Langit oranye bertabur awan-awan yang membiaskan sinar matahari yang mulai lelah
menemani bumi seakan terasa indah. Pantulan sinar matahari juga terlihat
keemasan diarus sungai han yang tidak cukup deras sore ini membuat mata-mata
orang yang melewatinya tak sanggup menahan untuk melirik keindahannya.
Park JinYi
dan Yong Junhyung adalah satu dari banyak pasangan yang menikmati hangatnya
matahari diakhir musim semi seperti ini. Mereka berjalan beriringan tanpa
saling melepaskan genggaman tangan mereka berdua. Siluet wajah mereka yang
terkena pantulan matahari sore menggambarkan ekspresi bahagia dalam diri mereka
masing-masing.
“hari terakhir mengenakan seragam.” Ucap
junhyung menoleh menatap wajah kekasihnya itu.
“hem, reuni hari ini sangat
menyenangkan.” Jinyi
mengangguk mengiyakan ucapan junhyung. “kau
masih cocok mengenakan seragam sekolah diumurmu yang sekarang.” Lanjut
jinyi menghentikan langkahnya lalu membersihkan kerah seragam junhyung yang
sedikit tertimpa debu.
Junhyung
menatap jinyi yang berdiri dihadapannya. Wajahnya terlihat sangat cantik seakan
memantulkan sinar matahari sore yang mengenai wajahnya. Mata junhyung tidak
berkedip seakan ada yang ia takutkan ketika ia mencoba menutup matanya.
“kau kenapa?” tanya jinyi menggerakan telapak
tangannya didepan wajah junhyung.
“tidak, hanya mengkhawatirkan
sesuatu.” Jawab
junhyung terkesan kikuk.
“gwencanha, aku tidak akan pergi
terlalu jauh darimu. Kau pasti mengkhawatirkanku ‘kan?”
“siapa bilang.” Junhyung menahan senyumnya lalu
melangkah pelan meninggalkan jinyi dibelakangnya.
“ya yong junhyung, kau tidak bisa
berbohong padaku, kau takut kehilanganku ‘kan?” park jin yi mengejar kekasihnya itu
dan meraih lengannya melanjutkan langkah mereka disertai matahari yang ikut
lelah menerangi mereka.
*
Park jinyi
masuk kedalam kamarnya yang hampir seluruh ornamennya berwarna coklat. Beberapa
gambar sepatu memenuhi satu sudut dinding tepat didepan meja belajarnya. Sudah
lebih dari 2 tahun jinyi menempati profesi sebagai salah satu desainer sepatu
diperusahaan sepatu yang berlokasi tepat ditengah kota seoul. Sebenarnya,
cita-cita jinyi sesungguhnya adalah penulis, namun dengan kemampuan
menggambarnya yang diatas rata-rata, junhyung menyuruhnya untuk melamar
diperusahaan sepatu saat itu. awalnya, jinyi menolak namun karena junhyung
memaksanya, ia pun akhirnya mau dan ia menikmati profesinya hingga sekarang.
Diatas meja
belajarnya, beberapa foto jinyi dan junhyung berjajar rapi didekat tumpukan
kertas dan buku-buku penunjang pekerjaannya. Beberapa alat tulis lain juga
bersandar rapi didekat tumpukan amplop warna-warni yang salah satunya jinyi
ambil.
“untuk park jinyi” begitu tulisan didepan salah satu
amplop yang ia pegang. Dari tumpukan amplop tersebut, semua isi dan pengirimnya
sama, orang tua junhyung.
*
Suara
musik-musik romantis terdengar dari speaker disalah satu butik ternama di
sekitaran gangnam. Junhyung dan jinyi yang terlihat sangat serasi dengan warna
pakaian yang hampir mirip memasuki butik tersebut. Seorang pelayan toko menyapa
mereka dengan sangat ramah lalu mengantar mereka masuk kedalam untuk memilih
pakaian yang akan mereka beli.
“jas dan gaun pengantin yang aku
pesan sudah disiapkan?”
tanya junhyung pada pelayang tersebut lalu melirik jinyi yang sibuk
melihat-lihat gaun pengantin yang berjajar rapi dihadapannya.
Junhyung
lagi-lagi terdiam, tidak ada kata yang bisa ia ucapkan ketika menatap
kekasihnya tersebut.
“ya, bagaimana jika kita berfoto, aku
suka gaun itu.” ucap
jinyi yang daritadi sadar ia sedang diperhatikan junhyung.
Tanpa
jawaban junhyung, jinyi menghampiri pelayan lain lalu mencoba gaun pengantin
tersebut.
“bagaimana? Aku cantik ‘kan?” tanya jinyi setelah memakai gaun
yang ia pilih. “tolong fotokan kami.”
Ia memberikan ponselnya kepada pelayan lalu menggandeng tangan junhyung
disebelahnya.
“kalian berdua benar-benar serasi.” Ucap pelayan sambil tersipu
memberikan kembali ponsel jinyi setelah memotret mereka berdua.
Jinyi
tersenyum memperhatikan foto dirinya dan junhyung saat mengenakan pakaian
pengantin tadi. Tanpa sadar, junhyung sudah menyelesaikan urusannya. Ia membawa
gaun dan jas pengantinya pergi bersama dirinya dan jinyi keluar dari butik
tersebut.
*
“akhir-akhir ini
kenapa kau jadi sering diam? Kau sakit?” jinyi meletakan punggung tangannya dikening junhyung
seakan mengecek suhu badan kekasihnya. “kau
tidak sakit.” Ucap jinyi bingung kembali menyandarkan tubuhnya dipunggung
jok mobil junhyung yang daritadi sudah berhenti tepat didepan rumah jinyi.
“jinyi-ya.”
Junhyung akhirnya mengeluarkan suaranya. “kau tidak mengkhawatirkan apapun?”
tanya junhyung menatap serius wajah jinyi.
“aku?” jinyi mengernyitkan dahinya.
Junhyung mengangguk pelan. “aku khawatir
jika besok aku akan melihat 2 matahari menyambut pagiku. Besok pasti akan panas
sekali, bukan?” jinyi tersenyum menoleh kearah junhyung.
“aku serius!” suara junhyung terdengar keras
membuat mata jinyi terbelalak
menatapnya.
“k..kau menakutiku.” Sahut jinyi pelan.
Seketika
seisi mobil hening, tidak ada lagi suara dari bibir junhyung dan jinyi saat itu
hingga akhirnya waktu yang dikhawatirkan junhyung pun terjadi.
*
Pernikahan
mereka pun tiba. Gereja berornamen coklat itu berdandan hanya untuk hari ini.
Suara lonceng terdengar nyaring mengiringi langkah sepasang pengantin keluar
altar setelah mengikat janji pernikahan sehidup semati mereka.
Kelopak bunga warna-warni bertebaran bersamaan dengan sepasang pengantin ini
keluar gereja menuruni tangga menghampiri kerabat mereka. Semua mata tertuju pada pasangan yang
berbalut gaun indah dan tuxedo berwarna putih. Senyum merekah dibibir pasangan
ini dan kerabat yang menyambut mereka.
“chukae~” suara jinyi terdengar jelas
ditelinga junhyung. Wajah junhyung yang tadi cerah berubah kelabu ketika ia
melihat jinyi ada dihadapannya. Jinyi tersenyum mengulurkan tangannya berharap
junhyung membalas uluran tangannya. Namun junhyung hanya sanggup terdiam,
menatap jinyi beserta kenangan-kenangan yang terlintas seketika dipikirannya.
Junhyung seakan tidak sanggup menerima kenyataan untuk menikah dengan orang
lain, bukan dengan jinyi kekasih yang sudah lama ia rajut cintanya
bersama-sama.
“go...gomawo.” jawab junhyung pelan.
“kalian berdua cocok.” Sahut jinyi cepat tanpa menunjukan
kesedihan diwajahnya. Jinyi hanya tersenyum memperhatikan kebahagiaan yang
ditampilkan kedua mempelai itu dan orang-orang yang ada disana.
*
Suara isak
tangis terdengar jelas dari kamar itu, kamar coklat milik jinyi yang sunyi
seakan berubah menyedihkan ketika jinyi tidak mampu lagi menahan kesakitannya.
Ayah junhyung baru saja pergi dari rumahnya beberapa detik yang lalu. Entah
mulai kapan ia duduk disofa merah diruang tamu rumah jinyi tapi ketika jinyi
baru saja pulang dari pekerjaannya, sebuah kertas merah muda diberikan oleh
ayah junhyung untuknya.
“mulai sekarang, jauhi anakku.” Suara datar dan berat itu
benar-benar menusuk gendang telinganya. Undangan merah jambu itu seakan
menunjukan kejelasan bahwa ayah junhyung tidak ingin jinyi menjalin hubungan
apapun dengan junhyung. Jinyi terdiam seakan tidak adalagi yang bisa ia
katakan. Kenyataan pahit itu menyerang dirinya. Bahkan junhyung tidak berkata
apapun tentang ini. Jinyi hanya tahu jika junhyung hanya mencintainya, kekasih
satu-satunya.
“sudah kubilang jauhi anakku.” Suara ayah junhyung meninggi tepat
ketika jinyi baru saja keluar dari kantor tempatnya bekerja. Jinyi hanya
sanggup terdiam tanpa sanggup berkata apa-apa hingga ayah junhyung melemparkan
kertas coklat kehadapannya dan pergi meninggalkan jinyi tanpa kata.
“bisakah kau bilang pada ayahmu
berhenti untuk mengirimkan undangan pernikahanmu kepadaku?” tanya jinyi awal musim semi
disebuah caffe yang terlihat sepi dan hanya didatangi oleh 2 pasangan yang
duduk berjauhan.
“ayahku sudah memberitahumu?” tanya junhyung kaget menatap kedua
bola mata jinyi yang tak sanggup menatap kearahnya.
“hm, kau akan menikah?” tanya jinyi datar. Matanya hanya
tertuju pada asap americano yang melayang lalu menghilang.
“i.... ini bukan keinginanku,
jinyi-ya. Kuharap kau mengerti.”
Jawab junhyung
meraih kedua pundak jinyi lalu menatapnya nanar.
“gwencanha, aku akan mendukungmu.” Jawab
jinyi pelan. Kebohongan pertama yang ia katakan pada junhyung dan ia ulangi
terus hingga hari pernikahan junhyung tiba.
*
“maaf telah membohongimu selama ini,
junhyung-ah. Rasa sakit yang aku rasakan yang membawaku sampai sejauh ini. Aku
ingin menyembunyikan kesedihanku karena aku hanya ingin kau menjalankan
semuanya tanpa perlu memikirkanku. Selama ini kau telah membuatku bahagia,
seperti janjimu saat pertama kali kau menyatakan perasaanmu dikelas saat pulang
sekolah musim panas waktu itu. Aku hanya tidak ingin membiarkanmu sedih
memikirkanmu hingga akhirnya aku hanya sanggup tersenyum saat aku bersamamu.
Aku sakit dan aku tahu kaupun sakit tapi takdir yang membawa kita sampai
kesini. Menyelesaikan semuanya dengan jalan yang akhirnya berbeda. Sekarang,
kau tidak perlu membahagiakanku lagi, ada seorang wanita cantik disampingmu
yang harus kau bahagiakan. Jangan pernah memikirkanku lagi, aku akan bahagia
walau aku harus mengobati rasa sakitku terlebih dahulu tapi aku berjanji aku
akan lebih bahagia daripada dirimu ketika aku sampai dititik tertinggi dalam
hidupku. Terimakasih atas semuanya junhyung-ie, kau pernah menempati hatiku dan
aku sempat menginap didalam hatimu. Aku bahagia dan aku akan lebih bahagia
kedepannya. Gomawoyo, anyeong. –park jinyi-“
Suara
kicauan burung-burung mengakhiri junhyung membaca surat yang ditulis oleh
jinyi. Sebuah kotak coklat berdiri rapi disebelah junhyung. Junhyung membukanya
menatap seluruh barang kenangannya ketika masih bersama jinyi. Junhyung
menghela napas panjang meletakan surat tersebut didalam kotak lalu menutupnya
kembali. Memori indah itu seakan selesai bersamaan dengan tertutupnya kotak
tersebut. Junghyung tersenyum lalu meninggalkan kursi putih yang langsung
menatap kesungai han dan meninggalkan kotak coklat tersebut.
*END*

No comments:
Post a Comment