Cast: koo
jun hoe (win team B), Lee gikwang, jang nari (OC)
Musim
dingin, salju yang turun sejak semalam mulai memudar diterpa sinar matahari
yang mulai membuka matanya sore ini. Sisa-sisa butiran salju masih bertumpuk disekitar jalan dan
pepohonan yang seakan merasa hangat berselimut salju putih. Orang-orang, lelaki
dan perempuan memakai baju hangat berlalu lalang bergantian tanpa letih dan
melupakan hawa dingin yang menyatu dengan hangatnya sinar matahari.
Mataku tak lepas memperhatikan semua drama nyata
itu dari balik jendela coffeebene di seoul, tepatnya didaerah seogyo-dong. Cafe
yang bernuansa coklat dan hangat ini membuatku nyaman duduk berlama-lama
ditempat ini. Aku membiarkan capuccino hangat yang terus membiarkan asap
putihnya menari-nari dari atas cangkir dan volcano coklat ku terkapar diatas
meja tepat didepanku. Aku hanya memesan dan seperti biasa aku baru memakannya
jika aku ingin segera kembali kerumahku. Tidak enak memang, tapi itulah
kebiasaanku jika aku datang sendiri kesini.
Lima belas menit berlalu begitu cepat, sinar
matahari masih terus menyinari kota seoul yang dinginnya sedikit terobati.
Coffebene perlahan penuh, seperti biasa, orang-orang yang ingin minum kopi
sembari menyelesaikan pekerjaan mereka atau orang-orang yang hanya ingin
menikmati waktu senggang mereka atau mungkin pasangan yang ingin menunggu malam
datang sambil menikmati americano hangat berdua.
Aku menggerakan bola mataku ketika bel pintu
berbunyi. Aku menatak lurus kearah pasangan yang terlihat sangat romantis
memasuki coffebene. Perempuan yang
terlihat lebih muda dan seksi memakai mini dress merah dan high heels hitam
melingkari tangannya mesra di pinggang lelaki yang terlihat jauh lebih tua darinya.
Sementara lelaki yang terus menempel dengannya, memakai setelan jas dan hampir
seluruh rambutnya sudah berubah putih. Mereka berdua duduk tepat dimeja
sebelahku. Mereka terlihat mesra dengan tangan lelaki yang terus menggenggam
tangan perempuan itu. Perempuan itu sedikit terkikik pelan entah kata-kata
romantis apa yang lelaki paruh baya itu ucapkan.
Perempuan itu pasti selingkuhan lelaki ini.
Seketika lagu IU-싫은
날
mengalun pelan didalam coffebene ini. Aku menarik napasku panjang berusaha
mengendalikan emosiku sendiri dan mengalihkan pandanganku kearah novel yang
belum sempat aku buka dari tadi. Suara tawa perempuan itu kembali terdengar,
pikiranku kembali terbuka. Aku menutup telingaku berusaha tidak menghiraukan
suara perempuan itu dan lagu yang terus mengalun yang membuat seluruh memoriku
5 tahun lalu terbuka.
Saat itu, usiaku baru 18 tahun. Aku hidup dengan
ayah dan ibuku disebuah rumah sederhana tak jauh dari cafe ini. Aku selalu
pulang larut malam karena setelah pulang sekolah aku selalu pergi ke perpustakaan
untuk meminjamkan buku untuk ibuku. Ibuku suka membaca buku, terutama novel
tentang cinta dan peperangan zaman dulu. Mungkin ia menurunkan itu kepadaku
yang membuat aku menyukai novel dan menjadi seorang novelis sekarang. Saat itu,
musim gugur, aku bergegas pulang menerobos gelapnya malam dan dinginnya angin
musim gugur. Ketika aku melangkahkan kakiku dan mencoba membuka pintu, suara
lemparan barang terdengar ditelingaku. Aku menurunkan tanganku dari gagang
pintu mencoba memastikan jika tidak ada suara aneh itu lagi. Tapi tiba-tiba,
suara teriakan eomma terdengar dari balik pintu. Mereka bertengkar. Aku
benar-benar takut saat itu hingga aku mencoba membuka pintu dan melihat semua
kejadian didalam rumah. Seluruh ruang tamu sudah berantakan. Guci favorit ayah
semuanya pecah berserakan dilantai. Foto pernikahan ayah dan ibuku sudah
berserakan juga dilantai. Bahkan baju ibu juga sudah tidak beraturan.
“appa eomma kalian bertengkar lagi?” tanyaku
sedikit berteriak.
“aniya. Gwencanha. Kami baik-baik saja. Masuklah
kekamarmu.” Ucap eomma yang selalu pandai menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku menatap ayahku berharap ayahku juga memastika
bahwa mereka masih baik-baik saja. Tapi ayah hanya diam dan langsung pergi
meninggalkan kami berdua. Aku hanya menghela napas panjangku dan membereskan
semua kekacauan diruang tamu. Ini sudah kesekian kalinya ayah dan ibuku
bertengkar seperti ini dengan alasan yang tidak pernah aku ketahui. Tapi baru
malam ini ayahku meninggalkan rumah ketika mereka bertengkar hebat.
Sejak pertengkaran malam itu, ayahku tidak pernah
kembali kerumah. Sudah berkali-kali pula aku bertanya pada eomma ada apa antara
dirinya dan appa, namun dia hanya menjawab tidak ada apa-apa.
“tapi kenapa appa tidak pulang, eomma?”
“mungkin ayahmu sibuk, biarkan saja.” Jawaban
eomma saat itu membuatku gusar. Hingga pada suatu sore, aku keluar dari sebuah
toko hadiah membeli sebuah kado untuk seseorang aku melihat ayahku masuk
kedalam sebuah restoran tepat diseberang toko hadiah. Ayahku tidak sendirian
saat itu, namun dengan seorang wanita muda yang aku kenal, sekertari ayahku.
Awalnya aku tidak percaya, hingga aku mendekat dan memperhatikan mereka dari
luar restoran. Mereka terlihat begitu mesra dan tanpa hentinya ayahku menciumi
kening wanita itu. emosiku saat itu tidak bisa aku tahan lagi hingga aku
menghampiri mereka berdua. Ayahku sedikit kaget melihat aku, anaknya, yang
berdiri dihadapannya sekarang.
“appa! Jadi ini yang apa lakukan selama ini.
Berselingkuh dengan sekertarismu sendiri. Apa kau tidak menyayangi eomma
sekarang?” teriakku tanpa menghiraukan sekelilingku.
“na ri-ya, apa yang kau lakukan disini?” ayahku
bangkit dari tempat duduknya.
“selama ini aku selalu membanggakanmu. Aku selalu
berkata pada teman-temanku jika kau adalah ayah yang paling hebat. Tapi
ternyata aku salah, bertahun-tahun kau menyakiti eomma dan membuat eomma
mengobati luka hatinya sendiri. Kau malah menikmati hidupmu dengan perempuan
jalang ini. Kau benar benar bukan ayah yang baik.” Air mataku tak sanggup aku
bendung.
“na ri-ya, jaga ucapanmu!” ayahku mulai geram.
“kau yang mengajariku seperti ini! Aku benci kau,
mulai sekarang kau bukan ayahku dan jangan mencari eomma dan aku lagi. Aku
sudah muak melihat wajah busuku. Aku benci kau aku benci kau.” Aku menghapus
air mataku lalu menatap sinis sekertaris ayah yang tanpa malu menatap balik
diriku.
“ini untukmu wanita jalang.” Aku menyiramkan
segelas air kewajahnya lalu keluar dari restoran itu tanpa menghiraukan
teriakan perempuan itu.
Sejak saat itu, aku tidak tinggal dirumah yang
dulu lagi. Aku dan ibuku tinggal disebuah rumah yang aku beli dari hasil
menulisku. Sejak saat itu juga, aku tidak pernah bertemu ayahku. Kadang aku
merindukannya namun ia benar benar menghancurkan kehidupan ibuku dan aku tidak
mau membuat ibu menangis lagi saat ini.
Aku menghela napas panjang ketika lagu IU tadi
berganti dengan lagu lee hi – it’s over. Tanpa kusadari meja disebelahku sudah
kosong kembali. Aku bisa bebas memperhatikan keluar kembali dari balik jendela
sambil membaca novel yang aku bawa tadi.
Bel pintu kembali berbunyi. Dua orang perempuan
masuk kedalam coffebene lalu kembali duduk dimeja sebelahku. Aku kembali
memperhatikan mereka. Kedua mata perempuan yang mengenakan sweater merah jambu
dan celana coklat muda terlihat sembab. Sementara temannya yang mengenakan topi
hangat abu-abu dan plato oranye hanya bisa mengelus pelan punggung perempuan
disebelahnya.
“gwencanha, masih banyak lelaki lain yang lebih
baik dari dia.” Suara perempuan berplato oranya terdengar jelas ditelingaku
bersamaan dengan lagu hyolyn – lonely yang terputar menggantikan lee hi tadi.
Aku memegangi dadaku. Luka itu terasa terbuka
kembali. Rasa sakitnya kembali muncul membuat seluruh memoriku kembali terbuka.
Tidak lama sebelum hari ini. Ditanggal yang sama dengan hari ini 3 bulan lalu,
kekasihku, ah tidak, dia tidak lagi kekasihku, ia memutuskan untuk
meninggalkanku. Lee gi kwang, lelaki yang memberikan kenangan indah disetiap
hidupku sekarang pergi dan berlabuh di pelukan wanita lain. aku berusaha
melupakannya, berusaha menghilangkan memori indah yang kami lewati selama 3
tahun. Tapi itu benar-benar sulit untukku karena aku terlalu mencintainya.
Setiap aku berusaha melupakannya, semua kenangan indah dengannya selalu muncul
dalam otakku.
“gikwang-ah, bogosipeo neo napeun nom.” gumamku
pelan tanpa menghiraukan disekelilingku. Perempuan disebelahku kembali menangis
dan suaranya cukup terdengar ditelingaku. Aku memperhatikan mereka berdua dan
memoriku kembali ke 3 bulan lalu. Tepat disini, di coffebene dan dikursi ini
aku menangis ditemani gu jun hoe. Sampai larut malam aku dan jun hoe disini
namun ia hanya membiarkanku menangis.
Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku lalu
memberikan kepada perempuan disebelahku.
“uljimayo, seberat apapun masalahmu kau pasti bisa
melewatinya.” Ucapku tersenyum walau mataku berkaca-kaca. itu adalah kata kata
terakhir yang gikwang ucapkan untukku sebelum dia pergi dan aku akan selalu
mengingatnya hanya agar aku bisa melewati seluruh masalah hidupku.
Musik kembali berganti, sekarang win (team B.) –
just another boy yang mengalun indah didalam coffebene. Aku menikmati lagu ini
sambil melanjutkan membaca novelku.
“NOONA!!!!” suara lelaki yang menggema disertai
suara bel pintu membuat seisi coffebene menyatukan pandangan kearah lelaki yang
memakai seragam sekolah dengan tas punggung birunya. Senyumnya merekah dengan
tangannya yang melambai. Aku menatap kearah anak SMA itu lalu tersenyum
kearahnya.
“Jun hoe ya!!” sahutku ikut melambaikan tangan.
Dengan sumringah junhoe menghampiriku lalu duduk dihadapanku. “kau sudah
pulang?” tanyaku santai.
“eo, aku tahu kau pasti disini.” Jawabnya sambil
meletakan tasnya dilantai.
“uh, jun hoe yang manis, kau memang tahu segalanya
tentangku.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.
“ah, noona ini pasti tidak memakan makanannya,
biar aku yang makan.” Jun hoe menarik piring berisi volcano coklatku yang sudah
dingin lalu melahapnya. “aaaa....
“ jun hoe menyodorkan sendoknya kearahku namun aku hanya menggeleng.
“ jun hoe menyodorkan sendoknya kearahku namun aku hanya menggeleng.
Gu jun hoe, lelaki 17 tahun ini aku temukan ketika
aku meluncurkan novel pertamaku 2 tahun yang lalu. Saat itu musim semi dan ia
datang diacara sign novelku. Aku masih ingat ia datang sendirian memakai jaket
berwarna kuning bergambar pandan dan topi musim dingin. Aku sedikit aneh
melihatnya apalagi ketika ia berkata, “noona, jadilah kekasihku.” Itu benar
benar membuatku geli. Saat itu aku hanya menjawabnya dengan senyuman hingga di
peluncuran novel keduaku dia datang kembali dengan seragam sekolahnya. “noona,
kau belum menjawabku, jadilah kekasihku.” Ucapnya lagi saat itu. Dengan senyum
aku hanya menjawab “mian, tapi aku sudah punya kekasih.” Aku menunjuk gikwang
yang berdiri santai memperhatikan aku yang sibuk dengan tanda tangan. “ah,
gaseumi apa.” Ucapnya dengan nada sedih sambil memegangi dadanya.
Sejak saat itu, aku menjadikan jun hoe sebagai
teman sekaligus adikku. Ia benar benar anak yang baik walau kadang-kadang
menyebalkan. Ia tumbuh menjadi lelaki periang yang pandai memainkan alat musik.
Kami sering bernyanyi bersama ditaman hanya untuk menikmati waktu senggang
kami.
“junhoe-ya, kau lapar? Kau menghabiskan semuanya.”
Aku sedikit berteriak pada jun hoe ketika aku tahu capuccinoku juga hanya
tersisa cangkirnya saja.
“tenang noona, aku akan membelikannya lagi
untukmu. Tapi dengan satu syarat.” Ucap junhoe menatap kedua mataku.
“mwol?” tanyaku yang juga menatap matanya.
“jadilah kekasihku.” Ucap junhoe dengan nada dan
wajah yang serius.
“micyeosseo?” aku menepuk kepala junhoe dengan
novel yang ada ditanganku dan membiarkan dia kesakitan sambil memegangi
kepalanya.
Aku menoleh keluar jendela, salju mulai turun
kembali. Hawa dingin mulai menelusup masuk dihangatnya coffebene. Terimakasih
atas segalanya, semoga aku masih bisa menikmati indahnya musim dingin bersama
eomma dan jun hoe.
*END*

No comments:
Post a Comment