Laman

September 5, 2011

MY LOVE STILL FOREVER (PART2 OF 2)

“hujan datang lagi, aku mungkin tidak akan bisa melihat musim dingin lagi.....” dujun memperhatikan keluar jendela dibalik kamarnya yang gelap. Malam memang telah larut, tapi matanya sulit untuk ia tutup. Ia memperhatikan foto yang sama seperti foto yang ada dirumah min rae. Guratan senyum tipisnya tertempel dibibirnya. Disebelah foto itu berdiri tempat obat yang isinya tinggal 3 butir. “tidak berguna.” Dujun meminum ketiga obat itu bersamaan. Ia merasakan cairan hangat keluar dari hidungnya. “kenapa harus begini!!!” ia melempar tempat obatnya yang telah kosong kearah jendela. Kacanya pecah. Darah dari hidungnya itu menetes sedikit kelantai. Ia membersihkan darah yang ada dihidungnya lalu mengambil jaketnya dan pergi.

*

“yaa~ bukakan pintu, tugasku belum selesai.” Teriak hye jin ketika mendengar suara pintu yang terketuk. Min rae yang mendengar itu langsung membuka pintu itu.

“ahh dujun-ssi, ada apa? Sekarang sudah hampir jam 12.” Tanya min rae yang antusias.

“apakah hye jin sudah pulang?” tanya dujun yang tidak menanggapi sapaan min rae. Min rae mengangguk lalu memanggil hye jin.

“ada apa?” tanya hye jin yang terlihat kesal karena tugasnya yang terganggu.

“bisa kita bicara sebentar?” tanya dujun mengisyaratkan untuk keluar dari rumah itu. Hye jin menatap min rae sebentar min rae tersenyum tanda memperbolehkan.

*

“ada apa? Kau tahu? Tugasku harus dikumpulkan besok pagi jadi cepatlah.” Pinta hye jin duduk disebuah kursi yang ditutupi atap sehingga hujan tidak membasahi kursi itu.

“tolong buat min rae menjauhiku” jawab dujun pelan. Hye jin menatap dujun bingung.

“kau.. apa maksudmu? Itu tidak mungkin.” Hye jin menggelengkan kepalanya.

“aku tahu itu tidak mungkin, tapi aku mohon bantuanmu, buat min rae menjauh dariku.”

“sebenarnya ada apa? Jika kau tidak menyukai min rae kau bilang padanya, tidak usah menyuruhku seperti ini.” Hye jin sedikit marah pada dujun.

“aku menyukainya.” Hye jin menatap dujun semakin bingung. “tapi semuanya sangat tidak mungkin untuk aku jalani. Aku tidak mau pada akhirnya min rae menyesal telah menyukaiku.”

“aku semakin tidak mengerti apa maksudmu.” Hye jin menggelengkan kepalanya.

“aku sakit. Dan dokter telah memvonis umurku hanya sampai bulan depan.” Dujun menatap hye jin nanar. Hye jin yang kaget hanya menutup mulutnya dan berharap air matanya tidak jatuh.

“tapi, dia sangat menyukaimu dujun, semuanya sangat sulit.”

“akan sangat sulit jika ia mengetahui ini semua! Aku tidak ingin melihatnya menangis karenaku.”

“hhhh, ya, kau benar. Dia sangat mudah menangis jika orang yang ia sayangi sakit, dia pernah menangis ketika aku kecelakaan. Saat itu aku merasa bersalah telah membuatnya menangis, terlihat sangat lemah.” Ucap hye jin pelan.

“bantu aku, jebal!” ucap dujun dengan nada memohon. “aku berjanji mulai hari ini aku tidak akan menampakan wajahku dihadapannya.”

“aku yakin itu sangat sulit untukmu.” Ucap hye jin pelan namun dujun tidak menjawab apapun.

“ada apa?” tanya min rae ketika hye jin kembali kerumah mereka. Hye jin menatap nanar min rae lalu menggeleng pelan. Min rae yang tidak mengetahui apa-apa hanya mengerucutkan bibirnya.

*

“apa obatnya sudah habis? Kelihatannya kau tidak meminum obatnya, kesehatanmu menurun lagi.” Seorang dokter menulis sesuatu diatas mejanya sementara dujun hanya diam disebuah ruangan disebuah rumah sakit. Dujun hanya diam menatap kearah dokternya itu. “maafkan aku dujun, sudah tidak ada harapan lagi, kankermu sudah menyebar hampir keseluruh otak bagian belakangmu. Hanya kegigihanmu yang membuatmu bisa hidup sampai sekarang.” Suara dokter mulai terdengar berat.

“aku tahu dok, aku sudah siap jika hasil terburuk menghampiriku.” Sahut dujun pelan memperhatikan keluar jendela.

“tapi kau butuh obat lagi, biar aku tuliskan resepnya.” Dokter itu mengambil pulpen dari tempatnya yang berbentuk bulat.

“tidak usah dok, semuanya sia-sia.” Ucap dujun pergi meninggalkan tempat itu.

*

Disebuah tempat berjejernya pertokoan, min rae asik memperhatikan sebuah jam tangan yang terpampang jelas dari lemari kaca yang langsung tersorot keluar toko jam tersebut. Setelah berpikir sejenak, min rae membuka pintu toko itu.

“yaa~ mau apa kau kesana?” teriak hye jin yang membawa sebuah es krim. Min rae tersenyum tersipu lalu menutup kembali pintu toko itu.

“besok kan dujun ulangtahun, aku ingin memberikannya hadiah.” Jawab min rae sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“tidak usah.” Sahut hye jin cepat menarik lengan min rae.

“weiyo?? Sudah lama berteman masa tidak memberi kado saat ulangtahun.” Tanya min rae melepaskan lengannya. Hye jin diam sejenak, ia sedikit tidak tega mendengar perkataan min rae.

“baiklah, pergilah, aku menghabiskan es krimku dulu disini.” Ucap hye jin pelan. Ia tidak punya alasan untuk menghalangi min rae. “sudah? Cepat sekali?” tanya hye jin seketika min rae keluar dari toko itu.

“ternyata harganya tidak terllau mahal, makanya aku tidak menawarnya.” Jawab min rae tersenyum meletakan sekotak jam tangan itu kedalam tasnya.

“aku pikir, kau dan dujun harus perlahan menjauh.” Ucap hye jin pelan disela mereka berjalan melewati deretan pertokoan itu.

“kenapa? Ada yang salah?” tanya min rae dengan nada tidak suka.

“ah, bukan bukan, akhir akhir ini kalian jarang bersama, bahkan hampir tidak pernah, mungkin dujun sedang menyukai perempuan lain.” Jawab hye jin asal.

“ishh, kau ini.....” min rae menghentikan perkataannya ketika melihat seorang yang tersungkur dihadapan mereka. “dujun!” min rae langsung berlari ketika melihat dujun yang hidungnya kembali mengeluarkan darah. Hye jin yan gjuga kaget langsung ikut menghampiri dujun.

“dujun-ah, kau kenapa?? Hidungmu berdarah. Kau sakit?” tanya min rae dengan nada berat. Matanya menatap dujun nanar. Min rae hendak menangis.

“aku tidak apa-apa.” Jawab dujun sedikit terbata.

“jangan berbohong!! Tapi darahnya terus keluar.” Teriak min rae yang tak sanggup menahan air matanya. Hye jin yang dari tadi diam mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan membersihkan darah yang keluar.

“jangan menangis!” dujun berusaha berdiri. “aku tidak suka melihat kau menangis. Sudah kubilangkan aku tidak apa-apa.” Ucap dujun membersihkan hidungnya yang sudah bersih. Min rae menatapnya aneh lalu meghapus air matanya. Tanpa bicara dujun pergi meninggalkan mereka.

“wae? Kenapa dia seperti itu?” isak min rae pelan.

“sudahlah, ayo kita pulang.” Ajak hye jin berusaha tersenyum menghibur temannya itu.

*

Hari ini tepat tanggal 4, min rae yang sudah tidak ada pelajaran dikampusnya mencari dujun. Ia menemukan dujun ditaman belakang kampusnya. Dujun terlihat sedang membaca sebuah novel.

“anyeong!” sapa min rae duduk disebelah dujun. Dujun tidak membalasnya sama sekali. “kau mau kerumahku?” tanya min rae, namun dujun tidak meresponnya lagi. “ayo!” min rae menarik tangan dujun memaksa dujun untuk pergi.

“yaa! Apa yang kau lakukan?” tanya dujun dengan wajah kesalnya.

“ikut saja, biar aku yang menyetir sepedanya.” Jawab min rae satai mengeluarkan sepeda dari tempat parkirnya. “naik, cepatlah sudah mendung pasti akan turun hujan lagi.” Min rae menyuruh dujun duduk dibelakangnya. Dujun hanya diam. “cepat!” min rae mendorong dujun lalu melaju sepedanya dengan sangat cepat.

*

“saengil chukae!!” ucap min rae pelan memberikan sebuah kotak kecil berwarna emas disertai pita kepada dujun yang duduk dihadapannya. Dujun menatap min rae bingung. Min rae hanya tersenyum senang. Ia mengambil sebuah cake diatas meja belajarnya itu lalu menyalakan lilin yang sudah berdiri diatasnya. “tiup lilinnya.” Pinta min rae. “aku harap kau selalu sehat dan aku, kau dan hye jin akan selalu bersama.” Ucapan min rae membuat hati dujun bergetar. Ia mengambil cake itu, meniup lilinnya lalu meletakannya diatas meja kembali. Dujun menatap mata min rae. Ia langsung memeluknya. Min rae yang kaget hanya bisa didam didekapan dujun. Namun perlahan senyumnya tergurat ketika dujun melepaskan pelukannya lalu memandang wajahnya. Wajah min rae semakin memerah melihat tatapan dujun yang semakin dekat sementara bibirnya menyentuh bibir min rae. Hye jin yang baru saja datang melihat itu semua, matanya menjadi basah ketika ia mengingat apa yang tidak min rae ketahui.

“jangan pernah menangis karenaku lagi yaa, menangislah karena dirimu, orang tuamu dan sahabatmu, hye jin. Merekalah yang selalu mendukungmu tapi aku, aku adalah setitik debu yang bersamamu akhir akhir ini.” Ucap dujun pelan mengusap pipi min rae yang hangat. Min rae hanya tersenyum mendengar itu tanpa tahu maksud dari perkataan dujun.

*

Akhir-akhir ini hujan selalu turun, baik siang ataupun malam. Tugas kampus pun berkurang seiring pergantian bulan. Semenjak ulangtahun dujun satu bulan yang lalu, min rae sudah jarang bertemu dengan dujun. Bahkan hampir tidak sama sekali. Bukan karena min rae atau dujun yang menjauh, tapi hye jin lah yang membuat min rae sibuk. Tujuannya adalah kesepakatan antara hye jin dan dujun pada malam hujan tersebut. Min rae yang sampai sekarang belum tahu tentang penyakit dujun hanya mengikuti perintah hye jin saja.

“ahh, sudah lama tidak melihat dujun, kemana dia?” gumam min rae keluar dari ruang kelasnya sambil membuka ponselnya. Ia melihat pesan dari hye jin yang mengajaknya bertemu. Dengan langkah cepat, min rae pergi ketempat yang sudah dijanjikan hye jin.

*

“ada apa? Oh iya, kau tahu dimana dujun?” tanya min rae duduk didepan hye jin yang terlihat tidak terlalu antusias ketika min rae duduk dihadapannya.

“hhhh, sudah seharusnya kau tahu sekarang.” Ucap hye jin pelan menatap titik hujan yang membasahi kaca cafe yang mereka datangi. Min rae menatap hye jin bingung. “dujun, sudah dirumah sakit sejak 3 hari yang lalu, dia.. dia sakit, kanker otak menyerang tubuhnya.” Cerita hye jin pelan. Min rae benar benar kaget saat itu, matanya memerah hendak menangis namun tertahan.

“kau... kau tahu sejak kapan? Kenapa kau tidak menceritakan itu padaku?” tanya min rae dengan nada marah. Matanya semakin memerah.

“maafkan aku, saat hujan itu, dujun menceritakan semuanya padaku, bahkan dujun bilang dia menyukaimu, tapi dia tak sanggup karena umurnya telah divonis dokter hanya sebentar. Aku juga tidak tega, aku tidak ingin melihat kau sedih lagi, min rae.” Ucap hye jin yang terlihat ingin ikut menangis.

“dimana...dimana rumah sakitnya?? Ayo kita kesana sekarang.” Pinta min rae menghapus air matanya yang sudah jatuh. Hye jin hanya diam lalu pergi meninggalkan cafe itu diikuti min rae.

*

Mereka berdua sampai disebuah rumah sakit. Terlihat sangat sepi namun tidak termasuk dilorong lantai 5 dekat kamar 114. Beberapa orang duduk dikursi tunggu sambil menunduk. Min rae kebingungan melihat situasi yang mengingatkan ia pada kejadian ketika ayah dan ibunya meninggal terlalap api. “tidak, tidak mungkin” hatinya terus mengeluarkan kata kata itu. Sesekali ia melangkah pelan namun hye jin menahan tangannya.

“ingat kata kata terakhir yang diucapkan dujun.” Ucap hye jin pelan menatap mata sahabatnya nanar. Min rae mengingat sesuatu, kata kata terakhir dujun saat hari ulangtahunnya.

“ini tidak benar.” Min rae sedikit berlari kedepan kamar 114 itu. Hye jin menghampirinya berharap min rae tidak histeris ketika sesuatu yg buruk terjadi.

Seorang dokter keluar menghampiri seorang wanita paruh baya, wajahnya muram kata-kata yang tidak diinginkan min rae keluar dari mulut dokter tersebut. Seketika ibu dujun itu histeris. Lutut min rae seketika lemar, namun tangan hye jin memapah punggungnya agar min rae tidak terjatuh.

Beberapa lama min rae diam didepan pintu kamar itu, beberapa orang menyiapkan pemakaman dujun, ibu dujun pingsan hingga ia harus dibawa keruang gawat darurat. Hye jin masih menatap sedih sahabatnya yang terlihat berusaha tidak menangis.

“hmm, gomawo, selama ini telah menemaniku. Tapi, aku masih bingung kenapa kau tidak menceritakannya padaku. Aku akan berusaha, berusaha sekuat tenaga tidak menangis karenamu, aku berusaha, tapi.... itu sulit.” Ucap min rae pelan seketika setetes air matanya membasahi pipinya. “maafkan aku, aku tidak bisa berjanji untuk itu, aku benar-benar menyukaimu dujun-ah.” Min rae berbalik berjalan pelan meninggalkan ruangan itu. Ia berusaha bisa menopang dirinya sendiri walau sulit.

*

“aku sayang kedua orangtuaku, hye jin, dan yoon dujun J selamanya.” Tulisan itu berjajar rapi bersama foto foto dicermin kamar min rae.

*END*

2 comments:

  1. ceritanya sedihhh, T.T
    Doojoonie ~
    romantis banget naek sepeda .
    inget ma sobie dulu (?)
    *plakk
    hahaha...
    XD
    KEEP HWAITING Chingu..!!!

    ReplyDelete
  2. YEEE~~ GOMAWO ^^ heheheh. inget diboncengin seobi?? kkkk~~

    ReplyDelete