Laman

January 11, 2014

[FF] All the Day in Coffeebene (Life Must Goes On)


Cast: koo jun hoe (win team B), Lee gikwang, jang nari (OC)
Musim dingin, salju yang turun sejak semalam mulai memudar diterpa sinar matahari yang mulai membuka matanya sore ini. Sisa-sisa butiran salju masih bertumpuk disekitar jalan dan pepohonan yang seakan merasa hangat berselimut salju putih. Orang-orang, lelaki dan perempuan memakai baju hangat berlalu lalang bergantian tanpa letih dan melupakan hawa dingin yang menyatu dengan hangatnya sinar matahari.
Mataku tak lepas memperhatikan semua drama nyata itu dari balik jendela coffeebene di seoul, tepatnya didaerah seogyo-dong. Cafe yang bernuansa coklat dan hangat ini membuatku nyaman duduk berlama-lama ditempat ini. Aku membiarkan capuccino hangat yang terus membiarkan asap putihnya menari-nari dari atas cangkir dan volcano coklat ku terkapar diatas meja tepat didepanku. Aku hanya memesan dan seperti biasa aku baru memakannya jika aku ingin segera kembali kerumahku. Tidak enak memang, tapi itulah kebiasaanku jika aku datang sendiri kesini.
Lima belas menit berlalu begitu cepat, sinar matahari masih terus menyinari kota seoul yang dinginnya sedikit terobati. Coffebene perlahan penuh, seperti biasa, orang-orang yang ingin minum kopi sembari menyelesaikan pekerjaan mereka atau orang-orang yang hanya ingin menikmati waktu senggang mereka atau mungkin pasangan yang ingin menunggu malam datang sambil menikmati americano hangat berdua.
Aku menggerakan bola mataku ketika bel pintu berbunyi. Aku menatak lurus kearah pasangan yang terlihat sangat romantis memasuki coffebene. Perempuan  yang terlihat lebih muda dan seksi memakai mini dress merah dan high heels hitam melingkari tangannya mesra di pinggang lelaki yang terlihat jauh lebih tua darinya. Sementara lelaki yang terus menempel dengannya, memakai setelan jas dan hampir seluruh rambutnya sudah berubah putih. Mereka berdua duduk tepat dimeja sebelahku. Mereka terlihat mesra dengan tangan lelaki yang terus menggenggam tangan perempuan itu. Perempuan itu sedikit terkikik pelan entah kata-kata romantis apa yang lelaki paruh baya itu ucapkan.
Perempuan itu pasti selingkuhan lelaki ini. Seketika lagu IU-싫은 mengalun pelan didalam coffebene ini. Aku menarik napasku panjang berusaha mengendalikan emosiku sendiri dan mengalihkan pandanganku kearah novel yang belum sempat aku buka dari tadi. Suara tawa perempuan itu kembali terdengar, pikiranku kembali terbuka. Aku menutup telingaku berusaha tidak menghiraukan suara perempuan itu dan lagu yang terus mengalun yang membuat seluruh memoriku 5 tahun lalu terbuka.
Saat itu, usiaku baru 18 tahun. Aku hidup dengan ayah dan ibuku disebuah rumah sederhana tak jauh dari cafe ini. Aku selalu pulang larut malam karena setelah pulang sekolah aku selalu pergi ke perpustakaan untuk meminjamkan buku untuk ibuku. Ibuku suka membaca buku, terutama novel tentang cinta dan peperangan zaman dulu. Mungkin ia menurunkan itu kepadaku yang membuat aku menyukai novel dan menjadi seorang novelis sekarang. Saat itu, musim gugur, aku bergegas pulang menerobos gelapnya malam dan dinginnya angin musim gugur. Ketika aku melangkahkan kakiku dan mencoba membuka pintu, suara lemparan barang terdengar ditelingaku. Aku menurunkan tanganku dari gagang pintu mencoba memastikan jika tidak ada suara aneh itu lagi. Tapi tiba-tiba, suara teriakan eomma terdengar dari balik pintu. Mereka bertengkar. Aku benar-benar takut saat itu hingga aku mencoba membuka pintu dan melihat semua kejadian didalam rumah. Seluruh ruang tamu sudah berantakan. Guci favorit ayah semuanya pecah berserakan dilantai. Foto pernikahan ayah dan ibuku sudah berserakan juga dilantai. Bahkan baju ibu juga sudah tidak beraturan.
“appa eomma kalian bertengkar lagi?” tanyaku sedikit berteriak.
“aniya. Gwencanha. Kami baik-baik saja. Masuklah kekamarmu.” Ucap eomma yang selalu pandai menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku menatap ayahku berharap ayahku juga memastika bahwa mereka masih baik-baik saja. Tapi ayah hanya diam dan langsung pergi meninggalkan kami berdua. Aku hanya menghela napas panjangku dan membereskan semua kekacauan diruang tamu. Ini sudah kesekian kalinya ayah dan ibuku bertengkar seperti ini dengan alasan yang tidak pernah aku ketahui. Tapi baru malam ini ayahku meninggalkan rumah ketika mereka bertengkar hebat.
Sejak pertengkaran malam itu, ayahku tidak pernah kembali kerumah. Sudah berkali-kali pula aku bertanya pada eomma ada apa antara dirinya dan appa, namun dia hanya menjawab tidak ada apa-apa.
“tapi kenapa appa tidak pulang, eomma?”
“mungkin ayahmu sibuk, biarkan saja.” Jawaban eomma saat itu membuatku gusar. Hingga pada suatu sore, aku keluar dari sebuah toko hadiah membeli sebuah kado untuk seseorang aku melihat ayahku masuk kedalam sebuah restoran tepat diseberang toko hadiah. Ayahku tidak sendirian saat itu, namun dengan seorang wanita muda yang aku kenal, sekertari ayahku. Awalnya aku tidak percaya, hingga aku mendekat dan memperhatikan mereka dari luar restoran. Mereka terlihat begitu mesra dan tanpa hentinya ayahku menciumi kening wanita itu. emosiku saat itu tidak bisa aku tahan lagi hingga aku menghampiri mereka berdua. Ayahku sedikit kaget melihat aku, anaknya, yang berdiri dihadapannya sekarang.
“appa! Jadi ini yang apa lakukan selama ini. Berselingkuh dengan sekertarismu sendiri. Apa kau tidak menyayangi eomma sekarang?” teriakku tanpa menghiraukan sekelilingku.
“na ri-ya, apa yang kau lakukan disini?” ayahku bangkit dari tempat duduknya.
“selama ini aku selalu membanggakanmu. Aku selalu berkata pada teman-temanku jika kau adalah ayah yang paling hebat. Tapi ternyata aku salah, bertahun-tahun kau menyakiti eomma dan membuat eomma mengobati luka hatinya sendiri. Kau malah menikmati hidupmu dengan perempuan jalang ini. Kau benar benar bukan ayah yang baik.” Air mataku tak sanggup aku bendung.
“na ri-ya, jaga ucapanmu!” ayahku mulai geram.
“kau yang mengajariku seperti ini! Aku benci kau, mulai sekarang kau bukan ayahku dan jangan mencari eomma dan aku lagi. Aku sudah muak melihat wajah busuku. Aku benci kau aku benci kau.” Aku menghapus air mataku lalu menatap sinis sekertaris ayah yang tanpa malu menatap balik diriku.
“ini untukmu wanita jalang.” Aku menyiramkan segelas air kewajahnya lalu keluar dari restoran itu tanpa menghiraukan teriakan perempuan itu.
Sejak saat itu, aku tidak tinggal dirumah yang dulu lagi. Aku dan ibuku tinggal disebuah rumah yang aku beli dari hasil menulisku. Sejak saat itu juga, aku tidak pernah bertemu ayahku. Kadang aku merindukannya namun ia benar benar menghancurkan kehidupan ibuku dan aku tidak mau membuat ibu menangis lagi saat ini.
Aku menghela napas panjang ketika lagu IU tadi berganti dengan lagu lee hi – it’s over. Tanpa kusadari meja disebelahku sudah kosong kembali. Aku bisa bebas memperhatikan keluar kembali dari balik jendela sambil membaca novel yang aku bawa tadi.
Bel pintu kembali berbunyi. Dua orang perempuan masuk kedalam coffebene lalu kembali duduk dimeja sebelahku. Aku kembali memperhatikan mereka. Kedua mata perempuan yang mengenakan sweater merah jambu dan celana coklat muda terlihat sembab. Sementara temannya yang mengenakan topi hangat abu-abu dan plato oranye hanya bisa mengelus pelan punggung perempuan disebelahnya.
“gwencanha, masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari dia.” Suara perempuan berplato oranya terdengar jelas ditelingaku bersamaan dengan lagu hyolyn – lonely yang terputar menggantikan lee hi tadi.
Aku memegangi dadaku. Luka itu terasa terbuka kembali. Rasa sakitnya kembali muncul membuat seluruh memoriku kembali terbuka. Tidak lama sebelum hari ini. Ditanggal yang sama dengan hari ini 3 bulan lalu, kekasihku, ah tidak, dia tidak lagi kekasihku, ia memutuskan untuk meninggalkanku. Lee gi kwang, lelaki yang memberikan kenangan indah disetiap hidupku sekarang pergi dan berlabuh di pelukan wanita lain. aku berusaha melupakannya, berusaha menghilangkan memori indah yang kami lewati selama 3 tahun. Tapi itu benar-benar sulit untukku karena aku terlalu mencintainya. Setiap aku berusaha melupakannya, semua kenangan indah dengannya selalu muncul dalam otakku.
“gikwang-ah, bogosipeo neo napeun nom.” gumamku pelan tanpa menghiraukan disekelilingku. Perempuan disebelahku kembali menangis dan suaranya cukup terdengar ditelingaku. Aku memperhatikan mereka berdua dan memoriku kembali ke 3 bulan lalu. Tepat disini, di coffebene dan dikursi ini aku menangis ditemani gu jun hoe. Sampai larut malam aku dan jun hoe disini namun ia hanya membiarkanku menangis.
Aku mengeluarkan tisu dari dalam tasku lalu memberikan kepada perempuan disebelahku.
“uljimayo, seberat apapun masalahmu kau pasti bisa melewatinya.” Ucapku tersenyum walau mataku berkaca-kaca. itu adalah kata kata terakhir yang gikwang ucapkan untukku sebelum dia pergi dan aku akan selalu mengingatnya hanya agar aku bisa melewati seluruh masalah hidupku.
Musik kembali berganti, sekarang win (team B.) – just another boy yang mengalun indah didalam coffebene. Aku menikmati lagu ini sambil melanjutkan membaca novelku.
“NOONA!!!!” suara lelaki yang menggema disertai suara bel pintu membuat seisi coffebene menyatukan pandangan kearah lelaki yang memakai seragam sekolah dengan tas punggung birunya. Senyumnya merekah dengan tangannya yang melambai. Aku menatap kearah anak SMA itu lalu tersenyum kearahnya.
“Jun hoe ya!!” sahutku ikut melambaikan tangan. Dengan sumringah junhoe menghampiriku lalu duduk dihadapanku. “kau sudah pulang?” tanyaku santai.
“eo, aku tahu kau pasti disini.” Jawabnya sambil meletakan tasnya dilantai.
“uh, jun hoe yang manis, kau memang tahu segalanya tentangku.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.
“ah, noona ini pasti tidak memakan makanannya, biar aku yang makan.” Jun hoe menarik piring berisi volcano coklatku yang sudah dingin lalu melahapnya. “aaaa....
“ jun hoe menyodorkan sendoknya kearahku namun aku hanya menggeleng.
Gu jun hoe, lelaki 17 tahun ini aku temukan ketika aku meluncurkan novel pertamaku 2 tahun yang lalu. Saat itu musim semi dan ia datang diacara sign novelku. Aku masih ingat ia datang sendirian memakai jaket berwarna kuning bergambar pandan dan topi musim dingin. Aku sedikit aneh melihatnya apalagi ketika ia berkata, “noona, jadilah kekasihku.” Itu benar benar membuatku geli. Saat itu aku hanya menjawabnya dengan senyuman hingga di peluncuran novel keduaku dia datang kembali dengan seragam sekolahnya. “noona, kau belum menjawabku, jadilah kekasihku.” Ucapnya lagi saat itu. Dengan senyum aku hanya menjawab “mian, tapi aku sudah punya kekasih.” Aku menunjuk gikwang yang berdiri santai memperhatikan aku yang sibuk dengan tanda tangan. “ah, gaseumi apa.” Ucapnya dengan nada sedih sambil memegangi dadanya.
Sejak saat itu, aku menjadikan jun hoe sebagai teman sekaligus adikku. Ia benar benar anak yang baik walau kadang-kadang menyebalkan. Ia tumbuh menjadi lelaki periang yang pandai memainkan alat musik. Kami sering bernyanyi bersama ditaman hanya untuk menikmati waktu senggang kami.
“junhoe-ya, kau lapar? Kau menghabiskan semuanya.” Aku sedikit berteriak pada jun hoe ketika aku tahu capuccinoku juga hanya tersisa cangkirnya saja.
“tenang noona, aku akan membelikannya lagi untukmu. Tapi dengan satu syarat.” Ucap junhoe menatap kedua mataku.
“mwol?” tanyaku yang juga menatap matanya.
“jadilah kekasihku.” Ucap junhoe dengan nada dan wajah yang serius.
“micyeosseo?” aku menepuk kepala junhoe dengan novel yang ada ditanganku dan membiarkan dia kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Aku menoleh keluar jendela, salju mulai turun kembali. Hawa dingin mulai menelusup masuk dihangatnya coffebene. Terimakasih atas segalanya, semoga aku masih bisa menikmati indahnya musim dingin bersama eomma dan jun hoe.

*END*

No comments:

Post a Comment