Laman

September 10, 2011

My Bestfriend, My Lady (part1 of 2)

Jung hae ma, seorang perempuan berambut sebahu sedang duduk memperhatikan beberapa pasangan yang lalu lalang didepannya. Ia memangku dagunya diatas lututnya sambil sesekali memanyunkan bibirnya.

“hei, sedang apa kau disini?” tanya seorang lelaki mengagetkan hae ma lalu memperhatikan sepasang kekasih yang melewati mereka. “ahh, ara, kau ingin pacaran yaa?? Kau tidak pernah punya pacar sebelumnya kan?” tebak lelaki itu duduk disebelah hae ma. Hae ma hanya mengangguk pelan. “aneh, kenapa kau tidak mencari laki laki saja, kan banyak diluar sana.”

“yoseob-ah, kau kira mudah mencari lelaki yang belum punya pasangan?” tanya hae ma disambut anggukan cepat yoseob. “aku tidak mau pacaran dulu.” Sambung hae ma.

“kenapa? Aneh, jangan-jangan kau...” lanjut yoseob cepat.

“bukan, tapi jika aku melihat drama, selalu saja banyak orang orang yang disakiti karena cinta, dikhianati ditinggal mati atau apapun itu, aku berpikir kalau cinta itu menyedihkan.” Cerita hae ma pelan. “saat ada orang yang gembira karena cinta, pasti ada saja orang disekitarnya yang harus menahan perih.”

“ahh, kau ini, itu kan hanya didalam drama. Dikenyataannya tidak seperti itu.” Sahut yoseob menyandarkan punggungnya.

*

Sore ini, setelah pelajaran kuliahnya selesai, hae ma dan yoseob pergi kesebuah panti asuhan. Mereka melaksanakan kegiatan rutin mereka setiap bulannya yaitu memberikan makanan keanak-anak kurang beruntung yang tinggal disana.

Malamnya sekitar pukul 6 malam, mereka baru saja selesai melaksanakan rutinitas mereka. “ahh, senangnya melihat anak-anak tersenyum.” Ucap hae ma merangkul yoseob yang sedikit lebih tinggi darinya.

“kita cocok yaa, sama sama suka anak-anak.” Ucap yo seob tersenyum.

“hmmm, kau mau mampir?” tanya hae ma yang sudah sampai didepan rumahnya.

“besok sore aku kerumahmu. Sampai jumpa.” Ucap yoseob melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan hae ma.

*

Yoseob dan hae ma memang sudah dekat sebagai sahabat sejak mereka masih duduk dibangku SMA. Mereka sangat dekat karena hobi mereka hampir semuanya sama. Bahkan hubungan pertemanan mereka diketahui oleh kedua orang tua mereka.

*

Sore dimusim ini cukup cerah, hae ma duduk bersandar ditembok sambil meluruskan kakinya diatas tempat tidur. Ia mengambil sebuah buku lalu membuka dan membacanya. Sementara yoseob langsung memabnting tubuhnya dan meletakan kepalanya dipaha hae ma. Hae ma hanya santai membaca buku itu.

“ya~~ pantas saja kau tidak punya kekasih, kau dan kakakmu saja jauh berbeda.” Ucap yo seob dengan nada bercanda sambil mengambil buku yang ada ditangan hae ma dan membacanya.

“aku memang berbeda dengan kakaku.” Jawab hae ma santai meletakan telapakannya diatas kening yoseob. Namun yoseob terlihat santai apalagi ketika ibu hae ma masuk kedalam kamar memberikan beberapa makanan kecil kepada mereka.

“kakakmu masih di paris?” tanya yoseob santai.

“ne, mungkin besok atau lusa dia akan pulang.” Jawab hae ma juga dengan nada santai.

*

Malamnya, yo seob baru saja menyelesaikan makan malam. Ia masuk kedalam kamarnya, mengecek ponsel lalu menatap sebuah poto diatas meja belajarnya. Ia tersenyum ketika melihat wajah hae ma yang berdiri disebelahnya dalam foto itu.

“perempuan aneh.” Gumamnya tersenyum lalu naik keatas tempat tidurnya.

*

“kemana perempuan itu?? Ponselnya juga tidak aktif.” Gumam yoseob sendirian sambil berjalan melintasi jalan jalan yang penuh dengan pohon pohon yang rindang. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang perempuan dengan seorang anak lelaki. Yo seob memperhatikan perempuan itu sejenak.

“kau kenapa menangis? Diam yaa, oh iya, noona punya permen. Kau mau?” perempuan itu mengeluarkan dua lolipop besar dari dalam tasnya dan memberikannya ke anak lelaki itu. Seketika anak lelaki itu berhenti menangis dan tersenyum.

“gomawo noona, ibuku habis memarahiku karena aku mengambil uangnya untuk membantu temanku tadi.” Jawab anak lelaki itu sambil mengusap air mata dipipinya.

“ahh, itu perbuatan tidak baik, cepat minta maaf ke ibumu lalu katakan sejujurnya bahwaniatmu untuk membantu teman. Ok??” perempuan itu mengusap pelan rambut anak itu. Dengan anggukan pelan ia langsung pergi meninggalkan perempuan itu.

Yoseob tersenyum lalu berjalan menghampiri perempuan itu, “selalu saja bisa membuat anak kecil tersenyum.” Ucap yoseob membeuat wajah perempuan itu yang ternyata adalah hae ma memerah.

“kau melihat semuanya? Hahhaa, aku jadi malu.” Sahut hae ma senang.

“hmm, dasar kau.” Yo seob menepuk punggung hae ma. “aku ingin mengajakmu kerumahku, ponselmu kemana?”

“ahh, mian ponselku tertinggal. Kajja!” ajak hae ma melangkah lebih cepat daripada yoseob.

“yaa~~ tunggu.” Yoseob sedikit berlari mengejar hae ma.

*

Dikamar yang serba coklat, hae ma sedang asik duduk didepan komputer dikamar milik yoseob. Sementara yoseob baru datang setelah membersihkan badannya. Hae ma terlihat tidak menyadari kedatangan yo seob, ia masih asik membuka akun me2daynya.

“hae ma! Boleh aku bertanya sedikit?” yoseob menarik kursi lain lalu duduk disebelah hae ma. Hae ma mengangguk namun matanya masih menatap kelayar komputer. “selama 2 tahun kita kuliah, yang aku tahu kau hanya dekat denganku, apa kau tidak punya teman lain? Hah?”

“ahhh, kau kira gampang mencari teman? Lagipula kau kan sahabatku, tidak ada salahnya kan jika kita dekat. Memangnya ada yang tidak menyukai kedekatan kita?” sahut hae ma santai.

“bukan, ahh, lupakan. Aku tahu kau sulit mencari teman bahkan pacar.” Sahut yoseob ikut memperhatikan layar komputer.

“satu sahabat sudah cukup untukku.” Ucap hae ma tersenyum menatap yoseob santai.

“kalau kau disuruh memilih antara cinta dan sahabat, apa yang akan kau pilih?” tanya yoseob menatap serius hae ma.

“sahabat, kau?” jawab hae ma mantap.

“cinta.” Sahut yoseob cepat.

“jadi, jika kau disuruh memilih antara aku atau kekasihmu nanti, kau akan memilih kekasihmu?” tanya hae ma mematikan komputernya.

“tidak, aku akan memilih kau.” Jawab yoseob menatap wajah hae ma yang bingung.

“kau bilang kau lebih memilih cinta.” Ucap hae ma kesal.

“karena aku mencintaimu.” Ucapan yoseob membuat hae ma terdiam menatapnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa orang yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA ini memendam perasaan lebih terhadapnya. “aku mencintaimu hae ma, entah kenapa, tapi aku menemukan sesuatu yang berbeda didalam dirimu.” Ucap yoseob masih menatap mata hae ma. Hae ma tidak bergerak sama sekali namun tatapan matanya ia pindahkan kearah lantai. Yo seob mendekatkan tubuhnya ke tubuh hae ma. Ia meraih dagu hae ma dan mendekatkan kewajahnya.

“aku, harus pulang sekarang.” Hae ma menarik tasnya yang ia letakan diatas tempat tidur.

“hae ma, tunggu sebentar. Aku tahu kau kaget, tapi itu semua perasaanku.” Teriak yoseob mengejar hae ma. Namun hae ma tetap pergi meninggalkan yoseob yang memperhatikan kepergiannya.

*

“baru pulang?” tanya seorang perempuan cantik dari arah ruang tamu memperhatikan jam dinding merah yang menunjukan pukul 8 malam. Hae ma menatap perempuan itu lalu sedikit mengguratkan senyumnya. “kau sakit?”

“tidak eonni, hanya lelah saja. Aku kekamar dulu.” Hae ma berbohong lalu berjalan memasuki kamarnya. Ia meletakan tasnya diatas meja belajar. Hae ma memikirkan kata-kata yoseob yang tadi. Ia memperhatikan keluar jendela sambil memikirkan beberapa perkataan yang pernah diucapkan yoseob.

“aku suka anak-anak...” ucap yoseob saat mereka pertama kali kepanti asuhan untuk kepentingan tugas kampus mereka. Yoseob juga pernah bilang kalau ia menyukai kakak hae ma sehingga hae ma berpikir kalau yoseob tidak mungkin menyukainya. “aku lebih menyukai kakakmu dibanding dirimu, hahaha.” Ucap yoseob saat pertama kali bertemu dengan kakak hae ma.

“ahhh, kenapa dia seperti itu.” Gumam hae ma pelan menutup jendela kamarnya yang terbuka sangat lebar.

*

Tiga hari sudah, hae ma tidak bertemu dengan yoseob. Ia sedang memikirkan sesuatu dan rasanya sangat aneh jika ia bertemu dengan yoseob. Baru kemarin mereka berpapasan, namun hae ma langsung pergi walau yoseob memanggilnya. Yoseob pun berpikir aneh tentang hae ma. Ia merasa bersalah telah menyatakan perasaannya namun bingung bagaimana membicarakannya karena hae ma tidak ingin menemuinya.

*TBC*

No comments:

Post a Comment