya. “kau tidak mengkhawatirkan apapun?” tanya junhyung menatap serius wajah jinyi.

“aku?” jinyi mengernyitkan dahinya. Junhyung mengangguk pelan. “aku khawatir jika besok aku akan melihat 2 matahari menyambut pagiku. Besok pasti akan panas sekali, bukan?” jinyi tersenyum menoleh kearah junhyung.

“aku serius!” suara junhyung terdengar keras membuat mata jinyi terbelalak  menatapnya.

“k..kau menakutiku.” Sahut jinyi pelan.

Seketika seisi mobil hening, tidak ada lagi suara dari bibir junhyung dan jinyi saat itu hingga akhirnya waktu yang dikhawatirkan junhyung pun terjadi.

*

Pernikahan mereka pun tiba. Gereja berornamen coklat itu berdandan hanya untuk hari ini. Suara lonceng terdengar nyaring mengiringi langkah sepasang pengantin keluar altar setelah mengikat janji pernikahan sehidup semati mereka. Kelopak bunga warna-warni bertebaran bersamaan dengan sepasang pengantin ini keluar gereja menuruni tangga menghampiri kerabat mereka. Semua mata tertuju pada pasangan yang berbalut gaun indah dan tuxedo berwarna putih. Senyum merekah dibibir pasangan ini dan kerabat yang menyambut mereka.

“chukae~” suara jinyi terdengar jelas ditelinga junhyung. Wajah junhyung yang tadi cerah berubah kelabu ketika ia melihat jinyi ada dihadapannya. Jinyi tersenyum mengulurkan tangannya berharap junhyung membalas uluran tangannya. Namun junhyung hanya sanggup terdiam, menatap jinyi beserta kenangan-kenangan yang terlintas seketika dipikirannya. Junhyung seakan tidak sanggup menerima kenyataan untuk menikah dengan orang lain, bukan dengan jinyi kekasih yang sudah lama ia rajut cintanya bersama-sama.

“go...gomawo.” jawab junhyung pelan.

“kalian berdua cocok.” Sahut jinyi cepat tanpa menunjukan kesedihan diwajahnya. Jinyi hanya tersenyum memperhatikan kebahagiaan yang ditampilkan kedua mempelai itu dan orang-orang yang ada disana.

*

Suara isak tangis terdengar jelas dari kamar itu, kamar coklat milik jinyi yang sunyi seakan berubah menyedihkan ketika jinyi tidak mampu lagi menahan kesakitannya. Ayah junhyung baru saja pergi dari rumahnya beberapa detik yang lalu. Entah mulai kapan ia duduk disofa merah diruang tamu rumah jinyi tapi ketika jinyi baru saja pulang dari pekerjaannya, sebuah kertas merah muda diberikan oleh ayah junhyung untuknya.

“mulai sekarang, jauhi anakku.” Suara datar dan berat itu benar-benar menusuk gendang telinganya. Undangan merah jambu itu seakan menunjukan kejelasan bahwa ayah junhyung tidak ingin jinyi menjalin hubungan apapun dengan junhyung. Jinyi terdiam seakan tidak adalagi yang bisa ia katakan. Kenyataan pahit itu menyerang dirinya. Bahkan junhyung tidak berkata apapun tentang ini. Jinyi hanya tahu jika junhyung hanya mencintainya, kekasih satu-satunya.

“sudah kubilang jauhi anakku.” Suara ayah junhyung meninggi tepat ketika jinyi baru saja keluar dari kantor tempatnya bekerja. Jinyi hanya sanggup terdiam tanpa sanggup berkata apa-apa hingga ayah junhyung melemparkan kertas coklat kehadapannya dan pergi meninggalkan jinyi tanpa kata.

“bisakah kau bilang pada ayahmu berhenti untuk mengirimkan undangan pernikahanmu kepadaku?” tanya jinyi awal musim semi disebuah caffe yang terlihat sepi dan hanya didatangi oleh 2 pasangan yang duduk berjauhan.

“ayahku sudah memberitahumu?” tanya junhyung kaget menatap kedua bola mata jinyi yang tak sanggup menatap kearahnya.

“hm, kau akan menikah?” tanya jinyi datar. Matanya hanya tertuju pada asap americano yang melayang lalu menghilang.

“i.... ini bukan keinginanku, jinyi-ya. Kuharap kau mengerti.” Jawab junhyung meraih kedua pundak jinyi lalu menatapnya nanar.

gwencanha, aku akan mendukungmu.” Jawab jinyi pelan. Kebohongan pertama yang ia katakan pada junhyung dan ia ulangi terus hingga hari pernikahan junhyung tiba.

*

“maaf telah membohongimu selama ini, junhyung-ah. Rasa sakit yang aku rasakan yang membawaku sampai sejauh ini. Aku ingin menyembunyikan kesedihanku karena aku hanya ingin kau menjalankan semuanya tanpa perlu memikirkanku. Selama ini kau telah membuatku bahagia, seperti janjimu saat pertama kali kau menyatakan perasaanmu dikelas saat pulang sekolah musim panas waktu itu. Aku hanya tidak ingin membiarkanmu sedih memikirkanmu hingga akhirnya aku hanya sanggup tersenyum saat aku bersamamu. Aku sakit dan aku tahu kaupun sakit tapi takdir yang membawa kita sampai kesini. Menyelesaikan semuanya dengan jalan yang akhirnya berbeda. Sekarang, kau tidak perlu membahagiakanku lagi, ada seorang wanita cantik disampingmu yang harus kau bahagiakan. Jangan pernah memikirkanku lagi, aku akan bahagia walau aku harus mengobati rasa sakitku terlebih dahulu tapi aku berjanji aku akan lebih bahagia daripada dirimu ketika aku sampai dititik tertinggi dalam hidupku. Terimakasih atas semuanya junhyung-ie, kau pernah menempati hatiku dan aku sempat menginap didalam hatimu. Aku bahagia dan aku akan lebih bahagia kedepannya. Gomawoyo, anyeong. –park jinyi-“  

Suara kicauan burung-burung mengakhiri junhyung membaca surat yang ditulis oleh jinyi. Sebuah kotak coklat berdiri rapi disebelah junhyung. Junhyung membukanya menatap seluruh barang kenangannya ketika masih bersama jinyi. Junhyung menghela napas panjang meletakan surat tersebut didalam kotak lalu menutupnya kembali. Memori indah itu seakan selesai bersamaan dengan tertutupnya kotak tersebut. Junghyung tersenyum lalu meninggalkan kursi putih yang langsung menatap kesungai han dan meninggalkan kotak coklat tersebut.


*END*

No comments:

Post a Comment