“kemana yoseob? Akhir-akhir ini dia tidak datang?” tanya ibu hae ma saat ia dan kedua anaknya berkumpul diruang tamu rumahnya.
“entahlah.” Jawab hae ma ketus sambil membaca sebuah novel ditangannya.
“kalian bertengkar?” tanya ibu hae ma lagi. Namun tidak ada jawaban dari hae ma.
“yoseob? Lelaki yang lucu waktu itu?” tanya kakak hae ma langsung menyambar. Hae ma hanya mengangguk pelan.
“kalian sangat dekat kan? Apa hubungan kalian sudah beranjak menjadi sepasang kekasih?” tanya kakak hae ma lagi meneguk teh hangatnya.
“tidak.” Jawab hae ma singkat.
“eomma tahu, pasti kalian sedang bertengkar ya?” tebak ibu hae ma dengan nada bercanda.
“jika tidak cepat cepat menyatakan perasaan, nanti yoseob direbut perempuan lain, dia cukup tampan.” Sahut kakak hae ma cepat disertai guratan senyum dibibirnya.
“eomma! Eonni! Ada apa dengan kalian.” Teriak hae ma dengan nada kesal.
“sudah sangat dekat kenapa tidak dilanjutkan, eomma setuju kok.” Ucap eomma tersenyum mencubit pipi hae ma yang terlihat memerah.
*
Malam telah larut, yoseob mengambil keputusan yang cukup mengejutkan. Ia datang kerumah hae ma sekitar pukul 10 malam. Setelah mengetuk beberapa kail, ibu hae ma membukakan pintu untuknya.
“ahh, yoseob, kemana saja. Masuklah.” Ibu hae ma dengan ramah membukakakn pintu untuk yoseob. Yo seob hanya membalasnya dengan senyum lalu masuk.
“hae ma ada, eommo-nim?” tanya yoseob dengan nada sopan.
“sepertinya dia sudah tidur dikamarnya.” Jawab ibu hae ma. Kakak hae ma yang tahu yoseob datang langsung mengguratkan senyum kearah yoseob.
“anyeong noona, sudah lama tidak bertemu.” Sapa yoseob tersenyum.
“wajahmu semakin tampat setelah beranjak dewasa.” Ucap kakak hae ma senang. Yoseob hanya membalasnya dengan senyum.
“masuk saja kekamarnya untuk mengeceknya.” Suruh ibu hae ma. Dengan mengangguk yoseob masuk kedalam kamar hae ma. Yoseob melihat hae ma tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Yo seob mengguratkan senyum manisnya lalu berjalan menghampiri hae ma. Ia memperhatikan hae ma sebentar lalu duduk bersandar ketembok disebelah hae ma yang tertidur. Yoseob mengambil buku yang terletak dimeja kecil disebelah tempat tidur hae ma lalu membacanya.
Selang beberapa menit, hae ma merubah posisi tidurnya dan tanpa sengaja tangannya menyentuh kaki yoseob. Hae ma yang merasa ada yang aneh langsung meraba kaki yoseob dan secara perlahan membuka matanya.
“ya! Sedang apa kau disini?” tanya hae ma langsung bangun ketika ia tahu yoseob yang sedang duduk disebelahnya.
“membaca.” Jawab yoseob menunjukan buku ditangannya sambil tersenyum.
“keluar, cepat....” pinta hae ma mendorong tubuh yoseob.
“kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini?” tanya yoseob tidak memperdulikan perintah hae ma. Namun hae ma tidak menjawab pertanyaannya. Hae ma turun dari tempat tidurnya lalu menarik tangan yoseob keluar dari kamarnya. “kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucap yoseob menghentikan langkahnya.
“aku mengantuk.” Jawab hae ma singkat. Namun yoseob malah menarik tangan hae ma hingga hae ma terjatuh dilantai.
“maaf, tapi aku butuh jawabanmu.” Ucap yoseob pelan lalu ikut duduk dilantai. Hae ma diam sebentar lalu menatap wajah yoseob datar.
“aku tidak menyukaimu.” Ucap hae ma pelan.
“kau bohong.” Sahut yoseob cepat.
“yoseob-ah. Kau tahu kan aku pernah bilang kalau hubungan kita tidak mungkin lebih dari ini, dan aku pernah bilang suatu hubungan yang dimulai dari pertemanan, sahabat hingga cinta jika berakhir akan menjauh seperti tidak mengenal lagi nantinya.” Ucap hae ma dengan nada sedikit tidak ramah.
“kau dapat itu dari cerita drama?” tanya yoseob santai. Hae ma terdiam sejenak.
“kau juga pernah bilang kau menyukai kakakku.” Ucap hae ma mencari alasan lain.
“aku menyukai kakakmu tapi aku mencintaimu.” Sahut yoseob mengusap pelan pipi hae ma. Hae ma terkejut mendengar ucapan yoseob tersebut. Hae ma mengalihkan pandangannya kearah lain, ia seakan tidak sanggup menatap wajah yoseob yang terlihat sangat manis malam itu. “jangan terlalu mempercayai cerita drama, aku bukan orang yang sama seperti lelaki didrama yang kau tonton itu.” Ucap yoseob lagi.
“tapi.............” sahut hae ma pelan.
“aku berjanji akan menjagamu lebih dari apa yang telah aku lakukan selama ini.” Ucap yoseob lagi membuat jantung hae ma semakin berdebar kencang. Hae ma memberanikan dirinya menatap yoseob yang tatapan matanya sangat indah malam itu. Hae ma tersenyum walau didalam hatinya sedikit takut saat menatap wajah itu. Jantungnya benar benar beredebar karena ini kali pertamanya seseorang menyatakan perasaannya kepada dirinya. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. “kau mau kan?” tanya yoseob pelan. Hae ma hanya mengangguk pelan. Yoseob tersenyum senang melihat anggukan hae ma.
Selang beberapa menit mereka larut dalam diam. Entah kenapa mereka terlihat sedikit canggung. Hingga hae ma hendak beranjak dari lantai, “kau haus? Aku ambilkan minum sebentar.” Ucap hae ma namun yosoeb menarik tangannya.
“tetaplah disini.” Ucap yoseob tersenyum. Ia meraih leher hae ma lalu mendekatkan wajah hae ma kewajahnya. Mata yoseob terpejam. Wajah hae ma yang melihat wajah yoseob semakin mendekati wajahnya berubah merah padam hingga bibir yoseob menyentuh bibirnya. Ekspresi hae ma berubah kaget namun dengan perlahan ia ikut memejamkan matanya. Namun setelah itu, hae ma melepaskan ciuman yoseob pelan. Yoseob membuka matanya lalu tersenyum. Sebentar mereka diam, yoseob kembali hendak mencium hae ma, hae ma yang tahu itu langsung memejamkan matanya kembali.
“kalian berdua pacaran?” suara seorang perempuan yang baru saja membuka pintu membuat mereka menghentikan ciumannya. Tatapan mata hae ma langsung tertuju pada seorang wanita yang tidak lain adalah kakaknya yang membawa dua gelas minuman.
“eonni! Kenapa tidak ketuk dulu!” ucap hae ma sedikit kesal dengan nada kikuk. Yoseob yang tahu itu hanya tersenyum.
“kau bilang kau tidak berpacaran dengannya.” Sahut kakak hae ma lagi.
“keluarlah!” hae ma mengambil nampan yang dibawa kakaknya lalu mendorong kakaknya keluar dan menutup pintunya.
*
Pagi hari datang kembali, hae ma dan yoseob berjalan bersama menuju kampus mereka. Hari ini terasa cerah secerah status hubungan mereka yang baru. Sekarang, yoseob tak segan menggandengan tangan hae ma walau hae ma sedikit gugup ketika beberapa orang memperhatikan mereka.
“apakah itu pertama kalinya?” tanya yoseob menggandeng tangan hae ma.
“apa?” hae ma berbalik bertanya sambil memikirkan maksud pertanyaan yoseob.
“yang semalam.” Sahut yoseob menahan tawanya. Seketika wajah hae ma memerah.
“mwo?? Ishh, jika iya memang kenapa?” ucap hae ma kesal memukul yosoeb dengan tasnya.
“bagaimana rasanya? Setidaknya adegan itu ada didalam drama kan? ” tanya yoseob lagi dengan nada mengejek.
“ya!! Aku membencimu.” Hae ma meruncingkan bibirnya lalu berjalan mendahului yoseob yang tertawa kecil.
“aku mencintaimu...” sahut yoseob menghampiri kekasihnya itu lalu merangkulnya. *END*
Dari semua ff BEAST yg ane baca,
ReplyDeleteLike That Little Road
My Love is My Stepbrother
My Bestfriend, My Lady
My Love still forever
=D
ane paling suka yang ini, My Bestfriend, My Lady .
>o<
dah main cast nya sobie pula .
ceritanya lucu seruu .
^o^b
KEEP HWAITING..!!!
hehehehe gomawo neomu neomu neomu gomawo~~~ kkkk~~ hwaiting hwaiting hwaiting ^^
ReplyDelete